Rumah Baru KisahBB

Setelah 2x ga diterima di Wordpress sehubungan penjualan DVD, Shusaku akhirnya memutuskan memindahkan blog cerita seru KisahBB kesayangan kita ke sini.

kirim cerita karya anda atau orderan DVD ke:


Order via email: mr_shusaku@yahoo.com


tuliskan: nama, alamat jelas, nomor HP, dan list barang yang diinginkan di email pemesanan


email akan segera saya balas dengan rincian harga & no ac bank bca/mandiri unk transfer. barang akan dikirim dengan tiki/pos setelah konfirmasi transfer diterima.

Promo diskon gede-gedean

Paket istimewa 500rb (50dvd),

untuk dalam Pulau Jawa free ongkos kirim, untuk luar Pulau Jawa tergantung daerah.

Harga normal Rp 15rb/dvd kalau beli banyak Rp.12.500/dvd, untuk paket kali ini jatuhnya Rp. 10rb/dvd, murah banget!!


Tapi ini terbatas hanya untuk 10 orang saja.

jadi silakan order, bisa dilihat list barang di

- list semi & softcore

- list western xxx

- list jav


untuk pemesanan email ke mr_shusaku@yahoo.com

Subject: paket istimewa 500rb

tuliskan: nama, alamat jelas, nomor HP, dan list barang yang diinginkan di email pemesanan

email akan segera saya balas dengan rincian harga & no ac bank bca/mandiri unk transfer. barang akan dikirim dengan tiki/pos setelah konfirmasi transfer diterima.


-untuk pesanan di atas 50dvd, selanjutnya dihitung @Rp.10.000,-

-hanya untuk film2 satuan (JAV, western XXX, dan Semi), tidak berlaku untuk koleksi pics & kompilasi

Senin, 08 Agustus 2011

The Blue Serenade of a Kunoichi 3


“Sejak pertama kali ia di sini, Midori sering mengajak Ueda-sama ke kamarnya, Tuan.” Yue datang menghampiri Tuan Ono yang sedang minum sake.

“Kau tahu mereka berselingkuh?” Ono mengorek lebih dalam.

Yue mengangguk.

“Kenapa kau tak laporkan padaku?!” tanya Ono geram.

Yue memasang wajah memelas, “Ia mengancam akan memutar balikkan fakta dengan menuduh bahwa sayalah yang berselingkuh, Tuan. Dia memang wanita licik yang memanfaatkan kepercayaan Tuan. Saya sangat takut pada ancamannya karena dia bilang Tuan pasti akan lebih mempercayainya. Ya, ia adalah istri kesayangan Tuan saat ini... Tuan lebih banyak menghabiskan malam di kamarnya... Jadi saya tak berani melaporkan apa yang saya lihat.”

“Bagaimana bisa Midori lakukan itu?” Ono penasaran.

“Ia butuh uang,... Yah, Tuan tahu ia cuma seorang gadis miskin sebelum Tuan peristri. Jadi ia sangat suka uang. Ia sering datang ke toko barang antik Tuan Muda Ueda untuk menggodanya.” Yue memfitnah Midori.

“Ueda tidak bersalah?” Tuan Ono terhenyak kaget.


“Tentu saja tidak. Pelacur itu menggodanya. Bukankah Tuan tahu kalau Tuan Ueda itu seorang pria baik. Tuan sangat mengenal putra Tuan ‘kan? Mana mungkin seseorang yang Tuan didik sejak kecil bisa melakukan perbuatan kotor seperti itu jika tak ada yang menjerumuskannya.” Yue mempengaruhi Ono. Ia memfitnah Midori yang sebenarnya tak bersalah.



Ono mengangguk-angguk.

“Sebaiknya Tuan mempercayai putra Tuan... Jangan biarkan pelacur itu menghancurkan keluarga Tuan.” Ia mengelus-elus paha suaminya yang tua bangka.

“Yaaa,.... ya,... kau benar Yue.” Ia setuju akan perkataan Yue.

Yue menuangkan lagi sake ke gelas Tuan Ono dan memijat-mijat pundak si pria tua yang lebih pantas jadi ayahnya itu. “Sebaiknya Tuan mengampuni putra Tuan. Ia hanyalah korban wanita jalang itu.”

Ono berhasil dipengaruhi Yue. Sekali lagi ia manggut-manggut setuju.

“Dasar tua bangka idiot,...” si Manis tersenyum licik dari balik punggung sang saudagar.

“Tuan, Nyonya Midori melahirkan bayi perempuan.” kata seorang pelayan yang berlari tergopoh-gopoh menghadap Tuan Ono.

“Di mana dia sekarang?” tanya Yue.

“Nyonya Midori ada di kamarnya bersama bayinya. Tadi kami pindahkan ia ke sana.” Jawab si pelayan.

“Pyaarrr!!!” ia banting gelas sakenya ke atas meja. “Aku tak menyuruhmu memindahkan pelacur itu ke kamarnya dan menolongnya! Harusnya kau biarkan saja ia mati!” bentak Ono marah.

“Maafkan kelancangan kami Tuan....” Pelayannya bersujud di atas tanah memohon ampunan tuannya.

Tuan Ono bergegas ke kamar Midori tanpa menghiraukan si pelayan yang membuatnya jengkel. Yue mengikuti dengan setengah berlari di belakangnya.



*******************************

Midori berbaring lemah mengelus rambut halus yang tumbuh di kepala bayi mungil yang dilahirkannya. Si bayi yang bokongnya masih berwarna kebiruan itu telungkup di atas dada ibunya. Bayi perempuan itu menggerak-gerakkan mulutnya mencari air susu sang ibu. Midori tersenyum bahagia. Bayi mungil yang matanya masih terpejam itu cantik sekali. Meskipun terlahir prematur, ia lahir dengan sehat. Kulitnya kuning langsat. Bayi itu mirip dirinya.

“Yui, lihatlah anak kita...” bisik Midori sambil meneteskan air matanya. Ia membuka sedikit kimononya dan membiarkan si kecil menetek.

Si kecil kelaparan, ia menyedot air susu ibunya dengan lahap. Tangan-tangan mungil si bayi menyentuh kulit pualam Mi-chan. Ia merasa sangat sempurna menjadi seorang wanita. Tuan Ono dan Yue masuk ke kamarnya. Ia sangat marah melihat bayi kecil di buaian Midori dan merebutnya dari Midori. Midori menangis memohon-mohon agar bayinya dikembalikan padanya.

“Cepat seret wanita jalang ini ke selnya! Ia tak boleh enak-enakan tidur di sini.” perintah Ono.

Midori yang tubuhnya masih lemah sehabis melahirkan pun dijebloskan lagi ke penjara dekat kandang kuda milik Tuan Ono. Ono membawa bayi kecil yang baru ia lahirkan ke depan sel tempat ia mengurung Midori dengan satu tangan. Tangan Ono yang lain membawa besi panas berujung membara yang biasa digunakan untuk menandai kuda-kuda peliharaannya. Ujung besi itu bergambar sepasang naga kembar.

“Jangaaaannn!!!” teriak Midori waktu Ono mendekatkan ujung merah membara besi itu ke punggung putri mungilnya.



Tapi “Sssshhhhhttt.....,” Ono sudah menempelkan besi panas itu ke punggung si kecil. Si kecil menangis keras sekali karena melawan siksaan rasa sakit pada kulit sensitifnya yang dibakar dengan besi merah membara. “Oeeee......... oeeeeee... oeeeeeee......” tangisannya membahana.

“Bajingan! Kau menyakiti anak kecil yang tak berdosa. Apa salah anak itu?!” Midori berusaha bangun dari lantai, namun tak bisa. Ia terlalu lemah.

“Aku ingin bayi ini mati,... hahahaha...” Ono tertawa keji.

“Jangan! Ia tak bersalah. Bunuh saja aku....Apa maumu?!” tanya Midori.

“Ada hal penting yang harus kau lakukan.... aku akan mengundang para rekan bisnisku agar mereka mau membeli kain sutra dariku...ada beberapa petugas yang akan mengurus perizinan pengiriman barang-barang yang juga akan datang... kau pasti bisa melancarkan proses negosiasi kami dengan tubuh mulusmu.... hahahahaha...” Ono menyeringai padanya. “...mungkin setelah itu aku akan mempertimbangkan akan membunuh anakmu atau tidak,...”

Midori mengerti apa maksud si pedagang licik itu.

“Bajingan bejat! Kau ingin menjual istrimu sendiri?!” bentaknya.

“Yah,... tidak benar-benar seperti itu... Aku kan cuma mengajarimu bagaimana cara mencari uang... Itu yang kau inginkan dariku dan anak angkatku kan?...” cemoohnya.

“Kau bajingan tua tak berperasaaannn!!!” jerit Midori dari balik jeruji besi yang menahannya.

Ono tak menggubris Midori. Ia pergi begitu saja dari hadapan Midori yang terus mengiba-iba agar Ono mengembalikan putri kecilnya.



“Pergi dan bunuh anak haram ini! Kuburkan saja sekalian kalau perlu. Kau juga boleh membuang mayatnya!” perintah Ono pada seorang pengawal.

Pengawal itu membungkuk hormat dan membawa pergi si bayi kecil. Ia membawanya ke tempat yang jauh dari rumah besar Saudagar Ono. Bayi mungil itu begitu berani. Ia tak menangis menghadapi kematiannya. Ia tertawa-tawa jenaka selama digendong si pengawal. Mata mungilnya yang bulat kecoklatan dan innocent menatap mata sang pengawal sekilas. Ia lalu menguap dan tidur nyenyak di gendongan si pengawal. Si pengawal teringat akan putri kecilnya, bayi ini bahkan lebih cantik dari putrinya sewaktu bayi. Si kecil ini hanya lahir pada tempat dan saat yang salah. Seorang bayi sama sekali tak berdosa karena dilahirkan, bahkan oleh seorang pelacur sekali pun. Pengawal merasa kasihan padanya. Ia tak tega untuk membunuhnya. Ia letakkan bayi kecil itu di dalam sebuah keranjang bambu yang ia temukan di dekat sungai. Agar si bayi tak kedinginan, ia melapisi keranjang sekaligus tubuh si kecil dengan kimono terluar dan syal yang dipakainya. Ia hanyutkan si kecil yang tertidur lelap ke sungai.

“Semoga kau beruntung dan ada orang yang mau memeliharamu bayi kecil” ujar si pengawal waktu keranjang berisi bayi itu mulai terbawa arus air.

Di perjalanan pulang, ia tangkap seekor kelinci dan membunuhnya dengan sebilah pisau. Ia simpan pisau yang dipakainya untuk membunuh kelinci itu untuk nanti diperlihatkan pada Tuan Ono sebagai bukti palsu bahwa ia telah membunuh si kecil.



************************

“Ueda-sama, jangan khawatir... Sebentar lagi kau akan dibebaskan. Kau mengatakan apa yang kuajarkan padamu kan?” Yue memastikan.

“Yue... mereka menyiksaku,...” pria pengecut itu menggenggam tangan Yue erat.

“Jangan takut, si gadis jalang itu akan segera menerima hukuman atas ketidak setiaannya pada Tuan Ono... Sayang, kau pasti diampuni Tuan Ono.” Hibur Yue.

“Terima kasih, cinta.” (Afghan banggedz :P) Ueda merayu Yue yang telah menyelamatkannya.

“Aku akan melenyapkan siapa saja yang mencoba merebut Tuan dariku,...karena aku sangat mencintai Tuan...” ujar Yue.

Ueda membelai rambut Yue yang duduk di hadapannya. Kalau jeruji itu tak ada di antara mereka berdua pasti mereka telah berpagutan mesra.



*************************

Sekitar 20 orang pria setengah baya duduk di ruang utama kediaman Tuan Ono. Tuan Ono sedang melangsungkan perjamuan bisnis dengan para kliennya dari mancanegara. Wilayah Kyushu memang tempat eksklusif di mana Korea mau menjual hasil buminya kepada bangsa Jepang. Beberapa pedagang asing juga sudah mulai memasok komoditi dari dan ke Jepang, walaupun melalui black market. Para niagawan asing itu rela berlayar berbulan-bulan demi mendapatkan sutra dan emas, komoditi perdagangan utama bangsa Jepang. Seorang pria bule bangkotan beserta dua bodyguard negronya yang kekar-kekar ikut duduk dalam ruangan itu.

“Baiklah Tuan-tuan sekalian, kita tunda dulu proses negosiasi kita sejenak. Maaf kalau Tuan sekalian merasa kurang berkenan. Namun hari sudah siang dan aku yakin Tuan sekalian pasti sudah mulai lapar. Aku ingin menyuguhkan hidangan lezat pada tuan-tuan semua.” Ono berbasa-basi.

Para hadirin mengangguk-angguk setuju.

“Midoriii,... bawa masuk hidangannya!” panggilnya.

Pintu kertas itu bergeser. Seorang gadis cantik berambut hitam lurus panjang terurai dengan jubah bulu beruang berwarna putih masuk membawa senampan besar lembaran-lembaran sashimi. Mereka semua terpana melihat betapa eksotis kecantikan wajahnya. Ia duduk bersimpuh dan meletakkan pinggan sashimi besar di hadapannya. Ia tarik ikatan jubah bulu beruang di lehernya. Jubah itu tergelincir jatuh, tubuh indahnya yang meliuk sensual terpampang polos tanpa selapis kain penutup pun di depan para bandot tua yang tambah melongo memelototinya. Keindahan tubuh sang bidadari memang sulit dilukiskan dengan kata-kata. (padahal penulisnya aslinya males nih mendeskripsikan keindahan tubuh Midori berulang-ulang :-P)

“Silakan perlakukan saya sekehendak hati Tuan,..” ujarnya lirih sambil membungkuk hormat.

Ono berdiri dari tempat duduknya, “silakan menikmati hidangannya, Saudara-saudara.” Ono membuka pintu dan keluar dari ruangan itu. (Ya eyalah, malu lagi kalo nggabung sama mereka en ketahuan menderita disfungsi ereksi... heleh bahasanya sok ilmiah aku wkwkwkwkwk)



Midori meletakkan beberapa lembar potongan sashimi di atas tubuh polosnya lalu berbaring telentang memasrahkan diri di atas tatami yang terasa kasar di punggung polosnya. Beberapa lelaki tua mendekatinya dan menyirami tubuhnya dengan saus sashimi. Panas yang berasal dari campuran wasabi (sejenis talas dengan rasa kuat) dan ponzu (parutan jahe) dalam saus itu seketika merambati tubuh Midori. Tanpa menunggu lama, pria-pria beringas itu sudah asyik memakan langsung iris demi iris potongan-potongan persegi tipis afrodisiak di atas tubuhnya tanpa sumpit atau alat makan lain dan menjilat-jilat seluruh tubuhnya yang gurih berlapis saus nan hhmmm slrrrppp... mak serrr legender kata Pak Bondan! Seorang pria bangkotan mengeyoti payudara kanannya yang masih mengeluarkan air susu karena baru beberapa minggu lalu melahirkan. Pria lain memilin dan menjilati rakus puting kirinya. Kedua paha mulusnya sampai ujung kakinya masing-masing disapu entah oleh lidah-lidah pria yang mana. Seorang pria hitam legam menyeruputi saus sashimi dari liang vaginanya yang masih peret. Seorang bandot bule membelit-belit lidah gadis oriental yang sangat seksi itu. Tak cukup itu saja, Midori didudukkan dan satu pria lain ikut asyik menjilati punggungnya, sedangkan rekannya menyiram dubur Midori yang kembang kempis dengan saus sashimi dan mengebor serta menyeruput cairan di duburnya dengan mulut dan lidahnya. Mi-chan menangis tanpa suara karena rasa pedih dan panas menyergap organ-organ intimnya, ia tak pernah bermimpi akan diperlakukan seperti ini. Bule yang tadi membelit lidahnya menyumpalkan penis merah besar dan men deep throatnya sampai ia sulit bernafas. Lidah dan mulut mungil Mi-chan langsung menjilati, mengenyot-ngenyot, dan menggigit kontol si bule.



“aaahhhhsshhhh.... aaasshhhssahhh,..... f***ing great!” si bandot bule jadi makin excited. Dua pria lain mengoles-oleskan tangan kanan dan kiri Midori ke atas penis mereka. Midori langsung mengocok kedua penis besar tegang entah milik siapa itu. Ia bergantian menyepong dan mengocok penis tiga pria. Selangkangan Midori sudah semakin basah saja karena klitorisnya dimain-mainkan dan dihisap-hisap si Afro. Midori mengejang nikmat sambil mendesah-desah dan, “crrrttt.... ccrrrttt....” ia keluar. “Crroott... crroot... crooot...” tiga penis yang layu karena servicenya kini digantikan oleh tiga penis tegang berbagai ukuran lainnya. Si negro yang pandai mengebor kini menyodokkan batang hitam besarnya ke vagina sempit Midori dan “ngehhk....hekkhh....aaahhhsss.....” ia pompa kuat-kuat “ploph, ploph, ploph,” Midori yang pentilnya masih dipilin-pilin dan dikenyoti membiarkan bongkahan kenyal di dadanya terayun-ayun maju mundur. Saking besarnya penis si negro, mulut vagina Midori kadang ikut timbul-tenggelam terbawa genjotan bersemangatnya. Seorang negro lain menyodok duburnya dari belakang. Kini ia jadi seperti daging di antara dua tangkupan roti. Bedanya, kalau pada sandwich biasa dua roti pengapitnya putih, sedangkan sandwich ala Midori bagian tengahnyalah yang berwarna putih pualam. Kulit putih mulusnya kontras sekali dengan kulit dua pria negro yang menjepitnya dari depan dan belakang.

“Aaaahhhsssshhhh.... hhssshhhh....hhhssshhh....” Gadis cantik itu sangat terangsang untuk kedua kalinya, “crrrtttt.... ccrrrrtt...” dua kali sudah ia keluar.

“Croothhh.... crootthhh....crooothhh... banyak penis meledak dan menyemburkan guyuran sperma ke segala penjuru karena tubuh sintalnya berhasil melayani mereka dengan kualitas prima.



Ia kini penuh belepotan sperma dari ujung rambut sampai ujung kaki. Kadang ia diminta memijat dada dan menjepit penis beberapa pria dengan payudaranya. Penis-penis para pria itu pun digesek-gesek di hampir semua bagian tubuhnya, kaki, perut, tangan, ketiak, serta sela-sela antara pinggang dan pinggulnya. Tubuhnya juga dibolak-balik naik turun dengan berbagai posisi, mengangkang, di doggy, diangkat satu kakinya, diajak kuda-kudaan, dan dibopong sambil dipompa bergantian oleh para pria itu... Entah sudah berapa pria yang menikmati tubuhnya,... entah berapa kali ia keluar,... dan entah berapa posisi yang telah mereka pakai untuk menyenggamainya, yang penting, makin lama goyangan patah-patah Midori makin asoy geboy membuat para bandot tua bangka itu klepek-klepek. Satu persatu bandot itu KO karena telah tersalurkan naluri kebinatangannya. Kini mereka semua terkapar tak berdaya dalam ruang seluas 20 tatami milik Tuan Ono yang kini tatami dan dindingnya telah penuh cipratan sperma. Midori tak bisa bergerak karena kelelahan memuaskan bandot-bandot tua bangka bernafsu besar itu. Midori memejamkan dan menggigit bibirnya menahan rasa perih tak tertahankan dari seluruh tubuhnya. Darah keluar dari dua rongganya yang lecet dan panas memerah karena terlalu sering dibor. Ia perhatikan sejenak jemarinya yang berlumuran cairan putih kental, lalu menjilati dan menghisap-hisap jemarinya dengan gerakan yang sangat erotis.

Ia meletakkan tangannya yang sudah bersih dari lelehan sperma ke atas tatami. Ia mengalirkan air mata menyesali nasibnya... dan

“Hahahahahahaaaaa...... hahahaha.... hahahahaha....” ia mulai tertawa-tawa sendiri sambil menatap kosong ke langit-langit ruangan itu.



*****************************

Lima tahun lalu di desa Iga Tsubagakure...


Ouran
 Seorang gadis cantik melemparkan shuriken ke arah sebatang pohon besar. “Srett...” kulit pohon itu terkelupas dan “trang...!” nunchaku (double stick) si ninja laki-laki menangkis serangan lawannya. Shuriken itu terlempar jauh ke udara. Dalam gerakan secepat kilat, ia sudah berada di belakang ninja wanita dan menyerang si kunoichi dengan sabitan nunchakunya.

“Ah,... nyaris saja,..” desis si ninja wanita sambil berkelit menghindar. “Blush!” ia menghilang di balik kepulan asap.

Si ninja laki-laki kehilangan jejaknya dan memandang sekeliling dengan penuh kewaspadaan, bersiap-siap kalau si ninja wanita menyerang. Benar saja, si ninja wanita menyerangnya dari dalam tanah. “Sreett,...” sebilah mata pedang melesat secepat kilat ke arahnya. Si ninja laki-laki langsung tanggap dan melompat gesit ke dahan pohon terdekat. “Sappp,... sappp,... sappp,....” ia melesat secepat angin. Tangannya mengambil sebentuk bungkusan dari sakunya dan melemparkan ke arah pedang yang membelah tanah. “Duar!!!” bom rakitan si ninja meluluh-lantakkan tanah. Si ninja wanita terpaksa melompat keluar dari tanah. Lalu,... “Cring,...” rantai nunchaku si ninja pria sudah tepat berada di depan leher si ninja wanita.

“Ippon... (skor satu)” kata si ninja pria mengkagetkannya.

“Ah menyebalkan! Aku kalah lagi! Uno-kun, kenapa sih sejak kecil aku tak pernah bisa mengalahkanmu!” kunoichi cantik itu mengomel.

“Hehehehehe... kau kan memang payah sedari kecil, wek...” ledek si ninja laki-laki sambil menarik kedua kelopak matanya dan menjulurkan lidahnya. “Whush,....” ia langsung lari dengan kecepatan hampir 200 km/jam.

“Syuuttt....” si ninja wanita pun ikut melesat mengejarnya. “Lihat saja kau ninja jeleeeekkk!!!” umpatnya.

“Sudah Uno-kun, keluar dari persembunyianmu dan cepat minta maaf!... mumpung aku sedang mau memaafkanmu...” bentak si cantik dengan galak.



“Plek,...” tiba-tiba sebuah tepukan mendarat di pantat si kunoichi.

“Plak!” ia tampar si ninja laki-laki yang muncul di belakangnya lagi. “Sukebei (mata keranjang)!” ia melotot jengkel.

Si ninja laki-laki malah mencubit pipinya, “kau kelihatan cantik kalau marah, Ouran.” ujarnya.

Si kunoichi wajahnya langsung bersemu merah.

“...ya tapi ini memang tampang tercantik si Nenek Sihir sih,...” tambahnya sambil bersiul-siul.

“Iiihhh... kau memang menyebalkan!” Ouran mencubit keras-keras pinggang Uno.

“Aww...... wadauuuwww..... wadauuuwww,... ampuuunnn... ampunnn,... iya cantik deh...!!!” Uno meralat perkataannya supaya diampuni.

“Jangan pakai ‘deh’!” ujar si cantik yang galak itu.

“Iyaaaa... kamu cantiiikkk... aaaawwww.... ssuuuaaaakkkiiiitt..!!!!”

“Siapa yang cantik?!” bentaknya lagi.

“Ouran Kosukeeee.... adduuuhhh,...”

“Bilang sekali lagi!”

“Ouran Kosuke wanita tercantik di dunia.” Uno menurut.

Ouran tersenyum senang mendengarnya.

“Hehehehe,...” Uno ikut tertawa. Ia menjaga jarak dan ambil ancang-ancang sambil memancing keributan kembali, “... wanita tercantik di dunia para ibliiisss...”

“Awas kau Uno-kuuun!”

... langit pun seketika dipenuhi kepulan debu.

“Ampuuunnn.... stop, stop, stop!!! ” kepala Uno dipukuli dengan kipas oleh si gadis yang gelombang kemarahannya sangat mengerikan itu. (^^’)

Ouran menghentikan pukulannya. Ia tertarik pada sebuah objek di leher Uno, sebuah kalung dengan liontin berbandul mirip shuriken ninja iga berukuran kecil.

“Kalungmu bagus,... buatku saja ya?” ia menarik kalung dari leher Uno tanpa disadari si pemakainya.

“Wah,... bakat juga kau jadi copet...” seloroh Uno begitu menyadari liontinnya sudah berada di genggaman Ouran.

Mimik wajah Ouran berubah mengerikan karena dikatai “copet”.

“Ya, ya, ya... bukan copet, maksudku ninja pencuri yang cantik...” tambah Uno sambil bergidik ngeri.



Ouran mengangguk-angguk senang dan pergi meninggalkannya.

“Kalungku?” Uno teringat akan kalungnya yang masih berada di tangan Ouran.

“Aku sitaaa...”Ouran menjawab dari kejauhan.

Uno mengejar Ouran dan menjajari langkahnya. “Aku tukar dengan bom terhebatku saja ya?” ia menawarkan untuk membarter kalungnya sendiri.

Ouran berhenti sejenak. Penawaran yang menarik. “Mana?” tantangnya.

Uno memperlihatkan sebuah bola besi kecil di atas telapak tangannya.

“Daya ledaknya sehebat apa?”

“Mmm,... kemarin aku uji coba di pantai,... ia bisa ledakkan batu karang sebesar perguruan ninjutsu kita... yah, lumayan juga kalau kita pakai untuk meledakkan bangunan perguruan ninjutsu kita... kita ‘kan jadi bisa dapat libur ekstra panjang untuk perbaikan total seluruh bangunannya.” Uno meyakinkan Ouran akan kehebatan bom buatannya.

“Tapi kau lah yang akan kena skors mengepel kesepuluh lantai bangunan perguruan seumur hidupmu kalau bangunan itu sudah dibangun kembali...” cibir Ouran.

“Ah benar kok! Bom buatanku kan memang tak ada bandingannya...”

“Halah! Kebohonganmu itu juga terkadang tak ada yang bisa mengalahkannya... Sini, biar kuuji coba!” Ouran merebut bom itu dari Uno dan berjalan lagi.

“Lalu kalungku?”

“Tidak bisa diambil sampai uji coba bomnya sukses! Pokoknya aku sita.” Ouran berkacak pinggang sambil melotot. Iapun ngeloyor pergi sambil membawa kedua benda itu.

Uno menggaruk-garuk kepala jengkel. Ouran tersenyum licik dari kejauhan, lumayan sudah dapat kalung, dapat bom bagus lagi... siapa pun kan tahu kalau Uno adalah pembuat bom terhebat di perguruannya, yah meskipun ia kadang suka agak melebih-lebihkan ceritanya sih.



*****************************

Kedua ninja itu terpana waktu kembali ke desanya. Api sudah melalap hampir semua rumah di desa ninja Iga. Mayat-mayat para ninja penghuni desa sudah bertebaran di seluruh desa. Ada yang tergantung di pohon, tertusuk anak panah beracun, terpenggal kepalanya, dan hiiihhh... pokoknya ngeri, nanti malah penulisnya kena sensor karena terlalu sadis mendeskripsikan keadaan mereka. Oh ya, beberapa wanita dan anak-anak yang telah tak bernyawa juga terbaring dalam kondisi tak kalah mengerikan. Mayat beberapa gadis muda malah sampai tak berpakaian sama sekali dan lelehan kental membasahi tubuh, mulut, dan alat kelamin jasad tak bernyawa mereka. Ayah dan ibu Uno pun ditemukan telah meninggal berlumuran darah di pekarangan rumahnya. Jasad ayah Uno digantung di pohon, sedangkan jasad ibunya ditembus anak panah beracun. Jasad wanita setengah baya itu tersangkut di mulut sumur dengan kondisi bagian pinggang ke bawahnya terekspose tanpa kain penutup dan cairan kental menjijikkan melumuri selangkangan, dubur, dan kaki mulusnya. Tampaknya setelah ibunya jadi mayat pun para begundal yang membunuh wanita itu masih berbuat begitu keji terhadapnya. Uno menggendong dan membaringkan wanita itu sambil menutupi mayat wanita cantik yang telah melahirkan dan membesarkannya dengan selembar kain hitam. Uno bersimpuh menggigit bibir dan mengepalkan tangan geram di samping mayat wanita itu.

“Aaaaa.....” Uno berteriak keras melepaskan kemarahannya.

“Koak... koak... koak...” gagak pemakan bangkai yang sedari tadi bertengger di pohon-pohon langsung terbang ketakutan.

Ouran ikut menangis histeris dan memeluk Uno yang kini duduk tertunduk di sebelah jasad ibunya.

“Hiks... hiks... hiks...” mereka mendengar suara tangisan dari dalam sumur... Ada seseorang yang masih hidup...

Uno berlari dan menarik tali timba sumur. Adiknya, Mochizuki, yang masih berusia sepuluh tahun duduk gemetar ketakutan di dalam ember kayu yang ia tarik dari dalam sumur. Ia gendong adiknya yang menangis keras di pelukannya dan menyuruh Ouran membawanya ke tempat persembunyian yang aman. Ia berlari ke dekat kuil, di mana para ninja yang masih bertahan hidup sedang berkelahi dengan ninja-ninja penyerang desa yang berjumlah sekitar 30 orang. Satu persatu ninja dari desa Iga tumbang karena ninja-ninja musuh itu ternyata adalah para ninja pilihan.



Sepuluh menit kemudian, sekujur tubuh Uno sudah babak belur.

“Bruakkk!!!” serangan si ninja berkuku pisau menghempaskan tubuh Uno ke dinding sampai dinding itu ambruk. Tubuh Uno muda, yang belum begitu lihai bertempur melawan ninja senior sekaliber ninja berkuku besi, tiba-tiba mati rasa, tak bisa bergerak lagi akibat rasa sakit tak terperi. Kini ujung lancip sebuah jutte (pisau) menusuk dan menoreh lehernya. Uno memejamkan mata menyongsong kematiannya,...

Tiba-tiba, “bettt... trang!!” jutte itu terpental dan terpelanting ke tanah akibat sambitan shuriken berlambang Iga milik seseorang.

Seorang kunoichi cantik sudah berdiri di atas gerbang torii kuil desa Tsubagakure. “Zapp... zapp... zapp... zapp” ratusan jarum beracun menyerang si ninja berkuku besi.

“trang... trang... trang....” ninja itu menepis jarum-jarum beracun yang menyerangnya. “Bruak!” tiba-tiba saja si kunoichi sudah ditendang oleh si ninja jahat. Kunoichi itu refleks melompat ke tanah sambil menahan sakit. “Heghh...” ia memuntahkan darah dari mulutnya. Kunoichi itu menyapu bekas darah akibat luka dalamnya dari balik kain penutup hidungnya. “Cring...” sebuah shuriken menyerempet pipi mulus si kunoichi dan melepaskan kedoknya. Wajah cantik Ouran pun terlihat.

“Glekh,...” si ninja berkuku besi menelan air liur melihat wajah imut sang kembang desa Iga yang mirip-mirip Ryoko Hirosue. (huehehehe jadi keliatan kalo aku dorama-lover ^^)

“Kawai ne...” (“uuiiimut gellaaa...” kalo kata orang sini sich ^^) si ninja berdecak kagum.

“Sret” si kunoichi cantik membabatkan ninja-to (pedang ninjanya) ke arah leher si Kuku Besi. Tapi, secepat kilat si Kuku Besi menahan tangan mungilnya dan merebut ninja-to nya. “Buk!!” sebuah pukulan telak di tengkuk menyudahi perlawanan Ouran. Ouran tersungkur jatuh ke atas tanah.

Ninja-ninja lain yang telah mengalahkan penduduk desa Iga ikut berkerumun di dekat si ninja berkuku besi yang telah mengalahkan seorang kunoichi cantik.



“Senpai, cantik juga kunoichi ini...”

“Senpai, apa dia memang sudah benar-benar jadi kunoichi?”

“Buktikan saja Senpai...”

“Iya, kalau dibor masih berdarah berarti belum benar-benar jadi kunoichi...”

“Hahaha... haahhaahha...” para ninja terbahak-bahak menertawai Ouran.

Si kuku besi meraba paha mulus Ouran. “Kita buktikan saja,... kau tidak keberatan kan cantik?”

Ouran menangis ketakutan,... Lebih baik ia mati daripada...

“Sakit sedikit sih... tapi lama-lama kau pasti akan....” desis si kuku besi.

Derai tawa para ninja bertambah kencang.

Ouran memandang berkeliling. Ninja-ninja Iga yang tadi masih berjuang kini telah terbaring sekarat. Tak boleh ada lagi ninja Iga yang mati,... desa Iga tak boleh dimusnahkan... Ouran pun mengangguk pelan.

“Hahahaha... gadis penurut...” si kuku besi senang sekali waktu tahu Ouran mau melayaninya.

“Semua anggota pasukanmu pun boleh ikut, biar aku menghilangkan rasa lelah kalian selepas bertugas...” tambah Ouran yang pura-pura tegar.

“Gadis pintar,...” kata si Kuku Besi sambil membelai pipi mulus Ouran yang bergidik gemetar karena rasa takut. “Gue suka gaya loo...”



Semua anggota pasukan ninja bersuit-suit, bertepuk-tepuk tangan, dan tertawa-tawa

setuju. Mereka memang butuh hiburan setelah lelah bertempur.

“Mmmmhh,...” si Kuku Besi bernafsu hendak mencumbu Ouran di tempat itu juga.

“Jangan di sini...” Ouran menahan agar mulut si Kuku Besi yang masih berkedok ninja tidak menciumnya... Ia tak mau dilecehkan di tempat ia berada sekarang, sebab kedua mata nanar Uno yang tergeletak menahan sakit masih menatap geram ke arahnya. Pandangan Uno menampakkan ketidaksetujuannya dengan keputusan sahabatnya yang cantik itu.

“Lalu di mana?” si ninja coklat berbisik di telinga Ouran.

“Di dalam kuil saja,... “

“Kenapa hmm?”

“Aku malu.” Ouran menunduk. Ia tak sanggup melihat tatapan membara Uno.

“Huahahahaha.... dia malu Senpai,...” para ninja menertawakannya lagi.

“Baiklah,” kata si Kuku Besi, “lagipula ia gadis manis yang penurut. Tak ada salahnya mengikuti kemauannya...” Si Kuku Besi pun membopong Ouran ke dalam kuil suci desa ninja Iga Tsubagakure untuk diambil kesuciannya.

Uno yang tak bisa bergerak hanya bisa menangis pedih melihat sahabatnya yang sebenarnya masih virgin akan dijadikan bulan-bulanan nafsu bejat para ninja jahat. Ia kerahkan segenap tenaganya untuk bangkit, namun ia langsung pingsan karena lemas akibat kehilangan terlalu banyak darah.



Para ninja membuka kedoknya. Dari ketiga puluh tujuh ninja di ruangan itu, tak ada satu pun yang tampan. Si Kuku Besi yang memperkosa Midori adalah anak dari ninja yang memimpin penyerbuan desa Iga Tsubagakure ini. Penampilan ayah anak itu tak beda jauh, tapi si ayah ini tak sebrutal dan sesadis anaknya. Semua ninja melepas kostum mereka. Ada yang masih bersempak ninja, ada yang benar-benar polos. Ouran bergidik melihat penis-penis besar itu.

“Ikat dia!” perintah si kuku besi. Dua ninja membelit kaki Ouran dengan masing-masing seutas tali, melemparkan ke antara kayu penyangga genting kuil, menarik Ouran yang tergantung dengan posisi terbalik, dan mengikat kedua tali itu ke tiang kuil.

Si kuku besi menyelipkan kedua kakinya ke kayu penyangga genting tepat di depan selangkangan Ouran. Ia kini juga bergantung terbalik seperti kelelawar dengan posisi selangkangan Ouran yang masih berlapis kain menganga lebar di depannya.

‘Zrett,...” ninja lain merobek lepas pakaian ninja Ouran. Buah dada berputing pink dengan ukuran sedang milik gadis belia berusia 15 tahun itu menjuntai ke bawah. Dua ninja lapar langsung mengenyoti, memilin-milin, dan menjilatinya rakus. “Jleb,..” satu penis masuk ke mulut mungilnya. “hegh,... hegh,...” Ouran yang masih lugu tak tahu harus melakukan apa.

“Jilat!” perintah si ninja yang menyumpali mulutnya. Ia menjilat sedikit ujungnya.

“Bodoh,... aku takkan keluar kalau begitu caranya. Jilat sampai ujung satunya, kulum-kulum, dan sedot yang kuat!” bentaknya.

Ouran mencoba sekali lagi dengan agak canggung.

“Kurang kuat, hisap lagi!” Ouran menurut. “Nah, begini lebih enak. Teruskan sendiri!” kata si ninja sambil tersenyum-senyum menang.

Dua ninja lain menggosok-gosokkan tangan Ouran ke penis mereka. Ia minta tangan halus Ouran untuk mengocok benda berkerut yang belum pernah ia sentuh itu.



Si Kuku Besi melepas kuku-kukunya dan membelah selangkangan merah Ouran yang berbulu lebat. “Sllrrrppp,... slllrrppp... sllrrpp...” ia menjilati pintu sumur Ouran sampai tubuh Ouran geli. Ia masukkan lidahnya ke sumur sempit itu dan menjilati klitoris Ouran. “Aaahhhssshhhh aahhhsshhh...” sang perawan menggelinjang kegelian. Lubang sumur Ouran sudah sangat basah. Si kuku besi berpegangan pada kayu dan membelitkan kakinya ke panggul Ouran. Kepala penisnya menyundul-nyundul sumur sempit Ouran. Ia melepas satu tangan dan mempergunakan tangan itu untuk melebarkan sumur sempit Ouran.

“Jlebh...” “Aaaaahhhhkkk....” Ouran berteriak karena ada benda asing masuk separo ke sumurnya yang belum pernah dibor... si Kuku Besi menarik keluar lagi sedikit untuk mengambil ancang-ancang dan menghempaskan lambang keperkasaannya bertubi-tubi “Jlebh, jlebh, jlebh, jlebh, jlebh, phlokh!”

“Aaaaahhhkkk.... aaaahhhkk..... nghhhkk....” Ouran berteriak tertahan. Sakit,... ia belum pernah mengalami luka di daerah itu sebelumnya. Air matanya menetes.

Tanpa memberi kesempatan bagi Ouran untuk beradaptasi, “Ssrrrtt,...” si Kuku Besi menarik tubuhnya ke atas hingga sebagian Penis nya ikut tertarik juga. Darah perawan Ouran melumuri penis si ninja dan mulut vaginanya. Kemudian, “plok.... plok... plok... plok....” si Ninja mulai memompa sumur perawan itu berulang-ulang. Makin lama makin cepat.... klitoris Ouran pun ikut tergesek-gesek.

“Hsshhhh ahsshhh aahhsshhh...” si gadis mulai keenakan. Lama-lama ia ikut memutar-mutar pinggulnya.

“Crotthhh... croootthhh.... crooothhh... penis-penis ninja mulai lunglai karena nikmatnya service Ouran. Si Kuku Besi di atas sana masih memompanya dengan kecepatan fantastis. Ouran tak sanggup ber-ah eh oh karena mulutnya masih asyik berkaraoke. Tapi dari goyangannya yang makin lama makin hot kelihatan ia makin menjiwai perannya sebagai wanita dewasa. Akhirnya, “ccrrrtt... ccrrtt...” vagina Ouran mulai digenangi cairan cintanya yang mengucur-ngucur membasahi selangkangan dan perutnya. “Chrrrooottthhh!” si Kuku Besi ikut keluar. “Brugh...Pegangannya terlepas, kini ia bertumpu pada kedua kakinya yang membelit pinggul Ouran. Ia menumpukan tangan ke tanah, menolakkannya, dan bersalto.

“Turunkan dia!” perintahnya.



Semua ninja menghentikan keasyikan mereka. Ouran diturunkan untuk disetubuhi di atas lantai kuil. Seorang ninja berbaring. Vagina Ouran yang kini dilumuri cairan kental kemerahan dibor lagi olehnya. Ouran ditengkurapkan di atasnya, si Kuku besi yang sukses menegakkan lagi penis nya mencoblos-cobloskan kejantanannya ke dubur Ouran.

“Gyaaaa!!!” Ouran berteriak waktu penis si Kuku Besi masuk dengan sukses.

Ia dipompa atas bawah, mem-blow job, dan mengocok banyak sekali penis. Vaginanya pun kini dinikmati bergantian oleh para ninja. Ia pun acapkali disodomi oleh mereka. Hingga akhirnya mereka semua lemas dan tertidur karena kehabisan energi. Ouran yang sudah amat letih dan kesakitan meraih sesuatu yang ia pakai sebagai anting-anting. Ia melepaskan mata anting-anting bulatnya yang ternyata adalah bola besi buatan Uno.

“Uno-kun,... aku... suka... kamu,...” desis Ouran lirih. Ia menangis pedih karena tahu bahwa ia takkan pernah sempat lagi mengungkapkan perasaannya pada Uno. Apalagi ia kini sudah sangat kotor dan menjijikkan karena 37 pria sudah menggumulinya sampai kepayahan dalam semalam. Lendir-lendir bening menjijikkan menyerupai larutan metil selulosa sudah melumuri seluruh tubuh mulusnya yang berkilat-kilat ditimpa cahaya remang-remang lilin-lilin putih di dalam kuil. Hari ini ia tak lagi seputih dan sesuci lilin-lilin yang meneranginya, ia tak lagi pantas jadi pengantin Uno-kun. Hanya kematian yang bisa melepaskan jiwa sucinya dari noda kotor di raganya. Biarlah ia tunggu Uno di surga...

“Duarr!!!” bom kecil itu meluluh lantakkan kuil suci desa Iga Tsubagakure yang telah dinodai ninja-ninja bejat. Seluruh kuil dan isinya hancur berkeping-keping.

Sebuah kalung dengan liontin kecil berbentuk shuriken ninja Iga terpelanting dari dalam kuil yang puing-puingnya terbakar hebat. Liontin itu kini tergeletak di tanah desa Iga yang subur.



**************************

Arus air sungai Shinano membawa si bayi kecil ke Nagano. Si kecil membuka matanya dan menangis karena haus. Seorang pria memungut keranjangnya dari sungai dan menatap bayi cantik itu lekat-lekat. Kecantikan wajah si kecil membawanya bernostalgia pada kenangan pedih yang pernah dialaminya 5 tahun yang lalu. Peristiwa pembantaian massal di desa Iga Tsubagakure yang menewaskan sahabatnya. Kini hanya tinggal beberapa orang ninja Iga yang hidup dan mengabdi pada Tuan Masayuki Sanada. Penyerangan Iga tempo hari ternyata adalah pemusnahan massal yang direncanakan Tokugawa karena ia tidak ingin ada ninja selain ninja-ninja pengikut Hanzo Hattori, ajudan setianya, yang beroperasi di luar kendalinya dan mengabdi pada seterunya. Hattori adalah seorang ninja Iga, tapi hatinya sama sekali tak hancur melihat kehancuran desa dan keluarganya. Kesetiaannya pada Ieyasu Tokugawa memang telah membutakannya.

Uno mengalungkan liontin berbentuk miniatur shuriken Iga di leher mungil si bayi. Pria yang kini telah berjambang dan berkumis itu berjalan membawa keranjang berisi bayi yang ditemukannya ke mansion majikannya, Masayuki Sanada.



*************************

Seorang lelaki bertubuh gemulai yang mengenakan topeng kayu hinoki (pinus Jepang) berlukiskan wajah siluman mengerikan mencekik leher seseorang yang memakai topeng berwajah wanita. Gerakan pencekikan itu tidaklah kasar seperti layaknya perkelahian biasa. Drama pembunuhan itu ditarikan dengan sangat halus, elegan, dan indah. Si topeng wanita pura-pura mati dan si hantu berpose angkuh menandai berakhirnya pertunjukan.

“Begitulah,... akhirnya roh jahat yang terlepas dari tubuh sekarat Putri Rokujo menghabisi nyawa Tuan Putri Aoi yang menjadi saingan cintanya,...” ujar si pemandu cerita.

Semua hadirin bertepuk-tangan riuh. Masayuki Sanada berdiri dan melakukan “kake-goe” (penyebutan nama pemeran) sebagai tanda salutnya atas kepiawaian sang seniman topeng,

“Seikai... Miyoshi Seikai!!” ujarnya bangga.

Sang seniman berbakat melepas topeng siluman Putri Rokujonya dan tampaklah wajah laki-laki muda yang cantik. Wajahnya didandani mirip – mirip personel L’arc en ciel, penyanyi lagu Jyū e no Shoutai, yang sedang cos-play dengan make up gothic. Ia membungkuk dengan sangat elegan pada Tuan Masayuki Sanada... bak gerakan seorang geisha. Ia tidak seperti anggota grup band laruku yang asli cowok,... pria cantik itu memang 100% bencong tulen. Masayuki yang didampingi para relasi, keluarga, dan geisha kesayangannya, Chihiro, sangat menikmati pertunjukan drama tari Noh berjudul “Aoi no Ue” (Putri Aoi) yang disadur dari petikan kisah Genji Monogatari malam itu.

Setelah para penonton bubar dan Tuan Masayuki tinggal duduk berdua didampingi geishanya, Uno Rokuro memberi hormat dan menyodorkan sebuah bungkusan berisi bayi perempuan mungil kepada Tuannya.

“Mohon Tuan berkenan mengangkat anak malang ini sebagai pelayan, ia saya temukan terhanyut di sungai.” Uno memohon.

“Bayi ini cantik, Tuan... Kalau ia punya bakat seni akan kudidik jadi seorang shikomi (calon geisha).” Ujar Chihiro sambil menggendong bayi itu.

“Tuan, saya juga akan melatihnya jadi seorang kunoichi agar ia dapat mengabdi pada Tuan.” Uno Rokuro meyakinkan Tuan Besarnya.

Sang samurai mengangguk setuju.

“Siapa nama bayi ini?” Chihiro tersenyum-senyum sambil bercanda dengan si mungil.

“Kosuke... Anayama Kosuke.” jawab Uno Rokuro.



**************************

Si kecil Anayama, An-chan panggilannya, dilatih semenjak dini oleh kedua gurunya. Chihiro-dono mengajarinya cara menari, bermain musik, tatakrama, dan tata cara minum teh. Ia diajari untuk berperilaku layaknya seorang wanita ningrat dan bagaimana menaklukkan laki-laki dengan satu lirikan mata. (hue hue hue... “Memoirs of a Geisha” banggedz!) Sangat kontras dengan pelajaran kewanitaan yang diberikan Chihiro, An-chan kecil juga dididik guru-gurunya untuk mempelajari ninjutsu (ilmu ninja). Ia belajar berbagai cabang ilmu ninja seperti teknik menyelinap untuk mencuri (shinobi iri), teknik ramuan (yagen), teknik perakitan bahan peledak (kayaku-jutsu), strategi (boryaku), penyamaran (inton-jutsu), seni memainkan pisau (tanto-jutsu), dan teknik melempar senjata (shuriken-jutsu). Kadang tubuh mungilnya sampai cedera, luka parah, patah tulang, dan lebam-lebam biru kehitaman sebab Rokuro-sensei (Uno Rokuro), Rokuro-senpai (Mochizuki Rokuro), Miyoshi-sensei (Isa Miyoshi), dan Sarutobi-sensei (Sasuke Sarutobi) tidak membedakannya dengan para murid didikannya yang lain, Saizo Kirigakure, Jinpachi Nezu, Kakei Jūzo, dan Yuri Kamanosuke yang semuanya laki-laki. Kalau sudah begitu, Chihiro-dono lah yang ribut karena takut lukanya akan meninggalkan bekas sampai dewasa dan membuat tubuhnya tak lagi mulus. Di waktu luang kadang ia belajar menenun dan menari Noh pada Miyoshi-dono (Seikai Miyoshi), sang ninja seniman yang kemayu. Miyoshi Seikai memang sangat terampil memainkan jarum dan benang, di area pertempuran sekali pun.



**********************

“Slepp,...” sebuah anak panah menembak tepat di tengah-tengah sasaran.

Semua laki-laki muda bertepuk tangan mengagumi kepiawaian lelaki berkimono dengan gambar segiempat berisi enam buah koin berjajar seperti bulatan kartu domino lambang klan Sanada. Lelaki tampan dengan wajah aristokrat, berkulit putih, dan berhidung bangir itu adalah putra bungsu Tuan Masayuki, Yukimura Sanada. Ia sedang berlatih memanah bersama Tuan Masayuki, Nobuyuki, kakak Yukimura, dan para ninja pengawal keluarga Sanada. Sanada Jūyushi sebutan bagi ninja-ninja itu. Dari sepuluh orang Sanada Jūyushi, ada dua orang yang menghilang dari arena panahan. Di mana kira-kira mereka? Ah, ternyata salah satu anggota yang menghilang, Yuri Kamanosuke, berlari-lari sambil membawa tatami untuk digelar di luar. Bau yang menggugah selera dari dapur langsung membuat pelatihan memanah itu bubar. Kini, semua orang duduk berkeliling di tatami yang digelar di pekarangan mansion luas keluarga Sanada untuk menanti makan siang mereka yang lezat. Yuri masuk lagi untuk mengambil beberapa peralatan upacara minum teh (chadogu). Ia mondar-mandir dengan membawa nampan berisi hidangan lengkap khusus untuk keluarga Sanada.

“An-chaaaann, tehnya...” panggil Yuri Kamanosuke, si koki handal.

“Siaaap!” kata An-chan yang penampilannya beda dari biasanya.

Hari ini ia tidak berkimono putih, berhakama, dan mengikat rambut ekor kuda. Hari ini rambutnya digelung berhiaskan kanzashi (hiasan rambut) sederhana, memakai yukata (kimono musim panas) dan sepasang sandal tatami. Ia duduk di atas karpet tatami, mengambil bubuk teh pekat (kaicha) dari temae (tempat teh) dengan sebuah sendok bambu yang disebut chasaku ke sebuah mangkuk, menuangkan air, dan mengaduknya dengan charen.

“Aku pikir dia laki-laki,” Tuan Masayuki memecah kekakuan.

“Iya, ayah. Bisa juga dia melakukan nodate (upacara minum teh di luar ruangan),” ujar Nobuyuki menimpali perkataan ayahnya.

“Hei, tapi dia terlihat cantik dengan penampilannya hari ini,” ujar Yukimura.



Deg!! Jantung An-chan berdegup kencang mendengar pujian Tuan Muda pujaannya. Karena terlalu grogi, ia tidak sengaja mengeraskan adukan tehnya hingga tumpah sedikit ke pangkuan Saizo yang duduk di dekatnya.

“Ceroboh sekali `sih!” bentaknya.

“Maaf, Senpai.” Kata An-chan.

“Huh... dasar wanita-pria.” Saizo mencibir An-chan.

“Hiiih,... gigi bertumpuk cerewet!” An-chan balas mengejek Saizo yang giginya memang gingsul.

“Gimandang sih bo`... bisa alusan ‘dikit ‘ga!” dengan gaya kemayu Miyoshi Seikai berkomentar.

“Iya, iya, maaf Miyoshi-dono.” An-chan meminta maaf pada si banci kemayu yang agak risih melihat upacara yang jadi tidak khidmat gara-gara kelakuannya.

Semua orang menertawai An-chan yang berubah jadi sangat kikuk waktu menuangkan teh.

“Yuri, apa ini?” tanya Tuan Masayuki Sanada.

“Sushi dari ikan maguro (tuna), kerang, udang, tiram, unagi (belut), dan cumi-cumi yang saya ramu dengan saus buatan saya sendiri Tuan,” jawabnya.

“Oishi!” Masayuki memuji.

“Doumo arigatou, Masayuki Sanada-sama.” Ia membungkuk karena tersanjung.

“Kimo sui (sup belut)-nya juga enak, hmm...” Yukimura memuji.

Yuri membungkuk lagi.

“Ah, kau juga membuat unagi no kabayaki (belut panggang)... pas sekali dimakan di musim panas.” Ujar Nobuyuki senang.

“Ya,... hanya saja saya tidak mengukusnya lagi setelah dipanggang seperti di Jepang belahan timur, Tuan. Silakan menikmati.” Ujar Yuri.

“Yang seperti ini pasti An-chan tak bisa membuatnya,...” kata Saizo meledek.

An-chan menyodok perut Saizo dengan sikunya sampai teh di mulut Saizo muncrat karena tersedak. Semua peserta jamuan terbahak-bahak, kecuali Miyoshi Seikai yang tetap duduk anggun dan jaim.



“Jaga sikap!” bentak Miyoshi Seikai pada dua cecunguk Iga, begitu ia menyebut An-chan dan Saizo, yang tak pernah bisa bertata krama itu..

An-chan menunduk takut.

“Sudah, tidak apa-apa, jangan terlalu formil. Ini kan cuma jamuan makan keluarga.” Kata Tuan Masayuki menengahi.

“Weekk,...” An-chan meledek Saizo.

Saizo dengan cuek menikmati unagi no kabayaki nya tanpa menggubris si usil An.

Jinpachi menyenggol bahu Saizo.

“Kau perhatikan tidak Saizo-senpai, An-chan dadanya sudah tidak serata dulu... Kalau begitu ia sudah bisa diperistri ya?...” kata Jinpachi mupeng.

“Plak!” Mochizuki Rokuro yang tak sengaja mendengar celotehan Jinpachi memukulkan kipasnya ke kepala Jinpachi.

“Addduuuh, kenapa sih Senpai?” tanyanya sambil mengusap kepala benjolnya.

“Sudahlah,... dasar playboy! Lagian buat apa sih menikahi makhluk bodoh seperti wanita...” komentar Miyoshi Isa yang ternyata juga mendengar ucapan Jinpachi.

“Hohohoho... benar. Wanita itu tak berguna. Cuma dua benjolan besar yang tak kumiliki itu saja yang bisa mereka banggakan. Lebih baik nikahi saja aku Jinpachi... Biarpun tanpa dua buntalan sampah itu, aku bisa lebih memuaskanmu. Iya kan saudaraku?” Seikai yang kemayu mengomentari dengan iri.

Jinpachi langsung mulas-mulas mendengarnya. Sarutobi Sasuke mengangguk-angguk sendiri mendengar komentar kekasih gay-nya. Yang lain cuma il-fil memandang Sarutobi Sasuke, si ninja Koga dengan orientasi seksual ganda yang dibesarkan oleh para monyet hutan Manjidani itu.

“Hiihhh,... dasar ninja-ninja Koga homo,...” bisik Saizo pada Jinpachi.

Jinpachi mengangguk.

“Tuh Jinpachi mau menikahimu,” ujar Saizo pada An-chan.

Jinpachi langsung salah tingkah. ‘Eeee... bukan kok...”

“Ah males aku kawin sama playboy,” tolak An sadis, “...tapi aku mau kok kalau Tuan Yukimura yang menikahiku,” seloroh An-chan lagi dengan raut wajah berbinar-binar.

Semua orang malah menertawakan perkataan An, kecuali Saizo yang kini menunduk dan mengepalkan tangan geram, lalu ngebut menghabiskan unagi no kabayakinya untuk melampiaskan kecemburuannya.



************************

“Ippon!” teriak Mochizuki Rokuro ketika sebuah pukulan Saizo telah mendarat di jidat Jinpachi.

Jinpachi dan Yukimura saling memberi hormat dan kembali ke tempat duduk masing-masing.

“Kosuke dan Kirigakure, maju!” perintah Uno Rokuro, sang pelatih kendo.

Keduanya saling membungkuk dan menghunuskan bokken (pedang kayu) masing-masing. Suasana hening untuk beberapa lama. Tak ada gerakan sama sekali yang dihasilkan Saizo Kirigakure. An-chan sudah habis kesabarannya, ia langsung berlari menyerang Saizo. “Trakk!” pedang kayu mereka beradu. Pedang kayu An-chan ditepis dengan mudah dan An-chan agak terdorong ke belakang. “Traakk...!” pukulan berikutnya terarah ke kepala An-chan. Secepat kilat An-chan menangkis serangan itu. “Bett..” pedang Saizo telah mengubah arah serangannya. Kali ini hampir mengenai leher An-chan. Beruntung, gerak refleks An-chan bagus dan bokken itu hanya menarik lepas ikatan rambutnya. An-chan yang cantik kini berdiri sejauh tujuh langkah dari Saizo. Rambut lurus berkilaunya kini terurai lepas. Mata Saizo terpaku melihat keelokan parasnya... Mata kecoklatan indah An memukau serta menenggelamkan dirinya seketika.

“Senpai, awas!!!” teriak Jinpachi.

Saizo langsung menguasai diri dan menangkis lagi bokken An-chan. “Bletak!” tanpa ampun ia membabat bahu An-chan dengan bokken nya. An chan tertunduk dan tak bergerak untuk beberapa saat.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Saizo khawatir.

“Lihat, apa yang Senpai perbuat.... Aduuuhhh...” rengek An-chan.

“Maaf... sini biar aku obati,” katanya.

“Senpai, ini obatnya.” Jinpachi menyodorkan kotak obat pada Saizo. Beberapa orang yang lain ikut mengerumuni mereka berdua.

“Nih,..” An-chan menurunkan kimono putihnya.



Punggung mulus berlukis sepasang naga kembar miliknya langsung terpampang di hadapan Saizo. “Glekh!” Saizo terbelalak sambil menelan ludahnya sendiri.

“Cepat oleskan Senpai!” perintah An-chan.

Si gingsul hitam manis itu dengan gemetar membalurkan ramuan obat di tangannya ke tubuh mulus kuning langsat An-chan. Matanya tidak memperhatikan luka memar si gadis mungil, ia justru memperhatikan betapa mulus punggung bertatonya, indahnya leher jenjang berpeluh miliknya, dan betapa halusnya kulit kuning langsat milik si cantik kembaran Yukie Nakama itu. (lagi-lagi terinspirasi J-dorama artist wkkk). An-chan yang merasa sudah selesai diobati langsung menarik dan membetulkan lagi ikatan kimono putihnya.

“Senpai, terima kasih.” Ujarnya. “Kalau aku tak merengek kau tidak akan mengasihaniku kan?” katanya jenaka.

Saizo langsung menjitak An-chan. “Minta dikasihani?... Dasar manja!” ejeknya.

“Weeekk,...” An-chan bangkit dan menjulurkan lidahnya. Ia langsung berlindung di belakang punggung Yukimura Sanada untuk menghindari jitakan Saizo berikutnya.

“Sudah, sekarang Saizo Kirigakure dan Tuan Yukimura silakan bersiap..” instruksi Uno Rokuro.

An-chan memijiti bahu Yukimura dan menyemangatinya, “Tuan Muda, kalahkan dia!” ujarnya sambil tersenyum.

Yukimura membalas senyuman manis An-chan sambil mengacak-acak rambut berkilau An-chan dengan gemas. Seketika dada Saizo bergolak hebat terbakar api cemburu melihat kemesraan mereka berdua.

“Senpai, selamat berjuang.” Jinpachi menepuk pundak Saizo untuk memberi semangat.

Keduanya berdiri berhadapan dan memberi hormat. Mata elang Saizo tak lepas menatap Yukimura. Ia menggenggam kuat bokkennya dan langsung meluncurkan serangan pertamanya sambil berteriak lantang, “Kuhabisi kau, Yukimuraaa!!!”



******************

Sasuke Sarutobi sedang membaca gulungan perkamen kuno berisi jurus ninja Koga di kamarnya. Angin dingin berhembus masuk ke kamarnya. Kelima inderanya langsung waspada, suara angin yang bergerak tak sewajar biasanya membuat instingnya bekerja, pasti ada seorang penyusup yang telah memasuki kamarnya.

“Tampakkan dirimu!” perintahnya.

Seketika ratusan jarum beracun menyerangnya. Ia menangkis jarum-jarum itu dengan ninja-to (pedang ninja) nya. Jarum itu berjatuhan di atas tanah.

“Blush!” di balik kepulan asap sesuatu yang mirip tubuh manusia bergerak dan menyerangnya.

“Trang!” lengan sebuah boneka kayu menyerangnya. Untunglah Sasuke selalu bergerak selincah dan secepat seekor monyet. Ia menangkis dan melontarkan lengan si boneka kayu. Benang-benang tipis berkilau nan tajam mengikat sekujur tubuh si boneka. Pastilah ada seorang puppet master yang mengendalikan penyerangan ini.

“Praanngg!!”ia menghancurkan boneka kayu yang dikendalikan dari jarak jauh itu dalam sekali tebasan.

“Keluar kau Seikai! Berhenti pamerkan jurusmu yang belum begitu matang!” bentaknya.

Sesosok siluet tubuh gemulai membayang di dinding. “Hoohoohoho.. kau tahu aku lah puppet masternya ya?... Sebaiknya lain kali kupakai tubuh manusia sungguhan dan kucari benang yang lebih halus...” Ujar si banci gothic yang perlahan-lahan mulai menampakkan diri.

“Kau makin mengerikan,” seringai Sasuke.

“Kau pun masih sehebat biasanya sayang,...selincah monyet, sekuat macan... kini, jadilah seekor kuda jantan untukku...” Seikai langsung bergelayut manja di pelukan Sasuke dan menanggalkan berlapis-lapis kimono sutra mahalnya.

Sasuke langsung membelitkan lidahnya ke lidah pasangan sesama jenisnya dan tangan kekarnya mengelus benda bulat panjang yang sama seperti miliknya sendiri yang tersembunyi di antara kedua paha Seikai. Sinar bulan keperakan membelah gelapnya malam penuh dosa.



Oke...cut...cut...cut!! sampe disini dulu, soalnya kalau adegan ini dilanjutkan mupengers bisa muntah atau shock (^_^;)



To be continued....



By: Shirahime
--------------------------------
12 komentar Post your own or leave a trackback: Trackback URL
  1. henz mengatakan:
    gile lama banget gak main ke KBB…. doh…cerita ceritanya makin mantep deh.. jadi pengen nulis lagi…
    cerita yang blue serenade ini koq keren banget yah…pengen tau kelanjutan kisahnya ^_^
    Re: iya nih bro henz sejak masuk skul dah jarang nongol, kangen ama tulisan2nya
  2. S@suke mengatakan:
    ada sasuke sarutobi, jinpachi. kok ngga ada naruto ato jin kazama? hehehe…
    konvensional abis ceritanya gan….
    btw ninja yg rambut pendek di seri pertama kok ngga ada ya?
  3. bejo mengatakan:
    beuh… ttp eksis aja buat kisahbb.. bravo!
  4. Fidyansyah mengatakan:
    Nice… o_O
    Lanjutkan…!!
  5. MeL0dy mengatakan:
    hwAA_kya k0mik aj dEe bwaAnx..jd ingAt saNz0kU 0u,fLamE oF RecCa,tRus k0mik yG pNgaRangX sMa mA saNz0ku 0u (Lupa juDuLx).BwA2 LaRukU LagE,gAg bsA byAngiN hyDe jD bEnc0nk.Wqwqwq_sEeP gAn.
  6. mengaku_tobat mengatakan:
    maap mau nanya, bukannya nama orang jepang ga boleh d bolak balik yah ?
    ko d atas ada sarutobi sasuke bwahnya jdi sasuke sarutobi ?
    maap klo salah.
    overall great, cuman tolong adegan SESAMA COWO nya jgan d critain T.T (pngen muntah beneran ane)
    suwun.
    Re: itu cuma versi internasional (surname di depan) & versi jpn aja sih (surname belakang), pada dasarnya sama aja
  7. kapolsek ciroyom mengatakan:
    setubuh dgn bro mengaku tobat… sesama co nya sebaiknya ga usahlah..kita-kita kan masih normal…he..he…
  8. bejo mengatakan:
    bos, apakah msh update ceritanya??
    ato lbr dlo slama puasa?? ane pecinta kisahbb nih..
    Re: masih, tapi sori pasti updatenya lebih lama karena pasokan cerita berkurang, kan sebagian penulis juga berpuasa
  9. mengaku_tobat mengatakan:
    kaga apa2 lah om shu, yg penting kaga d banned ama pemerintah + kasi kesempatan buat pengarang baru buat menelurken karyanya.
    btw kok bnyak kapolda yah ?
    orang sama nick beda apa emang satu instalasi ?
    kah kah kah.
    suwun.
    Re: kayanya emang para kapolda itu kan tugasnya banyak jadi stress, na pada lari ke sini buat refreshing hahaha…pssttt jangan2 kapolri juga disini deh hahahhaa
  10. bokep88 mengatakan:
    Buset para penulis ini masih kenal tobat2 jg wkwkwk. BTW emang kalu lagi kgk puasa kgk boleh baca kbb kah?? sorry gue bukan muslim soalnya
  11. mengaku_tobat mengatakan:
    @bokep88
    klo kaga puasa mah fine2 om.
    klo puasa mah kaga boleh, kaga makan + minum n njaga hawa nafsu.
    klo d langgar ngurangin pahala bpuasa, klo bnyak nglanggarnya mah dosa atuh.
    sgitu aja yah.
    pareeng ( ganti ah suwun trus bosen ~.~ )
  12. bokep88 mengatakan:
    @mengaku_tobat
    Maksudnya kalu udh jam 8 malem emang gak bolehkah nulis2 kbb gitu lho bukan siang2 maksudnya. he..he..he..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar