Rumah Baru KisahBB

Setelah 2x ga diterima di Wordpress sehubungan penjualan DVD, Shusaku akhirnya memutuskan memindahkan blog cerita seru KisahBB kesayangan kita ke sini.

kirim cerita karya anda atau orderan DVD ke:


Order via email: mr_shusaku@yahoo.com


tuliskan: nama, alamat jelas, nomor HP, dan list barang yang diinginkan di email pemesanan


email akan segera saya balas dengan rincian harga & no ac bank bca/mandiri unk transfer. barang akan dikirim dengan tiki/pos setelah konfirmasi transfer diterima.

Promo diskon gede-gedean

Paket istimewa 500rb (50dvd),

untuk dalam Pulau Jawa free ongkos kirim, untuk luar Pulau Jawa tergantung daerah.

Harga normal Rp 15rb/dvd kalau beli banyak Rp.12.500/dvd, untuk paket kali ini jatuhnya Rp. 10rb/dvd, murah banget!!


Tapi ini terbatas hanya untuk 10 orang saja.

jadi silakan order, bisa dilihat list barang di

- list semi & softcore

- list western xxx

- list jav


untuk pemesanan email ke mr_shusaku@yahoo.com

Subject: paket istimewa 500rb

tuliskan: nama, alamat jelas, nomor HP, dan list barang yang diinginkan di email pemesanan

email akan segera saya balas dengan rincian harga & no ac bank bca/mandiri unk transfer. barang akan dikirim dengan tiki/pos setelah konfirmasi transfer diterima.


-untuk pesanan di atas 50dvd, selanjutnya dihitung @Rp.10.000,-

-hanya untuk film2 satuan (JAV, western XXX, dan Semi), tidak berlaku untuk koleksi pics & kompilasi

Senin, 22 Agustus 2011

Alfi dan Lila, Si Dokter Cantik 2

Episode 2 dari 3 : Asmara dan Gairah
 Kota H
Dr. Lila

Meskipun Alfi tak menginginkan hal tersebut malam itu terjadi padanya dan dokter Lila namun kejadian seperti ini tak pernah terjadi sebelumnya pada setiap gadis yang pernah ia tiduri. Bukannya Lila menjadi suka dan ketagihan akibat di tiduri malahan gadis itu membenci dan mendampratnya habis-habisan. Atas saran dari Sriti, Alfi menelpon Niken dan menceritakan apa yang telah terjadi. Hari itu juga Niken dan Sandra dengan ditemani oleh masing-masing suami mereka datang ke kota H. Mereka berempat berencana mendatangi rumah Lila namun sebelumnya mereka menjemput Alfi dan Sriti terlebih dahulu. Sepanjang perjalanan ke rumah Lila, Sriti memberikan penjelasan atas apa yang terjadi malam itu. ia sendiri tak menyangka jika semuanya akan berakhir kacau seperti ini, padahal awalnya ia dan Alfi bermaksud baik ingin menyelamatkan Lila dari Erik.
“Aduuuh Fi.. apa yang selama ini aku khawatirkan terjadi juga. Seharusnya kamu tak terlalu lama berjauhan dari kami karena aku tahu kamu akan kesulitan mengendalikan hasratmu. Kini aku benar-benar binggung harus bagaimana saat ini.” ungkap Sandra serius pada Alfi.
“Al..fi ngaku salah kak dan Alfi juga …sangat menyesal kak” jelas Alfi dengan wajah tertunduk penuh penyesalan.
“Se..benarnya selama di sini saya dan Alfi selalu ‘itu’ kok mbak Sandra. Bahkan setiap malam Alfi saya ‘kasih’. Karenanya saya ngga kuatir melepas Alfi sendirian bersama dokter Lila tadi malam itu” ujar Sriti menjelaskan tanpa bermaksud menyalahkan Alfi.
“Sudahlah, semua sudah terlanjur terjadi. Yang terpenting sekarang kita harus menghibur Lila agar hatinya tak hancur oleh kejadian itu” hibur Niken mencoba menenangkan keadaan. Lalu ia berpaling kepada  suaminya ”Mas Don kok diam saja? Ikut ngomong dong.”
“Fii, coba kamu ceritakan sekali lagi kejadian di dalam kamar motel waktu itu, mungkin ada yang terlewat saat kalian menceritakannya tadi” Ujar Donnie.
Alfi pun menceritakan kembali kejadian pas di dalam kamar motel secara rinci malam itu.

“Betulkah hanya seperti itu Fi?” Tanya Donnie lagi.
“Begitulah  kak, yang jelas saat tiba di rumah kak Lila semalam, Alfi merasakan debar jantung Alfi begitu kuat, lalu keinginan buat ngegituin kak Lila juga begitu kuat hingga akhirnya Alfi benar-benar lepas kendali. Dan semuanya…. terjadi” ucapnya dengan perasaan bersalah.
“Hmm..Aku curiga kemungkinan besar pastilah air dalam gelas yang diminum oleh Lila dan kamu itu telah di bubuhi Erik dengan cairan perangsang yang sengaja disiapkan si Erik buat Lila” gumam Donnie setelah mendengar kronologi kejadian itu.
“Kupikir kamu keliru Don. Menurutku Lila pasti telah dicekoki sejak di café” ujar Didiet menimpali.
“Itu betul Dit, tapi si Erik juga sudah menyiapkan amunisi tambahan yaitu air di dalam gelas itu agar saat ditengah pertempuran Lila bisa semakin lama terbius. Coba kau pikir betul-betul buat apa ia menyiapkan air minum tanpa meminumnya langsung jika ia saat itu memang sedang dalam keadaan haus” ujar Donnie yang terlihat begitu yakin melontarkan argumennya.
“Betul juga apa katamu Don” gumam Didiet. Mau tak mau ia harus mengakui kebenaran teori Donnie itu.
“Aneh! Kok mas bisa tahu sampai sedetil itu? pasti berdasarkan pengalamankan?” tanya Niken sambil memandang suaminya dengan mata menyipit.
“Eh..a..nu. bukann Nien, itukan cuma dugaanku saja kok.  he he” jawab Donnie cengar-cengir.
“Dasar lelaki, pintar ngeless!” ujar Niken mencubit pinggang Donnie kuat-kuat.
“Adohhh…ampun say…Kan tadi kamu yang minta pendapatku…aduhh duh” rintih Donnie kesakitan sambil berupaya menghindari serangan bertubi-tubi dari istrinya.

“Tunggu!….  Saya pikir ada benarnya perkataan mas Donnie barusan soalnya…. pas pagi harinya saya menemukan sebuah botol kecil di dalam tong sampah di kamar itu yang setahu saya itu memang bekas obat perangsang” ujar Sriti yang sejak tadi menyimak dengan serius pembicaraan Donnie dan Didiet tadi.
“Tuh kan apa kataku…aduhhhh!” Donnie menimpali sambil belingsatan karena jemari lembut istrinya tetap melekat kuat bagai capitan seekor kepiting di kulit pinggangnya.
“Jika benar demikian kejadiannya, Alfi tak dapat dipersalahkan dalam hal ini” ujar Didiet menimpali.
Tak terasa waktu telah membawa perjalanan mereka sampai di depan rumah Lila.
“Biar kalian para wanita saja yang turun, kami sebaiknya menunggu di mobil saja”ujar Didiet.
“Mengapa Alfi tidak boleh ikut turun kak? Alfi ingin sekali lagi minta maaf sama kak Lila” Tanya Alfi dengan wajah memelas.
“Jangan sekarang Fi, Lila pasti sedang tak ingin melihat kamu. Biarkan mereka yang berbicara padanya.” Jelas Donnie. Alfipun mengangguk menandakan ia mengerti tentang situasi saat itu.
Beruntung saat itu Lidya dan ibu Lila masih menginap di rumah budenya Lila sehingga kejadian semalam belum sempat mereka ketahui. Lalu Niken bersama dengan Sandra dan Sriti menuju ke rumah Lila. Ternyata Lila sendiri yang membukakan pintu bagi mereka bertiga. Lebih dari satu jam-an mereka di sana. Lalu terlihat hanya Sandra yang keluar menghampiri kendaraan.

“Ayo kita pergi dulu membeli makanan buat makan siang. Biar Niken dan Sriti menemani Lila dulu.” Ujar Sandra memasuki mobil.
“Bagaimana kondisi Lila Say?” Tanya Didiet.
“Saat ini ia masih sangat sedih atas apa yang menimpa dirinya tadi malam. Meski ia terlihat sangat tegar dan tak lagi hysteria hanya sesekali ia menangis. Lebih lanjut ia juga menduga dengan pasti kejadian semalam persis sama seperti yang Donnie utarakan tadi. Namun demikian ia tak ingin melanjutkan urusan ini ke jalur hukum karena menyangkut Alfi dan tentunya kita semua” jelas Sandra.
“Haihhh…kasihan Lila, tak kusangka kegilaanku berujung menjadi malapetaka buat orang lain” keluh Didiet.
“Tak perlu kita menyalahkan diri sendiri. Semua ini kan gara-gara pria yang bernama Erik itu. Aku ingin sekali melihat tampang lelaki bajingan itu lalu menghajarnya habis-habisan” ujar Donnie jadi geram. Sebab ia tahu Niken sangat menyayangi sahabatnya yang satu ini. Apalagi ia juga sudah mendengar dari istrinya mengenai kehidupan Lila yang telah banyak mengalami penderitaan sejak remaja.
“Ya …kita berharap kejadian ini tak sampai menghancurkan hidup Lila” ujar Sandra

*************************
Tiga hari sudah sejak kejadian tersebut

Selama itu Niken dan Sandra rutin menemani Lila hingga ibu dan adik Lila pulang. Namun Lila meminta kedua temannya tak menyinggung masalah tersebut di hadapan mereka agar tak menimbulkan permasalahan baru baginya.
Niken merasa menyesal atas apa yang terjadi pada sahabatnya itu. Tak banyak yang bisa ia katakan.Tetapi Ia lega melihat Lila bisa menerima musibah yang menimpa dirinya dan mau meneruskan hidupnya. Lila memang sudah terbentuk menjadi sebuah pribadi mandiri yang keras sejak remaja.
“Fi, besok kita pulang ke kota S. Bukankah kamu juga sudah terlalu lama meninggalkan sekolahmu? ” Ujar Donnie saat mereka makan malam disebuah rumah makan.
“Ya Kak…tapi…ijinkan malam ini Alfi menemui kak Lila buat meminta maaf padanya, Hati Alfi merasa tidak tenang sebelum kak Lila mau memaafkan kesalahan Alfi” pinta Alfi pada Niken.
“Haihhh….Baiklah Fi. Kakak tak tahu ini merupakan  waktu yang tepat atau bukan buatmu menemui Lila walau kulihat tadi sore suasana hatinya agak membaik dan ia mulai bisa tersenyum. Hanya saja pesan kakak padamu apabila ia ternyata tak ingin menemuimu sebaiknya kau langsung pergi jangan membuatnya kembali marah atau sedih”ujar Niken lagi.
“Baiklah kak. Biar Alfi pergi sekarang ke sana mempergunakan kendaraan umum sendirian agar tak mengganggu acara kakak semua malam ini” ujarnya.
“Ya, jangan kemalaman pulang Fi dan jangan lupa berkemas buat pulang besok” ujar Didiet.
Alfi lalu mencarter sebuah ojek. Sepanjang perjalanan dalam hati ia berharap Lila mau menerima permintaanan maafnya meski apapun resiko yang akan diterimanya nanti.
Saat memasuki jalan ke rumah Lila, tiba-tiba sebuah mobil Jeep meluncur dengan kecepatan tinggi melintasinya dan nyaris saja ojek yang ditumpanginya terperosok kedalam saluran air pembuangan.

Alfi terkejut ketika sempat mengenali orang di dalam kendaraan itu.
“E..rik!” gumamnya, apalagi yang ia perbuat. Tiba-tiba ia teringat akan Lila. Alfi bergegas masuk kepekarangan rumah. Hatinya tercekat  saat ia sampai di pintu depan. Ia  menemukan Hp dan isi tas Lila berserakan di lantai teras. Alfi berlari ke dalam sambil berteriak memanggil nama gadis itu. Hatinya semakin kuatir karena tak ada jawaban. Dengan sigap Alfi memutar nomor Niken dari Hp tersebut.
“Kak Niken gawat kak! Sepertinya kak Lila diculik sama Erik!” ujarnya saat Niken mengangkat panggilannya.
“Apaaa! Ohh…La” isak tangis Niken terdengar dari seberang HP. Tak lama kemudian terdengar suara Donnie mengambil alih pembicaraan. Ternyata mereka berempat masih bersama-sama.
“Kau yakin akan hal itu Fi?!”
“Alfi ngga mungkin salah kak! Sebaiknya Alfi akan berusaha mengikuti mereka mumpung jam segini jalanan masih macet sehingga masih memungkinkan buat mengejar mereka”
“Jangan Fii! Itu sangat berbahaya!” cegah Donnie.
“Tapi kita harus tahu kemana kak Lila mereka bawa kak! Alfi akan kejar mereka dan Alfi akan terus menghubungi kakak melalui HP ini”
“Baiklah Fi. Tapi kau jangan bertindak sendiri, segera kabari kami apabila nanti kau berhasil mengikuti mereka dan tunggu  sampai kami datang!” Donnie tak lagi mencegah anak itu karena ia tahu Alfi telah mengambil keputusan yang paling tepat.
“Bang! Ayo ikuti mobil yang tadi itu, mereka telah menculik kakakku” ujar Alfi setelah mengakhiri pembicaraan dengan Donnie.

Si abang ojek langsung tancap gas. Beruntung jalur ke arah jalan raya utama dari rumah Lila hanya ada satu dan harus melalui dua buah persimpangan besar yang memiliki durasi lampu merah panjang. Sehingga ia yakin ia dapat menyusul mereka. Pada simpangan pertama ia tak lagi melihat kendaraan yang dicarinya. Harapannya hanya tinggal satu ia bisa menemukan kendaraan tersebut di persimpangan kedua karena lampu merah di sana juga tergolong lama yaitu 6 menit. Benar saja ia melihat mobil Erik masih dalam posisi antrian.
“Yes! Berhasil” pikirnya
Ketika lampu beralih ke lampu hijau kedaraan satu persatu bergerak. Dan mereka dengan hati-hati membuntuti kemanapun mobil itu pergi. Setelah sepuluh menitan, Alfi melihat mobil Erik melambat dan masuk ke sebuah komplek pergudangan tua yang tak terpakai lagi. Alfi menyuruh ojek untuk berhenti pada jarak yang cukup jauh diluar pintu masuk. Ia lalu mengontak Donnie dan menjelaskan dimana lokasi tersebut.
“Ok, kakak tahu di mana itu. Kami akan segera ke sana. Ingat Fi jangan bertindak sendiri!” pesan Donnie lagi.
“Bang ini uang ojeknya dan ini tambahan karena saya ingin abang menolong saya” ujar Alfi ke pada abang ojek yang sejak tadi ikut-ikutan tegang mengikuti pristiwa itu.
“Waduhh…. saya takut jika harus menghadapi mereka den, soalnya siapa tahu mereka bawa senjata, sebaiknya kita lapor polisi saja dulu” saran abang ojek itu.
“Iya emang maunya saya seperti itu! Abang saya minta hubungi polisi di pos terdekat sementara saya menguntit mereka ke dalam sana”
“Hah..Jangan nekat den. Aden bisa celaka jika menghadapi mereka sendirian!”
“Aduhhh ..ni abang cerewet banget! Maka dari itu cepetan berangkat supaya saya tidak harus menghadapi mereka sendirian. Sebisanya saya akan tunggu abang kembali bersama polisi”
“I..i..ya Den, abang pergi sekarang, hati-hati jangan sampai ketahuan ya!” ujar si abang sambil terburu-buru menstater motornya lalu kembali tancap gas.

**************************
Alfi lalu masuk ke dalam kawasan tersebut. Suasana begitu gelap karena  tak ada satupun lampu yang menyala. Pergudangan ini memang sudah lama tidak di pergunakan lagi. Alfi dengan sabar dan hati-hati mencari keberadaan mobil Erik. Setelah berjalan agak jauh akhirnya ia melihat kendaraan tersebut di parkir di depan sebuah rumah kecil. Alfi  berjalan mengendap-endap. Ia bukan tak tahu resiko perbuatannya itu, yang jelas ia bakalan celaka apabila mereka mendadak memergokinya. Kemungkinan apa yang di katakana pak ojek tadi benar adanya bahwa Erik tidak sendirian dan bersenjata. Keadaan sekeliling komplek yang gelap sangat membantunya mendekat ke rumah tersebut. Nampak cahaya cukup terang berasal dari beberapa batang lilin dari dalam rumah. Alfi mengintip dari jendela samping melihat ke dalam rumah. Ternyata benar dugaannya ia melihat Lila terlentang di atas sebuah sofa reot dalam keadaan tangan terikat dan mulutnya tertutup oleh plester. Erik rupanya memang tidak sendirian, ia bersama dengan dua orang lainnya. Alfi dapat menebak kedua orang tersebut pastilah begundalnya pemuda itu. Sepertinya Erik  merasa penasaran karena kegagalannya tempo hari, lalu menyusun rencana lain buat mendapatkan tubuh gadis itu. Sejak sore hari ia bersama dua orang begundalnya mengawasi rumah Lila dari kejauhan. Kebetulan saat itu Lidya sedang pergi mengantar ibu Lila. Lalu dengan cepat mereka menyergap Lila yang kala itu baru keluar dari rumah berniat dan hendak pergi.
“Bos boleh dong kami berdua dapat giliran setelah bos selesai nanti? He he” ujar salah satu begundal Erik yang bertubuh tambun bernama Parno nyengir.
“Aeesss!! Enak saja! Pergi sana jaga di pintu depan! bikin gue ilfeel saja Huh!” hardiknya  “Dan kamu Min awasi pagar depan!”
“Siap.. boss” ujar Paimin, sepertinya si kurus ini lebih berdedikasi ketimbang temannya yang bertubuh tambun. Ia lalu keluar dari rumah buat melaksanakan perintah Erik.

Sedangkan si Parno ngeloyor lesu keluar dari kamar menuju ke pintu depan. Ia kecewa padahal sejak tadi ia benar-benar berharap bisa ikut mencicipi tubuh indah gadis itu meski hanya sisa dari Erik. Dari tempatnya berdiri ia masih berusaha agar dapat  mengintip ke arah kamar tadi. Dasar nafsunya sudah naik ke ubun-ubun, setelah meletakan stick softballnya si Parno membuka reutsleting dan menurunkan celana jeansnya sebatas lutut, dalam keadaan berdiri ia mulai mengocok penisnya.
“He he.. kali ini kau tak dapat lolos lagi La. Tak perlu kau tangisi nikmati saja apa yang sebentar lagi bakal terjadi!” ujar Erik terkekeh-kekeh sambil mulai mencopot kancing kemejanya satu persatu.
Lila berusaha meronta dalam ketidak berdayaannya itu. Jeritannya terhalang oleh plester yang membekap erat mulutnya. Air mata gadis itu berderai membasahi pipi meratapi nasib malangnya. Melihat kondisi saat itu, Alfi jadi bingung harus berbuat apa. Ia masih ingat akan pesan Donnie tadi  bahwa ia tidak boleh gegabah dan bertindak sendiri. Namun keadaan sudah sedemikian gentingnya. Jika ia tak bertindak sekarang sudah jelas semuanya menjadi terlambat. Akhirnya ia terpaksa memutuskan untuk menolong Lila tanpa menunggu bantuan datang. Rasa bersalah dan sayangnya pada Lila mendorongnya untuk melakukan sebuah yang tindakan nekat. Sambil berusaha menekan  rasa takutnya perlahan ia mengendap ke arah Parno yang sedang asik meloco. Parno yang saat itu sedang focus menatap paha Lila yang putih bersih itu dari kejauhan sungguh tak menyadari kehadiran Alfi di dekatnya. Alfi merasa ini merupakan sebuah kesempatan yang baik baginya. Perlahan ia mengatur kuda-kudanya, dan…Bukk!! Sekuat tenaga kepalan tangannya ia hantamkan tepat mengenai dua buah ‘telur pusaka’ milik Parno dari belakang. Tak percuma Donnie melatihnya memukuli genting hingga pecah saat belajar karate setiap sore.

“Adoowwwwhhhhhh …peee…cahhhhhhh!!!!”
Parno kontan  terpekik menyayat ketika merasakan nyeri yang luar biasa. Tubuh tambun itu jatuh terduduk sambil memegangi alat vitalnya. Begitu dasyat nyeri itu membuat rohnya seakan pergi meninggalkan raganya. Perutnya yang buncit sampai mengalami kram. Alfi tak mau menyia-nyiakan momen baik itu, sekali lagi ia mempraktekan sebuah jurus dari Donnie itu kali ini yang menjadi sasarannya adalah tengkuk Parno. Buukk!! Pukulan itu tak dapat Parno hindari sekaligus langsung mengirim pria tambun itu berkelana ke alam mimpi. Alfi tak menyangka ia dengan mudah dapat melumpuhkan monster itu meski tangannya terasa sangat nyeri. Paimin yang berada di dekat pagar terkejut mendengar suara jeritan rekannya. Tubuh kurus ceking itu berlari memburu ke arah dalam rumah tanpa perhitungan. Alfi yang bersembunyi di balik pintu tiba-tiba muncul dan menghantam tulang kering kaki si krempeng dengan menggunakan stick milik Parno. Bletakkk!!! Tak ayal  Paimin jatuh terguling. Sialnya lagi wajahnya mendarat terlebih dahulu dan gigi tonggosnya menghantam sebuah meja kayu.  Belum ia sadar betul apa yang menimpa dirinya Alfi sudah menghadiahinya sebuah pentungan tepat  ditengkuknya dan Paimin-pun menyusul rekan seperjuangannya tak sadarkan diri. Namun keberuntungan Alfi tak berlangsung lama. Ia lupa memperhitungkan keberadaan Erik. Tiba-tiba Ia merasakan angin pukulan menerpa kepalanya dari arah belakang. Alfi berusaha berkelit tapi sayang reaksinya terlambat dan ‘Daakk!!’ Sebuah tendangan Erik berhasil mengenainya dan membuat tubuhnya terlempar ke arah kamar di mana Lila terbaring dan dalam keadaan terikat. Beruntung tendangan itu sempat membentur bahunya terlebih dahulu sehingga luput mengenai kepalanya. Sambil sempoyongan dan menahan rasa nyeri pada bahunya Alfi berusaha bangkit ke arah Lila. Cepat-cepat ia menarik lepas plester yang menutup mulut Lila. Namun Erik tak membiarkan ia bertindak lebih jauh.

“Kau lagi! Entah bagaimana kau bisa sampai kemari tapi aku tak perduli. Yang jelas kau memang patut di hajar” ujar Erik berang.
Kebenciannya meluap-luap ketika melihat anak jelek yang telah dua kali ini mengganggu rencananya menggagahi Lila. Dari seorang security motel XX Ia sudah mengetahui kalau ia telah dikerjai oleh Sriti dan Alfi saat malam itu. Sepertinya tak ada pilihan lain bagi Alfi ia harus melumpuhkan Erik terlebih dahulu agar dapat melepas Lila.
“Fii lekas larii dari sini..kau tak mungkin bisa menghadapinya sendiri!” pekik Lila memperingatkan.
“Ngga kak..Alfi harus menolong kakak dulu lalu kita sama-sama keluar dari sini”
“Tidak! kau harus lari fii.. ia tak akan segan-segan berbuat keji padamu”
“Alfi ngga mau…Alfi sudah berbuat dosa pada kakak.. Alfi rela jika harus mati demi menolong kakak”
“Fiii!!! Kamu jangan bodoh…tolong…turuti omongan kakak…” ujar Lila terisak-isak, ia tak menduga anak ini begitu nekat mempertaruhkan jiwa demi dirinya.
Alfi tak lagi mengubris permohonan Lila. Otaknya sedang berpikir keras mencari cara bagaimana memperdaya pemuda dihadapannya. Namun ia tak mempunyai banyak waktu karena Erik perlahan mendekat ke arahnya.
Wuss!! sebuah tendangan Erik datang mengarah ke tubuhnya. Alfi masih bisa menghindar. Tetapi tendangan ke dua datang terlalu cepat dan berhasil menggedor dadanya. Lalu yang ke tiga benar-benar tak tertahankan menghantam pelipisnya dengan keras. Alfi terpelanting hingga kepalanya membentur dinding dengan keras diiringi pekik ngeri Lila. Alfi tersandar di dinding dan secara perlahan kepalanya jatuh terkulai di lantai. Kepalanya terasa begitu sakit. Lalu ia merasakan kaki kokoh Erik telah menginjak telapak tangannya. Dan kaki satunya menginjak wajah nya. Agaknya Alfi sungguh tak berdaya ia hanya mampu  meringis kesakitan. Dari hidungnya mengucur deras darah kental.

“Kk..kaak..Li..lllaa..maafinn Al..fiiii …” ujarnya lirih sekali.. Matanya nanar menatap sayu ke arah Lila sebelum akhirnya semua pandangannya menjadi gelap.
“Ohh…Fiii.. …bangunnn….Fiii…” pinta  Lila sambil terisak-isak melihat wajah Alfi yang bersimbah darah Ia benar-benar tak menyangka Alfi nekat mengantarkan nyawa demi dirinya. Bahkan anak itu masih sempat-sempatnya mengucapkan permohonan maaf sebelum tak sadarkan diri tadi.
“Biar kubikin mampus sekalian” ujar Erik, nampaknya ia belum puas menganiaya anak itu.
“Aakhhh Rikkk!! Kumohon jangaannn sakiti anakk ituu lagii.”pekik Lila. Tangisnya tak tertahankan. Namun pekiknya tak dapat menghentikan aksi biadab Erik. Pemuda itu benar-benar telah mata gelap. Ia meraih stik softball milik Parno yang ada di dekatnya. Perlahan benda itu ia angkat tinggi-tinggi untuk dihantamkannya ke tubuh kecil Alfi yang telah tak berdaya itu.
“Rikkkk!!!jangaannnn!!!!AKkkkk!!”
Namun pada saat genting tersebut, Tiba-tiba sebuah hantaman kuat menerpa tangan Erik dan membelokan arah pukulannya dari tubuh Alfi. Tak hanya itu stick softball itupun terlepas dari pegangannya. Erik terkejut ketika melihat tiga orang yang baru datang itu.
“Sii..apaa..ka.liaan?!” ujarnya tergagap.
“Bajingan  pengecut!! Beraninya cuma sama anak-anak main keroyok lagi” hardik penyerangnya tadi yang tak lain adalah Donnie yang baru datang bersama Didiet dan Niken.
Aduh siapa lagi ini? keluh Erik gundah. Keadaan ini sangat tak menguntungkan bagi dirinya. ia menduga sebentar lagi rumah ini bakalan ramai dan polisi pasti datang. Namun tak ada jalan untuk kabur karena Donnie sudah menghadang di depan pintu sementara Didiet memegang pistol. Tak ada pilihan lain Ia harus menyingkirkan para pengacau ini dan secepatnya kabur dari situ.

“Kau pikir bisa menakuti aku dengan senjata mainan itu?” Ujar Erik yang mengetahui benda di tangan Didiet bukanlah senjata api sungguhan namun hanyalah sebuah AirSoftShotGun, senjata yang kerap di pakai oleh para hobbies real shotgamer.
“O ya?”
DHUarrr!! Sebutir peluru melesat dari laras pistol yang dipegang Didiet menghantam daun pintu yang tak jauh dari  Erik berdiri. Erik terperanga melihat sebuah lubang kecil selebar batang pensil menganga pada permukan pintu yang terbuat dari plywood itu. Benda itu tak bisa dianggap mainan karena ternyata memiliki FPS sangat tinggi. Ledakannyapun membuat kaget mereka semua yang ada di sana.
“Bagaimana? Apakah kau ingin mencicipi bagaimana rasa nikmatnya pada kulitmu? Ada satu magazine penuh peluru ‘mainan’ yang bisa kuberikan sebagai tanda mata di wajah dan di tubuhmu secara cuma-cuma” ujar Didit denga tatapan mata dingin.
“Ka..uuu…jangan pakai senjata kalau beranii!” ujar Erik ciut. Yang jelas ia tak ingin Didiet menjadikannya sebagai sasaran bidik pistolnya.
“Kami bukan pengecut tukang perkosa perempuan dan dan penganiaya anak-anak seperti dirimu!Dit, kau lindungi yang lain . Bangsat ini adalah bagianku” sergah Donnie.
“Ok.. kuberi waktu sejenak buat kalian bersenang-senang” ujar Didiet mundur memberi ruang bagi Donnie dan Erik.
“Kalian akan menyesal karena menghalang-halangiku!” ujar Erik kesal.
Apalagi melihat Niken yang telah berhasil melepaskan ikatan Lila Rencananya yang sudah ia susun dengan rapi kini benar-benar telah hancur berantakan. Alih-alih bisa menikmati tubuh sintal Lila malahan kini ia dihadapkan oleh masalah besar yang menantinya. Tiba-tiba Erik mengirim sebuah tendangan diiringi teriakan membahana. Namun Donnie telah siap sejak tadi. Hanya sepersekian detik sebelum tendangan dasyat itu menyentuhnya dengan kecepatan mengagumkan Donnie melengos ke kiri sehingga ujung sepatu Erik menerpa angin hanya satu inci dari wajahnya.

Serangan itu tak berhenti di situ. Begitu kaki kanan Erik menyentuh lantai kaki kirinya berputar menampar balik bagai gerakan seekor naga mengibaskan ekornya. Terlihat sekali kalau Erik bukanlah seorang yang buta akan ilmu bela diri. Ia sempat mengenal Taekwondo saat SMU dan pernah mewakili sekolahnya pada waktu itu. Donnie mengantisifasi setiap serangan Erik dengan tenang. sambil menjatuhkan diri kaki kanannya menyapu kaki kanan Erik. Tak ayal lagi tubuh Erik yang belum dalam keseimbangan penuh terjerembab jatuh mencium lantai.
“Cuma itu sajakah yang kau andalkan?” ejek Donnie.
Ia sengaja belum membalas serangan Erik. Ia sepertinya ingin menjajaki sejauh mana kemampuan berkelahi lawannya.Wajah Erik merah padam. Ia tak menduga orang yang di hadapinya itu ternyata cukup ‘berisi’ bahkan mampu mementahkan salah satu serangan terbaiknya dengan mudah. Kembali ia berteriak sambil  melompat  memberikan dua buah tendangan secara bergantian bagaikan gerakan mata gunting. Namun serangan itu kembali gagal menyentuh tubuh Donnie.  Ketika tubuhnya masih melayang di udara lalu kakinya menjejak dinding dan melontarkan dirinya sambil berputar memberi tendangan susulan ke arah Donnie. Ini serangan yang sulit untuk dihindari.Tapi Donnie bukanlah Alfi yang dengan mudah Erik jatuhkan, yang di hadapinya kali ini adalah seorang instructor dan atlet karate tingkat asia yang sangat disegani oleh lawan-lawannya di arena. Kali ini Donnie tak hanya diam menerima serangan Erik, Donnie mengayunkan kakinya bagai sebuah mata belencong  menghadang laju tendangan Erik yang mengarah ke arah mukanya. Terdengar suara benturan tulang kaki mereka beradu dengan keras. Erik terjajar mundur. Dahinya berkerenyit menahan nyeri pada pergelangan kakinya akibat benturan tadi. Saat itu pula sebelum ia dapat berdiri dengan mantap sebuah bogem mentah telah mendarat telak wajahnya. Bukkk!!! Erik terjengkang  untuk ke dua kalinya. Namun kali ini dengan pergelangan kaki nyeri dan wajah biru lebam akibat pukulan Donnie barusan. Beruntung bagi Erik, saat memukul tadi Donnie hanya menggunakan setengah tenaganya. Jika tidak pastilah wajahnya bakal remuk. Mata Erik memerah dan berair karena  menahan sakit luar biasa.

Merasa tak bakalan menang melawan Donnie, Erik meraih stick softball yang tadi dipakainya buat menghabisi Alfi.
“Sebaiknya kau buang senjatamu Ric atau aku terpaksa menembakmu!” Seru Didit.
“Jangan turut campur Dit  Sebaiknya kau awasi saja ke dua temannya yang baru sadar itu.  Menyerah terlalu enak baginya setelah semua yang dilakukannya pada Alfi dan Lila. aku ingin menghajarnya sampai puas dulu”
“Oke hati-hatilah Don sebab  ia bersenjata, Dan kalian berdua jangan mencoba berbuat macam-macam jika tak ingin kutembak!” hardik Didiet kepada Paimin dan Parno.
“A..ampunnn pak…jangan ditembakkk” ujar Paimin sambil menangis. Mulutnya masih berlumuran darah karena gigi depan bagian atasnya nyaris patah semua oleh ulah Alfi tadi.
“I..yaaa…paakkk..kasihani saya … kami cumaa di suruh sama bapak Erik” ujar Parno menimpali. Didiet nyaris tertawa melihat celana keduanya telah basah oleh air kencing.
“Dasar bajingan. duitnya saja mau, Awas kalian nanti!!” ujar Erik geram masih sempat mengancam kedua mantan begundalnya itu.
“Ha ha ha lucu bajingan kok teriak bajingan! Ayo berkelahilah seperti seorang lelaki jantan, bajingan!” Ejek Donnie.
“Aku akan membuat otakmu berceceran di lantai dengan ini..Hiatt!!!”
Erik yang merasa terjepit lantas menyerang Donnie bagai seekor singa terluka. Ia mengayunkan stick Softball-nya secara membabi buta. Sebuah kaca jendela ruangan tengah hancur berhamburan ketika serangannya luput mengenai tubuh Donnie
“Donn !! cepat selesaikan ini, kita harus segera menolong si Alfi!!!” teriak Didit.
Saat itu Donnie juga mendengar suara isak tangis Niken dan Lila karena Alfi tetap tak kunjung sadarkan diri. Bahkan wajahnya semakin pucat pasih. Dan betapa terkejutnya Donnie  melihat darah yang mengalir dari telinga Alfi.

Saat itu sebuah pukulan stik softball telah datang ke arahnya, Donnie menjadi geram bukan main melihat kebandelan Erik apalagi saat teringat kondisi Alfi saat itu. Sambil berteriak keras Ia memotong arah serangan tersebut.  Kali ini sebuah pukulan lurus yang teramat. kejam yang tak pernah ia lakukan bahkan di larang di komite beladiri manapun menghantam bahu Erik dengan keras. Krakkk!! Terdengar bunyi berderak menandakan ada tulang yang patah dan stick yang di pegang Erikpun terlempar jauh.
“Argggg!!!!! Banggggsatttttt!!!! Arrrgg!!” Erik melolong  kesakitan memegangi bahunya yang nyeri bukan kepalang sambil bergulingan di lantai.
Pukulan Donnie bagai sebuah palu godam yang dapat mematahkan papan setebal dua senti  sekalipun. Kemungkinan tulang bahunya patah atau ensel bahunya yang terlepas.
Pukulan terakhir Donnie tadi sudah mengakhiri perlawanan Erik. Saat itu Sandra muncul bersama beberapa orang dari sekitar tempat kejadian tersebut. Erik yang masih kesakitan beserta kedua begundalnya menjadi pelampiasan kekasalan mereka. pukulan demi pukulan beserta tendangan-pun melayang menghujani tubuh ke tiga pria apes itu..
Beruntung polisi segera datang bersama si abang ojek dan segera meredakan amarah orang-orang tersebut. Masih terdengar raung kesakitan Erik ketika polisi menyeretnya keluar bersama dengan kedua rekannya.
“Kita harus cepat-cepat ke rumah sakit sekarang. Don kamu yang nyetir !” ujar Didit cemas sambil membopong tubuh Alfi.

************************
Sesampai di ruang gawat darurat. Alfi segera mendapat penanganan oleh pihak rumah sakit. Beberapa dokter dan perawat terlihat begitu sibuk memakaikan beberapa alat bantu padanya. Sementara Didiet bersama yang lain hanya bisa melihat dari sebuah kaca kecil. Sriti juga sudah terlihat berada di sana. Lila tak henti-hentinya terisak, sebagai seorang dokter ia paham betul akan kondisi anak itu.
“Maaf saya perlu berbicara dengan keluarga anak itu” ujar seorang dokter senior yang baru selesai memeriksa Alfi.
“Saya adalah ayah angkatnya. Bagaimana kondisinya dok?” ujar Didit mewakili para sahabatnya. Mereka berlima tak sabar menunggu penjelasan dari dokter mengenai kondisi Alfi.
“Ia mengalami gegar otak serius, harus segera di operasi untuk mengeluarkan gumpalan darah di kepalanya agar jiwanya tertolong”
“Lakukanlah Dok, saya mengijinkan anda buat melakukan tindakan tersebut” ujar Didiet mantap. Memang sejak kematian ibunya Alfi, maka segala hal yang menyangkut diri Alfi sepenuhnya menjadi tanggung jawab Didiet.
“Baiklah, sebentar lagi ada pihak administrasi rumah sakit yang akan meminta anda menandatangani surat persetujuannya”
Setelah urusan administrasi selesai maka Alfi-pun segera dipindahkan ke dalam ruang operasi. Didit dan Donnie terlihat gelisah mondar-mandir di sepanjang lorong. Sementara Niken dan Sandra masih berusaha menghibur Lila. Gadis itu begitu pucat sampai harus dibantu oleh seorang perawat.
“Ibu terlihat kurang sehat sebaiknya istirahat saja dulu di ruang perawat” ujar perawat itu menawarkan. Benar adanya, saat ini sebenarnya kondisi fisik maupun mental Lila memang dalam keadaan drop akibat penculikan dirinya dari rumah hingga menyaksikan penyiksaan Erik terhadap Alfi. Setelah dibujuk-bujuk Sandra akhirnya Lila baru mau menuruti saran perawat tadi. Sandra dan Sriti membimbing Lila menuju ruang yang di sediakan bagi mereka.

“Nien sebaiknya kau juga beristirahat ingat akan kandunganmu, biar aku dan Didiet yang menunggu di sini” bisik Donnie.
“Baik mas”
Tiga jam berlalu mereka tetap menunggu dengan harap-harap cemas. Hingga akhirnya lampu di atas pintu kamar operasi padam menandakan operasi telah selesai. Didiet diikuti yang lain memburu ke arah dokter yang baru keluar dari kamar operasi.
“Kami telah berhasil mengeluarkan gumpalan darah beku di kepalanya. Meski demikian masa kritis anak itu belumlah benar-benar berlalu. Ia harus dirawat secara intensif dan diawasi oleh pihak rumah sakit di dalam ruangan ICU. Dan untuk sementara waktu dia belum boleh di bezug” demikian dokter tersebut memberikan penjelasan kepada mereka.
Untuk sementara waktu mereka bisa bernapas sedikit lega. Alfi mengalami koma selama tiga hari. Selama itu ke empat wanita itu secara  bergantian menjenguknya. Namun setelah melewati hari ke tujuh Alfi tak kunjung sadar juga, kekuatiran Lila kembali muncul. Kesehatan anak itu semakin hari perlahan tapi pasti semakin memburuk. Sebagai ahli medis Lila mengenali dan membaca tanda-tanda tersebut dari layar kecil di samping ranjang Alfi serta catatan medis dari perawat di sana. Lila merasakan ada sesuatu yang lain. Meski anak itu yang telah menggagahi dan merengut miliknya yang paling berharga tetapi entah mengapa ia justru merasa takut sekali hal yang lebih buruk menimpa diri anak itu. Pada suatu siang. Ia datang ke rumah sakit. Ia belum melihat Niken dan yang lain di sana. Lalu Ia menghampiri sebuah counter bagi perawat yang bertugas di bagian itu. Setelah memberitahukan bahwa ia adalah seorang dokter akhirnya perawat tersebut memberinya izin untuk dapat masuk ke kamar Alfi. Perlahan ia mendekat ke ranjang dimana anak itu terbaring tak berdaya. Hatinya begitu terenyuh dan air matanya mulai meleleh di pipinya melihat keadaan anak itu. Memar dan lebam akibat penganiayan Erik masih terlihat di sekujur wajahnya serta nampak beberapa selang terhubung dengan tubuhnya dari berbagai arah. Dengan agak berbisik bibirnya mulai berkata.

“Fi…Kakak harap kamu dapat mendengar ucapan kakak. Kakak hanya ingin kamu tahu bahwa  kakak sudah memaafkanmu. kakak sadar dan tak ingin menyalahkanmu atas semua perbuatan yang disebabkan Erik. Kamu…kamu …tak harus membayar sedemikian mahal untuk menebus kesalahan itu….bangunlah Fii…demi..kakak” ia berbisik di antara isak nya.
Setelah lewat lima menit ia kembali keluar. Kala itu Niken baru saja datang ke sana melihat mata Lila yang merah dan basah.
“La…., kamu baik-baik saja kan” tanya Niken
Lila mengangguk. Ia tak ingin Niken dan yang lain tahu dan kuatir akan perkembangan kesehatan Alfi. Tapi dadanya begitu sesak.
“Aku telah bersalah Nien…aku terlalu memojokannya saat itu…sehingga akhirnya  ia nekat mempertaruhkan nyawanya demi aku …huu..huu” tangis Lilapun pecah. Niken langsung memeluk sahabatnya itu. lalu menepuk–nepuk punggungnya untuk memberikan rasa nyaman bagi Lila.
“Sttt…sudah La…sudah…jangan terus-terusan sedih begini, tak baik buat kesehatanmu, aku yakin Alfi melakukan itu karena ia sangat menyayangimu”
“Tapi Nienn….aku takut ia…ia..”
“Dengarkan aku La…perasaan kami semua saat ini juga sama sepertimu… sedih dan takut …tapi kita hanya dapat berdoa agar Alfi segera sadar dan kembali sehat. Dan aku yakin ia akan bangun dan berkumpul bersama kita lagi. Kuharap engkau juga tak berlarut-larut menyalahkan dirimu.”
Lila mengangguk Lalu Niken menyeka pipi Lila dari sisa air mata.   
“Kita pulang yo” ajak Niken setelah satu jam mereka di sana.
“Kamu pulang saja duluan Nien, aku masih kepingin di sini..” Ingin rasanya ia tetap di sana hingga Alfi sadar.
“Ahh Ayolahh maniss…” Niken menarik paksa tangan Lila. Akhirnya Lila mau juga diajak Niken pulang bersama.

************************
Pagi harinya ia terbangun ketika mendengar dering Hpnya.
“Ada apa Nien?” tanyanya lesu karena  rasa kantuk masih membayangi kepalanya akibat semalam ia baru mampu memejamkan matanya pada pukul tiga dini hari.
“Laa!..Alfii La!..” ujar Niken. Lila bergegas bangkit dari kasur karena kaget mendengar suara Niken seperti tergesa-gesa ingin mengatakan sesuatu padanya.
“Ada apa dengan Alfi Nien!” Tanya Lila panik. Tak terasa air matanya kembali meleleh. Inilah yang sangat ia takutkan. Semua yang di kuatirkannya terjadi di saat ia tak berada di sana
“Ia…bangunn La! Alfi sudah sadar!”
“Ohh…Nien …syukurlahh…huu..huu”
Pembicaraan mereka terhenti beberapa saat, Niken membiarkan Lila melepaskan beban di dadanya dalam tangisan lega.
“Udah belum nangisnya cantik?” godanya pada Lila.
“Sudah… tapi aku benci sama kamu Nien” ujar Lila dengan nada merajuk.
“Loh kok jadi marah sama aku?”
“Iya habisnya kamu ngomongnya diputus-putus begitu  seharusnya sejak awal kamu bilang Alfi sudah sadar sebab tadinya aku sempat kuatir dan mengira kalau terjadi ada apa-apa pada dia. Kamu pasti sengaja mengoda aku kan?”
“Hi hi Iya..iya aku ngaku salah ..aku minta maaf…kamu tunggu saja di rumah sebentar lagi akan kujemput. Kita pergi ke rumah sakit sama-sama”

*************************
Tak lama kemudian mereka telah sampai di rumah sakit. Di sana nampak Sandra, Donnie dan juga Sriti sudah menunggu di depan pintu kamar ICU. Lalu terlihat Didiet  baru keluar dari dalam kamar dengan mempergunakan pakaian steril. Sepertinya hanya Didiet seorang yang baru boleh di izinkan masuk dan bertemu Alfi.
“Bagaimana keadaannya?” Tanya Sandra pada suaminya.
“Syukurlah ia dalam kondisi baik dan sempat sadar selama lima belas menitan. Ia bahkan bisa berkata-kata sedikit dengan berbisik sebelum akhirnya kembali tertidur” jelas Didiet.
“Haihh….Ia seharusnya belum boleh dulu banyak berpikir dan berbicara” keluh Lila
“Yah…aku juga heran pada kondisi seperti itu ia tadi justru menanyakan keadaan dirimu. Dan setelah aku katakan bahwa kamu juga selamat malam itu tanpa kurang suatu apapun barulah ia nampak tenang dan kemudian terlelap lagi” jelas Didiet menambahkan.
Lila terenyuh mendengar penuturan Didiet, betapa anak itu masih mengkuatirkan keselamatan dirinya dalam keadaan seperti itu. Hari itu Lila bertekat belum akan pulang ke rumah  sebelum ia menjumpai berhasil Alfi dalam keadaan sadar. Ia menunggu di temani oleh Niken dan Sriti hingga sore harinya. Dan saat jam menunjukan pukul lima sore Alfi kembali terjaga. Niken memberi kesempatan bagi Lila terlebih dahulu masuk. Hati Lila merasa lega melihat seyum anak itu mengembang dari balik masker oksigennya saat melihat ia datang. Tapi Lila menjadi agak kikuk. Ia tak ingin memperlihatkan bagaimana gejolak perasaannya saat itu baik pada Alfi maupun Niken. Ia berusaha bersikap tenang dan dingin seperti biasanya meski hatinya gembira bukan main saat itu.

Demikianlah setelah berjalan satu minggu karena kondisi Alfi berangsur-angsur membaik. Dan kini Alfipun sudah boleh dipindahkan dari ruang ICU dan menempati sebuah kamar rawat inap. Dan di dalam kamar VIP tersebut Alfi baru bebas menerima kunjungan. Hari itu terlihat mereka semua hadir di situ.
“Fi, besok kami terpaksa harus pulang dulu ke kota S karena banyak sekali pekerjaan yang tertinggal dan harus di selesaikan” ujar Didiet.
“Ngga pa pa Kak. Alfi mengerti”
“Oya Fi ada kabar gembira buatmu, kak Nadine-mu telah melahirkan dengan selamat. bayinya perempuan,  gemuk, sehat, cantik dan berkulit putih bersih persis ibunya” jelas Niken.
“Selamat ya ‘PAPA’ Alfi” ujar Sriti disambut tawa yang lainnya.
“Oya ada salam sayang juga dari kak Dian-mu, katanya ia kangen sekali padamu” ujar Niken.
“Doakan Alfi supaya cepat sembuh ya kak”
“Ya, kau istirahat saja sampai pulih tak usah memikirkan untuk buru-buru pulang, kami akan bergantian datang ke kota ini buat menjengukmu” ujar Didiet menambahkan.
“baik kak, ngga usah kuatir kan di sini ada kak Sriti”

*********************
Selama satu  bulan lamanya Alfi di rawat di rumah sakit. Namun sejak Niken dan yang lain pulang, tak terlihat sekali-pun  Lila datang menjenguknya. Sudah dua minggu Ia hanya ditemani oleh Sriti. Ternyata Lila juga pulang ke kota S menyusul yang lain. Alfi merasa sedih ia yakin Lila pasti masih membenci dirinya dan tak akan pernah mau memaafkan dirinya atas kejadian tempo hari. Hingga pada suatu malam, menjelang pukul 9, Saat itu Alfi tertidur lelap setelah menyelesaikan sesi makan obat terakhirnya untuk hari ini. Terlihat seseorang memasuki kamarnya. Orang itu tak lain adalah Lila. Ia baru sampai dari kota S dan langsung menuju kemari tanpa pulang ke rumah ibunya terlebih dahulu. Ia berdiri di samping tempat tidur dan memandangi wajah anak itu. Dua minggu ia pergi menyibukan diri dengan praktek di Kliniknya untuk melupakan semua yang terjadi selama di kota H , termasuk melupakan anak ini. Namun yang terjadi malah sebaliknya semakin Ia berusaha menghapus kenangannya bersama Alfi semakin kuat pula kenginan dirinya untuk dekat dengan anak itu. Lila juga binggung entah apa yang terjadi pada dirinya. Ada sesuatu yang mampu mengganggu seluruh prinsip hidup yang telah ia jalani selama sepuluh tahun ini. Dimanakah keteguhannya selama ini yang tak sekalipun tergoyahkan oleh keberadaan seorang lelaki dalam bentuk apapun sejak penghianatan Erik dulu? Ia bukanlah type seorang gadis yang gampang tergiur oleh betapa hebatnya seorang lelaki dan berapa pun besarnya daya pikatnya. Bahkan kebanyak pria yang datang tersebut tergolong gagah, tampan dan mapan sangat jauh bila harus dibandingkan dengan Alfi.yang berbadan kurus hitam dan berwajah pas-pasan itu. Ia harus mengakui bahwa awalnya sebelum mengetahui bahwa Alfi tak sengaja terjerat dalam nafsunya akibat obat perangsang Erik, ia merasakan kebencian demikian meluap-luap karena Alfi menggagahinya malam itu. Namun seiring waktu rasa benci itu berganti menjadi rasa rindu yang mendalam.semakin ia mengingat kejadian malam itu semakin ia merasakan bagaimana dirinya berubah seperti segumpal bara panas kala dalam balutan dekapan tubuh anak itu.

Memang sejak hari itu, secara bertahap Lila merasakan hasrat seksualitasnya menggelora tak terkendali. Di malam-malam kesendiriannya ia kerap mendapati dirinya mengalami bermimpi erotis bahkan pada siang hari pikiran penuh gairah nafsu terus-menerus berputar dalam benaknya. Jelas ia telah jatuh hati pada anak ini, jatuh hati pada kepolosan dan pengorbanannya, terpesona pada kejantannya. Hal inilah membuat ia mengambil keputusan untuk kembali menemui anak itu malam ini. Saat pikiran dan perasaannya masih berkecamuk dan bercampur aduk tiba-tiba..
“Kak……Li..la..” gumam Alfi lirih. Lila terkejut anak ini membisikan namanya di dalam tidurnya. Bukan Sandra, Dian, Nadine atau Niken. Namun dirinya.
Terlihat anak itu menggeliat lalu perlahan membuka matanya. Alfi sempat terkejut ketika matanya menangkap sosok dihadapannya. Alfi mengucek matanya ternyata memang benar itu adalah Lila. Sungguh bahagia ia dapat kembali melihat wajah cantik gadis itu.
“Kak..Lila?” ucapnya lirih dan berusaha untuk duduk.
“Iya Fii…ini aku”
“Kak Lila…kapan datang?” sapanya
“Baru saja Fi”
Kekakuan masih terasa, namun Lila tak ingin berlama-lama dalam keragu-raguan. Bukankah sejak berencana datang kemari ia sudah memutuskan untuk dapat memperoleh kejelasan dan jawaban dari permasalahan antara ia dan Alfi.
“Hmm… Fii”
“Iya kak?”
“Ada yang ingin kakak bicarakan denganmu”
“Alfi tahu kakak pasti ingin membicarakan tentang kejadian tempo hari” ujar Alfi menduga-duga setelah melihat perubahan pada wajah Lila yang nampak serius.
“Ya Fii.  Kakak ingin memberi tahumu bahwa kakak telah hamil karena perbuatanmu dulu itu … oleh sebab itu…. kakak ingin meminta tanggung jawabmu Fi” ujar Lila.

Alfi terkejut mendengar ucapan Lila itu. Hatinya menjadi kecut teringat akan omongan Niken tempo hari.Namun hatinya sudah bertekat untuk menerima apapun keputusan dari Lila asalkan gadis itu tak lagi membenci dirinya.
“Alfi sudah tahu mengenai kehamilan kakak dari kak Niken. Alfi siap dan rela kakak apa-apain…Alfi ..juga rela jikaa harus kakak operasi menjadi… cewek” ujar Alfi bergetar ketakutan saat mengucapkan itu.
Lila jadi tertawa geli mendengar ucapan Alfi barusan, ia sudah mengira pastilah Niken yang telah mengarang omongan seperti itu buat menakut-nakuti anak itu. Lila mendekatkan tubuhnya ke Alfi. Harum tubuh wanita itu tercium oleh hidungnya. Alfi terkejut saat tahu-tahu wajah Lila sudah begitu dekat dengan wajahnya. Lalu bibir lembut gadis itu mengecup lembut pipinya.
“Kak?…” Alfi masih belum percaya jika Lila melakukan hal itu. Bukankah seharusnya Lila sangat membenci dirinya karena telah menodainya tempo hari.
“Apa kau masih bingung dan tak mengerti juga?”
“Apakah kakak tidak akan..mengoperasi Alfi?”
“Dasar anak bodoh….bagaimana mungkin aku mau memiliki seorang suami berkelamin perempuan”
Suami?…jadi Lila menuntutnya untuk dinikahi.
Alfi tercenung sambil menatap perut Lila, tempat dimana di dalamnya salah satu benih nya sedang tumbuh. Ia sadar situasi dan kondisi Lila tak dapat di samakan dengan Sandra dan wanita nya yang lain. Lila memang tak punya suami ataupun kekasih. Sedangkan Didit maupun Donnie sudah tak mungkin untuk menambah seorang istri lagi. Berarti ia sendiri yang harus menikahi Lila. Betapa beruntung hidupnya. Entah kenapa saat membayangkan ia bakal hidup bersama dengan Lila tiba-tiba saja kemaluannya berereksi dengan hebat setelah selama satu bulan ini tertidur.

“Ada apa Fi, ka..mu diam saja? A..pakah…kamu merasa keberatan menikahi kakak?  Ji..ka demikian kakak tak ingin memaksamu… ..biarlah kakak yang akan membesarkan bayi kita sendirian” ujar Lila dengan nada suara mulai bergetar, Ia sadar sulit bagi anak seusia Alfi memikirkan harus melaksanakan tanggung jawabnya sebagai seorang suami meski Lila tak menuntut untuk diberikan nafkah secara materi.
“Ti..dakkk…bukannn begitu kakk, Alfi bersedia kok menjadi suami kakak, Lagian siapa tak ingin punya istri cantik dan pandai seperti kakak” ungkap Alfi cepat-cepat. Ia kuatir gadisnya itu terlanjur sedih dan kabur dari situ.
“Benarkah? Kau bersedia menikahi kakak?Dan apakah kau tak merasa aku terlalu tua untukmu?” Tanya Lila lagi.
“Kakak manis. Alfi sayang dan cinta kakak. Alfi bakal temani kakak hingga akhir hayat Alfi”ujar Alfi sambil meraih jemari Lila dan menggenggamnya agar gadis itu yakin akan keputusannya.
“Lantass kenapa dong tadi  kakak lihat kamu sempat diam dan nampak gelisah?” ujar Lila masih binggung. Tapi Ia sungguh gembira Alfi telah bersedia buat bertanggung jawab meski ia sendiri masih bingung bagaimana melangsungkan proses pernikahan itu di karenakan Alfi belum lagi berusia tujuh belas tahun.
“Ooo tadi itu Alfi..cuma …kuatir”
“Kuatir apa?”
“Ah..tidak apa-apa kak, kita ngomongin yang lain saja tapi yang jelas Alfi bahagia sekali bakal menikahi kakak, Eng..ya ngomong-ngomong kapan kak Niken dan yang lain berencana datang ke kota H kak?” ujar Alfi berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Hmm….Kamu bikin aku penasaran…ayo katakan dulu padaku apa yang kau kuatirkan sehingga bersikap seperti tadi?” ujar Lila duduk di bibir ranjang.
Percuma Alfi berusaha mengalihkan pembicaraan, Lila tetap mendesaknya buat berterus terang.

“Alfi tadi kuatirr kalau terus-terusan berdekatan dengan kakak … Alfi tak bisa mengendalikan diri lagi seperti tempo hari. Alfi kan sudah pernah sekali berbuat dosa terhadap kakak sehingga menimbulkan masalah besar, Alfi tak ingin mengulangi kesalahan itu lagi”” ujar Alfi sambil menunduk tanpa berani memandang ke arah Lila.
Tangan Lila menarikkan selimut yang menutupi dari bagian pinggang ke bawah Alfi. Alfi berusaha mencegahnya namun ia kalah cepat dari Lila. Lila tersenyum melihat ketegangan dari balik celana piyama anak itu. Lalu ia kembali mengulangi kecupannya tapi kali ini di bibir anak itu hingga Alfi terpancing untuk membalasnya. Meski demikian Alfi takut untuk bertindak kurang ajar ia hanya mengecup lembut dan buru-buru melepaskannya sebelum ia menjadi tak terkendali.
“Bagaimana jika aku yang memintamu… melakukan dosa itu lagi padaku?” tanya Lila saat ciuman mereka terlepas.
Kalimat terakhir Lila telah membuat Alfi mengangkat wajahnya dan menatap mata Lila. Ada sinar kerinduan terpancar di sana. Mata indah itu mengatakan kesungguhan sehingga segalanya menjadi jelas dan Alfi jadi tahu apa yang harus ia lakukan sekarang ini. Ia tak lagi ragu-ragu untuk menangkap tubuh mahkluk cantik di hadapannya itu ke dalam pelukankannya.
“Oh.. Kakk…kak…Alfii cinta kakak” bisiknya
“Nikahi kakak ya Fi… miliki kakak….kakak juga sayang padamu…cinta padamu..” Rengek Lila balas memeluk erat tubuh kecil bocah itu. Entah bagaimana caranya cinta dan kasih sayangnya terhadap Alfi bisa tumbuh begitu subur dan kuat padahal anak ini masih belum cukup umur dan tak bisa juga di katakan tampan. Bagaikan bumi dan langit perbedaannya. Kisah kasihnya lebih mirip sebuah cerita dongeng anak-anak ‘beauty and the beast’ ketimbang kisah cinta  ‘Romeo and Juliet’. Namun rasa ini tak terungkapkan indahnya. Hatinya begitu berbunga-bunga bagai perasaan seorang gadis ABG yang tengah dilanda cinta pertamanya. Lila seakan telah menemukan apa sebenarnya penawar bagi kegelisahannya selama ini.

Perlahan tubuh Lila rebah ke kasur sementara kepalanya telah jatuh ke dalam gumpalan  bantal Alfi. Sedangkan posisi tubuh Alfi berada di atas tubuhnya. Mata keduanya kembali saling menatap. Mereka tahu di hati mereka saling memendam kerinduan meski baru terpisah beberapa minggu saja.
“Kakak..cantik sekali” bisik Alfi terpukau. Seakan ada magnet yang kuat yang membuat wajahnya turun perlahan mendekat ke arah wajah Lila.
Emp…hanya itu yang terdengar. Rintihan Lila tak sempat keluar karena bibirnya sudah dipenuhi oleh hisapan bibir Alfi. Tubuh Lila gemetaran bagai orang terserang malaria. Tak ada pengaruh obat perangsang kali ini namun Lila merasa kali ini lebih mendebarkan ketimbang tempo hari. Pecintaan kali ini ia lakukan secara sadar dan karena iapun menginginkannya. Tak ada yang  menghalangi keinginan keduanya buat bersatu  sehingga ranjang kecil rumah sakit itu tak terasa sempit bagi mereka berdua. Untunglah tadi Lila telah mengunci pintu kamar terlebih dahulu saat masuk tadi. Lila heran Alfi menghentikan kecupannya. Anak itu merenggang menjauh dari tubuhnya sementara matanya menatap ke arah dada Lila. sejenak Lila mengerti keinginan anak itu. Dengan wajah  merona merah karena malu, Lila melepas sendiri kancing-kancing bajunya satu persatu. Ia tak menyangka ia mau melakukan itu semua itu di hadapan anak itu.
“pelan..pelan  Fi, ingat kepalamu belum boleh terlalu bayak bergerak” Lila mengingatkan anak itu.
Benar saja begitu semua kancing bajunya terbuka. Ciuman Alfi kembali menghangati bibirnya. Lila dapat merasakan jemari anak itu berusaha membuka pengait branya. Dan sepertinya ia sudah berhasil melakukannya. Kecupan Alfi  beralih ke leher jenjang Lila perlahan turun hingga sampai di belahan dada gadis itu  lalu lidahnya mulai menjilati setiap jengkal permukaan kulit kedua bukit putih kembar di hadapannya.
“Fiii…geliii..ouhhhhh” pekik Lila lirih ketika mulut Alfi menyergap salah satu putting payudaranya dan mengisapinya kuat-kuat.

Lila tak berani menekan kepala Alfi yang masih terbalut perban. Ia hanya meninggikan dadanya agar mulut Alfi makin terbenam di situ. Anak ini… ia pandai sekali menyenangkan diriku Pikir Lila. Ia seakan tahu di mana saja titik-titik rangsangan pada tubuh lawan jenisnya.
“Cks…..ckss……cksss” Alfi mengisapi ke dua putting Lila secara bergantian. Benda itu semakin memerah dan mengacung tegak. Puas menetek, Alfi melepas putting Lila
“Kakak Alfi ingin itu….” bisik Alfi. Penisnya sudah sangat tegang sejak tadi dan menagih untuk di lumat oleh sebuah liang vagina.
“Lakukanlah Fiii…kakak milik kamu sejak malam ini”
Alfi membuka kancing piamanya sedangkan celananya ia turunkan sebatas lutut. Ia sengaja tak telanjang bulat Ia kuatir setiap saat suster bisa saja masuk ke kamar dan memergoki mereka. Begitupun dengan Lila, Alfi hanya menarik lepas celana dalamnya dan menyembunyikannya di bawah bantal. Beruntung Lila memakai baju terusan yang longgar sehingga mudah bagi Alfi mengekplorasi tubuhnya.
Lila bisa merasakan kehangatan penis anak itu menekan perutnya. Jemarinya meraih ke bawah buat menyentuhnya kemudian menggenggamnya namun dia tidak dapat melingkarkan jari-jarinya secara penuh di pada benda itu. Lila merasa aneh, dulu-dulu ia tak pernah merasakan gairah meletup-letup seperti sekarang ini saat menatap dan menyentuh benda itu di ruang prakteknya. Benda  yang pernah memberikan rasa linu dan sakit namun juga sejuta kenikmatan pada vaginanya.
“Fii…” bisiknya lirih
“Kenapa kak?”
“ng..ga..punya kamu besar sekali ternyata”
“Kakak suka atau takut sakit?”
“Dua-duanya”
“Alfi janji bakalan pelan-pelan waktu masukinnya ke punya kakak nanti” Alfi membiarkan jemari lentik Lila mempermaikan daging miliknya itu.

“Fii..”
“Iya kakak sayang?”
“Ma..sukin sekarang…”rengeknya manja kerena menginginkan Alfi menuntaskan kerinduannya meski dengan agak malu-malu saat mengatakan itu.
“Pingin pakai lidah apa pakai titit,kak?”goda Alfi
“A..aaa Alfi gitu” rajuk Lila bertambah malu didesak mengatakan pilihannya itu sambil memukul-mukul manja dada Alfi.
“Bilang dulu…kakak sayang maunya dimasukin lidah apa titit Alfi?”
“Eng..ti..tit” ujarnya dengan pipi bersemu dadu.
Lila tahu ini pasti akan sedikit menyakitkan baginya, meski ia sudah tak perawan lagi karena  ia baru sekali melakukan persetubuhan dan kemaluan Alfi memang sangat besar dan panjang. Tapi saat ini ia sangat ingin merasakan kembali kenikmatan yang dasyat itu lagi lebih dari apapun di dunia ini. Dengan jemari tangannya, Lila membimbing penis anak itu yang berdenyut-denyut ke celah  basah vaginanya. Lalu secara naluriah Alfi menekan kemaluannya sehingga kepala titit berkulup besar itu meluncur masuk sedikit di antara bibir basah itu.
“Uhhhhh!!…sa..kitttt.”
Lila tersentak melengkungkan punggungnya untuk menahan penetrasi Alfi. Awal penyatuan itu  telah menciptakan sedikit rasa sakit sehingga Alfi pun menunda dulu tekanannya. Ia menjatuhkan bibirnya kembali menyusu pada putting payudara gadis itu sementara tangannya membelai lembut payudara satunya. Sedikit demi sedikit ia memberikan dirinya untuk dimasuki anak laki-laki hitam ini. Mendorong kemaluannya menerobos lipatan vulvanya. Ia merasakan kehangatan yang lezat ketika penis besar itu menyusup lebih jauh dan lebih ke dalam menembusi nya,
“Oughhh…Fiiiii…” desahnya nikmat setelah titit Alfi berhasil masuk semuanya ke liang senggamanya. Ia merasakan kenikmatan itu makin menyengat mana kala rahimnya terdesak oleh ujung kulup kemaluan Alfi.

“Masih sakit kak?” bisik Alfi. Lila menggeleng . Sambil melakukan penetrasi Alfi menatap wajah kekasihnya itu sehingga ia dapat melihat ekspresi Lila.  Mata Lila terpejam rapat di antara kerenyitan dahinya sementara giginya menggigit bibir bawahnya. Ia tahu gadisnya itu tak lagi merasakan sakit namun justru sedang dilanda kenikmatan.
“Ka..kak sayanggg…semua punya Alfi sudah di dalam punya kakak sekarang”
“Be..narkahh?” Lila baru yakin setelah melirik ke arah bukit kemaluannya yang bertumpu dengan bukit kemaluan Alfi.
Setelah organ cinta mereka berdua menyatu erat, kedua kaki indah Lila menyilang dan menjepit pinggang calon suaminya. Sementara jemari lembutnya mencengkram punggung Alfi. Kini tubuh kecil Alfi terjepit di antara montoknya ke dua paha wanita dewasa yang mengapitnya erat siap buat melakukan gerakan persetubuhan. Alfi mulai memaju mundurkan pantatnya. Ia sadar ini baru persetubuhan kali kedua buat Lila dan ia tak ingin Lilapun kesakitan akibat kocokan-kocokan yang cepat. Begitu ketatnya kemaluan mereka bertaut. Entah vagina Lila yang terlalu sempit atau memang ukuran penis Alfi yang tak normal. Bibir vagina Lila ikut tertarik keluar di saat penis Alfi di cabut. Begitupun saat daging hitam itu bergerak menusuk seakan bibir vagina Lila-pun ikut terdorong masuk. Kulit kulup Alfi tertarik keluar sehingga glans penisnya menyentuh dasar vagina Lila yang lembut. Namun Alfi merasa persetubuhan dalam tempo yang lambat seperti ini akan membuat dirinya berejakulasi dengan cepat. Vagina Lila dengan leluasa ‘menyiksa’nya dengan lumatan-lumatan kenikmatan. satu bulan tak bersetubuh sama sekali menjadikan tititnya terlalu sensitive.
“Ouhhhhh…kakakk” desah Alfi.
Lila dapat melihat wajah Alfi yang berubah pucat.
“Fiii…kamu tidak apa-apa kan?” tanyanya ditengah-tengah kenikmatan itu. Ia kuatir jika gerakan-gerakan yang mereka buat menimbulkan rasa sakit bagi kepala anak itu.
“ga pa…pa kak…Alfi..justru lagiii e..nakkk”jawabnya terbata-bata. Lila-pun merasa lega.

Sebagai seorang dokter ahli kandungan sedikit banyak ia tahu dan pernah membaca bagaimana cara mempergunakan otot-otot kewanitaan di saat berlangsung persenggamaan. Lila ingin mempersembahkan sebuah kenikmatan terindah bagi Alfi. Ia ingin meninggalkan kesan yang mendalam bagi anak itu. Ia ingin anak itu mencintainya dan tak pernah meninggalkannya. Lalu ia mencoba memperaktekan semua yang ia ketahui  pada persetubuhan mereka saat itu. Otot vaginanya ia kencangkan seolah sedang menahan laju air kencingnya pada saat pipis. Ia lakukan berulang-ulang. Akibatnya sungguh luar biasa. Alfi merasakan kuluman liang senggama gadis itu menjadi demikian tak terkira nikmatnya. Kedua biji matanya sampai terbalik ke atas. Sebenarnya Lila tak butuh melakukan gerakan itu karena vaginanya masih sangat sempit itu cukup untuk membuat Alfi bertekuk lutut.
“Ka..kaakkk manisss…Alfi bakal muncratt  duluannnn….Alfiii nggaa tahann lagiiiiii..Oughhhh” rintih Alfi sambil mendekap erat tubuh Lila. Pantatnya mengocok-ngocok beberapa kali sebelum akhirnya….
“Tumpahkan sayang…tumpahkan semua benihmu di dalam punya kakakkkk” bisik Lila sambil berdebar-debar menanti terulangnya saat-saat pembuahan dirinya oleh Alfi.
Alfi mencoba untuk menahan laju spermanya untuk terakhir kali namun kenikmatan itu sudah mungkin ia tahan lagi. Stok sperma yang terpendam selama hampir satu bulan itu dipompa naik dari testisnya dengan cepat mengalir menyentuh setiap syaraf-syaraf kenikmatan yang ada di alat kelaminnya. Kurang dari satu detik cairan-cairan kental itu akhirnya berhamburan memancar dari ujung kulupnya tanpa tertahankan lagi.
“Aoooooo…kakkkakkkk!!!!” Alfi terpekik sambil menghujamkan titit sedalam mungkin ke vagina Lila.
Crutttttt…..cruuuutttt…crootttttttt…..crotttt…Lila tersentak kaget. Titit besar anak itu mengembang kempis secara cepat di dalam cengkraman  dinding vaginanya. Lalu ia merasakan hentakan-hentak deras  ejakulasi Alfi membentur mulut rahimnya.

“Ohhhhh ….Alfiii kamu dapet sayang” Lila dengan pasrah menerima suntikan demi suntikan benih kekasih kecilnya itu.
Ia menunggu dengan sabar Alfi menyelesaikan ejakulasinya hingga tuntas sambil mempererat dekapannya. Lila sangat menikmati indahnya momen itu meski orgasmenya belum ia peroleh. Menit-menit berlalu, setelah orgasmenya reda, Alfi mengangkat wajahnya dari cekungan leher Lila  lalu mengecup kening gadis itu.
“Kamu kalah sayang!” ujar Lila.
“Iya…Alfi kalah sama kakak….memek kakak enak banget..bikin Alfi ngga tahan… sekarang giliran Alfi bikin kakak muncrat” ujar Alfi
“A..pa barusan kamu bilang?” Tanya Lila hatinya tergelitik mendengar kata ‘memek’ yang diucapkan Alfi. Menit-menit sebelumnya Alfi menyebut ‘titit’ buat kemaluannya sendiri dan bukan penis. Inikah bahasa persetubuhan? Terdengar begitu vulgar dan menggairahkan.
“eng… me..mek kakak enak. Ada apa kak?” Tanya Alfi.
“Ngga papa, bi…lang sekali lagi sayang “pinta Lila. Meski bingung Alfi menuruti permintaan kekasihnya itu.
“Memek kakak enak banget, memek kakak legit, memek kakak bisa ngisepin titit Alfi” bisik anak itu di dekat telinga Lila.
“Seperti inikahhh?” tanya Lila sambil mempergunakan otot-otot vaginanya seperti sebelumnya.
“Ohhh..kakaaaakkk”desahan Alfi keenakan. Ia lalu membekap bibir Lila lagi dengan ciuman. Kini Lila baru mengerti sekarang mengapa bocah ini begitu digilai oleh Sandra dan wanita lain yang pernah merasakan hubungan sex dengan Alfi. Titit bocah itu tak mengecil sedikitpun setelah berejakulasi secara dasyat tadi.
Setelah liang senggama Lila licin oleh spermanya. Kini Alfi dapat leluasa melakukan kocokan agak cepat.

“E..nak kak?”
“He..ehh…” jawab Lila. Kocokan Alfi kali ini cepat sekali membuatnya melambung.
“Besar ya kak?”
“He.ehhh be..saarrr…Fiiii”
“Kakak suka sama punyaku ya?”
“Iyahh Fiiii…kakakkk sukaa”
Alfi menyusupkan kedua telapak tangannya kebawah pantat montok Lila dan meremasnya. Sementara pantatnya semakin cepat berayun. Ia menggunakan semua kekuatan otot-otot pinggul dan pantatnya buat menaklukan dokter cantik itu. Penisnya yang besar seakan membongkar liang vagina sempit Lila.
“Fiiiii…All.fiiiii” rintih Lila memanggil-manggil nama Alfi diantara kecipak suara kemaluan mereka yang beradu akibat genjotan anak itu.
“Kakak sayang  sudah mau muncrat ya?” Alfi merasa Lila tak akan lama lagi bakal mencapai orgasmenya karena Organ kewanitaan Lila semakin kencang mencengram batang tititnya.
“Ohh…sayangggg punyamu besarrr….punyamuu enakkkk” Bibir Lila meracau tak terkendali. Kepalanya terlempar ke kiri dan ke kanan.
Denyut-denyut nadi ke duanya semakin cepat seiring semakin cepatnya kocokan titit Alfi ke liang senggama Lila. Lila-pun akhirnya telah sampai di puncak kenikmatan itu. Kuku-kuku Lila kuat dengan menancap pada pantat Alfi yang bulat sekujur tubuhnya bergetar hebat merasakan kenikmatan yang ditunggu-tunggunya seperti yang pernah ia alami saat malam ia di gagahi Alfi dulu itu telah datang menyapanya.
“Ouhhh….Fiiiiiiihh  eemfffffff!!!” sebelum pekiknya sempat terlontar buru-buru Alfi menyumbat bibirnya dengan ciuman agar tak membuat heboh rumah sakit.
Memang untuk  urusan ranjang, wanita memang mungkin kurang agresif menyerang. Tapi, untuk urusan orgasme, wanita tetap jadi juaranya!

Semua otot-otot kewanitaan Lila berkontraksi berirama dengan sangat cepat dan kuat diikuti di bagian panggul dan rahim. dan diakhiri dengan hisapan kuat pada titit Alfi
lebih kencang dari sebelumnya yang membuat Alfi ikut melambung keenakan. Lila terus mengejang sementara vaginanya berdenyut-denyut terus mengeluarkan cairan kenikmatan .
“Aooooo….Kakkkkkk Lilaaa  enakkk !!!!” Alfi berusaha menahan jeritannya karena sengatan nikmat yang seakan ikut membetot jiwanya bersamaan dengan cengkraman otot-otot vagina Lila yang dasyat pada penisnya. Bahkan saat Lila menghentak seakan vagina gadis itu hendak mencabut putus miliknya. Kedua biji mata Alfi mendelik menahan rasa geli yang menjalar cepat terutama pada bagian kepala penis yang dipenuhi syaraf kenikmatan. Rasa-rasanya ia tak akan menunggu waktu lama untuk kembali berejakulasi. Nikmat itu demikian menggila dan tak dapat  ia  lawan. Sehingga…..
Creetttt…Creett..Crettt
“Kakaaaakkk…Allfiiii muncrattt!!!!! Emmfffffff!!!” Kali ini Lila yang menangkap bibir anak itu dengan ciuman panjang.
Kedua tangan Alfi memeluk pinggang ramping Lila kuat-kuat. Bersamaan dengan penisnya berkejat-kejat keras lalu memuntahkan seluruh sisa spermanya kedalam rahim Lila. Cairan itu melesat bagai peluru dari lubang pipisnya dalam volume yang sangat  banyak. sehingga vagina Lila bagai tak mampu menampungnya semua. Sebagian besar keluar tumpah dan mengotori seprey di kasur. Bahkan setelah menyemburkan banyak mani namun titit Alfi masih terus menghentak-hentak kuat  seakan–akan cairan kental itu tiada habis-habisnya apalagi vagina Lila-pun seakan tak pernah mengendurkan hisapannya pada batang titit Alfi. Semua itu telah menambah panjang sesi orgasme yang mereka alami.
“Uhhh…sayanggg…benihmu banyak sekaliii”desah Lila kala kenikmatan itu mereda. Ia sempat heran mendapati begitu banyaknya jumlah cairan  yang dihasilkan oleh biji pelir anak itu.

************************
Malam semakin larut dan jam telah menunjukkan pukul dua dini hari. Sprey kasur Alfi telah kusut tak menentu oleh persetubuhan panas yang tiada henti itu.
“Sudah dulu ya sayang, kakak takut nanti luka di kepalamu berdarah lagi karena terlalu banyak bergerak. Besok-besok kita terusin ya?” bujuk Lila meski Ia tahu banyak dari Niken jika Alfi tak akan berhenti menyetubuhi wanitanya sebelum keduanya berkali-kali mengalami orgasme bahkan hal tersebut dapat berlangsung sampai menjelang pagi tiba. Kalau saja mereka tak sedang di rumah sakit ingin rasanya Lila membiarkan titit besar anak itu mengeram di dalam vaginanya hingga pagi hari.
“Ngga mau…Alfi mau entot kakak sampai pagi .”
“Sayang kamu harus ingat kita sedang di rumah sakit. Nanti ada yang melihat atau mendengar jeritan kita. Kita kan bisa melakukan sepuasnya di rumah kakak saat kamu pulang dari sini”
“Satu kali lagi saja kak…boleh ya?” rengek Alfi.
“Hmm…baiklah tapi hanya satu kali lagi saja” ujar Lila tak dapat lagi menolak meski hatinya was-was takut mendadak ada suster yang memergoki mereka dalam keadaan demikian.
Kali ini orgasme Lila datang lebih cepat dari yang pertama tadi. Seluruh syaraf-syaraf kewanitaannya menjadi sangat sensitive terhadap setiap sentuhan Alfi. Baru di genjot Alfi dua menit ia mengalami orgasme, lalu yang ketiga dan seterusnyapun susul menyusul  tanpa henti. Lila tahu ia telah mengalami multiorgasme. Hal yang didambakan setiap wanita yang pernah merasakan hubungan intim. Ia merasa sungguh takjub pada kejantanan Alfi. Padahal anak itu sudah berkali-kali pula berejakulasi namun tititnya tak pernah menjadi ciut. Hal itu semakin membuat Lila tergila-gila pada bocah itu.

“Anak bandel katanya cuma sekali saja…dasar!” ujar Lila di sela-sela napasnya yang belum teratur. Setelah orgasmenya mereda jemarinya mendorong perut Alfi menjauh dari tubuhnya. Alfi dengan berat hati mencabut lepas tititnya pelan-pelan dari kuluman vagina Lila. Sperma berhamburan keluar dari vagina Lila mengalir membasahi seprey.
“Sudah sayang. Besok lagi ya” bisik Lila  berusaha menahan hasratnya sendiri yang masih terus mengukunginya karena Alfi masih saja mencucup puting kirinya di saat gadis itu berusaha mengancingkan bajunya.
“Plokk!” pagutan Alfi akhirnya terlepas dari putting merah itu sehingga Lila dapat mengancingkan seluruh gaunnya.
Setelah membenahi pakaiannya Lila lalu pindah ke sofa. Namun mata mereka masih selalu beradu pandangan dari jauh dan tak kunjung merasa ngantuk. Tiba-tiba perlahan Alfi bangkit dan turun dari ranjang dan berjalan menuju ke sofa dimana Lila terbaring. Lila tersenyum geli. Ia merasa dirinyapun tak berbeda dengan anak itu yang tak ingin detik-detik malam ini berlalu sia-sia tanpa persetubuhan. Di atas Sofa itu ia kembali merasakan daging cinta Alfi memadati vaginanya dan memperoleh beberapa kali orgasme yang kuat sementara Alfi satu kali lagi sebelum akhirnya anak itu betul-betul tak menjamahnya lagi dan kembali ke atas ranjangnya sendiri malam itu. Lila tertidur lelap dengan senyum tersungging di bibirnya. Rasanya kenyataan yang ia alami barusan jauh lebih indah dari segala impiannya pernah ada selama ini.

*************************
Beberapa hari kemudian Alfi sudah diijinkan pulang oleh pihak rumah sakit. Dengan merengek Lila memaksa Alfi untuk tidak pulang ke rumah Sriti namun tinggal di rumahnya. Ibu Lila tentu saja tak keberatan Lila merawat anak itu di rumahnya. Wanita tua itu mengetahui jika Alfi terluka karena menolong Lila pada peristiwa penculikan yang menimpa Lila kecuali bagian kejadian saat Lila dicabuli oleh Alfi. Apalagi Alfi merupakan anak asuh Niken teman Lila sejak dulu. Alfi diperbolehkan menempati kamar tamu depan.
“Meski kamu sudah tak dirawat di rumah sakit namun dokter mengatakan kamu harus tetap beristirahat selama beberapa minggu hingga kamu benar-benar pulih Fi” ujar Niken yang saat itu datang menyelesaikan administrasi perawatan Alfi dengan pihak rumah sakit. Niken senang dengan situasi yang berakhir membaik terutama menyangkut hubungan Lila dan Alfi.
“Kakak juga minta maaf tak dapat terus merawat kamu Fi karena kakak di minta Kak Nadine-mu ikut tinggal bersama mereka di kota S buat merawat bayimu” ujar Sriti ikut lega. Iapun dipekerjakan oleh Didiet di dalam perusahaannya.
“Iya kak, sampaikan salam sayang Alfi buat kak Nadine dan juga buat kakak-kakak yang lain, Alfi kangen sama mereka”
“Kamu pasti cepat sembuh Fi sebab ada seorang dokter cantik yang merawatmu di sini” Niken mengerling ke arah Lila membuat gadis itu jadi tersipu malu. Jelas Lila tak dapat menyembunyikan keintimannya bersama Alfi dari Niken.
Sepulang Alfi dari rumah sakit percintaan panas tersebut berlanjut di rumah Lila. Lila menginginkan Alfi untuk menghabiskan setiap malam di tempat tidur dan bercinta dengannya sesering mungkin yang ia ingin.

Kedua insan berlainan jenis itu benar-benar sedang di amuk asmara dan birahi. Terkadang mereka melakukannya di kamar Lila lain waktu di kamar Alfi. Bahkan saat Lidya ada di rumah  di siang haripun mereka mencuri-curi kesempatan untuk bersama. Celana dalam Lila-pun tak pernah sempat terpasang semenjak Alfi tinggal di rumahnya. Lila sadar ia bisa mengundang rasa ingin tahu ibunya dan Lidya yang tidur di kamar sebelah. Oleh sebab itu Ia selalu berusaha menahan jeritannya dengan menggigit bahu anak itu ketika orgasme datang melandanya. Lumayan menyakitkan bagi Alfi tapi ia sungguh bangga berhasil membuat kekasihnya itu memperoleh orgasme demi orgasme yang begitu kuat. Kini si cantik Lila benar-benar telah takluk oleh keperkasaan Alfi. Otaknya yang cerdas dan hatinya yang dingin itu telah luluh lantak oleh kejantanan anak itu. Ia tak mampu menahan terjangan hasrat dan gairah yang meletup-letup yang ditebarkan Alfi padanya. Tak ada kata bahkan teori kedokteran yang tepat buat mengungkapkan keindahan badani itu. Apa dan bagaimana indahnya rasa orgasme itu. Hanya dengan melakukannya, hanya dengan membiarkan Alfi menyentuhnya, dan hanya setiap sentuhan anak itu yang dapat menjabarkannya secara nyata. Alfi telah mampu menuntaskan rasa rindunya sebagai wanita yang telah lama mendambakan datangnya curahan kasih sayang dan belaian dari lawan jenisnya.


***********************
Enam minggu kemudian

“Hoekkk…hoekkk” Lila tak dapat menahan rasa mual yang mendorongannya untuk muntah. Ini memasuki bulan ke tiga sejak pertama kali ia di gauli oleh Alfi. Lila memang tak pernah melakukan test terhadap dirinya namun secara naluriah ia tahu sejak awal bahwa dirinya sedang Hamil! Selama ini ia berusaha menyembunyikan kehamilannya dari Lidya dan ibunya. Namun beberapa hari ini rasa mualnya semakin menjadi-jadi.
“Kau tidak apa-apa nak?” tanya ibunya kuatir sambil bergegas membantunya.
“Ngga apa-apa buuu, Lila hanya masuk angin….Hoekk…hoekkk!” ujarnya kembali menaruh kepalanya di washtafel.  Ibunya dengan telaten membantu mengurut tengkuknya. Itu biasa orang lakukan untuk mengurangi rasa mual sambil memoleskan minyak angin di dekat hidung putrinya. Setelah rasa mual Lila agak mereda, wanita tua itu dengan hati-hati membimbing putri cantiknya itu duduk di sofa bersamanya.
“Mari duduk bersamaku di sini sayang…ada yang ingin ibu tanyakan padamu”
“Iya bu?”
“Sudah berapa bulankah usia kehamilanmu nak?” ibunya bertanya dengan suara yang lembut
“i..bu…sudahh  ta..hu?” ujar Lila tercekat.
“Sayang…meski ibu bukan seorang dokter kandungan sepertimu namun engkau tak mungkin mengelabuhi mata tuaku ini, mungkin engkau lupa kalau aku adalah seorang ibu yang pernah melahirkan dua orang putri?”  ujar sang bunda. Lila betul-betul tak menyangka jika ibunya bakal mengetahui apa yang terjadi pada dirinya secepat itu.
“masuk ti..ga bulann bu” ujar Lila lirih sambil menunduk..
“Apakah…Alfi telah tahu jika dirimu sudah hamil olehnya?” Tanyanya lagi. Pertanyaan kedua itu membuat Lila lebih terkejut, Ibunya bahkan juga dapat menerka secara pasti jika si Alfi adalah ayah dari janin di dalam perutnya itu.
“Me..ngapaa ibu berpikir kalau anak itu yang..?”
“Ibu memperhatikan dari caramu meladeninya selama ini seperti saat membawakan makan dan minum baginya, menyuapinya, dan caramu berbicara dengannya, jelas itu bukan sekedar hanya sekedar hubungan antara seorang dokter dan pasien atau apapun hubungan biasa lainnya, itu jelas adalah hubungan yang didasari oleh kasih sayang dari seorang wanita terhadap lawan jenisnya. Nah.. kau belum menjawab pertanyaan ibu tadi”.

Jelas sulit bagi Lila buat menyembunyikan semua itu dari ibunya.  Mata bijak wanita tua itu telah dapat membaca semua yang terjadi pada putri cantiknya ini. Lila-pun mengangguk mengiyakan.
“Ma..afkan Lila bu….Lila mungkin telah sangat mengecewakan ibu”
Setelah mengatakan itu air matanyapun tumpah tak tertahankan. Ia bingung harus berkata apa lagi kepada ibunya. Hatinya jadi diliputi kekuatiran jika ibunya tak menyukai hubungannya dengan Alfi . Tetapi sang bunda segera meraih kepalanya dalam dekapan  erat. Lalu belaian lembut jemari tua itu memberikan rasa nyaman pada Lila.
“Tak perlu takut nak…ibu tak perduli ia seperti apa, yang terpenting ia sungguh-sungguh mencintaimu sepenuh hatinya begitupun sebaliknya. Ibu belum pernah melihat dirimu begitu bahagia sebelum bertemu dengannya. Ibu juga bahagia untukmu Nak” Ujar ibunya lembut
“I..bu juga tidak…malu punya menantu semuda itu? ia bahkan belum delapan belas saat ini”
“Tentu saja tidak, tahukah kamu usia ayah dan ibumu tak lebih tua dari anak itu saat kami menikah dulu, namun perbedaannya saat itu kami memutuskan untuk menunda memiliki anak sampai beberapa tahun ke depan”
Tangis Lila semakin jadi. Sungguh diluar dugaannya ternyata ibunya justru merestui hubungannya dengan Alfi. Entah mengapa ia menjadi begitu kolokan saat ini. Yang jelas ia merasakan lega bercampur bahagia.
“Sudahlah manis…ibu ingin kamu menjaga cucu ibu baik-baik, untuk itu kamu jangan terlalu memporsir dirimu dengan pekerjaan saat di kota S nanti”
Lila mengangguk Rasanya ia bahagia sekali melihat mata tua ibunya yang berbinar-binar dan bibirnya yang mengembang senyum penuh kebahagiaan pada wajahnya yang berkeriput itu.

**************************
Pagi itu, di atas kasur empuk dan hangat di dalam kamar tidur Lila, Lila menggeliat, terjaga dari tidur nyenyaknya. Penis hitam Alfi masih mengeram di dalam dekapan vagina rapat miliknya sejak semalam. Benda yang tak pernah benar-benar menjadi lembik setelah berejakulasi. Tak sampai satu jam benda itu selalu kembali mengeras dan kembali memadati liang senggama sempitnya. lalu kembali aktif keluar masuk tanpa henti. Bercak-bercak merah bekas cupangan Alfi tersebar di leher jenjang putih gadis itu hingga ke sekeliling payudaranya. Pada kedua bahu Alfipun nampak memar bekas gigitan Lila. Persetubuhan panas itu sudah berlangsung sejak semalam, namun tubuh sintal dokter cantik itu tak pernah lepas dari tindihan tubuh kecil Alfi. Betapa ia telah membiarkan anak itu mendominasi dirinya, menguasai dirinya secara penuh, membuatnya terpekik-pekik sepanjang malam saat dilanda orgasme tak berujung. Alfi masih tertidur lelap dalam dekapannya saat terdengar sebuah dering halus berasal dari  Hpnya . Ternyata berasal dari Niken. Lila tersenyum dan mendekatkan HP tersebut ke telinganya
“Selamat pagi putri cantik” sapa Niken dari seberang sana.
“Stttt… jangan keras-keras Nien, si Alfi masih tertidur” bisiknya. Ia tak ingin anak itu terganggu.
“Apakah sang pangeran masih di dekatmu?”
“Dia …bahkan masih di ‘dalam’ diriku saat ini”
“Woww… aku jadi cemburu nih hi hi. Eh ngomong-ngomong La apakah selama ini ibu dan adikmu tidak curiga terhadap kalian?”
“Tidak bagi Lidya namun ibu sudah tahu semuanya”
“Aduhh gawat! Lan..tas bagaimana…tanggapan beliau La?”
“Ngga ada yang perlu di kuatirkan, Ia mengerti kondisiku saat ini. Ia malah mendesak aku menikah segera dengan Alfi”
“Menikah La? Ia menyuruhmu menikahi anak itu? Tetapi Alfi kan baru mau tujuh belas tahun ini. Bagaimana bisa?”

“Aku juga binggung tapi akupun ingin dia…… nikahi”
“Wah gayung bersambut  nih…”
“Iya  Nien seperti halnya dirimu, aku tak ingin berpisah darinya lagi, aku tak perduli orang mau bilang apa tentang hubungan kami, yang penting aku bisa selalu bersamanya. Hanya saja aku masih harus minta ijin dari Sandra dan yang lain termasuk engkau Nien karena hal itu pasti akan membuat jatah kalian terganggu”
“Hmm…kau tak usah kuatir La, aku rasa Sandra dan yang lain pasti akan mengerti dan tak keberatan akan hal itu. Kaupun berhak atas diri Alfi karena ia juga yang merengut kesucianmu sekaligus memberikan janinnya di perutmu. Nampaknya Alfi memang jodohmu La, bukankah kaulah yang lebih dulu pertama kali bertemu dengannya ketimbang kami, tetapi kau yang terakhir menerima cintanya.”
“Makasih Nien atas dukunganmu. O ya Nien aku juga harus mengatakan padamu jika sementara waktu aku tak dapat meladeni kalian di tempat praktek karena aku harus merawat si Alfi dulu hingga ia sehat betul ”
“Ngga pa pa La, dokter penggantimu juga cocok buatku kok. Benar-benar tak disangka jika kita bakal melahirkan bayi-bayi dari lelaki yang sama hi hi”
“Oookhh…..Nienn…” tiba-tiba Lila memekik lirih.
“Laa ada apaa? kamu baik-baik saja kan?”
“I..yaaa..A..ku  hanyaa merasakan ia membesar lagi dalam tubuhku…” ujar Lila bergetar. Saat sengatan nikmat kembali menyentuh setiap syaraf-syaraf kewanitaannya.
“Kakakkk… sudah bangun duluan ya” ujar Alfi mengeliat dari tidurnya.
Secara naluri mulutnya menangkap puting payudara Lila yang terdekat dengan bibirnya.
Selanjutnya Lila tak dapat lagi meneruskan atau bahkan hanya sekedar buat menutup percakapannya dengan Niken ketika bibirnya sudah terlalu sibuk meladeni lumatan-lumatan panas bibir Alfi. Apalagi disaat yang sama pantat bulat Alfi telah bergerak naik turun menggenjotnya lembut. Hp-nya terlepas dari pegangannya dan meluncur jatuh ke karpet.
“La…laa…” masih terdengar suara Niken memanggilnya di seberang sana namun tanpa mampu ia jawab lagi.

Bersambung
-----------------------

57 Tanggapan

  1. pertamax dl yah
    pagi2 bagi cerita beginian bikin kepala atas n bawah cenut2
    nice story….sempet terbuai dalam ceritanya….
  2. komentar pertama… kalo dibuat cerita semi mantep neh…
  3. Wah Salut deh buat sang jawara pengarang heeeeeeeeeee, seperti kisah Kino 1 s/d 11 yg tidak tahu kemana rimbanya lagi heeeeeeeeee tapi asik deh membacanya…………. ditunggu bossssssssss lanjutannya dan terimakasih deh telah membuatkan karangan sehingga ada bacaaaaaaaaaannnnnn yg mengasikannnnnnn
    Re: kisah kino? apaan tuh?
  4. dramastis, seru…. & sama2 ganas (Dr. lila and alfi)
  5. kalo bs ceritanya trs berlanjut ampe ank2 dewasa(alfi)
    Re: walah masa sampe dewasa, bisa sepanjang lord of the ring deh ceritanya
  6. Kali ini ceritanya penuh sentimentil makin yahud boo tidak cuma mengandalkan selangkangan mulu. Salut buat penulisnya yg tiba2 jadi penulis cerita beneran.
    Re: salut memang sama pak dokter yang tulisannya makin maknyus aja
  7. pada 13 November 2009 pada 08:41 | Balas naga_langit ( death is today )
    beneran nih…standar KBB makin tinggi aja . ceritanya ok bangetz……( walau gue masih sebel sama alfi )…hehehehe
    sangat dtunggu kelanjutannya.
    i’m death now.
    i’m in hell
    but i will rise again
    in different form…..
    and i will bring death to them
    i will bring hell to them
    then i will go back
    to where i belong….
    Re: sentimen ama alfi nih hehehe… itu puisi apaan bos naga?
  8. great story and very good detail that’s all that i can say.
    Kutunggu ceritamu selanjutnya dan jangan terlalu lama ya
  9. WAhhhh, jadi kawin nih si Alfi ??
    lengkap dong, Dr Lila & Dr Alfi
    nah terus yang bikin cerita Dr H,
    ck ck semuanya serba DR, ditung-tung nih lanjutannya ^_^
    Re: Dr sama DR beda loh sis
  10. aku tunggu versi film x… moga2 ad.
    hehehehehe
  11. penuh intrik dan menggairahkan..lanjutkan perjuangan
  12. Yah Alfi gak jadi mati dah
    padahal ane dah siap2 gantiin Alfi xixixiixi
  13. Ini dia Nyang ditunggu
    Lumayan mumpung dingin2 gini hahahaha
    thanks dr H
  14. Beuh…. Finally keluar jg yg ditunggu2…
    Kumplit, ada haru, drama keluarga, gulatnya n pastinya esek2nya (makin mantap) =)
    Wah jd penasaran niy klanjutannya….
    Ditunggu niy Bung Prof. Dr. H…. Heheheheh…..
    For Mr. Shukaku, kayaknya ni story dah layak bwt dibikinin file tersendiri or kategori along with the other Legendary Writer…
    2 jempol ke atas !!!!!
    Re: iya bentar lagi gw kasih folder sendiri kok, cerita pak dokter ini emang unik ya hub antara alfi dgn korban2nya bisa akur, padahal di nightmare campus, mrk kan terpaksa, di eliza juga, apalagi di schoolgirl nya sis yo sampe sesama pemerkosa aja saling gontok2an
  15. pada 13 November 2009 pada 18:18 | Balas temannya alfi
    kapan lagi lanjutannya…??
  16. buseth, subuh2 udah banyak aja yg online en baca nih cerita.
    btw, cerita nya keren banget lho.. thx buat dr.H yang telah mengarang cerita romantism berbalut sex (ato sebaliknya?hehe).
    btw, kbb ada facebook ga? trus black note 4 kapan rilis?
    Re: ada facebooknya, liat deh di kolom kunjungi juga
  17. keren ceritanya, sinetron abis, kayak bikinan fredy s.
    btw liat juga karyaku di: http://ceritasexgadisberjilbab.blogspot.com/
  18. episode 2 dari 3??? wah masih ada kelanjutannya?? masih ada kejutan apa lagi nich
    seperti biasa liong cuma bisa kasi two thumbs up!!!
  19. buat para pembaca setia KBB, bro mumex, bro M, bro Fransiskus, bro zxy, bro bokeb88, bro Teddy, tegar, ad2005, ikipiyeto, nebu, Nemasu, temannya alfi, maharaghi, liong, mygodzilla
    trims atas smua tanggapan, saran & komennya, lanjutannya segera tayang menunggu giliran harab bersabar.
    Buat para senior KBB
    Sis Yo trims sis, Alfi jadi dokter? ngga mkn spt-nya. he he gw tunggu lanjutannya ujang sis. sis gw baca berita kemarin ttg model dibunuh ama jururiasnya di sb apertmen, kalau ngga keberatan sis buatin ceritanya, tapi si cewe jgn di bunuh cukup di Rape aja dan jururiasnya bencong gitu tapi msh punya napsu ama cewe. he he
    Bro Naga trims sdh baca, Btw bro naga skrg transporm jadi apa ya? apa mkn maksudnya gendre tulisannya yg berubah? kalau liat sajaknya mirip SPAWN atau The Crow.
    Re: ooh iya dah denger yang model dibunuh juru rias bencesnya, dasar psycho tuh
  20. *Dr H
    Maksudku “Dokter dengan jarum suntiknya” buat Dr Lila ke ke ke (naughty mode : On)
    Awww.., dibunuh oleh juru riasnya??
    enggak ah , seyem…T_T kebayang-bayang juru riasnya yang kejam.
    “PLAKKK…” (menepuk jidat), Weks, pantesan asa ada yang kurang pas mempersiapkan judul-judul , ternyata
    cerita siujangnya dah lama ketinggalan…ya, tar aku mulai ketik deh…..
    Re: wah sis yo sibuk amat sampe lupa ceritanya sendiri
  21. satu kata aja : mangstabhhh
  22. cerita dr h emang mengharu biru dan merasuk di kalbu bumbu cerita nya tambah makyus dan mantap. dari awal ampe akhir sungguh menghanyutkan dan mendebarkan apalagi ada scene actionnya (coba ada jurus kung fu nya kayak jurus kin yu sing kang dan kim in tay lo ing (benar ngak ya nulis jurus tsb) kalo salah mohon di edit ya seperti di serial heaven sword and dragon sabre di semua versi kecuali versi 1994 yang hancur abis hi hi hi) kok malah ngelantur ya oke kembali ke laptop cerita dr h mengingatkan ku pada cerita kho ping joe dan ceritanya boss chad nih emang dr h mungkin penerus generasi mereka ber2 kali ya lanjutan bag 3 nya jangan lama lama boss di antrian ngak sabar pingin tahu kelanjutannya (ngarep mode on)
    Re: kok bisa toh disamain sama serial silat bro?
  23. pada 15 November 2009 pada 12:00 | Balas devik may cry
    manteb abis ditunggu kelanjutaannnya jadi pengen tau the end nya nih , bakalan kayak apa
  24. MAKIN GA JELAS AJA NIH KISAHBB..
    NAMANYA KAN KISAHBB = BEAUTY AND THE BEAST, HARUSNYA ANTARA ORANG JELEK DAN WANITA CANTIK.. KREATIF DONG SHUSAKU KALO PILIH CERITA, GW LAMA2 ENEK LIAT BLOG LU.. DULU WAKTU RYT GW GA PERNAH ABSEN TONGKRONGIN BLOG LU.. TP LAMA2 LU KAYAK YG GA KOMITMEN LG NIH.. KEMBALIKAN KISAHBB SEPERTI YG DULU.. GW CUMA PENGEN KISAHBB MAKIN DICINTAI.. THANKS
    Re; makin ga jelas gimana? bukannya cerita ini dah termasuk co beast ama yg cantik? liat deh deskripsinya. gw juga ga sembarang muat tulisan disini kok, kan dah terbukti bbrp karya hasil copas akhirnya ditarik lagi berkat kerjasama dengan para pembaca disini. disini kan ga pernah memuat cerita co2 sok ganteng yg ngayalin main ama ce idamannya, kalau ada bbrp cerita ga sesuai selera ya wajar2 aja lah, yang penting disini tetap kbb kok, ga kaya forum2 lain yg isinya asal copas aja
  25. alfi ku makin sayang sama km !! terusin trs cerita2 alfinya yah!! asli aku baca bisa terus2an dan terangsang
  26. Wah, dr. H makin ok aja nih ^^.
    Ceritanya buatku terhanyut…tetep nulis ya Bro, ditunggu karya2 Bro selalu.
    Maap y, lum sempet chat ^^.
  27. peri_cantik godain ane doooong suit suiiiiiiiiitt
  28. menurut gua yang begini lebih bagus… jujur kalo nntn bokep gua lebih suka yang ada jalan ceritanya (semiporn non sensor) dibandingkan yang dateng2 dah langsung ngesex… males banget… lebih bagus alur cerita yang mengantarkan… kayak cerita ini.. ada sisi lain.. kesetiaan, persahabatan, cinta, dan nafsu.. lengkap ada satu synergi (yoiii synergi) di cerita itu.. kalo cerita yang dateng2 nyulik lalu rape gt malah gua males bacanya…. menurut gua ini salah satu cerita yang bagus… tapi tetep eliza 12 yang the best of the best…..
    Re: pasti dian kanon lagi kembung kempes idungnya baca koment ini
  29. doujin … ea … ea, buat blog sendiri gih sono, fans kbb masih banyak kok dan akan terus bertambah, karena orisinal,
    ilang doujin satu muncul 100 lainnya
    idup kbb, idup kbb, mupeng on
    Re: eii…ei jangan gitu, jangan sampe berantem disini. dia omong gitu kan bukan sembarang maki2 tapi ada alasannya, ya beda selera sih kalau gw rasa, yang penting disini sama2 bb ok, damai damai
  30. pembaca setia KBB
    bro suka XXX, Devik may cry trims sdh mupeng, lanjutan biasanya keluar menunggu antrian.
    Bro Andranih, trims bgt bro. actionnya masuk sedikit sesuai dg tuntutan cerita aja. nulis cerita full silat & horror butuh bakat rasanya gw ngga mampu nulis spt master Joe & master Chad.
    sis peri cantik, ayo sapa yg mirip Alfi boleh kenalan sama sis kita satu ini. sptnya bro ikipiyeto tergoda nih Hihi bercanda sis. trims sdh setia mengikuti kisah ini.
    Bro m, trims sdh suka, semua cerita punya ciri sendiri2 begitupun dg selera baca para mupenger di sini. Klu gw Eliza 8 yg paling gw suka.
    Master PBinal sepertinya ada salah satu penggemarnya yg ngga sabar nunggu lanjutan RYT haha (termasuk gw sih) maaf bro doujin, gw rasa setiap mupenger lain di sini juga punya pilihan Favorit cerita/penulis masing2.
    Sis Diny, ya sama2 sis tetap semangat. trims bgt. gw juga jarang OL sis.
    btw sis yo ngajakin Kolab tu sis. sekalian aja ajak sis Dina Amel.
    bro Shu apa pesen gw udah kebaca? kok ngga di bales he he
    Re: hah udah dibalas dari kemaren2 kok, masa blm terima? masuk spam kali ya, coba di cek, tar gw reply lagi deh
  31. ini dia nih serial fav gue muncul.
    klo cerita alfi tuh gimana ya? dramanya tuh bagus, selain cerita seksnya juga mantab.
    alurnya enak untuk ditelusuri.
    emosi emosi alfi dan para pemeran lain tuh terasa nyata.
    dialog dialog (ini yang paling penting menurut gue) yang di tampilkan itu bahasa nyata, sehari hari, masuk akal, sopan gak terlalu bahasa gaul, tapi klo orang bicara untuk keadaan seperti cerita diatas, yah begitulah adanya.
    pembaca dibawa kedalam situasi tersebut.
    soal protes pembaca lain soal keberuntungan alfi, itulah hidup sesungguhnya.
    ada orang orang yang selalu beruntung dalam hidupnya. ada pepatah sepandai pandainya tupai melompat pasti jatuh juga. sebenarnya saya gak setuju dengan pribahasa seperti itu, dengan pribahasa seperti itu, kayaknya orang males untuk berusaha jadi pintar, secara gak langsung, pelan tapi pasti itu semacam pencucian otak, orang pandai adalah orang jahat, orang kaya adalah orang jahat, tunggu mereka sampai jatuh terus dirampok. yang jahat orang kaya apa miskin? sebenarnya yang jahat itu kan orangnya, mau kaya ato miskin, memang org klo jahat yah pasti jahat.
    ini gue comment cerita apa yang lain yah? hahaa.. sorry sorry
    yah intinya, kehidupan seperti itu. ada yang beruntung ada yang kurang beruntung.
    anyway gue suka dengan alfi. klo ada tokoh seperti dalam kehidupan nyata, gue juga mau adopsi ah
    Re: walah mau dicoba benerannya? wah ati2 bro
  32. @doujin
    sorry baru baca comment anda, hmm… gue ngerti sih maksud bro, soalnya kan si alfi kesannya tuh keren, dan lila bahkan gak jadi diperkosa ama erik.
    tapi disinilah titik terangnya sebenarnya. si alfi memang gak jelek jelek banget,
    tapi lu mau istri lu dihamilin anak umur 17 thn? sering maen perek, idupnya di lingkungan prostitusi, dan walaupun uda ama istri lu, masi juga makan makan korban teman teman istri ato temen lu?
    bersedia teman, kakak, adik, ato orang dekat u nikah ma ni anak?
    walaupun gue gak yakin doujin baca ini, tapi klo baca, coba lah bayangkan dari sisi tersebut.
    sang beast disini telah terang hidupnya. jangan karena tak ada kekerasan, tak ada pemaksaan seks, lantas si beast jadi bukan beast lagi, tapi ini lebih ke mind seks, betapa kita diajak, untuk menekuni tokoh alfi, kita diajak untuk memaklumi beast yang satu ini untuk masuk kedalam kehidupan kita, untuk menghamili istri dan sahabat kita. dan bahkan menyayanginya.
  33. pada 16 November 2009 pada 02:58 | Balas susno duaanaja
    “lap sken”-nyah sungguhh mempesonahh… dr.h emang jagoan-nyahh… lanjutkan… ditunggu lohh…
  34. Bro Mikenjess
    sebenarnya apa yg bro jabarkan itu memang benar & ada di dunia nyata sekarang ini. TAPI memang agak aneh jika terjadi di kultur ‘TIMUR’ atau negara kita. justru itu banyak ‘mupenger’ merasa Illfeel membayangkannya. orang kita mungkin jika melihat cewek cantik lebih cendrung mau dipakai sendiri. justru itu sedikit sekali penulis yg bergabung di KBB kita ini.
    Cerita Alfi menonjolkan sisi prilaku ‘Cockold’ dan ‘Straight Shota’. Straight Sex adalah hal yg biasa dan tak lagi menarik bagi orang yg hidup di negara yg bebas spt di ‘BARAT’. justru mereka mencari hal yg lain. spt ‘Cockold’, kekerasan, Shota/Lolicon bahkan INCEST & BEASTIALITY!
    tapi yg jelas bro Shu tak gegabah memilih cerita2 yg bakal masuk ke sini. Originalnya tokoh Alfi berusia jauh lebih muda dari yg ditampilkan namun dg pertimbangan bro Shu mengedit-nya demi kebersamaan di sini. ngga cuma itu salah satu cerita yg sangat mupengin karya Bang Joe ‘Atas nama Cinta’ aja di larang di sini.
    sebenarnya cerita di sini ngga ada yg turun kualitasnya Gw pikir ini hanyalah masalah bagaimana si pembaca meletakan ‘STANDAR’ kemupengannya.seperti halnya para mupenger cerita KBB semakin sering di sajikan cerita KBB maka semakin menganggap cerita spt ini hal biasa. dan semakin lama semakin kurang menggigit.
    Bro doujin, RYT adalah salah satu cerita terbaik di sini seperti NC, ELIZA, ANDANICITRA, dan karya master lain.
    terlalu tinggi buat dijadikan standar bagi cerita baru buat ‘masuk’ KBB dan jika itu dilakukan bisa2 belum tentu dalam waktu 6 bulan ada cerita baru Bro.
    btw RYT 10 nya mana ya Bang PBINAL? he he
    Re; iya gw juga nangkepnya gitu mungkin masalah selera yg rape & non rape aja kali ya
  35. pada 16 November 2009 pada 03:08 | Balas naga_langit ( death is rising )
    klo gue gak salah tangkep , mungkin maksud dari @duojin adalah , dulu KBB itu standarnya seprti RYT atau nightmare campus yg lebih cenderung rape atau sejenisnya.
    sekarang memang sedikit banyak standar KBB udah agak bergeser , gak harus selalu rape or fetish or blackmail.
    asalkan ceritanya antara seseorang dengan orang yg ‘tak seharusnya’ , dan ada kualitas cerita yg bisa dipertanggungjawabkan , bisa dimuat.
    klo kata gue sih gak berubah , krn klo gak salah definisi KBB sendiri bukan rape , tapi sex with ‘stranger’ ( baca lagi deh , sorry lagi males ngutip ).
    so , asalkan bukan narsis , apalagi copas , rasanya wajar aja …ya kan…..???
    ….i will rise from hell
    kill all the demon
    slay all the angel
    slave all the human….
    the world is mine
    Re: iya betul asalkan bukan narsis & copas lah
  36. Bro Mikenjess
    gw pernah lihat Alfi-nya film barat. dulu banget & jadul banget. nama si Alfi kalau ngga salah Bill The Bull. aslinya seorang anak hitam dari kepulauan Caribia, Prduksi Swedish Erotica mkn sekarang sdh dilarang juga di barat sayangnya file-nya hilang he he (sorry yg lain numpang tempat ngobrol) sapa tahu situ pernah juga nonton dan punya
    Re: ooh jadi inspirasinya dari film itu ya pak dokter? gw baru tau loh, filmnya sih blm nonton, semi atau xxx tuh?
  37. Bro Shu
    iya bro tolong dikirim ulang kok blm ada.
    soal insfirasi ya dari situ. barangkali sdh byk yg tahu klu Swesish erotica adalah perush XXX besar dari eropa th 70-an. pada masa itu di aturan eropa msh blm ada larangan underage. beberapa film Bill The Bull yg mgkn msh ada clip-nya saat ia sdh berusia di atas 18 bisa di dwld dr brouse di rapidliblary. ketik aja kata tag-nya ‘Bill The Bull’.
    yg istimewa dr anak itu memang size legendary sword-nya. setiap lawan main cewe bule semua. & dia digilai oleh gadis2 eropa pd waktu itu.entah mengapa sgt sedikit film2 dia saat dewasa, tak ada situs yg membahas mungkin dia juga koit akibat HIV seperti the ‘Big’ John Holmes.
    sedikit bagi2 info buat yg mo dwld cockold movie
    http://www.cuckoldplace.com/3_57658_10.html
    Re: film yg unik, kalo ada mau liat nih gw
  38. @antedoujin: haha sori bro klo kata2 gw terlalu tinggi buat lu ngertiin.. gw ga mau cari ribut, gw cinta damai kok..
    @shusaku: thanks buat kebijaksanaan jawabannya..
    @mikenjess: iya bro.. sebenernya gw emg demen cerita yg rape sm eskhibisi.. tp gw bakal tungguin kbb trus buat nunggu cerita demenan gw dipublish shusaku..
    BUAT SEMUANYA SORI BGT KLO KATA2 GW TERLALU KASAR..PISS ilovekbb
    Re: iya ok2 jangan ribut, ayo damai lagi
  39. Ada yang inget ga, dulu pernah ada crita si kino, modelnya yah mirip2 crita alfi gini cuman yang jadi korban bibi nya sendiri… gw dulu punya koleksi critanya dari CCS, tapi udah gitu ngilang ga tau rimbanya, ada yang tau atau punya koleksi lengkapnya? Thx
  40. @doujin wa sekolah emang ndak lulus kok bro,
    Setahu wa sih nulis dengan huruf besar diartikan teriak kasar dan marah2, jadi kalo mau minta maaf baiknya nulis dengan huruf kecil itu tanda orang berpendidikan dan halus budinya.
    Kebenaran dinyatakan dengan sopan orang akan menerima dengan senang hati.
    Kebenaran dinyatakan dengan tidak sopan akan bikin orang jengkel.
    Kepalsuan dinyatakan dengan sopan akan bikin orang muak.
    Orang cinta damai berusaha tidak membikin orang jengkel.
    Re: iya udah ya, jangan dipanjangin lagi, kasus ditutup
  41. salut buat bro Shu yang tetap tenang meski dimaki-maki,
    dua jempol buat bro Shu,
    dua jempol lagi buat Dr. H buat karya kreatifnya
  42. @antedoujin: tengs buat nasihatnya, ane msh nubi nih.. blm kawin, jd ga ngerti yg halus2.. kebiasaan bro.. piss
  43. @dr.h
    Awesome plot and flow ! ceritanya lengkap banget dari romans, action, drama and SEX pastinya.. ditunggu sambungan selanjutnya. THX.
    terus saya mo nanya donk, klo karyanya bang joe “atas nama cinta”, bisa dibaca dmn ? atau kalo punya bisa tolong email saya di malaikatmalam8@gmail.com THX ya.
    Re: bisa dilihat di tempatnya si pak wapres kalau ga salah
  44. heyy
    wah gw telat komen di sini, sibuk bgt gila >_<
    nice story pak dokter!
  45. bro Doujin dan Antedoujin iyak udah damai. klu dipikir2 selera emang ngga bisa dipaksakan sih (sbrnya ada juga sih cerita kbb yg bikin gw illfeel ha ha, ) trims bgt sudah cinta KBB.
    bro Xxx, apa nama situs-nya bro? ada yg tahu? gw juga pengen baca. mmg ada beberapa situs lama yg punya cerita2 bagus tapi sdh ga ada copy-nya spt. surgadunia.com, untungnya cerita2 dr 17.com msh byk ditemui.
    bro Ace86 , masuk ke web TELURREBUS, di blog ror ada tuh.
    bro Ninja Gaijin, iya ya emang di akhir2 tahun pek benar2 numpuk nih, gw aja tertunda2 nyelesaiin ch. 10 dan 11. ga terasa tu naskah sdh di tinggal lebih 2 mingguan dlm kondisi 50%-nan. pas pulang kerja cape-nya bkn main. btw serie Tia ditunggu banget bro.
    Re; wah kayanya bakal ada paceklik gara2 sindrom akhir tahun nih, katanya sis diny juga lagi sibuk akhir tahun, ternyata pak dokter juga, weleh2
  46. Wah siiiiip banget, engga nyangka dr.H berhasil mengalihkan cerita sedemikian rupa hingga kesebalanku krn Alfi telah memperkosa Lila menjadi larut. Hebatttttt bro
  47. gila juga si alfi ya, gua jadi ngiri ama keberuntungannya,dah dapat banyak cewek gratis eh sekarang malah diminta ngawinin dokter cantik, mantaap…….
    Salut buat Pak dokter pinter banget buat cerita , bisa membuat orang yang membacanya jadi terbawa ke alam khayal tingkat tinggi…..
  48. pada 23 November 2009 pada 02:52 | Balas Pujangga Binal
    We e e, dilanjutkan juga nih cerita dokter cantik.
    Agak out of expectation karena jalan cerita gak sesuai bayangan gw, antara bagus karena gak kebayang sebelumnya tapi juga jadi ada bagian yang kurang karena yang diharapkan gak muncul. Tapi jalurnya tepat jadi gak terlalu kecewa,
    Tapi secara garis besar ni cerita bagus dengan alur yang soft. Mantabs!!!
    Masih bersambung kan ni?
    Nungguin ah…
    Re: masih tinggal tunggu rilis aja
  49. sekedar untuk meluruskan komen saya diatas kenapa saya menulis sperti diatas yakni pada waktu saya nulis komen diatas saya lagi nonton dvd heaven sword and dragon sabre 2009 emang saya fansnya cerita hsds lalu saya selingin dengan membuka blog kesayangan kita ini eh ada ceritanya dr h wauw mantap jadi kepingin nulis komen (makanya kalo nonton nonton aja jangan di campur campur) hi hi hi jadi kayaknya ngak nyambung ya komennya
  50. bro andrii, msh ada kejutan2 lain di eps 3 nya harap baca terus, trims sdh mupeng.
    bro rano, trims apresiasinya bro.
    master Pujangga Binal, Aduh ..dipuji ama senior lagi nih. bikin berbunga2 dan bersemangat lagi buat nerusin sisa tulisan gw yg terbengkalai. trims banget
    O ya bro gw tahu ‘bagian yg tak diharapkan’ yg dimaksud itu, nanti di eps 3 semua lebih jelas. ini resiko cerbung gw harap bro shu cepat tayang eps 3-nya. biar cepat tuntas rasa penasaran yg baca.
    Btw byk yg nagih RYT-10 nih,bang senior.
    bro andranih, Hmm..film silat gw paling suka IP-man, oya kabarnya sdh dibuat sequelnya bener ga ya?
    bro shu, barusan gw kirim revisi eps 3 terakhir apa sdh diterima?
    Re: blm bos gw blm terima email apa2 dari u brp hari ini? pesenannya lagi proses ya, sabar dulu. dah setengahnya kurang sih
  51. @bro shu & dr.h
    Thx.. meluncur ke tkp..
  52. yah, baru aja dari TKP.. ceritanya dah gak ada.. gimana cara bacanya ?? sorry nubitol ni.. thx
  53. nomer satu deh dramanya!!!
    Re: emang cerita pak dokter ini unsur dramanya kental, top deh
  54. kerennn….menunggu2 terusanna
  55. wah..kapan ya bagian ketiganya keluar?
    (maaf ni, sudah tak sabar menunggu..hehehe
    enjoy banget soalnya mbaca ceritanya :) )
    Re: mungkin akhir desember ini liat aja tar deh
  56. oke banget

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar