Rumah Baru KisahBB

Setelah 2x ga diterima di Wordpress sehubungan penjualan DVD, Shusaku akhirnya memutuskan memindahkan blog cerita seru KisahBB kesayangan kita ke sini.

kirim cerita karya anda atau orderan DVD ke:


Order via email: mr_shusaku@yahoo.com


tuliskan: nama, alamat jelas, nomor HP, dan list barang yang diinginkan di email pemesanan


email akan segera saya balas dengan rincian harga & no ac bank bca/mandiri unk transfer. barang akan dikirim dengan tiki/pos setelah konfirmasi transfer diterima.

Promo diskon gede-gedean

Paket istimewa 500rb (50dvd),

untuk dalam Pulau Jawa free ongkos kirim, untuk luar Pulau Jawa tergantung daerah.

Harga normal Rp 15rb/dvd kalau beli banyak Rp.12.500/dvd, untuk paket kali ini jatuhnya Rp. 10rb/dvd, murah banget!!


Tapi ini terbatas hanya untuk 10 orang saja.

jadi silakan order, bisa dilihat list barang di

- list semi & softcore

- list western xxx

- list jav


untuk pemesanan email ke mr_shusaku@yahoo.com

Subject: paket istimewa 500rb

tuliskan: nama, alamat jelas, nomor HP, dan list barang yang diinginkan di email pemesanan

email akan segera saya balas dengan rincian harga & no ac bank bca/mandiri unk transfer. barang akan dikirim dengan tiki/pos setelah konfirmasi transfer diterima.


-untuk pesanan di atas 50dvd, selanjutnya dihitung @Rp.10.000,-

-hanya untuk film2 satuan (JAV, western XXX, dan Semi), tidak berlaku untuk koleksi pics & kompilasi

Senin, 08 Agustus 2011

The Blue Serenade of a Kunoichi 2

Seluruh kimono Yui basah kuyup, demikian juga rambutnya. Ia berteriak lantang,

“Hai ninja pengecut! Tampakkan diri kalian!”

Sebuah shuriken (bintang ninja) meluncur ke arahnya. Yui dengan refleks menebas shuriken di depannya dan membelahnya jadi dua.

“Blesh!” kepulan asap muncul di hadapannya.

“Bajak laut busuk... kami ingin kau mati.” ujar ninja berbaju hitam.

“Siapa tuanmu?!”bentak Yui.

“Siapa tuan kami? Hahahaha...” ninja biru yang menyandera Midori keluar dari balik pepohonan.

Midori seperti coba meneriakkan sesuatu tapi tak terdengar jelas.

“Kau tak perlu tahu,... hiiaaaaattt!!!” si ninja hitam menyerang Yui dengan tusukan kilat.

“Trang!” Yui menangkis ujung pedang si ninja dengan mata pedangnya.

“Krrttt.....krrrttt....krrrtt,” kedua pedang berbeda kualitas itu beradu.

Yui menendang tubuh si ninja, “Bruak!” si ninja terpelanting ke belakang dan berjongkok.

“Trang!” si Ninja menyerang sekali lagi.

Kali ini dua mata pedang beradu. Tanpa Yui duga, si ninja menyisipkan belati kecil di pegangan pedangnya. Ia mencabutnya dari sana dan ia sarangkan belati itu secepat kilat ke tubuh Yui. Yui membelalak, dari perutnya darah tak berhenti mengucur. Midori mencoba melepaskan diri dari penyanderanya, tapi ia terlalu lemah. Yui menyobek lengan kimononya dan mengikatkannya pada lukanya sendiri. Ia berusaha agar darahnya berhenti mengalir. Si ninja menghilang dan membentuk seribu bayangan yang mengitari Yui.




“Batt... bettt...battt... bettt...” sambaran-sambaran pedang datang dari segala arah.

Luka-luka kecil bekas sambaran pedang si ninja mulai memenuhi tubuh Yui. Midori makin kuat memberontak. Ia begitu khawatir dengan keadaan “suami”nya. Yui menutup matanya. Ia mencoba tak mempedulikan rasa nyeri sambaran-sambaran pedang itu. Luka-luka di tubuhnya makin banyak dan kian menganga. Ia berkonsentrasi....ia biarkan pedang milik Tuan Shōni Fuyuhisa memilih sendiri korbannya. Lalu,... “srettt...” dalam sekejap mata tangannya telah terayun dan kepala si ninja menggelinding dari tempatnya. Kaki Midori lemas seketika, ia langsung pingsan di tempat. Ninja biru yang ketakutan menyambar Midori dan segera melompat dari satu dahan pohon ke pohon lainnya. Yui yang telah berlumuran darah mengejar si ninja biru. Ia tak mau kehilangan gadis yang ia cintai. Sampai di tepi sebuah jurang, tiba-tiba.. “jreett!” dua kaki Yui terbelit perangkap si ninja. Sekarang posisi tubuhnya terbalik. Kakinya tergantung di atas dan kepalanya di bawah. Lalu kabut asap tebal mengelilinginya. Tenggorokannya tercekik oleh gas beracun itu. Ia menahan nafas dan menggapai-gapai katananya. “srettt...” dengan satu tangan ia putuskan kedua tali yang membelit kakinya. Ia jatuh ke permukaan tanah selepasnya. Kabut masih begitu tebal, ia tak menyadari bahwa sebuah jutte (sejenis pisau) menusuk jantungnya. Matanya terbelalak dan tubuhnya terjatuh ke tanah. Seseorang mengambil katana di tangannya dan mengikat katana itu di belakang punggungnya. Ia bopong tubuh Yui ke arah jurang dan ia lemparkan jasad Yui begitu saja. Di bawah sana laut sedang pasang, ombak menyambar-nyambar liar batu-batu karang raksasa yang kokoh membentengi pantai dari amukan samudera.



***********************


Midori

Midori membuka matanya karena seseorang mengguyur wajahnya dengan air.

“Dia sudah bangun, senpai. (kakak seperguruan)” celetuk si ninja biru.

“Di mana suamiku?”bentak Midori.

Bajunya kini basah kuyup lagi. Kedua putingnya yang masih kaku dan keras sehabis dipakai bercinta dengan Yui makin terekspose di balik kosode-nya. Ia memang belum sempat mengganti pakaiannya. Vaginanya pun masih becek berlumuran sperma Yui tanpa dilapisi secarik kain pun.

“Suamimu?!” ninja abu-abu meledeknya. “...kau kan baru akan dinikahi oleh saudagar tengik itu... jadi kau belum bersuami.”

Ninja coklat yang ternyata juga ada di tempat itu terbahak-bahak, “Huahahaha... jangan kau sebut-sebut tentang juragan bodoh itu otōtō-kun (adik)...”

“Jadi,... kalian semua anak buah Tuan Ono?” Midori memastikan.

Ninja coklat menarik dagu Midori,

”Sudah kubilang kan cantik,... kami tak sudi jadi anak buah bajingan tukang kawin itu... kami hanya butuh uang dari dia,... sedangkan kesetiaan kami... hanya untuk Tokugawa-sama.”

“Senpai, berarti ia masih perawan kalau begitu?” tanya ninja biru sambil memandang lapar kedua tonjolan puting Midori.

“Senpai, bagaimana kalau kita nikmati saja dia dulu sebelum kita serahkan pada saudagar tengik itu? Bukankah selain dapat uang, kita juga dapat hiburan Senpai?” usul ninja abu-abu.

“Aaahh,... benar juga,...” jawab si ninja coklat.

Ninja coklat memeluk paksa Midori dan mencengkeram kasar buah dadanya dari balik kosode-nya.

“Plak!” Midori menampar si ninja coklat.

“Plak!” si ninja coklat balas menampar Midori sampai bibirnya berdarah.

Midori menahan rasa sakit dan mengusap lukanya. Si ninja coklat menarik tangan Midori yang berlumuran darah. Ia mendekatkan tangan itu ke penutup hidungnya dan mengendus-endusnya.

“Aku suka bau darah,...” gumamnya.



“Blesh!” kabut asap tebal menggumpal, seutas tali membelit tubuh Midori ke sebuah pohon.

Si ninja coklat tak tahu darimana asal tali itu.

“Jangan menggertak kami! Tampakkan dirimu!”teriak si ninja coklat.

Sesosok ninja berpakaian merah muncul dari balik kabut asap yang mulai menipis.

“Sedang akan berpesta rupanya...” komentar si ninja merah.

“Tuan Hattori...” ketiga ninja itu langsung menyadari dari suaranya, bahwa ninja merah itu adalah pengawal kepercayaan Tokugawa, Hanzo Hattori. Mereka serentak memberi hormat.

“Maafkan kami karena tidak menyambut kedatangan Tuan dengan layak.”

“Ya,ya,ya,... Seharusnya aku yang minta maaf karena sudah ikut campur urusan kalian. bajak laut itu membawa lari katana Shōni yang harus kuserahkan pada Tuan Tokugawa. Tuan Tokugawa sangat ingin memberikannya sebagai hadiah untuk Tuan Oda Nobunaga. Jadi aku terpaksa ikut campur.” kata Hattori.

“Ilmu ninja Tuan sangat hebat, sampai-sampai tak satupun dari kami menyadari kedatangan Tuan...Kami sangat terhormat mendapatkan bantuan Tuan dalam menyelesaikan tugas sepele kami. Silakan jika Tuan berkenan membawa pedang itu...” si ninja coklat yang terlihat paling senior di antara ketiga ninja itu menjawab perkataan Hattori.

“Tapi,... aku sedikit kecewa pada Jiraiya... kenapa ia bisa terbunuh dengan begitu mudahnya.” Hattori berkomentar lagi.

“Ampuni kami Tuan, lain kali kami akan lebih berhati-hati.” Jawab ketiganya.

“Bagus,...” Hattori mengangguk-angguk.

Midori yang mendengar kata bajak laut langsung berteriak, “Apa yang kau lakukan pada bajak laut itu, penjahat busuk?”

“Ijinkan aku Tuan,” ninja coklat membungkuk dalam. Ia berdiri dan menampar Midori sekali lagi. “Lancang sekali kau perempuan! Tidak ada yang boleh menghardik Tuan Hattori.” Ia lalu berlutut kembali

Hattori tertawa,”hahaahaaahaa,... biarkan saja ia tahu... laki-laki pembawa pedang itu sudah kubunuh. Jasadnya kujatuhkan ke jurang dan sudah ditelan ombak.”

“Jahanaaammm!!!” Midori berteriak histeris dan mengalirkan air mata.

“Hahahaahhaaahaaa...” Hattori menghilang, namun suaranya masih membahana di seantero langit.



*****************************



Ketiga ninja itu bangkit. Mereka mengerubungi Midori yang terikat di sebatang pohon momiji. Ninja coklat menutup mata Midori dengan secarik kain.

“Apa mau kalian?!” teriak Midori.

“Kami ingin kau melayani kami,... hehehehe” ujar si coklat mesum. Kedua rekannya yang lain ikut tertawa terbahak-bahak.

Ketiga ninja itu membuka semua kostumnya masing-masing, tinggal celana dalam mereka yang menyerupai celana sumo saja yang tersisa di tubuh-tubuh mereka. Si ninja abu-abu ternyata kurus kering bagai jerangkong morfinis (saking keringnya...^_^), kedua matanya cekung dan menyeramkan. Ninja biru mukanya penuh bekas luka sabetan pedang dan di pipi kirinya ada tembong hitam berambut, sedangkan si coklat hampir semua giginya berwarna kuning dan hitam. Gigi-gigi taringnya diganti dengan perak tajam... kalau ia membuka mulut ia bagai sesosok drakula yang tak pernah sikat gigi (hueekkss... bayanginnya aja mau muntah nih :P). Beruntung Midori yang cantik tak boleh melihat wajah mereka. Ninja coklat yang berdiri di depan Midori menyingkap kimononya sampai dua bukitnya tersembul. Si ninja coklat meremas gundukan kanan Midori lalu melahap bukit itu. Ia mengenyot-ngenyot rakus payudara Midori sambil tangan kirinya menekan puting kiri Midori dengan kedua kukunya yang tajam seperti cakar. Waktu darah keluar dari puting kiri dan payudara kanan Midori, si drakula menjilatinya.

“Aaaakkhhh....” Midori ternganga dan jatuh terduduk karena saking sakitnya. Kesempatan itu tak disia-siakan si abu-abu. Ia langsung menyumpalkan penis panjang dan besarnya (lebih besar dari milik Yui) ke mulut manis Midori. Ia men-deep throat Midori sampai tersedak-sedak. Ia memaksa Midori mengocok barangnya dengan mulutnya. Midori menghisap-hisap, menjilat-jilat, dan mengenyot-ngenyot benda bau itu. Si abu-abu kelojotan menerima service bibir mungil Midori yang sudah mulai pandai meng-oral penis.

“aahhhsshhhh...ahhhhshhh...” si abu-abu bergidik asyik.

Tak lama kemudian, “crooott....” spermanya menyembur di kuluman si cantik. Midori dengan lahap menghisap-hisap dan menjilati sperma gurih tapi bau yang dihasilkannya itu. Kedudukan sementara 1-0 untuk si cantik Midori.



Si Coklat terus menjilati kedua puting, areola, dan payudara Midori yang berlumuran darah. Puas menyusu, ia renggangkan kedua kaki Midori dan ia letakkan di pundaknya. Ia singkap kosode yang melapisi segitiga Midori. Ia senang sekali waktu tahu segitiga Midori tak lagi berlapis apapun. Ia dekatkan segitiga itu ke wajahnya. Si coklat terangsang waktu menghirup wangi khas daerah kewanitaan Midori yang ber pH 3,5 (Iklan banget). Ia menjulurkan lidahnya menyapu bibir gua Midori yang rimbun.

“hhhssshhh....hhhsshhh....” Midori berdesis...

Si coklat mengernyitkan dahi. Cairan lengket di gua Midori itu bukan hanya cairan cinta si cantik yang terangsang waktu ia menyusu padanya. Ia melihat ternyata ada bekas sperma pria lain yang menempel juga di kosode putih gadis yang konon katanya sakitnya karena diguna-guna (dangdut mode: on :P), eh....konon katanya belum pernah disentuh si juragan tengik itu! Si cantik bukan lagi seorang perawan, si coklat menyimpulkan. Ia pasti baru saja selesai bercinta dengan seseorang,...kalau bukan si juragan tengik itu yang memerawaninya,... pasti si bajak laut busuk yang dibunuh Tuan Hattori itu yang lebih dulu menyerobot keperawanannya... “Sial!” makinya dalam hati. (ulat, ulat, kepompong, kupu-kupu, eh ninja coklat,emang kacian deh luuu wkwkwk)

Si biru yang ikut horny menonton adegan bokep gratisan di depannya tidak mau ketinggalan. Ia memilin-milin dua puting Midori yang kebetulan masih menganggur dari belakang pohon momiji berdiameter 50 cm itu. Ia lalu menggesek-gesekkan penis nya ke celah-celah pohon. Ia onani sambil meremasi, menyentil-nyentil, memilin-milin, serta menarik-narik dua buah plum matang milik Midori. Tak cukup dipuaskan oleh batang pohon, ia selipkan batang tumpul miliknya di antara dua bulatan montok Midori. Tangannya mencengkeram erat dua gundukan itu, kedua jari telunjuk dan jempolnya dengan lihai bermain-main dengan puting-puting Midori. Si biru mengocok penisnya dengan dua bongkahan kenyal Midori sambil terus mencengkeram dan bermain dengan ujung-ujungnya.

”hhuufhh...ssshhhshhh sshhh aahhhssshh aaahhhsshh.” si biru sangat terangsang, gerakannya makin lama makin cepat, “serrtt....seeerrrtt...seeerrttt....sseerrtt...” ia terpejam-pejam mupeng. Hingga “crottt...” spermanya menyembur ke payudara dan perut Midori. Midori kini memimpin 2-0 atas tim ninja.



Coklat makin berani, ia mulai memasukkan lidahnya yang bergerigi ke dalam gua hangat Midori. Ia bermain-main dengan klitoris si cantik,

“hahhhhh,.... hahhh,...hssshhshh...sshhshhsshh...“ Midori benci tubuhnya yang mengkhianati Yui.

“Ccrrrtt....crrrttt...ccrrrtt” cairan cintanya meluber, si coklat menyucup-nyucup habis cairan itu dan menjilat-jilat sisanya. Coklat memperbaiki skor tim ninja jadi 1-2. Ayo Midori, kamu bisa!!! (Lho ada supporternya toh?! :P)

“Srrtt...” si coklat menggoreskan kukunya ke perut Midori, darah langsung mengucur dari sana. Kukunya memang tajam sekali. Ia jilati darah segar yang mengalir dari luka di perut rata tanpa lemak milik sang bidadari.

“Aku masukkan saja kuku tajamku ini ke liang senggamamu, biar aku bisa minum lebih banyak darah...” ujar si coklat sebelum memasukkan jemarinya ke rongga kenikmatan Mi-chan.

Midori menangis.... ia bisa mati seketika kalau si coklat benar-benar memasukkan kuku-kuku setajam pisau itu ke vaginanya, ia sangat ketakutan.

“Yui... tolong aku....” tangisnya dalam hati.

Midori gemetar ketakutan, ia berusaha menggeleng-gelengkan kepalanya yang masih dalam posisi di deep throat oleh si abu-abu. Abu-abu ingin adik kecilnya bangun lagi, karena baginya pijatan payudara Midori cuma makanan pembuka, ia ingin menu utama yang lebih mak nyussszzz lagi, rongga dubur Midori.

“Dasar perek, sudah tak perawan kau heh?!”bentak si coklat.

Midori cuma bisa menangis.

“Kenapa? Kau takut ya mengeluarkan darah lagi setelah malam pertamamu dengan bajak laut buduk itu, heh?!... Jadi bersiaplah menerima kuku-kukuku.” gertak si Ninja.

Midori berusaha meronta-ronta melepaskan diri dari posisi wuenak ninja cs saking ketakutannya.

“Hiaaaattt...” si ninja pura-pura memasukkan kuku-kuku jemari tajamnya ke vagina Midori.

Midori lebih kuat memberontak.

“Hahahahahaha...” tawa ketiga ninja yang sedang menggarapnya.

Laluu... “sreett...sreeett...” si coklat menggesek-gesek lagi bagian luar vaginanya dan “jleb,...jleb,... jleb,... jleb,..” ia lanjutkan dengan mencolok-colokan dua jarinya ke liang merekah milik si cantik bermata coklat menawan itu.



“Ahhssshhsshhh.....hhssshhhshsss...ahshhs.....ashhhsshh...” Midori malah mendesis keenakan lagi... tak ada rasa sakit sama sekali seperti yang ia takutkan...

Dua ninja lain tertawa lagi, “Senpai, kau menakut-nakuti gadis kecil yang malang... Lihat Senpai, ia kelojotan karena ingin di-entot Senpai.” ujar si Abu-abu meledek.

Si Biru ikut menimpali, “Wuah lihat Senpai,... ia sampai banjir begitu... Aku sudah khawatir... kita akan kehilangan uang kalau Senpai membunuhnya. Ternyata Senpai baik hati juga, mengirimnya ke surga tanpa membunuhnya... hehehhheheh”

“Huahahahaha.... Tapi lihat saja... aku pasti akan membuatnya berdarah-darah seperti di malam pertamanya...” seringai si coklat.

“Wow!! Ajiiibb..” si biru takzim pada seniornya.

“Buka talinya!” ia memerintah dua ninja lain.

Si biru dan abu-abu langsung menghentikan aktivitas mereka. Mereka membuka tali yang mengikat Midori. Batang Penis keduanya sudah mengacung tegak lagi setelah tadi sempat masing-masing satu kali kalah main melawan bibir dan payudara Midori. Midori yang sudah belepotan sperma mereka baringkan ke tempat lapang tak berpohon. Rembulan bersinar redup menerangi hutan jahanam tempat seorang gadis tak berdosa digilir oleh tiga ninja bayaran yang diperintahkan untuk menculiknya. Si coklat mengangkat kedua kaki Midori lagi. Ia menyingkap kain penutup kemaluannya sendiri. Sebuah penis besar yang ujungnya berlapis kondom tradisional Jepang menyembul perkasa dari balik kainnya. Kondom tradisional Jepang pada masa Sengoku sangat menyakitkan si wanita, karena terbuat dari tempurung kura-kura yang tidak berpelumas. Kondom itu tidak menyelimuti semua bagian penis, hanya ujungnya saja yang diselubunginya. Ia memasukkan paksa penisnya yang berujung tempurung kura-kura miliknya (ya sebut aja penis berperisai itu “si kura-kura ninja”... bruak ^^’) dengan satu hentakan kuat.

“Kyyyaaaaaaa....!!!!!” Midori benar-benar dianiaya secara seksual oleh si coklat pecinta sadisme itu.

Tentu saja darah segar meleleh dari liang Midori. Darah itu jelas mengalir bukan akibat ia masih perawan,... dinding vagina bagian dalam Midori lah yang lecet karena kebiadaban si coklat. Tanpa ampun ia terus menghujam-hujamkan siksaan ke kawah cinta Midori.



Si abu-abu mendudukkan Midori yang masih berteriak-teriak kesakitan karena disenggamai paksa tanpa foreplay oleh si coklat. Si abu-abu menggesek-gesekkan lagi penisnya, kali ini di belahan pantat Midori. Lama-lama ia meraba-raba anus Midori dan mencelup-celupkan ujung jari ke dalamnya. Si coklat mafhum apa yang diinginkan adik seperguruannya. Si coklat berdiri menggendong Midori dengan posisi penisnya masih berada di vagina gadis cantik itu. Ia menurunkan kedua kaki mulus Mi-chan dari pundaknya. Si abu-abu langsung ikut meremas-remas pantat Mi-chan, melebarkan celah di antara kedua bongkahan putih mulusnya dan menjilati dubur sampai daerah vagina Midori yang masih dipompa si Coklat “plopphh...plopphh,...ploopphh....”. Kadang tanpa sengaja ia pun ikut menelan cairan cinta bercampur darah dari liang vagina Midori. Setelah si abu-abu merasa tempat pembuangan Midori sudah basah oleh ludahnya, ia langsung merekahkan lubang dubur si Cantik dan kepala ularnya ia tempelkan ke lubang lain Midori yang masih perawan.

“Jangan,... tolong jangan di situ... janggaaannn... ahhkk nnggaahhkk” Midori menangis memohon dan mencoba berontak.

Si abu-abu tak peduli, ia terus mendesak-desakkan penisnya ke dubur wanita itu. Ia begitu bernafsu ingin menyodomi sang Bidadari.

“Aaakkkkhhhh.... aaaaaakkhhh..... aaakkhhh...” Mi-chan melolong-lolong kesakitan waktu penis si abu-abu melesak-lesak ke dalam duburnya.

“Jlebh....jlebhh...jlebhhh....jlebbhh...plok!” perlu berkali-kali tusukan untuk menenggelamkan seluruh kejantanannya ke dubur Midori dan “gyaaaaaaaaaa...!!!” Midori berteriak lagi. Sensasi dijepit-jepit dubur si cantik memang asoy, apalagi lubangnya bertambah sempit karena si coklat juga sedang menikmati denyut-denyut hangat lubang Midori yang satunya. Si coklat terlihat berpagutan hot dengan si cantik untuk merangsangnya. si abu-abu juga kembali menstimulasi puting-puting merah kehitaman milik sang bidadari itu dengan jemarinya. Si biru yang memang anak bawang cuma bisa menyaksikan keganasan dua rekannya. Ia menggosok-gosok sendiri batang penisnya.



Si coklat yang kini menciumi tengkuk Midori berhenti sejenak, ia menertawakan juniornya

“Hehehehhheheh... horny hah?! Ayo gabung saja Otōtō.” Ia mengajak si biru ikut menggarap tubuh molek Midori.

Mereka berganti posisi. Si abu-abu duduk di tanah. Penisnya yang mengacung tegak dimasukkan ke lubang dubur Midori. “jlebh...jlebh..jlebh...” kali ini sedikit lebih mudah karena cairan cinta si abu-abu sudah mulai menetes-netes memperlicin tempat buang air besar Midori.

“Ngehk..ehk...sshhh...sshhh...” rintih Midori menggemaskan. Ia masih merasa geli karena ada benda keras berdenyut-denyut dimasukkan paksa ke lubang belakangnya.

Setelah si coklat duduk, ia juga memasukkan penisnya ke vagina Midori. “Sssshhh... aahhsshhh....eehhhsshhh...” kali ini klitoris Midori tergesek-gesek ujung kura-kura ninja-nya.

“Satu,... dua,.. tiga,..!!!”serempak si coklat dan si abu-abu menaik turunkan pinggul Midori ke atas dan ke bawah. “plok...plok..plok....plok...” suara yang timbul puluhan kali akibat perbuatan asyik masyuk mereka. Buah dada Mi-chan ikut berayun-ayun eksotis. Kelopak matanya terpejam nikmat,

“aaahhshhhh......aahhhssshhhh hhhsshhhh....” Midori menikmati permainan itu.

Si biru minta di-blow job oleh Mi-chan. Ia dekatkan penisnya yang berdenyut-denyut ke bibir Mi-chan lagi. Ia ketagihan belaian dan hisapan-hisapan Mi-chan di bagian vitalnya.

Lama-kelamaan Mi-chan terbakar nafsunya sendiri dan lupa kalau ia sedang diperkosa. Ia goyang-goyangkan sendiri pinggul berisinya sambil menjilati, mengocok, menghisapi, dan menggigit-gigit penis si biru dengan lidah dan tangan kanannya. Tangan kirinya memelintir, memilin-milin, mengelus-elus, dan menarik-narik puting-putingnya sendiri secara bergantian.

“Aaaahhsshhhh.... ahhsshhh... hhshhh.. terusss... aahhhsshh.... lebih cepat hhssshhh hsshhh akhh akkhhh aakkkssshhshh...” desahnya.



Ketiga Ninja itu menertawakan dan mengatainya pelacur, wanita jalang, murahan, dan sebagainya, tapi yang tersisa di pikirannya tinggal satu hal: kenikmatan! Setelah agak lama bergoyang heboh, tubuh Mi-chan menggelegak hebat,

”aaaahhhkkkk... ccrrttt....... ccrrtt..... ccrrrrrrrrtt....” “hehh....hehh...hhh...” napasnya memburu.

Buah dadanya ikut naik turun menggoda. Kini kedudukan 2 sama bagi Midori dan tim ninja. Tapi tak berjarak begitu lama, terjadi kekalahan bertubi-tubi pada tim ninja. Karena keahlian ber fellatio Mi-chan, “Crrooothh...” si biru keluar lagi. Mi-chan menelan dan menjilati serta menghisapi lagi sisa spermanya. Disusul si abu-abu...”Ngehhhk...crooth!...”spermanya tumpah ruah dari dubur Mi-chan akibat ia tak sanggup lagi mengimbangi goyangan Mi-chan yang membuat ularnya terjepit-jepit nikmat di dalam rongga anus Mi-chan. Ular itu pun melarikan diri dari liang Mi-chan setelah tak mampu bertahan.

“Aaaahhhhsshhhsss........aahhhshh....ehhkkk....croth!” akhirnya kesadisan kura-kura ninja si coklat kalah juga dengan jepitan-jepitan erat otot vagina dan perut Mi-chan... Kontraksi kencang rahim Mi-chan memijat-mijat nikmat si kura-kura ninja sampai ia tak mampu bertahan lagi dan meloloskan diri dari sarang hangat-hangat empuk Mi-chan. Pertandingan berakhir, hasil akhir 5-2 untuk Midori.

Kini tubuh-tubuh bugil itu rebah tak berdaya di atas rerumputan. Para ninja terlelap tidur. Midori, yang masih memakai sepasang kaos kaki, kain penutup mata, serta kosode yang terbuka bagian dada dan vagina ke bawahnya, meneteskan air mata. Kini, ia tak ubahnya seperti seorang pelacur.



**************************



Midori tampak semakin cantik dengan kimono putih dan riasan di wajahnya. Hiasan khas pengantin tradisional Jepang menghiasi rambut hitam panjangnya yang disanggul. Ia duduk menunggu di dalam sebuah ruangan. Hari ini ia resmi jadi mempelai Tuan Ono. Kejadian buruk seperti kemarin malam akan menimpanya lagi. Ono membuka pintu geser kamar itu. Ia berjalan terhuyung-huyung. Dari mulutnya tercium aroma sake berkualitas tinggi. Tanpa berkata-kata, ia langsung menubruk tubuh Midori dan menindihnya di atas tatami. Ia menolak ketika bibirnya hendak diserang lelaki gendut botak dan bermata sipit itu. Akibatnya, leher mulusnya yang jadi sasaran kecupan, jilatan, dan gigitan bertubi-tubi Ono. Tangan Ono menarik obinya dan menyingkap terbuka kimononya. Bibir monyong Ono langsung mencucup-cucup puting susu Midori secara bergantian. Tangannya menggosok-gosok alat vital Mi-chan yang masih perih karena habis dipakai untuk memuaskan empat orang laki-laki kemarin malam. Ono masih terus mengusap-usap vaginanya sambil memainkan puting-putingnya...

”sshhhh... aahhhssshhh....aahhhsshh....” Midori menggelinjang geli.



Lidah Ono menjilati seluruh tubuhnya... Midori mendesah-desah waktu ia mulai menjilati areola kehitamannya dan menghisap-hisap serta mengulum-ngulum bergantian kedua puncak ranumnya. Ono menjilat perut Midori, area sekeliling pusar, dan akhirnya lidahnya yang nakal mengelitik bibir luar vagina kemerahannya yang plontos dan terus masuk ke bibir dalam kawah cintanya. Si lidah nakal menjilat-jilat klitoris Mi-chan,

“aahhhhssshhh.... aahhsshhsshh...” ia melenguh lagi.

Ono menggigit-gigit kecil klitorisnya dan “hhmpffhhh... hhmpfhhh...’ ia makin memanas.

Tangannya menggerayangi hakama Ono. Ono mengeluarkan juga benda pusakanya karena sudah mulai gerah berada di sarangnya. Ukuran benda keramat Ono tidak ada apa-apanya dibanding para pria yang telah menidurinya kemarin malam. Tapi mungkin kecil-kecil cabe rawit, pikir Midori. Buktinya, ia adalah selir ke 12 Ono-sama. Ia memijat-mijat benda yang walau sudah menegang panjangnya cuma 5 cm itu. Midori menjilati kepala penis berkulup milik Ono, ia dengan terampil memainkan lidahnya dan mulutnya di helm si penis. Ia jilat, lalu ia kulum dan hisap-hisap, dijilat lagi, digigit pelan, dikenyot lagi.... Ia kocok-kocok si kecil dengan tangan mulusnya dan ia bimbing ke arah vaginanya yang merah merekah, kali ini vagina Midori memang benar-benar gundul karena sang perias pengantin mencukur habis bulu-bulu kemaluan Midori saat melakukan perawatan pra-pernikahan. Midori menggesek-gesekkan penis mungil itu ke vagina nya yang lapar.

”aahhhssshhh......” Mi-chan mulai terangsang.

Baru sampai di luar kawahnya, tiba-tiba,... “chroooothh...” sperma Ono sudah membasahi bibir vaginanya, lalu mengkerut bersembunyi di balik timbunan lemak di perut buncitnya.

“Tuan,...” kata Midori agak gimanaaaa getooo....

Wajah Ono merah padam, ia membetulkan hakama-nya dan berbalik memunggungi Midori tanpa mengucapkan sepatah kata pun padanya. Sesaat kemudian Ono lelap tertidur meninggalkan Mi-chan yang masih asyik menggerayangi puting kemerahannya yang mengeras dan bibir vaginanya sendiri yang merekah gatal.

*******************************



Beberapa bulan kemudian Yue, istri ke 11 Ono berkunjung ke kamar Midori untuk mengucapkan selamat.

“Midori, mungkin aku agak lambat mengucapkannya padamu. Yah, harusnya empat bulan lalu aku ucapkan ini. Tapi aku memang baru saja kembali dari kampung halaman orang tuaku. Selamat ya atas pernikahanmu dengan Tuan Ono,” katanya.

“Terima kasih,” jawab Midori.

Karena usia mereka hampir sepantaran, Yue dan Midori jadi sangat akrab. Lama-lama mereka mulai terbuka untuk mendiskusikan topik-topik sensitif.

“Yue, apakah Tuan Ono terlalu lelah karena sibuk bekerja?” tanya Midori.

“Maksudmu?” Yue mengklarifikasi.

“...Mmmm kami belum melakukan apa-apa sejak malam pengantin,...” Midori menambahkan.

“Tidak bisa.... “begitu” itu?” tanya Yue memastikan dengan memberi tekanan pada waktu mengucapkan kata “begitu”.

Midori mengangguk-angguk. Yue tertawa terbahak-bahak,

“Ia memang seperti itu,... hahahahahaha.. Sssstt harusnya aku tak bilang padamu... tapi kau sebaiknya tahu, kalau kau tak boleh membocorkan hal ini pada siapa pun. Tuan Ono beristri banyak hanya untuk menutupi ketidak perkasaannya. Lihat saja, mana ada istri Ono yang hamil. Kau bisa dibunuh kalau bercerita pada orang luar. Jadi, hati-hati ya. Lalu, kalau kau sampai ketahuan selingkuh, orang suruhannya akan langsung memenggal kepalamu.” kata Yue, Midori mengangguk.

“Oh ya, aku ada janji,... Aku harus ke toko barang antik Tuan Muda Ueda... Tuan muda baru pulang dari Edo. Ia bilang mau membelikan aku sebuah sisir sebagai oleh-oleh. Aku mau ambil sisir baruku. Aku pergi dulu ya?” pamitnya.

“Hati-hati...” pesan Midori.

“Mau titip apa?” tanyanya.

Midori menggeleng. Yue berjalan meninggalkannya menuju toko Tuan Maeda, anak angkat Tuan Ono yang juga seorang saudagar penjual barang antik di desa kecil tempat Tuan Ono tinggal. Waktu membereskan cangkir teh, Midori menemukan dompet Yue yang tertinggal. Midori mengenakan zori (sandal Jepang) dan kasa (payung) nya lalu menyusul Yue ke toko barang antik Tuan Ueda.



*********************************



“Baru saja Tuan Ueda pergi dengan Nyonya Yue... mereka bilang mau ke hutan di selatan kota. Mau memetik raspberry katanya.” Kata si pelayan.

“Bisa kutunggu?” tanya Midori.

“Lebih baik Nyonya menyusul mereka saja... hutannya tidak begitu jauh. Lagipula pemandangan di sana pasti bagus sekali karena sedang musim semi.” saran si Pelayan.

“Terima kasih... Aku akan menyusul ke sana. Permisi.” Jawab Midori.

Ia terus berjalan ke hutan di selatan kota. Udara hangat, bunga-bunga cherry bermekaran, sepasang kupu-kupu terbang kian–kemari... Musim semi yang indah,... Musim para pecinta... Midori berdecak kagum menikmati indahnya pemandangan hutan kecil yang ia lewati. Di kejauhan ada kereta kuda. Ya, kereta itu milik Tuan Muda Ueda. Tuan Ueda dan Yue pasti sedang mencari raspberry di daerah sekitar sini. Ia mendekati dan menengok ke dalamnya, ternyata kereta kuda itu kosong. Midori mendengar gemericik air waktu ia hendak berjalan pulang. Pasti ada sungai di dekat sini! Ia ingin duduk-duduk sejenak di sungai untuk melepas kepenatannya. Toh Tuan Ono sedang berbisnis di tempat lain dan baru pulang 2 atau 3 hari lagi. Ia mencari arah datangnya suara air. Langit begitu cerah, enak sekali kalau bisa sering-sering menghabiskan waktu di sini.

“Kalau saja Yui masih hidup...” batinnya.

“Tesss...” setitik air mata jatuh karena kenangan manis akan Yui kembali padanya. Si cantik itu buru-buru mengusap air matanya dan berusaha tersenyum untuk memperbaiki moodnya. Midori berjalan riang sambil sesekali berhenti untuk memetik buah raspberry yang banyak tumbuh di hutan kecil itu. Ia memasukan buah-buah mungil kemerahan itu ke kantong kainnya. Ada semak bergoyang-goyang jauh di hadapannya. Ia sematkan kantong kainnya ke obinya.

“Jangan-jangan di sana ada ular atau binatang buas” pikirnya.

Ia takut, tapi ingin tahu

“Ah sudahlah, lebih baik pulang saja... akan berbahaya kalau memang benar-benar binatang buas” pikir Midori yang mulai agak bergidik ketakutan karena menyadari bahwa ia kini seorang diri saja di tengah hutan.

“Gyaaaaa!!!” ia mendengar teriakan Yue.

Rasa penasarannya makin tergugah. Ketakutannya kini kalah oleh rasa ingin tahunya. Tanpa berpikir lagi ia mendekati sumber suara itu... suara itu berasal dari dekat semak bergoyang tadi. Jangan-jangan Yue dalam bahaya, ia diserang macan atau serigala. Mi-chan pergi untuk memastikannya terlebih dahulu.



“Ooohhhhsshhh... aaahhshhshhh.... aaahhsshhh...” terdengar lagi desahan Yue waktu ia mendekati tempat itu. Betapa terkejutnya ia ketika melihat Yue tanpa penutup dada naik-turun di atas penis Tuan Muda Ueda. Ueda sedang mengenyot dan memilin-milin puting Yue yang merintih-rintih genit. Yue sendiri menurun-naikkan lubang vagina nya di atas kejantanan Ueda sambil mendesah-desah,

“Ahhssshhhh... yahhh... ennakkkhhss... aahhhshhh... Ueda, aku cinta kamu,... ahshhhhhh aaaahhshhshhsh... terusss... aahhh... yahhh... yahhh... ahshshssh... ”

Bibir Ueda yang tadinya mengenyot-ngenyot puting Yue, kini berpagutan, beradu lidah, dan mengenyoti bibir si wanita kesepian itu dengan rakus. Midori tak bisa berkata-kata. Sekujur tubuhnya seperti membeku seketika saat ia tahu Yue, sahabat barunya sekaligus madunya, dan Ueda, anak angkatnya, sedang berselingkuh di tengah hutan kecil nan rimbun ini. Midori berbalik dan berlari pulang, pura-pura tak tahu apa yang telah terjadi. Bagaimanapun, Tuan Ono tak boleh tahu perbuatan terlarang Yue dan anak angkatnya. Midori berniat untuk tutup mulut saja dan melupakan apa yang baru saja dilihatnya karena ia tak mau kehilangan seorang teman. Yue selingkuh. Ya, mana ada wanita yang mau dijadikan gundik tanpa pernah dipenuhi kebutuhan batinnya. Walaupun Midori tahu perbuatan Yue itu salah dan keterlaluan, tapi ia pun tak bisa benar-benar menyalahkan Yue. Yue, sama seperti dirinya, hanyalah wanita yang dinikahi hanya untuk dijadikan hiasan. Midori juga merasakan kesepian yang sama dengan yang dirasakan Yue. Midori jadi iri pada Yue. Yue punya Tuan Ueda yang mampu mengisi kekosongannya, sedangkan dirinya? Yui yang ia cintai sudah pergi meninggalkannya...jauh, jauh sekali... Midori pun bahkan tak tahu kapan ia bisa bertemu lagi dengan kekasihnya itu. Midori mengambil sebuah raspberry dan memakannya. Ia ambil sebuah lagi, memejamkan matanya, dan menjilat-jilat raspberry itu kemudian dikulum-kulumnya sensual. Ia oleskan buah kecil itu menelusuri bibir, dagu leher, mengitari kedua areola hitamnya... sambil mendesah “aaahhhsshhh... Yuiii....lidahmu nakal.” dan tersenyum-senyum geli seorang diri.



Ia menarik kain pelapis vaginanya dan mengoles-oleskan raspberry itu ke mulut kewanitaannya,

“Yui,... jangan, hhhshhhh” ia berkhayal Yui sedang mencumbunya.

Lalu ia masukkan raspberry beserta jari-jarinya ke liang kewanitaannya. Ia sentil-sentil dan raba-raba sendiri klitorisnya.

“aahhssshhhsshhshh... enak sayang.... aaahhhsss....... lakukan lagi,... aaahhhshhhshh..” ia makin terangsang.

Ia keluarkan raspberry dan jarinya yang lentik dari liang senggamanya lalu memakan raspberry berlumur cairan pelumas vaginanya itu dengan kunyahan-kunyahan erotis. Setelah itu ia menjilati sendiri sisa cairan cintanya yang melekat di jemarinya. Tangannya yang lain meremasi buah dadanya yang ranum dan memilin-milin puting merah kehitamannya, liang cintanya makin merekah basah. Ia meraih sebuah wortel dari sisi futon (kasur)nya. Ia kulum-kulum dan kenyot-kenyot wortel berukuran panjang 25 cm dengan diameter 4 cm itu di dalam mulutnya sambil terus meremas-remas payudaranya yang kian mengeras dan meruncing... Ia masukkan wortel itu ke kawahnya yang merekah

“aahhhssshhh... Yui, pelan pelan, ...ssshhhhshhhs..” Ia terus menenggelamkan wortel itu ke dalam rongga licinnya sambil terus membayangkan wajah dan tubuh kekar Yui sedang menggumulinya.

Ia gerak-gerakkan dulu si wortel untuk mengaduk-aduk vaginanya sebelum dikocok-kocokkannya keluar masuk dari liang kewanitaannya. Midori menaik turunkan wortel itu pelan-pelan, makin lama makin bernafsu Midori menusuk-nusuk rongganya sendiri..

”Ahhhsshhh.... aahhhssshhhh... Yuiii.... aahhhssshhh... Yui, ...aku cinta kamu, aahhshhhss ehk... ehk nghek... hsshhs... aaaahhsshh.... aaahhhshh......” ia makin menjadi - jadi... Sampai, ”eehhhkk.... aaaaakkkhhhh!” ia melolong nikmat sambil melentingkan tubuh seksinya. “Crrrrtttt..... crrrrtttt.... cccrrrtt....” cairan cintanya tumpah. Ia keluarkan wortel itu dan menjilati serta mengenyotinya lagi. Ia gigit pelan ujung wortel itu dan meletakkannya kembali di atas futon (kasur)nya. Matanya terpejam menggigit bibir bawahnya. Setelah nafasnya kembali teratur, bibir mungilnya yang dilumuri cairan cintanya sendiri bergumam lirih,

“Sōda Yui,...” dan setitik air mata membasahi pipi mulusnya. Ia pun jatuh tertidur.



********************************



“Ssllrrrppp.....sslllrrrppp... slllrrrppp....”

“Aaaaahhhsss.....sshhhshhshh......” Midori merasa kegelian, lidah seseorang sedang menjilati dan mengebor bagian paling rahasianya.

Mi-chan yang cantik jatuh tertidur setelah melakukan seks swalayan tadi. Ia lupa membetulkan kimononya, jadi ia masih tertidur dengan keadaan semi-bugil. Buah dada dan daerah vagina ke bawahnya masih terekspos dengan posisi terlentang yang menantang. Ia buka matanya perlahan-lahan...

“Aaaahhhshhh.... aahhhhssshhh.....” klitorisnya terasa dijilati dan digigit-gigit pelan oleh seseorang.

Ia menengok ke sela-sela selangkangannya. Bukan Tuan Ono yang sedang meng-oralnya. Anak angkat Tuan Ono lah yang sedang asyik menikmati liang surganya yang merah merekah.

“Tu, tu, tu, tuan... apa yang kau lakukan?”Midori panik.

Ueda bergerak cepat, ia langsung menyumpal mulut Midori dengan lidahnya. Lidah bergeriginya membelit belit dan melilit-lilit lidah Midori. Ueda mencegah Midori berteriak dengan memagut-magut dan mencumbu liar bibir Midori. Ueda memainkan puting-puting kecil si bidadari binal. Ia pilin-pilin, tarik-tarik, dan usap-usap sampai sang bidadari kelojotan keenakan.

“Ahkkshhkkksshh...aahhhkkksshhh.....” bibir Midori masih ditahan Ueda dengan belitan lidahnya.

Ueda memindahkan satu tangannya ke bawah. Ia remas-remas bongkahan pantat Midori, lalu naik mengusap-usap paha mulus Midori, dilanjutkan dengan mengusap-usap pintu rongga kewanitaannya yang telah basah karena jilatan-jilatannya tadi. Ia tarik penisnya yang telah mengacung dengan satu tangan dari balik hakamanya dan ia sumpalkan kepalanya ke rongga nikmat Mi-chan.

“Ssssshhhh....” pekikan Mi-chan tertahan bekapan tangan Ueda.

Ueda memaju-mundurkan pantatnya memompa keluar-masuk saluran rahim Mi-chan. Tangan kanan Ueda membekap Mi-chan sementara tangan kirinya bermain-main di daerah puting si Cantik dan area kehitaman di sekitarnya. Kedua tangan Mi-chan pertamanya berada di tempat Ueda membekapnya lalu setelah pompaan Ueda makin kencang dan Midori makin mantap saja mendaki puncak kenikmatannya, tangan-tangannya berpindah ke bokong Ueda, membantu anggota badan pria berkulit bersih dan tampan itu masuk lebih dalam ke tubuhnya.



Midori memejam-mejam nikmat dan tak lagi memberontak... Ia malah ikut-ikutan memutar-mutar panggulnya, “serrr,... serrr,... serrr,....” adik kecil Ueda yang berdenyut-denyut keluar-masuk jadi makin kewalahan mengikuti aksi goyang ngebor sang ibu angkat nan aduhai. Ueda melepaskan tangannya melihat reaksi ibu angkatnya yang masih lebih muda 2 tahun darinya itu. Tubuhnya meliuk indah sempurna, buah dada besar padat membuntal dihiasi puting lancip berwarna hitam kemerahan yang ranum, kulit putih halus bak boneka perselen, perut rata tanpa lemak, pinggang berisi yang berlekuk eksotis, juga rongga kemerahan gundul yang peret, hangat, dan nikmat. Wajahnya pun sangat cantik, yah kalau zaman sekarang mirip-mirip Van Tomiko, vokalisnya Do As Infinity (yang nyanyi soundtrack Inu Yasha “Fukai Mori” itu looohhh kalo pembaca sekalian nan budiman dan budiwati tidak begitu familiar dengan J Pop), rambutnya hitam kecoklatan panjang lurus, matanya bulat indah misterius dengan bola mata berwarna coklat muda terang, hidungnya bangir, dan bibir pink mungilnya nan sensual kini sedang merekah-rekah indah... Damn it, rongga surganya lebih piawai memijat-mijat dan lebih sempit juga keset dari pada milik wanita-wanita yang pernah ia nikmati tubuhnya. Jelas sudah banyak sekali wanita yang rela ia tiduri karena ia sangat sadar bahwa fisiknya dan wajahnya sangatlah sempurna. Beda penampilan fisiknya dan ayah angkatnya memang bagaikan langit dan bumi. Midori yang sudah terbakar birahi menarik wajah Ueda ke dadanya. Ueda langsung mencucup-cucup dan mengenyoti dua gundukan ranum makhluk seksi di hadapannya. Tangannya juga ikut memilin-milin, menarik-narik, dan memencet-mencetnya gemas.

“Aaaahhhssshhh,..... hhshhhshhh,....” desahan si ibu angkat. Ueda makin cepat mengebor liangnya.

”eehhhkkk... nghhheekk.....ehhkkk....,” Ueda melampiaskan semua kegilaan di atas tubuh semlohay si ibu angkat. “plok,....plok,....plok,...plok,...” selangkangan keduanya beradu kencang...

“Aaahhhshhhsshh...yaaahhh.....aaahhshhhshhahhhsss.....” si bidadari cantik pun merasa terbang ke awang-awang. Sudah lama ia tak merasakan nikmatnya menjadi seorang wanita seperti ini...

“Midori,.... peret sekali... Ahhhkkkhhh... pijitan vaginamu eennaaaahhhkkk.... aaahhkksshh.” Erang Ueda sambil ularnya diremas-remas di dalam sana.

“Unnnhhhh...uunnnhhh... aaahhshhhs aahhhhsshh”

“Jlebh....jlebh....jlebh...”

“Plok....plok...plok...” suara pergumulan liar mereka.



Yue

“Srettt...” pintu tergeser. Yue terbelalak melihat kekasih gelapnya bergumul liar dengan madunya.

“Apa yang kalian lakukan?!” teriaknya.

Ia mendekati kedua insan yang sedang bergumul seru itu. Ueda mengeluarkan penisnya yang masih tegak dari vagina Midori. Mereka berdua memandang Yue.

“Plak!” Yue menampar Ueda.

“Kau tahu kan kalau aku mencintaimu? Kenapa kau lakukan ini padaku?!”bentaknya.

Ueda diam kehilangan kata-kata.

“Aku... bisa memuaskanmu lebih dari pelacur itu!” ia membentak Ueda. Ia mulai menangis sesenggukan.

Ueda diam salah tingkah memandangi Yue yang menangis. Sambil terisak-isak, Yue menarik sendiri tali pengikat obinya dan menjatuhkan semua lapisan kimononya ke atas tatami (karpet jerami). Yue kini benar-benar bugil. Hanya kaos kakinya saja yang masih melekat di tubuhnya. Yue membelai pipi Ueda dan memejamkan matanya, lidahnya ia julurkan ke arah Ueda. Mereka berdua berpagutan di depan Mi-chan yang semi-bugil, liang Midori makin becek-becek karena nggak ada ojek... hehehe bukan ding! Liang sempitnya jadi ikut becek karena terangsang melihat betapa ganasnya Yue dan Ueda beradu lidah di hadapannya. Ueda tak mau melewatkan kesempatan langka untuk bercinta dengan dua wanita cantik sekaligus. Ueda benar-benar merasa seperti seorang raja yang sedang dilayani oleh dua budak wanitanya. Sambil berpagutan dengan Yue, jemari kanannya menyusup ke lubang di antara selangkangan Yue. Tangan kirinya yang tak mau menganggur memuntir-muntir dan mencubit-cubit gemas puting kaku Midori yang sedang mencolok-colokkan jemari lentiknya ke vaginanya sendiri. Ueda membaringkan diri di atas futon dan Yue mendudukinya dengan posisi sashimi for two alias enam sembilan atawa “sekusu nain” (maksa banget ya istilah bahasa Inggris yang di Jepang-kan kaya’ gini >_<). Yue dan Ueda menjilati organ vital satu sama lain.



Ueda berhenti sejenak dan memandangi wajah sensual ala Van Tomiko-nya Midori.

“Mi-chan,... ayo lanjutkan yang tadi... Kamu belum membuatku meledak.” Ucap Ueda.

Ueda menepuk pantat Yue, memberinya isyarat untuk berhenti melakukan fellatio pada kejantanannya. Yue pun berhenti menjilati Mr. P tegang Ueda. Yue menegakkan tubuhnya, rongga kewanitaan Yue masih berada di mulut Ueda. Yue masih terpejam-pejam nikmat di oral Ueda. Midori bergabung. Ia renggangkan celah vaginanya yang lapar. Ia tempelkan kepala penis Ueda ke vaginaya dan berjongkok memasukkan benda bengkak berdenyut-denyut itu pelan-pelan hingga Mi-chan terduduk di atas selangkangan Ueda. Mi-chan terpejam-pejam merasakan sensasi nikmat gesekan klitorisnya dengan batang kejantanan lelaki itu. Midori langsung bergerak naik turun di atas penis Ueda. Ia juga melenguh-lenguh menikmati permainan liarnya sendiri.Yue melihat payudara Mi-chan yang lebih montok dari miliknya terayun-ayun naik turun. Payudara padat itu tampak sangat menggiurkan. Tangan Yue memilin-milin puting madunya dan menarik-narik ujung merah kehitaman itu gemas. Mi-chan membalas perlakuan madunya. Ia menciumi dan menyapu leher Yue, jarinya ia masukkan ke dubur Yue sesekali. Yue makin kencang memilin-milin dan menarik-narik puting Midori.

“Ahhshhhh.....aaahhhshhshhh.....aaahhhshhsshhh......” kedua gadis muda itu meraung-raung nikmat di atas tubuh anak angkat mereka.



Midori gantian menurunkan lidahnya ke puting Yue. Ia menghisap-hisap, menjilati, dan menggigiti tombol-tombol pink milik Yue. Yue dan Midori langsung berciuman panas sambil saling menstimulasi area dada lawan mainnya dengan tangan mereka...

“Eehhhkkk.... crrooottthhh....” Ueda terangsang melihat dua gadis binal itu. Maninya muncrat membasahi rongga hangat Mi-chan.

“Cccrrrrrttt......crrrttt.....” Yue pun keluar tak lama kemudian. Ueda menghisap dan menjilati cairan cinta sang ibu angkat.

Mi-chan membalikkan tubuhnya dan menungging. Kali ini ia mengoral ular Ueda yang kempes. Ia jilati ujungnya. Ia kulum seluruh bagiannya dan ia hisap-hisap. Tangan mulusnya ikut mengocok-ngocok ular itu agar ia terbangun kembali. Yue menjilati bekas cairan cinta Midori yang bercampur dengan sperma Ueda dari kemaluan Mi-chan, dan “cccrrrtttt.... cccrrrrttt.... crrrttt... mmmhhh.....” Mi-chan akhirnya keluar.

Ular Ueda telah tegak kembali waktu Mi-chan menjepit-jepitkannya di antara dua payudara montoknya. Ueda menepuk pantat kedua bidadarinya dan menyuruh mereka berdua berposisi doggy. Ueda menghunjamkan penisnya ke rongga vagina Yue dari belakang, sementara jari-jarinya ia mainkan di kawah merekah Mi-chan. Kedua gadis cantik itu saling melumat dan membelitkan bibir dengan liar. “Jleb, jleb, jleb,...” “Plok....plok....plok....” sekitar lima belas menitan liang Yue disenggamai dan klitoris Mi-chan diusap-usap dan disentil-sentil Ueda, lalu vagina Mi-chan pun dikorek-korek jari liar Ueda, “Ahhshhhsshhh..... aaahhshhhsshhh...” kedua gadis itu ramai melenguh-lenguh nikmat.

“Aaaaahhhhkksssskkk.... crooottt!!!” Ueda keluar untuk kedua kalinya.

“Crrrtttt.... cccrrrttt.....” Yue merem melek kelojotan.

“Crrttt....crrrttt..” Midori menyusul. Kedua makhluk cantik tapi liar itu pun tumbang.



*********************************



“Hueekkk,....” Midori merasa mual dan ingin mengeluarkan semua isi perutnya.



Entah mengapa tujuh bulan terakhir badannya agak sedikit gemuk dari biasanya, areolanya membesar bulatannya, begitu juga payudaranya sering terasa perih dan membengkak. Kadang waktu menghanduki dua bukit indahnya, ada tetesan air keluar dari puting merah kehitamannya. Sejak tiga bulan lalu ia rasakan dalam perutnya seperti ada yang bergerak-gerak. Parahnya, tiga bulan terakhir perutnya jadi makin membesar. Setiap kali orgasme, perutnya pasti jadi sakit dan menegang. Karena itu ia minta Ueda agar jangan terlalu kencang menggenjotnya setiap kali melakukan hubungan intim. Mungkin lebih baik Midori pergi ke tabib karena kali ini rasa pusing dan mualnya sudah terasa luar biasa. Tubuhnya pun jadi sangat lemas. Setelah ber-threesome seru di kamar Midori, Ueda jadi sering mampir ke kamar Midori untuk memanjakan ibu angkatnya yang cantik itu kalau ayah angkatnya sedang tidak ada di rumah. Tadi pagi Tuan Ono sudah berangkat ke Osaka, anak angkatnya itu pasti sebentar lagi akan datang ke kamarnya karena kangen dengan entotan dan sepongannya yang wow. Dalam hati Midori sebenarnya tak ingin jadi wanita bejat pemuas nafsu banyak pria seperti saat ini, tapi kadang tubuhnya yang berlekuk indah mengkhianati kesetiaannya pada Yui. Entahlah, mungkin ia adalah reinkarnasi seorang pelacur... jadi setiap lelaki sangat ingin tidur dengannya karena ia begitu lihai bermain cinta. Dan lelaki yang sudah pernah mencicipi betapa keset rongga surganya dan betapa premium kualitas servicenya pasti ketagihan untuk menikmatinya lagi.

“Midori, aku merindukanmu...” tanpa basa-basi Ueda langsung meremas susu ibu angkatnya yang cantik.

“Jangan! Aku sedang tidak ingin melakukannya... Aku sedang mual sekali.” Midori menepis tangan gatal Ueda.

Ia ganti meraba paha Midori.

“Jangan,...” tolak Midori. “Perutku sakit sekali kalau aku mencapai klimaks.”

“Sebentar saja,... ayo,...” Ueda memaksa.

“Aaahhh... jangan tekan payudaraku... rasanya bengkak sekali...” kata Midori ketika



Ueda memaksa Midori untuk melayaninya lagi.

“Sini!” Ueda membuka paksa atasan kimono Midori.

“Aku sedang sakit Ueda,... aku mohon jangan,” Midori memelas.

Pria itu tak peduli. Ia terus mengenyot-ngenyot salah satu pentil Midori yang mencuat. Sebelah tangannya asyik memilin-milin dan menarik-narik puting sebelahnya. “Slrrrppp.... slllrrrppp....” ia menjilati rakus dari puting merah kehitaman itu keluar sedikit air. Tidak seperti biasanya, rasa kenyotan Ueda tidak membuat Midori nyaman sama sekali, Midori merasa akhir-akhir ini gairah seks nya menurun. Ia merasakan kedua gundukan dadanya sakit dan menegang meskipun dalam keadaan tidak terangsang.

“Ueda,... sudah jangan...nanti ada yang lihat” ia memelas.

Ueda tidak mendengarkannya. Ia tetap asyik memilin-milin dan mengenyoti pentil Midori.

“Sssstt!” Ueda menyuruhnya diam. Ia lalu membuka kain pelapis vagina Midori. Ia tarik Mr. P nya dari balik hakamanya dan ia renggangkan lubang vagina Midori sambil mendorong si hitamnya ke rongga di bawah pinggang ramping gadis itu agar seluruh batang penisnya tenggelam dalam liang Midori. Midori sama sekali tidak menikmati permainan mereka. Ia menangis dan meminta Ueda menghentikan perbuatannya. Ueda seolah-olah tuli. Ia justru melumat bibir Midori sambil menekan-nekan dan memilin putingnya yang kini terasa lebih lembut dari biasanya. Srettt...pintu ruang kamar Midori bergeser. Tuan Ono berdiri di depan istri muda dan anak angkatnya dengan mata terbelalak dan mulut ternganga. Ia tak percaya apa yang dilihatnya. Ueda dan Midori pun tersentak waktu tahu Tuan Ono memergoki perbuatan mereka. Ueda mengangkat tubuh Midori dan membetulkan hakamanya.

“Aaaa...aa...ayah.” ia salah tingkah.

Midori menutup kembali kimononya dan menunduk malu.

“Plak!”Ono menampar anak angkatnya yang kurang ajar itu.

“Pelacur!” Ia juga membentak Midori.

“Pengawal, seret mereka!” perintah Ono pada para pengawalnya.

Pengawal-pengawal Ono menuruti perintah tuannya. Midori dan Ueda mereka ikat dan keduanya diseret ke halaman. Udara sangat terik, tenggorokan Midori terasa kering, tubuhnya yang sedang sakit pun makin melemah akibat terpaan sinar mentari yang panas membakar. Wajah cantik Midori pun berangsur-angsur pucat. Lalu, ia jatuh pingsan.



**********************************



“Plak!!!” Tamparan keras Ono membangunkan Midori.

Midori mengerjap-ngerjapkan matanya yang silau tertimpa cahaya matahari.

“Anak siapa yang ada di rahimmu?!” Ono menginterogasi Midori.

Midori cuma diam. Ia tak tahu siapa sebenarnya ayah bayi yang dikandungnya.

“Sejak kapan kalian berselingkuh, heh?!”

Midori diam. Ono menjambak rambut Midori untuk memaksanya bicara,

“Anak siapa?!”

“Aaakkuu..... tidak tahu,...” jawab Mi-chan lemah.

Ono menghempaskan tubuh gundiknya dengan jengkel hingga ia jatuh terjerembap ke atas tanah.

“Bruak!” Ono gantian menendang anak angkatnya karena kesal. “Anak durhaka!” bentaknya.

“Ampuunnn.... ampuuunn... ampuni aku Ayaah... Aku tak bersalah.” Rengek Ueda.

“Pengawal, pukuli mereka sampai mengaku!” Ono meninggalkan Midori dan Ueda untuk dihajar dan diinterogasi paksa oleh para pengawalnya.

“Tidak...aku tidak menghamilinya... ia memang seorang pelacur...” Ueda terus membela diri.

Midori kaget mendengar pernyataan Ueda dan memandang Ueda dengan tatapan jijik. Pria busuk itu begitu pengecut untuk mengakui perbuatan bejatnya padanya. Bukankah si busuk itu sendiri yang begitu lancang menyusup ke kamarnya dan memperkosanya, juga dialah orang yang tega berselingkuh dengan ibu angkatnya di belakang punggung sang ayah angkat, yang telah mendidik dan membesarkannya. Bukannya berhenti memfitnah Midori, Ueda malah semakin mengkambing hitamkan Midori,

“Ia yang selalu datang ke toko barang antik untuk menggodaku... Ia mengajakku tidur bersamanya karena ia butuh lebih banyak lagi uang”

“Duak... duak... bruak... duakk....” suara para pengawal yang menyiksa mereka berdua dengan deraan bertubi-tubi.

Midori kesakitan. Sekujur tubuhnya penuh luka. Kedua tangannya diikat dengan rantai. Kimononya sudah tercabik-cabik.

“Aku bukan pelacur,... Aku diperkosa,... hikshiks,...” tangis Midori.

Para pengawal tak peduli pada ratapannya. Mereka terus memukulinya sampai ia katakan siapa ayah bayi yang dikandungnya. Mereka sama sekali tak peduli mengapa ia sampai mengandung bayi itu, mereka hanya menjalankan tugas untuk menyiksa kedua manusia nista itu.

“Aaaaaa....!!!” perut Midori menegang.

Rahimnya berkontraksi karena kondisi emosinya yang sangat tidak stabil. Cairan bening licin bercampur darah keluar dari kawahnya. Cairan kemerahan itu membasahi selangkangan dan seluruh kaki mulus Midori. Ia menangis kesakitan. Para pengawal pun panik ketika tahu si cantik itu mengeluarkan begitu banyak darah. Mi-chan berteriak-teriak kesakitan karena perutnya sakit sekali. Para pengawal melepaskan rantainya dan membawa ia ke kamarnya. Salah seorang pengawal berlari memanggilkan tabib.



To be continued….



By: Shirahime
------------------------
12 komentar Post your own or leave a trackback: Trackback URL
  1. nameless mengatakan:
    top abiesssssssss
  2. dr H mengatakan:
    Sengoku Mosou XXX nih,
    btw bro/sis Shirahime penulis kawakan ya? tulisannya kok mantapp banget.
    bro Shu gw senang, akhir2 ini penulis baru berdatangan & penulis lama turun gunung. ternyata kisah BB begitu byk sub genre yg bisa digali.
    imajinasi & pengetahuan si penulis akan dunia jepang luas sekali sampai2 ada kondom jaman sengoku segala ha ha ha
    bagus..mantap..lanjut
    Re: ini bagus nih, cerita seru berlatar blkg sejarah, i love it. btw gaya penuturan shirahime kok mirip sis yohana ya, ada ngelucunya segala, hehehhe…jangan2 muridnya nih? ayo ngaku!
  3. Adi karna mengatakan:
    Jumpa lg boz shu :) .Well,ni cerita dah oke.Tp gimana ya,kok ada bumbu sadisme nya? Ampe brdarah and brutal.Haduh,wktu mbaca jd campuran mupeng+ngeri.Bozz,sekarang koq sepi fan fic artis? Gua usul: sandra dewi,putri titian,nimaz dewantary,dll(pokoke yg muda and cantik :) ).Dibuat story nya tuh.Kan mereka memenuhi syarat juga.Dulu emang ada cerita sandra,tp kecampur ma artis laen.Jadi gak fokus.Yg fokus gitu loh,mau nya.He2.Yah,cm beri masukan aja boz.
  4. adaadaadja mengatakan:
    wah ini..
    endingnya menyedihkan….
    apakah midori masih bisa memadu kasih dengan si Yui.. kita tunggu lanjutannya…
  5. ThaNaTos mengatakan:
    “Dasar perek, sudah tak perawan kau heh ” …
    Masa Ninja logatnya batak ….
    Hehehehe …..
    Re: mungkin emang orang batak merantau ke jepang kali hehehe…gpp kan jadi ada bumbu komedi dikit nih cerita kaya cerita2 bu mensexneg aja
  6. Ninja Gaijin mengatakan:
    udah lama ni cerita bab 1-nya, ternyata masih lanjut. Sip!
    *jadi pengen nulis cerita ninja-ninjaan juga, biar ga malu sama nama penanya ndiri*
    Re: o ya? wah bos ng mau nulis cerita ninja2an, wah ditunggu deh
  7. mengaku_tobat mengatakan:
    penulis baru yah.
    great job for dis story.
    btw ada yg ngganjel, waktu midori k hutan trus mergokin yue kok tiba2 ada kasur yah, padahal d hutan lhoh.
    suwun.
  8. gmox mengatakan:
    huahahahahaaa… pas mbaca cerita, mupeng.
    pas baca comment, ketawa tambah ngakak…
    pas dilihat lagi, eh iya bener…
    ternyata penglihatanku masih kurang jeli dibanding mupengers lain…
    great story bro… siip dah…
    btw, kayaknya buat gw, nimaz dewantary tuh belum masuk level deh… hehehe… peace gan…
  9. AfdoL mengatakan:
    dorama ya???
  10. Diny Yusvita mengatakan:
    Wah baru baca, asik niy cerita bginian dalam dunia yang tak biasa hihihi.
    Mantaf Bro shirahime, teruskan yang ke-3 xixixi.
    Fantasyna ok deh.
  11. Hello K!tty mengatakan:
    Bagus, cerita ninja-ninjanya he he he,
    seger… bin mupeng…..
    * Sis Diny
    Macik Dini kemane je,
    dah lama tak berjumpe,
    ai tungu ceritanye…nih..
    ( Ala Tangisan isabela mode : On)
    *Bro Ng
    Wah bagus tuch., jadi paya sesuai dengan nicknya..,
    Ninja gaijin ngarang cerita ninja XXX, pasti maknyus…
    Re: wahahha sis yohana jangan2 baru dl lagu isabela dari website itu, logatnya jadi malingsia pula.
  12. Ninja Gaijin mengatakan:
    @yo
    sabar ya, lagi dibikin cerita itunya. :)
    buset yohana nontonnya isabella :(

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar