Rumah Baru KisahBB

Setelah 2x ga diterima di Wordpress sehubungan penjualan DVD, Shusaku akhirnya memutuskan memindahkan blog cerita seru KisahBB kesayangan kita ke sini.

kirim cerita karya anda atau orderan DVD ke:


Order via email: mr_shusaku@yahoo.com


tuliskan: nama, alamat jelas, nomor HP, dan list barang yang diinginkan di email pemesanan


email akan segera saya balas dengan rincian harga & no ac bank bca/mandiri unk transfer. barang akan dikirim dengan tiki/pos setelah konfirmasi transfer diterima.

Promo diskon gede-gedean

Paket istimewa 500rb (50dvd),

untuk dalam Pulau Jawa free ongkos kirim, untuk luar Pulau Jawa tergantung daerah.

Harga normal Rp 15rb/dvd kalau beli banyak Rp.12.500/dvd, untuk paket kali ini jatuhnya Rp. 10rb/dvd, murah banget!!


Tapi ini terbatas hanya untuk 10 orang saja.

jadi silakan order, bisa dilihat list barang di

- list semi & softcore

- list western xxx

- list jav


untuk pemesanan email ke mr_shusaku@yahoo.com

Subject: paket istimewa 500rb

tuliskan: nama, alamat jelas, nomor HP, dan list barang yang diinginkan di email pemesanan

email akan segera saya balas dengan rincian harga & no ac bank bca/mandiri unk transfer. barang akan dikirim dengan tiki/pos setelah konfirmasi transfer diterima.


-untuk pesanan di atas 50dvd, selanjutnya dihitung @Rp.10.000,-

-hanya untuk film2 satuan (JAV, western XXX, dan Semi), tidak berlaku untuk koleksi pics & kompilasi

Kamis, 22 Desember 2011

Takayasa 1: The Beginning

Intro

Tahun ke tahun dunia semakin kacau, manusia semakin tidak bermoral dan malahan jauh lebih rendah di bandingkan dengan binatang, korupsi merajalelah baik dari kalangan atas pemerintah maupun dari kalangan bawah. Tidak hanya korupsi sex bebas di mana-mana, pengguna narkoba maupun miras semakin merajalela. Perselingkuhan dianggap hal biasa di dalam rumah tangga selama masih ada cinta, sungguh keterlaluan. Manusia semakin sibuk mencari harta kekayaan melupakan anak-anak mereka yang membutuhkan kasih sayang dari orang tua mereka, dan akhirnya merekalah (anak-anak) yang menjadi korban keegoisan dari orang tua mereka, banyak sekali orang beranggapan bahwa uang adalah segala-segalahnya, dengan uang mereka bisa membeli kebahagian tetapi mereka tidak sadar kalau kekayaan mereka membuat mereka buta dengan kasih sayang yang sesungguhnya. Akhir-akhir ini di media baik itu televisi maupun koran seringkali menayangkan keboborokan manusia seperti pembunuhan, pemerkosaan dan kekerasan lainnya yang bersifat merugikan orang lain dan diri sendiri. Apakah semua ini bisa berakhir?, masih adakah orang baik di dunia? kalau iya ada berapa banyak orang baik di dunia ini?


~~~***~~~


Takayasa/ Tika
Takayasa menggeliat di atas tempat tidurnya, kakinya menendang bantal yang mengganjal kakinya, ia melirik kearah jam dinding, sedikit, sudah pukul enam lewat, ia menguap dan kemudian kembali memejamkan mata, lalu tidur kembali. Tak ada yang lebih nikmat dari tidur ataupun makan, tapi lebih enak tidur tidak ada yang harus di pikirkan, tak ada yang harus di lakukan tinggal berbaring di atas kasur yang empuk lalu terbang ke alam mimpi yang indah,

“Tikaaa sayang…. !!!”

Panggilan itu membuat ia terganggu, sehingga keningnya berkerut walaupun ia tidak membuka matanya yang sipit,

“Tika… kamu harus ke sekolah, ini sudah hampir jam 7 nanti kamu terlambat”

SEKOLAH… membosankan, setiap pagi ia harus bangun karena harus bersekolah, kenapa harus ada sekolah, kalau ga’ ada sekolah ia bisa tidur sampe siang, tidak perlu membuat Mamanya repot setiap pagi harus membangunkan dirinya. Takayasa baru membuka matanya, ia memandang wajah ibunya yang terlihat damai, tidak ada amarah yang ada hanya ketenangan,

“Cepat bangun, sudah siang, nanti kamu terlambat ke sekolah,”

Ia tidak tega juga membantah perintah Mamanya yang akhirnya membuat ia memaksakaan tubuhnya untuk bangkit dari singgasananya, dengan langkah yang terseret ia mengambil handuk tanpa memperdulikan Mamanya. Nama gadis yang baru bangun ini adalah Takayasa Mizuki, nama yang langkah khususnya di Indonesia. Alhasil, karena nama yang sulit di ucapkan itu, ia biasa di panggil Tika, ya, biar terkesan lebih simple aja. Gadis SMA berambut panjang ini di anugrahi wajah yang cantik, bahkan sangat cantik, rambut lurusnya yang kemerah-merahan semakin membuatnya menarik. Saat ia terseyum, sepasang lesung pipi akan muncul, menambah pesona kemolekan yang ia pancarkan, tidak hanya itu, tubuhnya juga terbilang sangat bagus, ia memiliki payudara ukuran 36B, cukup besar di bandingkan dengan teman-teman seusianya, dan ketika ia sedang berjalan, maka teman-temannya akan memperhatikan pantatnya yang bergoyang, karena lagi-lagi keistimewaan darinya yang memiliki pantatnya yang padat berisi. Selesai mandi ia buru-buru menuju meja rias karena waktu yang ia punya hanya sedikit, kalau tidak buru-buru, bisa-bisa ia terlambat ke sekolah seperti kemarin, ia kembali teringat bagaimana ia harus memohon ke pada satpam sekolah agar ia di persilahkan masuk karena hari itu ia ada ujian,

“Tolong saya pak… !!!”

“Ga bisa Non, ini sudah peraturan sekolah jam tujuh lewat lima belas menit gerbang harus di tutup tanpa kecuali, kalau tidak saya bisa di marahin sama pak Kepalah sekolah,” Ujar Sugi yang juga tidak memberi izin masuk bagi murid yang terlambat hari itu,

“Tapi pak, sebentar lagi saya ujian… saya janji ini yang terakhir dan sebagai imbalannya…” Ia terdiam sesaat dan kemudian mengambil beberapa lembar uang dua puluh ribu di dalam sakunya, “Ini untuk bapak,”

Untuk sesaat tanpak Sugi berfikir sejenak, “Ya sudah tapi kali ini saja ya…”

Yessss…. Pekiknya di dalam hati,

Gara-gara kemarin ia terpaksa menundah keinginannya untuk menyantap bakso pak Sarmin agar bisa ikut ujian, dan hari ini ia tidak ingin kejadian kemarin terulang lagi, ia harus buru-buru memasukan buku-bukunya ke dalam tas, setelah semuanya siap ia berlarian keluar dari dalam kamarnya yang bernuansa feminim. Kamarnya yang terletak di lantai dua, mengharuskan ia berlarian menuruni tangga dan kemudian menghampiri Mama dan papanya yang sudah bersiap menunggu dirinya di depan meja makan yang sudah terhidang. Tanpa basa-basi Tika duduk di atas kursi dan kemudian melahap sarapannya dengan cepat, Mama dan Papanya yang melihat hanya dapat menggelengkan kepalahnya. Selesai makan Tika berpamitan kepada orang tuanya, ia bergegas berlari masuk kedalam mobilnya, dengan mobil kesayangannya, Takayasa melaju dengan kencang karena ia tidak ingin terlambat ke sekolah untuk kedua kalinya. Lebih dari sepuluh menit ia tempuh akhirnya ia dapat melihat gerbang sekolahnya, tetapi sunggu ia sayangkan karena gerbang sekolahnya sudah tertutup rapat, berarti ia kembali terlambat ke sekolah. Dengan raut wajah kecewa ia membuka pintu mobil, dan menghampiri seorang satpam yang baru saja mengunci pagar. Pak sugi menggelengkan kepalahnya sambil melihat Takayasa yang berjalan mendekati gerbang sekolah,

“Maaf Non… kali ini bapak ga’ bisa kasi toleransi lagi !!!” Ujar pak Sugi,

“Tolong dong pak, Tika mohon…. “ Takayasa memelas, sambil kembali melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan kemarin, Takayasa mengambil uang lima puluh ribu dan kemudian menyodorkan kearah pak Sugi,

Pak Sugi menggelengkan kepalahnya, kali ini ia tidak tergoda seperti kemarin, ia tetap dengan pendiriannya, tidak akan membuka pintu gerbang sesuai peraturan sekolah. Melihat penolakan pak Sugi, Takayasa tanpak kecewa, tetapi ia tidak mau menyerah, ia masih punya cara satu lagi yang di jamin ampu,

“Ayolah pak saya mohon… “ Ujar Tika merajuk, dan kemudian ia membuka kedua kancing bagian atas seragam sekolahnya, “Panas ni pak, nanti kulit Tika gosong,” Goda Tika dengan suara lemah gumulai,

Mata pak Sugi melotot, ke arah kerah seragam Takayasa, apa lagi gadis itu begitu pintar menggodanya, dengan mengibas-ngibaskan kerah bajunya sehingga tali branya yang berwarna merah tua terlihat jelas,

“Aduh Non, kalau panas kancingnya di buka lagi dong ?” Usul pak Sugi sambil mengedipkan matanya,

Sungguh kurang ajar, batin Takayasa. Sesaat ia melihat sekelilingnya untuk memastikan kalau tidak ada orang lain yang melihat kenakalannya, tanpa membuat pak Sugi menunggu lama, Takayasa kembali beraksi membuka satu kancing lagi, kali ini tidak hanya tali Branya yang terlihat tetapi juga belahan dadanya yang putih, beberapa kali pak Sugi terlihat menelan air liurnya yang terasa hambar, mungkin ia tidak menyangka kalau Tika akan seberani itu melakukannya,

“Udah ya pak, saya boleh masukkan… panas ni ?” Rajuk Tika yang membuat pak Sugi tak berkutik,

“Oh iya Non. Boleh-boleh, silakan masuk Non… !!!”

Takayasa terseyum girang, dan kemudian memasukan mobilnya kedalam parkiran sekolah yang sangat luas, bagaimanapun juga tempat Takayasa bersekolah adalah salah satu sekolah terpaforit. Ia melangkah cepat melewati koridor sekolah, sesampai di ruangan 1-3, ia bisa bernafas lega karena gurunya belum datang, dengan nafas yang memburu ia membanting pantatnya di atas bangku sekolahnya. Salah satu sahabat karibnya terlihat menatapnya tidak percaya, karena untuk kedua kalinya Takayasa bisa lolos dari gerbang sekolah,

“Ngeliatin apa si kamu ?” Tanya Tika yang merasa di perhatikan,

“Eh… engga’ ehmm… gi mana ceritanya kamu bisa lolos lagi “ Belum sempat Tika menjawab, Iren kembali melanjutkan praduganya “Jangan-jangan kamu nyogok pak Sugi pake duit lagi ya… ?”

“He… he… “ Tika terseyum kecut, “Iya tapi kali ini sedikit berbeda ?” Jawab Tika masih cengengesan,

“Apanya yang berbeda, uangnya lebih besar ?”

“Seratus persen salah, aku nyogok pak Sugi pake ini… !!!” Tika menunjukan kancing seragamnya yang terbuka kearah Iren yang hanya diam terpaku dengan keberanian Tika yang berani tampil vulgar,

“Ooppsss… “ Iren sukses menutup mulutnya, “Gilaaaaa… berani banget kamu “

“He… He… “ Lagi-lagi Takayasa terseyum

~~~***~~~

Seorang gadis pulang dengan langkah diseret, tubuhnya terasa lemes karena kenekatannya tadi pagi di ketahui oleh pak kepalah sekolah, dan alhasil sewaktu jam istirahat ia di panggil menghadap pak kepalah sekolah, di ruangan itu ia di ceramahi habis-habisan, tidak hanya dia di situ juga ada pak Sugi yang tanpak tertunduk. Segera mungkin ia masuk ke dalam kamarnya dan kemudian membanting tubuhnya di atas kasur yang empuk. Kamar Takayasa yang terbilang besar dan di lengkapi berbagai peralatan elektronik, dan di pojokan kamarnya terdapat sofa yang nyaman, di tambah lagi ia merasa bebas melakukan apapun di dalam kamarnya yang luas, seperti karokean, bermain game, dan lain-lainnnya. Ia memejamkan matanya sesaat dan kemudian ia bangkit karena teringat sesuatu, ia menarik lemarinya dan kemudian mengeluarkan sebuah kaset DVD bergambarkan seorang wanita cantik bersama tiga orang pria berkulit hitam. Seperti remaja lainnya, ia juga terjebak dengan pergaulan bebas, akibat ke sibukan kedua orang tuanya, sehingga orang tuanya tidak menyadari kalau kini anaknya telah terjerumus lubang hitam. Semenjak ia mengenal Indra mantanya, Indra adalah orang pertama yang memperkenalkannya dengan yang namanya sex, kesuciannya telah di renggut Indra, mantan pacarnya waktu masih duduk di SMP, dan Indra juga yang telah membuatnya tidak lagi mempercayai cinta, dan kasih sayang, dan semenjak itu juga ia memutuskan untuk tidak ingin berpacaran dengan siapapun, walaupun sebenarnya banyak yang menyukai dirinya,

“Apa itu pacaran…. ? Cinta ? sayang ?”

Takayasa tanpak serius memandang layar LCDnya, adegan demi adegan di tanyangkan dan hasilnya membuat nafas Takasa menjadi berat, ia tidak tahan untuk menggoda vaginanya sendiri dengan jari-jarinya. Satu persatu kancing seragamnya di buka, begitu juga dengan rok abu-abu yang ia kenakan sudah tersingkap ke atas. Tangannya bergerak liar menyentuh bagian-bagian sensitive tubuhnya, ia mengerang seiring dengan suara desahan dari layar LCDnya, jari telunjuk Takayasa menyelip di sela-sela celana dalamnya dan kemudian ia menyentuh clitoris dan akhirnnya jari itu berhasil memasuki ruang vaginanya yang suda basah. Mata Takayasa terpenjam, menikmati gerakan jari telunjuknya yang semakin lama semakin liar,

“Non… Tikaaaaa… !!!”

Gedubraaaakkk….. Mata Takayasa melotot kearah sumber suara, astaga… Pak Karman sudah berdiri di depannya dengan pintu kamar yang terbuka, kedua tangannya reflek menutupi kedua payudaranya dan vaginanya, karena celana dalamnya sudah ia lepaskan, tetapi sayangnya kedua tangan Takayasa tidak mampu menutupi semua keindahan tubuh gadis itu, sehingga pak Karman leluasa memadangnya,

“Ba… bapak ngapain ?” Tanya Tika dengan suara yang bergetar,

“Maaf Non… tadi saya mau ngasi tau kalau makanannya sudah siap “

“Kenapa ga’ ketok dulu ?”

“Saya udah panggil non beberapa kali, tapi tetap tidak ada suara, makanya saya beranikan diri masuk, takut Enon kenapa-napa ?” Ujar pak Karman pria yang sudah berumur 40 an,

“Ya sudah sana keluar… “ Bentak Tika galak,


Pak Karman
Sebelum melangkah keluar Karman kembali melihat tubuh majikannya untuk terakhir kalinya sambil menelan air liur, dan kemudian melangkah gontai keluar dari kamar majikannya yang masih terbaring di atas kasur. Ooouuppsss…. Takayasa baru menyadarinya, ternyata kedua tangannya tidak bisa menutupi keindahan payudaranya yang berukuran 36 B, ia menyesali kenapa payudaranya lebih besar di bandingkan telapak tangannya, begitu juga dengan vaginanya yang tidak tertutup sempurna karena posisi dirinya yang masih mengangkang, kesalahan besar telah ia lakukan, membiarkan orang lain melihat tubuh bagian intimnya. Ia mengutuk dirinya yang lupa mengunci pintu kamarnya, secepat mungkin ia mengganti pakaian dan mengambil pakaian dalamnya yang berserakan di lantai, dan ketika ia ingin keluar dari kamarnya, tiba-tiba tubuhnya di dorong oleh seseorang dan orang itu adalah Karman pembantunya yang baru saja melihat sebagian tubuhnya. Takayasa benar-benar terkejut sekaligus marah melihat pembantunya,

“Bapak apa-apaan si, cepat keluar… “ Bentak Takayasa,

Baru ia sadari saat melihat seorang pria yang ada di hadapannya terseyum licik ke padanya, kondisinya sunggu tidak menguntungkan, apa lagi kedua orang tuanya sedang tidak berada di rumah, ia merasa akan terjadi sesuatu yang buruk kepadanya,

“Makanannya sudah siapkan pak “ Tanya Takayasa sedikit melunak,

“Iya Non, makanannya sudah siap !!” Jawab Karman,

Takayasa terseyum dan kemudian ia kembali melangkah ke arah pintu keluar kamarnya, tetapi belum sempat kakinya melangkah keluar tiba-tiba Karman menarik tangannya, menyeretnya naik ke atas kasur, tubuh Takayasa terbaring di atas kasur dengan kaki terjuntai ke bawah, tatapan Takayasa mendadak gelap. Gadis itu ketakutan,

“Makanannya ada di sini ko’ Non Tika…. !!!”

Takyasa tidak berkutik karena tubuhnya yang mungil tertimpa tubuh pak Karman yang terbilang besar di bandingkan dengan tubuhnya, tanpa merasa kesulitan Karman berhasil melumat bibir tipis Takayasa, tidak hanya itu tangannya juga berhasil meraih bulatan payudara majikannya yang masih berada di balik kaos yang di kenakan majikannya. Tidak henti-hentinya pak Karman merangsang tubuh majikannya, ia menjilat sekujur wajah majikannya dari kening, mata, hidung, bibir, daun telinga sampai ke leher majikannya, tidak luput ia ciumi, seolah-olah ia benar-benar mengagumi setiap inci dari tubuh majikannya, tubuh Takayasa mulai beraksi ketika Karman meremas-remas payudara Takayasa dengan kasar, tetapi sangat teratur, membuat gadis itu tidak berkutik.

“Lepasin… “ Ujar Takayasa merontah-rontah,

Mungkin karena tenaganya yang kurang besar, atau bisa jadi memang Takayasa yang tidak mampu mengontrol nafsunyayang semakin menggila, ia tidak tahan tubuhnya di rangsang habis-habisan oleh pembantunya, walaupun sudah cukup berumur tetapi pak Karman sangat kuat menahan rontahan gadis kecilnya. Dengan sangat mudah pak Karman membuka kaos yang di kenakan majikannya sehingga bagian atas majikannya terbuka lebar, hanya menyisakan Bra tanpa tali yang menutupi payudaranya, beberapa kali Karman terlihat menelan air liurnya yang terasa hambar, mengagumi ukuran payudara majikannya yang terbilang cukup besar dan padat berisi, sedangkan Takayasa tanpa terdiam sambil menatap sorotan mata pak Karman yang sedang menelanjangi dirinya,

“Bentuknya indah sekali… !!!” Guman pak Karman,

“Hentikan pak jangan tatap saya seperti itu “ Takayasa menyilangkan kedua tangannya,

Seutas seyuman terukir di wajah Karman, ia kembali mencium bibir majikannya dan kemudian tangannya berusaha membuka celan pendek majikannya, tidak butuh waktu lama celana yang di kenakan Takayasa berhasil terlepas menyisakan celana dalamnya yang berwarna merah mudah, tangan pak Karman bergerak merangsang vagina majikannya,

“Aaauuwww… Eeehhhmm… “

Dengan sangat mudah pak Karman berhasil membuka kaitan Bra majikannya, sehingga kini Takayasa sudah tidak lagi mengenakan penutup di bagian payudaranya, Pak Karman tidak mau menyia-nyiakannya, ia mencomot salah satu payudara majikannya, ia mengulum putting majikannya hingga mengeras, sedangkan tangannya menyelip ke dalam celana dalam majikannya, jarinya yang keriput bergesekan dengan klitoris majikannya,

“Memek enon Tika nagih ya… ?” bisik Karman,

“Eeennggg… jangan sentuh pak, Tika ga kuat “

Takayasa tak berani menjawab pertanyaan pak Karman, ia lebih memilih bungkam dan membiarkan pak Karman bereaksi lebih jauh terhadap tubuhnya, sekarang ia benar-benar sudah di perbudak nafsu birahinya, pak Karman berusaha menjejalkan jari telunjuknya agar dapat menusuk masuk kedalam vagina majikannya,

“Aaauuuwww… jangan di obok-obok pak, Tika ga’ tahan… “ Rintihnya lagi,

“Jangan di tahan non Tika, di nikmatin ya… “ Goda Karman,

Benar apa yang di katakan pak Karman, aku harus menikmatinya, biarkan semuanya mengalir seperti air, batinnya. Takayasa memejamkan matanya ia menikmati di saat detik-detik terakhir orgasmenya,

“Aaaauuuuwww…. Keluar, !!!” pekiknya tertahan,

“Gi mana enak kan non, di bilangin ga percaya… !!!” Ejek pak Karman,

“Udah deh pak, jangan sok baik…. “ jawab Takayasa jengkel,

“HeeeeHeeee…. “

Takayasa tanpa pasrah saat pak Karman meposisikannya berlutut di hadapan Pak Karman yang kemudian membuka celananya. Pria itu mengeluarkan penisnya dari dalam celana panjangnya, dan kemudian menyodorkannya ke depan mulut majikannya yang tertutup rapat, Takayasa menggelengkan kepalahnya, menolak permintaan Karman, yang terus menggodanya dengan cara menamparkan penisnya di wajah Takayasa,

“Kata Non Tika laper, ini makananannya uda ada, hehehehe…. “

“Hmmm… “ Takayasa menggelengkan kepalahnya,

Digoda secara terus-menerus membuat pertahanannya goyah, ia sedikit membuka mulutnya, membiarkan penis Karman menusuk masuk kedalam mulutnya, perlahan Karman mulai menggoyangkan pinggulnya, menyodok lembut mulut Takayasa yang terasa penuh oleh penis Karman yang cukup besar. Air matanya menetes, ia merasa muak dengan dirinya sendiri yang tidak mampu mengontrol nafsunya, dengan sangat muda ia terjebak oleh nafsunya sendiri, membiarkan orang tua seperti Karman dengan mudah memasukan penisnya ke dalam mulutnya, dengan mudah menginjak-injak harga dirinya sebagai wanita,

Apa yang terjadi? kenapa aku menangis? apa karna aku menyesal, tapi kalau iya, kenapa aku membiarkan penis Pak Karman, Tidaaakkk… sadarkan aku Tuhan,

Lamunan Takayasa menjadi buyar, saat Karman menarik tangannya agar berdiri, dan kemudian Karman membimbing Takayasa berdiri di depan meja belajarnya, dan kemudian dari belakang Karman memeluk tubuh majikannya, dengan kedua tangan yang bertumpuh kepada payudara majikannya,

“Oooh… jangan pak, eeenggg… Aaahhkk… !!” Ia mendesis lirih saat puttingnya di sentuh,

Tangan kanan Karman dengan cepat menarik celana dalam majikannya, dan kemudian mempersiapkan penisnya di depan vagina majikannya, ia menggesekan penisnya di depan bibir vagina majikannya, sedangkan tangan satunya turun merangsang vagina majikannya,

“Non Tika sudah siap… ?” Ujar Karman,

“Ja… Jangan pak, cukup pak, jangan permalukan saya lagi ?” Tika memohon sambil menangis, ia tidak ingin penis itu memasuki tubuhnya, bagi dirinya, sudah cukup Indra yang telah menghancurkan dirinya, ia tidak ingin ada orang lain,

“Aaaahhhhkk… “ Kepalah Tika terangkat keatas,

Bleess… kepalah penis Karman berhasil membelah vagina majikannya. Karman mendorong keras penisnya, agar dapat masuk seutuhnya ke dalam tubuh majikannya, sedangkan yang punya vagina hanya terlihat meringis menahan perih di selangkangannya. Pak Karman mulai menggoyang penisnya, bergerak liar keluar masuk, hingga menimbulkan bunyi, beradu dengan pantat Takayasa,

“Jangan dibawa tegang Non, nanti terasa sakit…“ bujuk Karman sambil memainkan kedua payudara majikannya,

Tangan kanan Tika mendekap mulutnya sendiri, ia tidak ingin bandot tua yang sekarang sedang memperkosanya tertawa melihat ia mengerang-erang, karena tubuhnya mulai terbiasa dengan ukuran penis Karman, ia dapat merasakan nikmat yang di berikan oleh Karman, walaupun hati kecilnya menolak, tetapi tubuhnya tidak dapat menolak,

“Aaawwwwkk… “ Takayasa berteriak kencang, saat penis Karman terdorong kuat,

“Jangan di tahan Non, kalau mau teriak, ya… teriak aja !!!”

“UUhhkk… jangan kenceng-kenceng Pak, ga tahan… “ rujuk Tika dengan tubuh yang terguncang di setiap sodokan pak Karman, pembantu rumahnya,

“Ga’ tahan karena nikmat ya Non,” Ejek Karman yang semakin kencang,

“Aaahhkk… Aaah… Ga’ pak, Saya kesakitan…” Elaknya cepat, walaupun sebenarnya ia tidak bisa membohongi Pak Karman, ia ikut menyodorkan pantatnya, ketika pak Karman bersiap kembali mengodok vaginanya,

Pak Karman mendekap leher majikannya, dan kemudian memanggut bibir majikannya ketika wajah gadis itu menoleh ke arahnya. Sambil berciuman ganas, pak Karman semakin mempercepat tempo permainannya, membuat tubuh majikannya terdorong ke depan, ia juga dapat merasakan otot-otot vagina majikannya, yang mencengkram kuat penisnya, seolah-seolah tidak menginginkan penis itu lari dari dalam tubuh majikannya

“Rasa apa ini, kenapa rasa ini begitu nikmat… !!! Tidak… kenapa tubuhku bergetar seperti ini, apa yang terjadi kepadaku… gelombang apa ini, Aaaahhhkkkk….. !!!! Oooooaaaahhhhkkkk… “ teriakan Takayasa membuat ciumannya terlepas, tubuhnya tersentak kuat saat ia mengalami orgasme

Pak Karman yang menyadarinya, semakin mempercepat gerakannya. PLokkkss… Plookksss….

“Hajar terus… Hajar terus… Hajar terus…” kata-kata itu terngiang di telinga Pak Karman, membuatnya semakin mempercepat gerakannya

Kedua tangannya semakin keras meremas-remas kedua payudara majikannya, dan sampai akhirnya. Ia ikut mengerang diiringi sperma yang sudah berada di ujung penisnya. Sebelum penis itu mengeluarkan sperma, pak Karman mencabutnya dan kemudian menumpahkannya di punggung majikannya yang putih, ia menarik nafas lega. Masih belum selesai, Pak Karman menuntun tubuh majikannya terngkurap di atas kasur, dan dengan sisa tenaga yang masih ada. Pria itu membuka kedua lipatan pantat majikannya, tanpa ada rasa ragu, ia menjilati lendir kewanitaan majikannya,

“Uhhkk… cukup pak, jangan permalukan saya lebih dari ini… “ rintih Tika berusaha menolak lidah pembantunya yang menari-nari di sekitar vagina dan anusnya, rasa geli kembali menyeruak tubuhnya,

Ketidakberdayaan Tika di manfaatkan dengan baik oleh pak Karman, ia kembali mempersiakan penisnya. Karman mengambil bantal guling dan kemudian menjadikannya sebagai alas untuk mengangkat pantat majikannya sehingga pantat majikannya sedikit terangkat ke atas. Karman mengambil posisi di belakang majikannya dengan senjatanya yang sudah siap kembali digunakan

“Aaaahhhkk…. “

Dengan sekali sentakan Karman berhasil membobol vagina Takayasa, ia membenamkan penisnya sedalam mungkin dan kemudian menariknya keluar, gerakan tersebut di lakukannya beberapa kali membuat Takayasa menjerit tak tertahankan. Tangan kanan Karman menarik rambut majikannya yang terurai, sehingga ia terlihat sedang mengendarai kuda,

“Aduh Non, kenapa si ko’ memeknya sempit banget… “

“Sempit… sempit… kontol bapak itu yang kegedean… “ jawab Tika jengkel, sudah di kasih enak masih saja berkomentar,

“Maaf deh Non kalau begitu, tapi Enon sukakan ?” Ejek Karman,

Takayasa tidak memperdulikannya, apa lagi saat ini ia sudah kembali ke jalur yang benar, yaitu jalu nikmat, ia sedikit menggoyangkan pantatnya saat Karman mendorong dan menarik penisnya dari tubuhnya. Karman kembali mengganti posisi, ia membuat majikannya terlentang di hadapannya, dan kemudian ia kembali membenamkan penisnya, bibirnya kali ini leluasa mencium sekujur wajah majikannya, dan matanya juga dapat melihat jelas payudara majikannya yang bergoyang-goyang saat ia menghentakan penisnya, membuat tubuh majikannya berguncang hebat mengikuti irama permainannya,

“Non bapak mau keluarrrr… Oohhkk… Oohh… “

“Pleaseeee… jangan di dalam pak, Uhhkk…. Aaaaaahhhhkkkk….. “

Kedua anak manusia itu dengan secara bersamaan menumpahkan hasrat mereka menjadi lendir kental yang mengisi rahim Takayasa. Takayasa memejamkan matanya menikmati denyutan penis pembantunya yang masih berada di dalam vaginanya. Karman juga tanpa diam membisu membiarkan penisnya mengecil di dalam tubuh majikannya, untuk terakhir kalinya ia mengecup bibir majikannya, dan kemudian dengan sendirinya penis Karman keluar dari dalam vagina majikanya,

“Terimakasih ya Non Hehehehe… “

Sesaat Karman pergi, Takayasa tertidur lelap, di dalam mimpinya ia kembali merasakan pemerkosaan yang serupa seperti di alam nyata, ia bermimpi Karman kembali menodai dirinya yang suci, ia merintih-rintih dan sampai akhirnya ia mengalami orgasme. Ia tersadar dari mimpinya, ia mencoba mencari orang yang telah menodainya, tetapi sosok Karman tidak ia temukan, yang ia temukan hanyalah pakaiannya yang masih berserakan di atas lantai kamarnya. Tika berusaha bangkit dari tempat tidurnya, dengan langkah tertati ia menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarnya, mebiarkan air shower membasuh tubuhnya, membiarkan air yang dingin itu meredahkan rasa nyeri di vagina yang terasa terkonyak oleh tindakan yang di lakukan Pak Karman, gadis itu kembali menangis, menangisi kisah hidupnya yang teragis. Baru kemarin ia bisa melupakan Indra mantaannya yang sudah merenggut kesuciannya, dan sekarang ia sudah kembali di hadapkan masalah yang hampir sama, tetapi kali ini pelakunya adalah pembantu rumahnya sendiri,

~~~***~~~

“Selamat pagi dunia… “

Takayasa terseyum lebar ketika jendela kamarnya di buka lebar-lebar, udara pagi itu benar-benar menyenangkan hingga hari terasa menyenangkan. Tika sudah melupakan kejadian kemarin, ia hanya ingin menatap ke depan ia tidak ingin mengingat-ingat kejadian yang menyakitkan itu. Angin nakal yang berhembus kencang menerpa rambutnya yang terurai, mata Takayasa terpejam menikmati sapuan angin, sejujurnya, ia masih merasakan rasa sakit di vagina dan anusnya, tetapi ia berusaha mengabaikan itu semua. Pagi ini, ia berencana ingin lari pagi, untuk menjaga kebugaran tubuhnya, karena sebagai seorang wanita, wajib hukumnya untuk menjaga tubuhnya, agar tetap terlihat ideal, seperti kaum hawa yang lainnya. Tubuhnya yang indah di tutupi kaos super ketat dan hotspan yang menempel erat di tubuhnya, ia mengambil handuk kecil untuk menyeka keringatnya nanti, dan kemudian ia beranjak keluar dari dalam kamarnya,

“Pagi-pagi gini mau ke mana Non Tika… “

Deg… suara itu sangat ia kenal, suara yang akhir-akhir ini membuat jantungnya terasa copot, membuat tubuhnya bergetar hebat, ia menoleh kearah suara tersebut, dan sang pemilik suara hanya terseyum lebar, memandangi dirinya yang tampil cantik dan seksi. Terlihat sang pemilk suara menelan air liurnya,

“Mau lari pagi pak… “ Jawab Tika ketus,

“Ngapain Non lari pagi ?”

Dasar bodoh, ya… buat ngeluarin keringetlah… !!!

“Penting ya pak, nanya seperti itu… “ Takayasa menatap mata pembantunya, ia benar-benar jengkel dengan tatapan itu, karena tatapan mata Karman telah menghancurkan hidupnya yang mulai membaik,

Karman tidak banyak bicara, ia mendekati majikannya, dan kemudian menarik kasar tubuh gadis itu. Diperlakukan sekasar itu Takayasa jelas tidak terima, ia mendorong kuat tubuh pembantunya, berusaha melepaskan diri, walaupun pada akhirnya ia pasrah saat di tarik masuk ke dalam pelukan pembantunya. Kedua telapak tangan pembantunya dengan cekatan berhasil meremas-remas buah pantatnya yang berisi penuh. Dadanya yang menonjol menmpel erat di dada pembantunya yang bidang.

“Hentikaaaan… jangan kurang ajar !!!” Bentak Tika,

Seolah Karman tidak memperdulikannya, ia malah semakin berani mengerjai majikannya, Tangan kasarnya menyelip masuk kedalam celana hotspan yang dikenakan majikannya. Kemudian dengan jarinya ia mulai merangsang vagina majikannya. Tubuh Takayasa terlihat mengejang sesaat, matanya menatap Karman dengan tatapan kosong. Ia tidak menyangka kalau sentuhan Karman bisa kembali membuat dirinya menerawang ke awang-awang. Karman tanpa memperdulikannya, dengan sangat gesit ia berhasil melumat bibir majikannya

Belum puas mengerjai sampai di situ, Karman membimbing majikannya untuk berdiri di depan meja luas yang ada di ruangan tersebut, kedua tangan Tika berpegangan di kedua sisi meja, sedangkan pantatnya sedikit condong ke belakang. Dengan gerakan gesit Karman menarik hotspan sekaligus celana dalam majikannya. Ia berjongkok tepat di bawah pantat majikannya, memperhatikan bulatan padat yang précis berada di belakang tubuh majikannya. Mata Takayasa membulat saat ia merasakan lidah Karman mulai beraksi menyapu vaginanya yang sudah berlendir. Pria itu menusuk-nusuk vagina majikannya dengan lidah yang kasar dan hangat

“Saya bilang cukup pak “ Ujarnya meringis,

“Pagi-pagi udah minum jus lendir… enaknya ga ketulungan Non, sssluurrpp!“ ujar Karman cuek,

“Aduh pak, sumpaaaaah jangan diterusin !!” Tangan kanan Tika menjulur ke belakang berusaha menjauhkan kepala pembantunya, tepatnya berpura-pura menjauhkan kepala pembantunya yang berada di selangkangannya,

Karman bukanlah orang yang bodoh, mungkin mulut majikannya berkata tidak tetapi bahasa tubuh yang di gunakan majikannya berkata, “Lanjutkan… bila perlu entotin saya sampai bapak puas dan saya senang “. Setelah berhasil membuat majikannya orgasme, Karman bangkit dan kemudian memeluk Tika dari belakang. Seperti yang ia lakukan di dalam kamar kemarin, Karman mempersiapkan penisnya di depan vagina majikannya, dan kemudian perlahan ia menggesekan penisnya, menggoda vagina majikannya yang ia rasa semakin mendekatkan dengan ujung kepala penisnya,

“Non mau?“ ejek Karman yang dijawab dengan gelengan,

Dengan tangan kanannya, ia menutup mulutnya untuk meredam teriakannya saat Karman menusuk-nusuk vaginanya, kedua kakinya di rentangkan selebar mungkin, untuk mengurangi rasa perih yang nanti akan ia rasakan.

“Eeeeeennnggg… “ Gadis itu mulai mendesis,

“Gilaaa… Non, sempit banget, haaanggeeettt… “

Karman berusaha menjejalkan penisnya yang perlahan membelah bibir vagina majikannya. Ia mendorong pelan sampai penisnya seutuhnya berhasil masuk ke dalam vagina majikannya, perlahan ia mulai menggerakan pinggulnya maju mundur, menghentak dengan irama bergantian, terkadang keras dan terkadang lembut. Kedua tangan Karman melingkar di depan dada majikannya, ia meremas-remas payudara gadis itu.

“Aaahhkk… aaaahhkk… jangan gila pak, Eeeehhmm… “ Ujar Tika menceracau tidak jelas,

“Hehehe… saya memang sudah gila Non, apa lagi kalau sudah berurusan sama entot mengentot!!!” ejek Karman sambil memainkan putting majikannya yang sudah sangat mengeras, ia kembali menghentakan penisnya dengan keras,

Dalam waktu singkat Takayasa sudah terbuai nafsu duniawi, ia mulai mengerang-erang tidak jelas, dan beberapa kali ia menghentakan kakinya ke lantai. Ia benar-benar tidak kuat lagi, ia merasakan cairan cintanya semakin membanjiri vaginanya, cairan itu semakin mempermulus penetrasi yang di lakukan pembantunya.

“Aduh Non, nikmatnya tidak bisa di ungkapkan kata-kata…!!!” Ujar Karman menderamatisir,

Takayasa tidak terlalu peduli dengan ucapan Karman, ia sudah terlalu terbuai dengan kenikmatan yang di berikan pembantunya, dan malahan ia mulai ikut menggoyangkan pantatnya maju mundur. Kedua insan tersebut saling sahut menyahut saat kedua kelamin mereka beradu dengan keras, menguarkan suara yang seirama. Kalau saja ada seseorang yang beda di dekat mereka pastilah orang tersebut akan merasa ikut bergoyang mendengarkan nyanyian mereka berdua yang terdengar begitu merdu. Dalam hitungan beberapa menit ke depan, Tubuh Takayasa mengejang hebat, ia menutup rapat kedua kakinya sebelum akhirnya ia mengerang saat gelombang orgasme menghempaskan tubuhnya hingga hancur berkeping-keping. Karman kembali terkekeh melihat ketidakberdayaan majikannya. Pria itu mengganti posisi, ia duduk di atas kursi dan kemudian majikannya duduk di atas penisnya yang mengancung ke atas.

“Ayo Non, dudukin kontol bapak!” Pinta Karman,

Gadis itu kembali menggeleng, walaupun tubuhnya mengikuti perintah pembantunya, perlahan dengan di bantu Karman, Tika berhasil memasukan penis pembantunya ke dalam tubuhnya, setelah berhasil masuk seutuhnya, Tika mulai menaik turunkan tubuhnya di atas pangkuan Karman,

“Aaahhkk… Aaaahhkk… “

Payudara Takayasa yang cukup besar ikut terguncang, seiring nafasnya yang semakin terdengar memburu. Melihat payudara majikannya yang menganggur, Karman tidak menyia-nyiakannya, ia mencomot salah satu payudara majikannya dengan mulutnya, ia mengulum rakus payudara majikannya secara bergantian, menggelitik puttingnya dan sesekali meenggigit dan menariknya. Lagi-lagi untuk ke sekian kalinya, kepalah Takayasa terangkat keatas,

“Aaahhkk… saya keluar pak !!!” Ujar Tika manja,

Karman memeluk erat tubuh majikannya, dan membiarkan majikannya menikmati detik-detik terkhir orgasmenya yang membuat kepala gadis itu menggeleng ke kiri dan kanan, sambil membalas pelukan Karman,

“Nanggung ni Non… “ Ujar Karman cuek,

Takayasa hanya dapat menghela nafasnya, ia tau apa yang di inginkan Karman, tanpa di minta setelah kembali mengumpulkan tenaganya. Takayasa berjongkok di hadapan penis Karman dan kemudian, dengan sepasang payudaranya ia memainkan penis Karman. Dengan lidahnya ia juga menjilati kepala penis Karman, membuat pria tua itu menggelinjang kegelian. Ia tidak menyangka kalau majikannya begitu pandai. Setelah beberapa menit berlangsung, akhirnya Karman mencapai puncaknya, ia mendekatkan wajah majikannya dan kemudian menyemburkan spermanya di wajah cantik itu yang seketika berlumuran spermanya. Ia terseyum puas, sedangkan Tika hanya memasang wajah jutek terhadap pembantunya,

“Terimakasih ya Non… “

Takayasa kembali tidak memperdulikan ucapan terimakasih pembantunya, ia memungut pakaiannya dan kemudian kembali mengenakannya, begitupun dengan Karman yang kembali mengenakan celana bututnya. Hari ini rencana Tika ingin lari pagi gagal total, tetapi ia mendapatkannya hal yang jauh lebih baik dari pada lari pagi.

~~~***~~~

Di dalam kamar mandi ia membiarkan air shower membasuhi tubuhnya, entah kenapa ia merasa bawah dirinya semakin diperbudak nafsu, dengan begitu mudahnya ia memberikan kehangatan tubuhnya kepada pembantunya sendiri, dan parahnya lagi usia pembantunya tersebut terpaut sangat jauh dari usianya, tetapi ia juga harus mengakui kalau ia suka diperlakukan, dilecehkan tidak bermoral yang dilakukan pembantunya itu. Tidak terasa di dalam kamar mandi ia kembali mengalami orgasme, tanpa sadar tangannya bergerak liar merangsang tubuhnya, sedangkan otaknya kembali terbayang pemerkosaan yang terjadi dari kemarin sampai hari ini.

Nb : Kurangnya perhatian dan kasih sayang dari orang tua, terkadang dapat menghancurkan masa depan anak bangsa yang semestinya menjadi penerus bangsa.

To be continued...

By: Kartu Ass
----------------------------
13 komentar Post your own or leave a trackback: Trackback URL
  1. Satpam mengatakan:
    Pertamax kah?????
    critanya bgus :2thumbup
  2. lapendos mengatakan:
    mantap gan. Kapan lanjutannya?
  3. adhietcr mengatakan:
    gw kasih 2 jempol telunjuk ,,,lanjutkan……
  4. tri marwa mengatakan:
    asyiikkk. eah…
  5. Kaplosek mengatakan:
    mau deh jadi pembantunya,,, mari non bapak pangkuin…hakhakhak
  6. bandoet mengatakan:
    Gimana kalo judulnya diganti, kalo the beginning udah bosen… beginning mulu tapi ga pernah ada akhirnya… coba aja liat cerita-cerita itu semuanya ga ada akhirnya… kalau ga ada akhir ya jangan bilang the beginning .. hehe
  7. mr r mengatakan:
    sep2.. mantap. tapi kalau boleh tau siapa pemain ceweknya? artis atau model? dari jepang atau dari mana? trims.
  8. hiroe mengatakan:
    wew mau dh jd pembantunya…
    enyak….
    bagus tulisannya di pagi hari ini..wkwkwkwk
  9. Budayawan XXX mengatakan:
    Great…
    Gw nunggu banget lanjutannya Gan….
  10. Ableh mengatakan:
    Kalo penulisnya rookie, critanya lumayan. Kurang gereget gan, smoga part 2 lbh mantap lage…
  11. thevoxer mengatakan:
    mr Ask
    sep2.. mantap. tapi kalau boleh tau siapa pemain ceweknya? artis atau model? dari jepang atau dari mana? trims.
    itu model nya dari china bos nama nya Qing Ying (清颖)
  12. poke rajeh mengatakan:
    cerita yang menarik……tapi ada sayangnya……..coba sitika udah menikah….terus main ama supirnya pasti lebil menarik
  13. Ada ajah mengatakan:
    Bagus gan!
    Tapi saran aja nih, ejaannya dibenerin donk. . .
    Agak ganjil rasanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar