Rumah Baru KisahBB

Setelah 2x ga diterima di Wordpress sehubungan penjualan DVD, Shusaku akhirnya memutuskan memindahkan blog cerita seru KisahBB kesayangan kita ke sini.

kirim cerita karya anda atau orderan DVD ke:


Order via email: mr_shusaku@yahoo.com


tuliskan: nama, alamat jelas, nomor HP, dan list barang yang diinginkan di email pemesanan


email akan segera saya balas dengan rincian harga & no ac bank bca/mandiri unk transfer. barang akan dikirim dengan tiki/pos setelah konfirmasi transfer diterima.

Promo diskon gede-gedean

Paket istimewa 500rb (50dvd),

untuk dalam Pulau Jawa free ongkos kirim, untuk luar Pulau Jawa tergantung daerah.

Harga normal Rp 15rb/dvd kalau beli banyak Rp.12.500/dvd, untuk paket kali ini jatuhnya Rp. 10rb/dvd, murah banget!!


Tapi ini terbatas hanya untuk 10 orang saja.

jadi silakan order, bisa dilihat list barang di

- list semi & softcore

- list western xxx

- list jav


untuk pemesanan email ke mr_shusaku@yahoo.com

Subject: paket istimewa 500rb

tuliskan: nama, alamat jelas, nomor HP, dan list barang yang diinginkan di email pemesanan

email akan segera saya balas dengan rincian harga & no ac bank bca/mandiri unk transfer. barang akan dikirim dengan tiki/pos setelah konfirmasi transfer diterima.


-untuk pesanan di atas 50dvd, selanjutnya dihitung @Rp.10.000,-

-hanya untuk film2 satuan (JAV, western XXX, dan Semi), tidak berlaku untuk koleksi pics & kompilasi

Jumat, 22 Juli 2011

Baby Sitter 2

Juli 12, 2007

Sejak peristiwa percobaan perkosaan Pak Anton terhadapku
hidupku jadi tak tenang. Kerja diliputi perasaan was-was,
jangan-jangan pas Bu Anton keluar rumah Pak Anton datang siang
hari seperti kemarin untuk mengulangi usahanya menyetubuhiku.
Jelas Aku tak berani lagi bermain-main dengan Putri untuk
mengemoti putingku. Aku juga tak berani dekat-dekat dengan
Pak Anton. Kalau dia ingin ngemong Putri lebih baik Aku
menyingkir jauh-jauh. Untunglah Pak Anton memang jarang pulang
siang.

Teringat kejadian kemarin itu sungguh membuatku ketakutan.
Betapa tidak, Aku nyaris saja diperkosa oleh majikanku.
Untunglah dia keburu keluar, kalau tidak pasti hal itu akan
terjadi sebab Aku sendiri sudah tak berdaya menolaknya. Aku
sempat menyerah karena bukan saja Pak Anton terlalu kuat
memaksaku, tapi juga karena Aku mulai “merasakan enaknya”.
Inilah yang Aku sesali terus-menerus. Aku juga menyalahkan
Mas Adi, kenapa dia lama tak mendatangiku. Sejak Aku
merasakan nikmatnya orgasme bersama Mas Adi, milikku yang di
bawah sana itu terus-terusan minta diisi. Mauku setiap hari
Mas Adi menyetubuhiku. Tapi sekarang dia jauh dan belum tentu
setiap minggu bisa ke Jakarta. Wajar ‘kan bila Aku juga
menyalahkan Mas Adi ? Sebenarnya sih Aku juga salah, kenapa
Aku dulu minta Mas Adi untuk terus masuk sehingga Aku
kehilangan kegadisanku, lalu jadi ketagihan. Sudahlah. Aku
tak menyesal mempersembahkan keperawananku kepada pria yang
kucintai itu. Hanya kenapa dia tidak selalu ada bila
selangkanganku berdenyut-denyut.

Sekarang, ada masalah baru. Pak Anton orang yang terhormat
itu menginginkanku. Dan orang itu sehari-hari berada di
sekelilingku. Tentu dia akan terus mencoba. Jelas Aku akan
berusaha sekuat tenaga untuk menolaknya, tapi sampai kapan
Aku mampu terus menghindar ? Mungkin satu-satunya jalan untuk
mencegah terjadinya pemaksaan hanyalah bila Aku berhenti
kerja. Ini yang tak kuinginkan. Mungkin Aku harus mulai
mencari-cari pekerjaan baru. Sungguh suatu hal yang tak mudah
mendapatkan pekerjaan di masa multikrisis begini. Nantilah
Aku akan minta tolong Mas Adi mencarikan lowongan di Semarang
saja. Kalau Mas Adi tanya Aku punya alasan yang kuat, agar
bisa selalu bersama Mas Adi.

Perkiraanku benar, Pak Anton tak berhenti mencoba, malah dia
semakin kurang ajar. Kalau ada kesempatan dia berada dekat
denganku sementara Bu Anton ada di lantai atas, pinggulku
diremasnya. “Pantatmu bagus” katanya pelan. Aku hanya bisa
menepis tangannya, tak berteriak khawatir kedengaran
isterinya. Di lain kesempatan dia dengan diam-diam
mendekatiku dari belakang lalu merapatkan tubuhnya. Aku
hampir saja teriak.
“Ssstt Ti..”
Aku berusaha melepaskan dekapannya tapi dia makin ketat
memelukku. Kurasakan miliknya yang tegang menekan-nekan
pantatku.
“Cuman gini aja kok…bentar aja…” bisiknya.
Ketika Aku berhasil lolos dari dekapannya, kulihat Pak Anton
sengaja mengeluarkan penisnya sebelum mendekapku. Orang ini
sudah tak waras, pikirku.
Oh Mas Adi, tolonglah Aku … cepat datanglah. Aku tak tahan
lagi !

***

Penantianku berujung juga, akhirnya. Mas Adi nelepon liburan
besok mau ke Jakarta. Wah … betapa gembiranya Aku,
sampai-sampai mataku basah. Minggu pagi Aku mau dijemput. Tiba
saatnya pagi-pagi Aku membereskan Putri dulu sebelum
‘kuserahkan’ pada ibunya. Lalu Aku mandi sambil
bernyanyi-nyanyi gembira. Rasanya ini mandi yang paling lama.

Sekitar pukul 8 pagi Mas Adi udah nongol. Ingin rasanya Aku
memeluknya erat-erat, tapi mana bisa dilakukan disini. Kami
duduk di ruang terletak belakang garasi, Aku memang biasa
menemuinya di situ.
“Ti … rasanya Aku pengin nubruk kamu” katanya pelan-pelan.
“Tubruk aja Mas, Aku udah siap kok” tantangku.
Dicubitnya pipiku, lalu …
“Selamat pagi, Bu” Eh … Bu Anton nongol, jelas dia sempat
melihat Mas Adi mencubit pipiku. Aku jadi malu.
“Pagi Di. Kapan datang ?” untung Bu Anton pura-pura tak tahu.
“Tadi pagi jam setengah lima”
“Naik apa”
“Bus malam, Bu”
“Ya udah, silakan aja. Ti, bikin minuman, dong”
“Oh iya … sampai lupa …”
Kubuatkan Mas Adi teh panas manis, kesukaannya.
“Jam lima udah nyampe ?” tanyaku
“Ya”
“Langsung ke rumah Oom ?”
“Engga”
“Lalu ?”
“Udahlah. Sekarang aja yuk kita pergi”
“Yuk. Habisin dulu tehnya”
Aku pamit ke Bu Anton. Lalu sambil menggandeng tangan Mas Adi
Aku keluar, rasanya bahagia benar Aku pagi ini. Di teras ada
Pak Anton lagi baca koran. Dia sempat melihat Aku melepaskan
tangan Mas Adi. Aku juga pamitan. Pak Anton bukannya
langsung bilang ‘Ya’ tapi melongo melihatku. Matanya meneliti
dari ujung rambut ke ujung jariku.
“Saya pergi, Pak” kuulangi pamitanku.
“Eh … ya ..ya” sahutnya.
Ketika telah keluar pagar, Mas Adi menggamitku.
“Kenapa sih Pak Anton ?” tanya Mas Adi.
“Dia emang biasa acuh” jawabku.
“Justru engga. Jangan-jangan naksir kamu”
OH ! sekejap Aku tercekat. Lalu ingat bagaimana Pak Anton
sempat menelanjangiku dan bahkan sempat menyusupkan kepala
penisnya.
“Mas !” kataku sambil mencubit lengannya.
“Aaw … cuma bercanda gitu aja kok marah …” Untunglah Mas
Adi hanya bergurau. Gurauan yang tepat sasaran !

Kami mencegat taksi dan Mas Adi menyebutkan tujuannya. Kalau
tak salah itu nama hotel kecil. Kutatap mata Mas Adi.
“Aku tadi langsung ke hotel, habis masih gelap” bisiknya.
Diam-diam Aku senang. Berarti nanti Aku bisa langsung
meluapkan rasa rindu.
“Sempet tidur dulu tadi sejam” lanjutnya.
Sampai di hotel kami langsung menuju kamar. Petugas front
office melihat kami cuma sekilas, lalu nunduk lagi.

Begitu Mas Adi selesai mengunci kamar, Aku dipeluknya kencang
sekali sampai sesak.
“Oh ..Ti …kangen banget”
“Narti juga Mas …”
Lalu bibirku dilumatnya habis-habisan, lidahnya menerobos
masuk mulutku. Kami berciuman sambil saling memainkan lidah.
Kurasakan milik Mas Adi mengeras. Mas Adi melepaskan pelukan
dan langsung melepas kancing-kancing gaunku. Aku menunggu
sambil dadaku naik-turun seirama alunan nafasku yang mulai
memburu. Gaunku jatuh ke lantai. Mas Adi dengan cepat
menelanjangi diri sampai bugil. Penisnya sudah tegang
mengacung. Lalu perlahan dia mendorong tubuhku hingga rebah
ke kasur, dan menindih tubuhku.

Tekanan tubuh telanjang Mas Adi di atas tubuhku makin kuat.
Kedua belah tanganku dibentangnya untuk ditindih oleh kedua
belah tangannya pula. Kesepuluh jari-jari tangan Mas Adi
meremasi sepuluh jari-jari tanganku. Lalu sebelah tangannya
menyusup dibalik punggungku. Aku tahu apa yang akan
dilakukannya, melepas kaitan bra-ku. Mas Andi memang punya
cara sendiri dalam proses persetubuhan. Sebelum menindih
tubuhku dia lebih dulu bertelanjang bulat, sementara Aku
masih mengenakan bra dan CDku.

Aku menyukai cara dia ‘memperlakukan’ buah dadaku, aku sampai
hafal tahapannya. Kali inipun prosesnya sepertinya akan
berjalan sama. Perlahan dia membuka bra-ku, lalu sejenak
dipandanginya kedua buah dadaku bergantian kanan-kiri. Dia
memang selalu mengagumi bentuk dadaku. “Bulatan yang sempurna”
katanya suatu ketika. Kemudian telapak tangannya mengelusi
bulatan bukit-bukit dadaku. Cara mengelusi permukaan bukitku
yang ‘mengambang’, antara terasa dan tidak justru membuatku
bergidik. Kemudian dilanjutkan dengan sentuhan-sentuhan lembut
di kedua putingku yang semakin membuatku ‘naik’. Aku memang
paling tak tahan kalau dadaku disentuh. Bagiku daerah itu
memang sensitif, selain daerah paha bagian dalam dan, tentu
saja seluruh wilayah vaginaku. Lalu tahap-tahap perlakuan
kepada buah dadaku diulangnya tapi proses yang kedua ini
dilakukan dengan mulut dan lidahnya yang berujung kemotan
nikmat di puting dadaku.

Lalu ketika ciuman Mas Adi bergeser makin ke bawah, dia
langsung menyerbu selangkanganku yang masih tertutup CD.
Digigitinya daerahku di situ dan tubuhku berkelojotan.
Nafsuku makin naik. Tubuh Mas Adi lalu bangkit, perlahan
dipelorotkannya CDku dan pahaku dibentangnya. Biasanya tahap
berikut adalah Mas Adi membenamkan mukanya ke situ. Tapi Aku
sudah demikian ‘matang’ lembab. Kutahan kepalanya yang mulai
menunduk. Mas Adi mengerti, penisnya yang tegak menegang
gagah segera diarahkan ke kelaminku.

Inilah saat-saat indah yang menegangkan, saat penantian
dimana miliknya yang berwarna kegelapan mulai memasuki
tubuhku, saat memulai rasa nikmat. Adalah merupakan
‘kesepakatan’ kami berdua bahwa penetrasi harus dia lakukan
dengan perlahan dan bertahap, tak boleh terburu-buru, apapun
alasannya. Demikian pula saat memompanya, masuk perlahan
sampai seluruh batang penisnya tenggelam, lalu menariknya
secara perlahan pula. Sehingga Aku bisa menikmati sensasi
gesekan pada relung-relung liang senggamaku. Paling tidak
untuk belasan kali ‘pompaan’ dulu, selanjutnya terserah Anda,
eh .. Mas Adi untuk membuat variasi gerakan sampai akhirnya
Mas Adi membiarkan Aku menikmati detik-detik orgasme-ku lebih
dulu dengan melayang-layang ke awan kenikmatan. Setelah Aku
kembali ‘mendarat’ di bumi, barulah Mas Adi melanjutkan
pompaannya sampai dia mencabutnya dan menumpahkan ‘air
kehidupan’ di perutku …

Begitulah umumnya persetubuhan yang kami lakukan berjalan.
Kami selalu mampu mencapai puncak kenikmatan dengan cara itu.
Tentu saja proses seperti itu tidak begitu saja kami temukan.
Didahului dengan kegagalan-kegagalanku mencapai ‘the big O’
pada awal-awal persetubuhan kami, kami terus berusaha,
berbicara terbuka tentang perlakuan-perlakuan Mas Adi apa saja
yang membuatku nikmat, demikian pula sebaliknya. Aku bisa
menemukan 3 daerah tubuhku yang sensitif ini juga berkat
diskusi yang terbuka (dan juga “percobaan-percobaan”) yang
kami lakukan. Sementara bagi Mas Adi daerah sensitifnya
terpusat pada hanya yang satu itu…. Entahlah apa semua
lelaki memang begitu, Aku tak tahu. Oleh karena itulah Aku
kini rela melakukan oral untuknya, meskipun pada awalnya Aku
begitu jengah melakukannya.

Bukan faktor keterbukaan itu saja yang membuat hubungan seks
kami menjadi begitu nikmat. Faktor lainnya adalah –dan ini
yang terpenting– kami saling mencintai. Kami menjadi saling
tergantung. Bagiku Mas Adi adalah segalanya, demikian pula
sebaliknya. Jadi, seandainya Aku bilang –dengan gaya
menggurui– faktor penting yang membuat hubungan seks menjadi
’surga’ adalah saling mencintai dan keterbukaan, bukanlah
omong kosong, karena Aku mengalaminya sendiri. (Bagaimana
dengan Anda pembaca ?).

***

Liburan akhir minggu ini keluarga Anton akan berlibur ke
Bandung. Rencana berangkat Jumat pagi-pagi sekali karena Pak
Anton ada urusan bisnis dulu pada hari Jumat dan pulangnya
Minggu sore. Bu Anton memintaku untuk ikut pergi dan Aku
sudah menyatakan bersedia, sebab Mas Adi minggu ini tak bisa
ke Jakarta. Ada perasaan senang yang bercampur khawatir.
Senang karena selama berlibur toh tugasku sama saja kalau di
rumah, mengasuh Putri. Aku bisa menikmati menginap di hotel
mewah dan makan enak. Keluarga kaya ini selalu memilih hotel
besar bila berlibur. Lagi pula Aku belum pernah lihat kota
Bandung. Khawatir karena Pak Anton memanfaatkan kesempatan
ini untuk mencoba menyetubuhiku lagi. Aku tak mau peristiwa
itu terulang lagi. Cukuplah sekali saja penderitaan itu.
Amat susah menghilangkan rasa bersalahku kepada Mas Adi yang
sampai kini masih kurasakan.

Sekitar setengah enam pagi kami meninggalkan Jakarta menuju
Bandung dengan mobil Pak Anton. Bang Hasan yang menyetir
mobil mewah dan besar ini. Aku duduk di depan sambil
menggendong Putri yang masih tidur. Pak dan Bu Anton di jok
belakang bersama Si Ricky. Ketika baru masuk tol Jagorawi
Putri bangun. Bagiku lebih merepotkan, karena dia
meloncat-loncat di pangkuanku dan terkadang merayap ke
belakang minta ikut ibunya. Sampai masuk Bandung sekitar pukul
sepuluh Putri tak tidur lagi. Kami langsung menuju hotel H
yang besar dan ramai di jalan yang kemudian Aku tahu namanya
jalan Juanda. Tak jauh dari hotel ini ada Mall yang lumayan
besar. Keluarga Anton menempati dua kamar yang bersebelahan.
Satu untuk suami isteri kaya itu dan satu lagi untuk Aku dan
dua anaknya. Bang Hasan rupanya tak ikut menginap di hotel,
dia minta izin mengunjungi familinya di Bandung dan hari
Minggu akan bergabung kembali.

Tak berapa lama masuk kamar Putri ketiduran lagi. Kugunakan
kesempatan ini untuk berberes-beres peralatan Putri. Setelah
itu Aku berniat mau mandi. Si Ricky tadi hanya menaruh tasnya
terus langsung keluar lagi, mau ke lobby katanya. Selesai
Aku mandi Si Ricky sudah kembali, Putri masih tidur. Ricky
langsung masuk kamar mandi. Aku masih belum terbiasa tinggal
di hotel, jadi waktu masuk kamar mandi tadi Aku tak membawa
pakaian dalam, seperti kebiasaan di kamarku. Jadi Aku keluar
kamar mandi hanya mengenakan daster saja tanpa daleman. Aku
bermaksud mau mengenakan bra dan CD khawatir nanti tiba-tiba
Ricky keluar dari kamar mandi. Aku duduk di ranjang dengan
tangan menggenggam pakaian dalam menunggu keluarnya Ricky.

Begitu keluar dari kamar mandi Aku belum sempat bangkit Ricky
langsung duduk di pangkuanku, menyandarkan punggungnya ke
dadaku.
“Entar dong Mas, mBak mau mandi dulu”
“Lho, tadi mBak kan udah mandi” Aku salah omong, maksudnya
mau ke kamar mandi.
“Mau ke kamar mandi, ganti baju”
“Bentar aja mBak, capek nih”
Tanpa kuduga Ricky memutar punggungnya dan lalu tangannya
mengusap buah dadaku.
“Mas …. engga boleh nakal gitu” Aku kaget.
“Pantesan …. empuk. Mbak gak pakai beha, ya”
“Ini mau dipakai. Makanya Mas bangun dong”kataku sambil
menunjukkan isi genggaman tanganku.
“Pakai di sini aja, mBak”
“Engga !”
Lagi-lagi Ricky membuat gerakan tak terduga, belahan dasterku
dikuaknya.
“Lihat ya Mbak ….”
Dengan cepat Aku mencegah tangannya dan lalu mendororng
tubuhnya dari pangkuanku.
“Kalo Mas nakal gitu, entar gak boleh pangku lagi, lho”
“Ya deh mBak, sorry…”

***

Selesai sarapan rencananya semua keluar pakai mobil Pak Anton
yang setir. Pak Anton ke kantor sedangkan Bu Anton, Ricky,
Aku dan Putri nanti turun di Mall untuk jalan-jalan. Tapi
karena Si Putri masih pulas tidurnya, Aku tak jadi ikut,
nungguin Putri. Tinggalah Aku di kamar sendiri, Putri
begitu pulasnya. Aku rebahan di sebelahnya sambil baca
majalah, tapi tak bisa konsentrasi. Ingatanku ke Mas Adi
melulu. Aku bayangkan bila saja Mas Adi sekarang ada di sini
…. ooh bisa dua atau tiga ronde kita ’selesaikan’ sementara
menunggu mereka pulang. Bisa dilakukan di kasur ini, atau di
atas karpet yang cukup tebal, atau di kamar mandi. Ya, di
kamar mandi Aku duduk di tepian meja dekat wastafel dengan
kaki membuka, lalu Mas Adi masuk sambil berdiri. Membayangkan
itu semua Aku jadi basah …

Khalayanku berlanjut. Kubayangkan Mas Adi telanjang bulat
menindih tubuhku, lalu membukai dasterku dan menciumi buah
dadaku. Pada kenyataannya tangan kiriku sendiri yang membuka
kancing daster dan mengeluarkan buah dadaku dari bra, lalu
jempol dan telunjukku memelintir puting dadaku. Ciuman Mas
Adi bergeser ke bawah menciumi perutku. Pahaku kubentangkan
lebar seolah menampung kepala Mas Adi yang sedang menjilati
clit-ku yang membasah (kenyataannya : tangan kananku telah
menyusup ke cd dan mulai menggosok-gosok). Nafasku makin
memburu. Gelisah. Tubuhku berkelejotan dan serasa mulai
melayang ….

Tiba-tiba kudengar pintu diketuk. Aku kembali mendarat ke
bumi dan dengan gugup merapikan bra dan dasterku. Sambil
menyeka keringat di wajahku Aku berjalan menuju pintu.
“Oh … Pak ….” Kaget bukan main Aku, ternyata Pak Anton.
Tanpa bersuara Pak Anton langsung masuk dan menutup pintu
kembali. Tiba-tiba Aku sadar akan bahaya yang bakal
mengancamku. Celaka !
“Bapak engga ke kantor” tanyaku mengatasi rasa gugup.
“Sstt…” jawabnya sambil memberi tanda menyilangkan jari di
bibirnya dan mendekatiku. Kedua tangannya ke bahu kanan
kiriku. Lalu sebelah tangannya membelai pipiku.
“Narti …..”panggilnya dengan suara serak. Lidahku kelu.
“Kuminta kamu rela ……..” jarinya merabai bibirku.
“Tidak, Pak. Jangan ……” bibirnya menutup bibirku dan lalu
melumatinya. Kedua belah angannya merangkul tubuhku. Aku
dipeluknya erat sekali. Kurasakan benda keras itu menghunjam
perutku. Uh …keras banget.

Aku melepas ciuman, tapi tak mampu melepaskan rangkulannya.
“Kumohon Pak …. jangan” kataku menghiba. Dadaku diremasnya.
Aku menepis. Tangannya pindah ke pantatku, diremasnya pula.
Lagi-lagi Aku menepis. Masih sambil memeluk tubuhku di
dorongnya hingga Aku rebah di ranjang Ricky. Disingkapnya rok
dasterku dan dipelorotkannya cd-ku. Gerakan yang tiba-tiba
dan tak terduga ini gagal kucegah. Lalu Pak Anton membenamkan
wajahnya di selangkanganku. Kututup pahaku hingga menjepit
kepalanya. Pak Anton bangkit melepaskan jepitan pahaku.
“Narti …. tolonglah … sebentar saja”
“Jangan Pak …. ” kataku setengah menangis.
“Sekali ini saja, udah itu saya tak akan ganggu lagi, Ti…”
Tangan kuat Pak Anton membuka pahaku. Percuma. Sia-sia saja
melawan gerakan Pak Anton yang kuat. Kubiarkan dia menjilati
kewanitaanku. Aku malu Pak Anton tahu Aku telah basah.
Akhirnya Aku pasrah. Semoga dia benar-benar menepati
janjinya, hanya sekali ini saja. Toh seperti dulu, dia
hanya sebentar saja.

Oh … lidahnya sungguh amat berpengalaman, membuatku secara
perlahan mulai “naik”. Aku muak dengan kelakuan majikanku
ini, tapi Aku tak berdaya melawannya. Aku benci ! Aku
membenci diriku sendiri yang tak berdaya melawan, malah
terrangsang. Dalam keadaan frustasi begini apa yang bisa
kulakukan selain menangis. Apalagi kini Pak Anton telah
telanjang bulat dengan penis keras mendongak. Penis yang
membuat Bu Anton merintih-rintih keenakan. Penis yang pernah
sebentar memasuki tubuhku dan kini akan memasukinya lagi.

Tangisanku yang sesenggukan menghentikan gerak Pak Anton yang
telah membentangkan pahaku dan siap menusuk. Pak Anton
merangkak mendekati mukaku.
“Ti … kumohon kamu rela ….. sekali ini saja …”
Aku masih sesenggukan.
“Sekali ini saja … melayaniku, Ti …”
“Kenapa engga sama Ibu aja ….”
Lalu mulailah Pak Anton ngoceh nerocos tentang perlunya
variasi bagi pria yang sudah belasan tahun menikah. Tentang
dia tak berani meniduri perempuan sembarangan bila butuh
variasi. Dia bisa saja ‘membeli’ perempuan yang paling mahal
sekalipun, tapi dia tak mau melakukan. Seks dengan membeli itu
sama sekali tak nikmat dan penuh resiko kena penyakit. Cerita
berlanjut bagaimana dia telah mengamatiku dari sejak Aku mulai
bekerja. Mengamati pergaulanku. Sehingga sampai pada
kesimpulan bahwa Aku “bersih”. Dia makin yakin setelah
menikmati ‘aroma’ kewanitaanku.
“Si Adi sungguh beruntung” katanya lagi.
“Punyamu sungguh berbeda” sambungnya.
“Enak banget …. legit” katanya lagi makin ngaco merayuku.
“Itulah kenapa saya tak kuat lama ….” Akunya.
“Okay, sekarang jangan nangis lagi ya … saya minta kamu
ikhlas memberikan”
Pak Anton menggeser tubuhnya ke atas lagi sampai penisnya
mendekati mukaku. Kulihat penis itu tak setegang tadi. Agak
menurun. Lalu penis itu disentuhkan ke mulutku. Tiba-tiba
terlintas dalam benakku. Lebih baik Aku oral saja dia sampai
keluar lalu kumuntahkan maninya, daripada dia menyetubuhiku.
Mendapatkan ide itu Aku tak menolak ketika penis itu mulai
menerobos mulutku. Pak Anton mendesah. Aku tinggal
membayangkan sedang mengulum penis Mas Adi. Benda itu dengan
segera membengkak dan mengeras. Aku makin intensif
menguluminya. Tapi Pak Anton mencabutnya. Aku kira dia akan
muntah, tapi tidak.

Pak Anton bangkit. Dibukanya pahaku lebar-lebar, lalu
mengambil posisi siap tusuk. Menekan dan ‘kepala’nya masuk.
Dipompanya sambil membentang pahaku lebih lebar lagi. Perlahan
penisnya marasuk lebih dalam. Pompa lagi dan secara perlahan
tapi pasti terus masuk. Sampai akhirnya seluruh batang telah
tenggelam. Tubuhnya rebah menindihku, kedua belah tangannya
menyusup ke punggungku dan memeluk kuat tubuhku. Perlahan
pinggulnya mulai memompa. Naik-turun dan kanan-kiri. Kadang
diputar.
“Ooh …. kamu benar-benar sedap …..” bisiknya dekat
telingaku.
Oh … dia benar-benar telah menyetubuhiku. Pak Anton
meniduri pengasuh anaknya dengan “disaksikan” oleh anaknya
sendiri. Pak Anton asyik berhubungan seks dengan wanita bukan
isterinya sementara anaknya tidur di ranjang yang hanya
semeter jaraknya !

Kuharapkan beberapa kali pompaan Pak Anton segera mencabut dan
menumpahkannya di perutku seperti waktu lalu. Harapanku
meleset. Sudah belasan pompaan tak ada tanda-tanda ’sampai’.
Justru timbul kekhawatiranku, aku mulai menikmati pompaannya
! Sungguh lihai dia membuat variasi gerak pompaan. Tusukan
’setengah’ dikombinasi dengan tusukan full. Tusukan ‘arah’
atas bervariasi dengan arah bawah. Hunjaman dari kiri
bergantian dengan dari kanan. Pak Anton yang sekarang sedang
memompaku berbeda dengan Pak Anton beberapa hari lalu. Entah
kenapa dia jadi kuat sekarang. Hampir menyamai Mas Adi. Terus
terang tubuhku mulai terangkat dan melayang …

Suatu saat di tengah pompaan Pak Anton tiba-tiba mencabut.
(dan … ah, sialan Aku jadi merasa ‘kehilangan’). Tiba
saatnya juga akhirnya. Detik berikutnya akan kurasakan
tumpahan hangat di perutku. Oh … tapi tidak ! Penis itu
masih mengacung gagah.
“Gantian Ti …. Aku di bawah …” pintanya. Aku mau saja
bangkit dan memberi kesempatan Pak Anton rebah terlentang.
Lalu tanpa diminta Aku melangkah mengangkangi tubuhnya.
Dengan Mas Adi Aku memang biasa berganti posisi Aku di atas.
Jadi Aku tahu maksud Pak Anton. Aku jadi tak malu-malu lagi
menuntun penis Pak Anton agar tepat arahnya sebelum Aku
menduduki tubuhnya. Aku juga tak malu menggoyang pinggulku di
atas tubuh Pak Anton. Bahkan ikut ‘membantu’ kedua belah
telapak Pak Anton meremasi buah dadaku. Lalu dia mengangkat
punggungnya dan memeluk tubuhku.
“Ohh … sedapnya kamu Ti …” Pelukannya makin erat sehingga
tak memungkinkan kami bergoyang lagi. Tubuhnya diam memeluk.
Celaka, jangan-jangan dia keluar. Dalam posisi begini jadi
susah mencabutnya. Ternyata tidak.
“Ganti posisi lagi ya sayang …” Uh, dia memanggilku dengan
’sayang’. Kulepaskan penisnya lalu Aku turun dari pangkuannya
dan ambil posisi terlentang. Kulihat penisnya masih perkasa
begitu. Sungguh mengherankan, berbeda jauh dibanding beberapa
hari lalu …

“Telungkup …Ti” perintahnya. Ohoi, Aku nurut saja. Begitu
juga ketika dia mengatur posisiku seperti merangkak. Gaya apa
pula ini ? Mas Adi belum pernah begini. Punggungku dimintanya
lebih merendah lagi. Pinggul bertumpu pada lutut. Dan …..
ahh … penis Pak Anton memasuki tubuhku dari arah belakang
(belakangan Aku tahu ini adalah gaya ‘doggie’), persetubuhan
gaya anjing. Enak juga …

Gila nih lelaki, masih belum nyampe juga. Padahal beberapa
hari lalu dia ‘peltu’, menempel langsung ‘metu’ (keluar).
Setelah banyak tusukan gaya doggie, Pak Anton minta mengubah
lagi dengan gaya ‘biasa’, Aku di bawah. Rasanya gaya ini
yang paling mendatangkan kenikmatan. Kembali Pak Anton
mempraktekkan berbagai variasi tusukan. Dan … Oh … Aku
juga tak kalah seru merintih dan melenguh. Merambat naik
pelan dan pasti. Serasa tubuh mulai terangkat dan
melayang-layang. Makin tinggi dan tinggi ….. dan …..
tubuhku bergetar. Tepatnya ‘kedutan’ tubuh yang teratur dan di
luar kontrolku. Kesadaranku sejenak hilang. Hawa nikmat yang
terpusat di selangkanganku kini menyebar ke seluruh tubuh,
sampai ke ujung-ujung jari sekalipun. Sampai-sampai tubuh Pak
Anton ikut berkedut, karena selama proses “the big-O”ku ini
dia menghentikan tusukannya dan mendekap tubuhku kuat-kuat.

Ketika beberapa saat kemudian kedutan tubuhku makin melemah,
Pak Anton melepas dekapannya dan bangkit lalu mulai menusuki
lagi. Ampuun …. rasanya …. ngilu ! Untunglah
penderitaanku ini tak lama. Suatu saat dia mempercepat
pompaannya, lalu penisnya dicabut dan tumpah di perutku.
Maninya membasahi perutku yang telah basah oleh keringat.
Keringat kami berdua.
“Uuhh …. uuhhh …. “lenguhnya di sela-sela tarikan nafasnya
yang memburu.
Lalu tubuh itu rebah di atas tubuhku. Kurasakan berat
tubuhnya bertambah. Mungkin karena dia lemas sehingga
membebankan seluruh berat tubuhnya pada tubuhku.
“Ooh …Ti …. kamu sedap banget ….”bisiknya di dekat
telingaku sambil masih terengah.
Aku diam.
Pipiku diciumnya, lalu
“Punyamu itu …. nikmat banget ….”
Aku masih diam.
“Sempit dan legit …..”

Tiba-tiba Aku tersadar. Aku yang sedang dalam proses mendarat
kembali ke bumi serasa dibangunkan dari mimpi. Ucapan Pak
Anton yang terakhir itulah yang menyadarkanku. Sadar betapa
bodohnya Aku. Bagi Pak Anton Aku adalah bukan siapa-siapa.
Aku hanyalah seonggok daging yang dipilihnya karena ’sempit
dan legit’. Memang baru saja dia memberiku kepuasan sama
seperti yang dilakukan Mas Adi, tapi itu hanyalah ‘efek
samping’ dalam rangka usaha dia mencapai kenikmatan. Aku
hanyalah sebongkah tubuh alat pemuas nafsu. Celakanya Aku
membiarkan saja semuanya terjadi. Membiarkan tubuhku ini
sebagai alat dia mencari kenikmatan. Posisiku sebagai pekerja
tak mampu menolak umbaran nafsunya. Posisiku memang lemah.

Dalam diriku tiba-tiba muncul rasa benci. Benci kepada diriku
sendiri kenapa jatuh pada posisi yang lemah begini. Juga
benci kepada tubuh yang menindihku, majikanku ini, yang
telah memanfaatkan posisi di atas anginnya untuk mendapatkan
kenikmatan. Aku marah. Darahku mendidih. Aku berontak.
Dengan mudah Aku lepas dari dekapan Pak Anton dan tubuh itu
terguling dari badanku, bahkan dia hampir terjerembab ke
karpet.
“Ti ….. ” teriaknya.
Aku tak peduli. Aku bangkit masuk ke kamar mandi.
Seharusnya Aku tadi mendorong tubuhnya biar sampai jatuh.
Seharusnya Aku tadi memakinya ketika dia teriak.
Tapi Aku tak berbuat apa-apa. Rasa benci dan marah hanya bisa
membuatku menangis. Pak Anton masuk.
“Kenapa nangis, Ti ?”
Kenapa kepalamu !
Bahuku disentuh. Langsung tangannya kutepiskan.
“Bapak lebih baik keluar sekarang” teriakku.
“Ya ..ya….tapi kenapa ?”
“Atau saya telepon Ibu ?”
“Okay …. okay ….” dengan cepat dia keluar. Kukunci pintu
kamar mandi. Kulanjutkan tangisku. Aku benar-benar
membencinya.
Sejurus kemudian pintu kamar mandi diketuk. Pak Anton
memanggil-manggil namaku.
“Bapak belum juga keluar !” teriakku.
“Putri bangun, Ti …”
“Pokoknya keluar dulu !”

Kubersihkan tubuhku dari ceceran mani Si Maniak itu. Setelah
Aku yakin Pak Anton telah keluar kamar, Aku baru keluar kamar
mandi. Kudapati Putri nangis di pinggir ranjang, hampir
jatuh, kubiarkan saja. Aku jadi malas mengurusnya. Tapi
lama-lama Aku kasian juga, anak ini tak bersalah. Yang jahat
adalah bapaknya, kenapa dia yang jadi korban ? Kuambil Putri
dan kupangku, langsung saja dia menyergap buah dadaku. Oh …
Aku baru sadar belum berpakaian. Ah biar saja, Putri begitu
asyik mengemoti putingku. Biar saja kalau tiba-tiba Bu Anton
masuk melihat Aku ‘menyusui’ anaknya. Sekalian saja Aku akan
bilang tingkah suaminya yang telah meniduriku. Biar mereka
bertengkar. Biar. Begitu bencinya Aku pada Pak Anton,
diam-diam tumbuh rasa dendam di hatiku. Ingin membalas
kelakuannya. Tapi bagaimana cara membalasnya ? Sekarang
memang belum terpikirkan. Pokoknya nanti begitu ada
kesempatan, aku akan melakukannya.

Aku tak tahu apa yang harus kukerjakan siang ini. Bu Anton
dan Ricky belum pulang dari Mall, Si Putri sudah tertidur.
Ah, lebih baik Aku tidur saja, lelah juga tubuhku dikerjain
oleh Si Munafik itu. Dia benar-benar munafik. Sering sekali
dia menunjukkan keluarga yang harmonis, sangat sayang kepada
isterinya. Tapi dibelakang isterinya diam-diam dia meniduri
pengasuh anaknya, sambil menceritakan kekurangan isterinya.

Kurapikan tempat tidur kembali. Kutata sprei yang berantakan
dan kubetulkan letak bantal. Tiba-tiba mataku menangkap ada
sampul tertutup di bawah bantal. Sampul surat berlogo
perusahaan Pak Anton dan tak ada tulisan tangan di atasnya.
Milik siapa ini ? Karena rasa penasaranku kubuka sampul itu.
Ternyata isinya setumpuk uang dan selembar kertas bertulisan
tangan : “Narti, Bapak puas banget. Terima kasih ya. Besok
Bapak hubungi lagi”
Mandadak darahku mendidih. Kurobek kertas itu dan kulempar
amplopnya. Isinya berantakan dilantai. Kurang ajar !
Dianggapnya Aku ini apa ? Perempuan bayaran ? Benar-benar
suatu penghinaan dan pelecehan ! Tak pernah sedikitpun
terlintas di kepalaku untuk menerima banyak uang tanpa
bekerja. Untuk apa Aku bersusah payah kerja sebagai perawat
di rumah sakit ? Untuk apa Aku kerja sebagai baby sitter ?

Niatku makin bulat untuk membalas dendam. Hati boleh panas
tapi kepala harus tetap dingin, begitulah ajaran ibuku. Mana
bisa menyusun rencana pembalasan dengan kepala panas ? Aku
coba untuk mendinginkan diri. Kukumpulkan kembali uang yang
berserakan itu, Aku masukkan ke dalam sampulnya bersama
secarik kertas tulisannya. Rencana uang itu akan kusimpan
saja, tak akan kugunakan. Jumlahnya hampir sama dengan dua
bulan gajiku.

***

Ketika keluarga Anton makan malam bersama di restoran hotel,
Aku ikut untuk menyuapi Putri. Sesekali ekor mataku menangkap
mata Pak Anton mencuri-curi pandang ke arahku. Suatu saat
dengan memasang muka marah kutatap mata Pak Anton, aha …
dia cepat menunduk dan jadi salah tingkah.

Selesai makan kami jalan-jalan menyusuri jalan depan hotel
menikmati udara malam Bandung yang sejuk, lalu masuk ke
(lagi-lagi) Mall. Beginilah model orang kaya berlibur. Kalau
tidak ke luar negeri, ke Bali, atau jalan-jalan ke Mall
membeli apa saja. Suatu saat di sebuah butik di lantai 1 Bu
Anton sedang sibuk memilih-milih pakaian, Pak Anton
mendekatiku.
“Awas … saya akan teriak” bisikku ketika tangannya mulai
menjamah pipi Putri yang kugendong. Aku mengantisipasi
gerakan tangan dia selanjutnya.
Pak Anton langsung menjauh. Ciut juga nyalinya. Mungkin saja
dia memang hanya ingin menyentuh anaknya, bukan menjamahku,
Aku tak peduli.

Pulang dari jalan-jalan Aku sudah demikian lelahnya ingin
cepat-cepat merebahkan tubuh. Untunglah Putri sudah lelap.
Ricky menonton TV.
“Kecilin suaranya ya Mas, mbak mau tidur” Ricky mematuhiku.
Lalu Aku terlelap ….
Aku memimpikan Mas Adi tiba-tiba menyusul ke Bandung dan
marah-marah kenapa Aku mau saja ditiduri Pak Anton. Sambil
menangis Aku menjelaskan situasinya yang menyudutkanku. Aku
juga menyalahkannya. Lalu tiba-tiba Mas Adi telah menindih
tubuhku. Dibukanya kancing dasterku dan kemudian bra-ku.
Diusapnya bulatan buah dadaku, usapan seperti biasa,
mengambang antara sentuhan dan tidak. Lalu puting dadaku
dikemotnya. Aku terbangun …

Kaget bukan main Aku. Begitu membuka mata kurasakan sesosok
tubuh menindihku. Ah ini mimpi. Ketika kesadaranku berangsur
pulih, hey … ini bukan mimpi. Samar-samar kulihat tubuh itu
benar-benar ada. Kepalanya menyusup di dadaku. Mulut itu
benar-benar mengulumi. Kemotannya terasa di putingku. Aku
berusaha bangkit, ah tubuhku lemah, kesadaranku belum pulih
benar. Tubuhku hanya sedikit terangkat. Kuluman itu terlepas.
Ketika Aku benar-benar telah sadar sepenuhnya, kuangkat kepala
yang menindih dadaku. Ricky !

“Kurang ajar !” tanganku melayang menampar pipinya, kanan dan
kiri, cukup keras. Aku marah benar. Kucengkeram kedua belah
bahunya dan kuguncang-guncang sementara mulutku memuntahkan
bermacam makian. Ricky pasif saja, tak melawan. Mukanya
menunduk. Aku sadar, tak ada gunanya menyiksa anak ini.
Cengkeraman kulepaskan. Meskipun Aku jengkel bukan main tapi
Aku masih mampu menahan diri. Baru kusadari anak majikanku
ini telanjang bulat. Pakaiannya berserakan di karpet.

Aku membetulkan letak bra-ku yang tersingkap ke atas dan
memasang kancing dasterku kembali. Kulihat Ricky sesenggukan,
tubuhnya berguncang. Ricky menangis. Kubiarkan dia. Menangis
karena kupukuli tadi atau karena apa Aku tak peduli. Entah
sudah berapa lama tangisnya tak berhenti juga. Lama-lama
timbul rasa iba. Anak ini sebenarnya anak baik, penurut,
tidak nakal, punya tenggang rasa kepada pembantu sekalipun.
Aku sungguh tak menyangka dan shock mendapati dia menjamahi
tubuhku. Selama ini Aku menganggap dia masih anak-anak.
Tingkahnya memang manja kekanakan. Tapi kelakuannya tadi
adalah kelakuan lelaki dewasa. Anak sekarang memang cepat
matang dalam hal seksual, padahal Ricky baru kelas 2 SMP.

“Kenapa kamu, Rick ?”
Mendadak Ricky bangkit dan kepalanya rebah di pahaku,
tangisnya makin keras.
“Maafkan saya, mbak ….” katanya terbata-bata.
“Saya emang jahat kepada mbak …”lanjutnya.
“Saya engga bisa menahan …… saya tak tahan mbak ….”
Tak tahan ? Apanya ? Tapi Aku malas bicara malam ini, masih
ngantuk. Begitu nyenyaknya tadi Aku tidur sampai tak merasakan
Ricky telah membuka kancing dasterku dan menyingkap bra-ku
bahkan menciumi dadaku.
“Udah tidur sana, udah setengah satu” ujarku.
“Tapi mbak mau memaafkan saya, kan ?”
“Ya. Asal jangan kamu ulangi lagi”
“Ya mbak”
“Kalau kamu nakal lagi, mbak akan seret kamu keluar kamar,
mbak kasih tahu papa mama”
“Saya janji mbak”
“Pakai baju kamu terus tidur” Ricky menurut.
Kuperhatikan Ricky mengenakan pakaiannya. Tubuhnya memang
telah menjadi tubuh lelaki dewasa. Bahkan kelaminnyapun tak
beda dengan kelamin lelaki dewasa. Anak ini memang sedang
tumbuh. Aku harus lebih berhati-hati. Setelah Ricky
merebahkan tubuhnya hendak tidur, Aku berniat keluar kamar
sekedar menghirup udara segar. Kulihat dibawah pintu ada
secarik kertas tergeletak. Kurang ajar ! Tulisan Pak Anton.
Kulirik Ricky sudah terlelap, Aku mendekat ke lampu baca di
dekat bed. “Besok pagi jam 10 Bapak tunggu di kamar 509
lantai 5″. Lelaki ini benar-benar ular ! Berlibur ke luar
kota membawa keluarganya, menginap di hotel mengambil 2 kamar
di lantai 4, sementara diam-diam dia mengambil kamar lagi di
lantai berbeda dan dengan penuh percaya diri mengajak pengasuh
anaknya untuk disetubuhi ! Benar-benar keterlaluan. Tunggu
saja besok ! Hampir saja Aku merobek-robek kertas itu.
Rencanakulah yang mencegah Aku merobek. Kulipat kertas itu
baik-baik lalu kusimpan dalam sampul uang tadi.

***

Esok harinya, Sabtu, Ricky jadi murung dan pendiam, tak
seperti biasanya yang lincah. Dia menghindar setiap kutatap
matanya. Tak lagi bermanja-manja ke pangkuanku. Bahkan kalau
tak dipaksa ibunya untuk sarapan, dia tak mau makan. Tak
heran pula ketika diajak bapak-ibunya jalan-jalan dia pilih
tinggal saja di hotel.
“Kamu sakit, Nak ?” tanya ibunya.
“Engga, Ma …”
“Trus kenapa ngga mau jalan ?”
“Males aja. Capek. Lagian Ricky pengin main play-station”

Setelah ayahnya pergi Ricky memang terus memasang perangkat
play-station ke TV kamar dan lalu tenggelam dengan mainan yang
populer di kalangan anak-anak dan remaja itu. Aku tahu, Pak
Anton tidak benar-benar pergi keluar hotel. Paling-paling
hanya naik satu lantai.

Aku sebenarnya ingin meng’interogasi’ anak ini dan ingin tahu
kenapa dia tadi malam sampai senekat itu. Kubiarkan dia main
sampai satu jam dan akhirnya dia matikan TV dan beranjak
keluar kamar.
“Ricky” panggilku. Dia menoleh sekejap terus menunduk. Tapi
dia mengurungkan niatnya keluar kamar dan berjalan
mendekatiku.
“Duduk, mbak mau bicara”. Ricky duduk di tempat tidur Putri
dan Aku duduk di tempat tidur lainnya. Dia diam menunggu.
“Kenapa kamu tadi malem ?” Ricky diam, kepalanya makin
menunduk.
“Bicaralah, mbak engga marah lagi kok” sambungku.
“Bener, mbak engga marah lagi ?”
“Asal kamu mau terus terang”
Lama dia diam terus belum mau membuka mulut. Aku harus
bersabar menunggu.
“Saya …saya memang udah lama pengin ….” katanya
terbata-bata.
“Pengin ? Pengin apa ?”
“Ya … begituan …”
Sementara Aku masih terkejut betapa cepatnya anak ini jadi
‘matang’, Ricky nerocos melanjutkan.
“Temen-temen Ricky sering cerita begituan sama pacarnya,
kaya’nya enak banget. Ada juga yang sama cewe bayaran …
Ricky pengin juga, tapi nggak punya pacar …”
Oh, anak ini masuk dalam lingkungan pergaulan yang salah.
Berani bertaruh, ibunya pasti pingsan mendengar anaknya sudah
sejauh ini.
“Papa mama udah tahu Ricky pengin begituan ?”
“Jelas engga dong mbak”
“Kenapa kamu engga cerita ke papa atau mama ?”
“Engga berani …. Ricky takut …”
“Kenapa kamu berani sama mbak ?”
“Maaf mbak ….. ” wajahnya sudah mau menangis.
“Maksud mbak … kenapa kamu pengin ke mbak ?”
“Mbak kan baik banget sama Ricky … minta pangku …. nyender
ke mbak ….”
“Tapi ….” belum selesai Aku bicara Ricky memotong.
“Sebenarnya Ricky naksir cewe temen sekelas. Anaknya manis.
Ricky suka kalo lihat dia senyum … manis banget. Badannya
tinggi hampir sama ama Ricky … trus … teteknya gede”
“Trus … kamu pacari dia ?”
“Iya … tapi … belum. Gini, Ricky udah deketin dia.
Kayanya dia nerima, tapi kadang-kadang dia juga acuh. Paling
makan ke kantin berdua. Kalo deketan ama dia Ricky suka engga
tahan …
“Engga tahan apa ?”
“Ngliat dadanya …. pengin Ricky remes atau ciumin … kaya
temen-temen ama pacarnya …”
“Trus ?”
“Tapi … tapi …..”
“Tapi apa ?”
“Dadanya lebih bagus … punya mbak ….”
“Bagus apanya ?”
“Mbak ngga marah kan ?”
“Engga “
“Punya mbak bulat …. dan lebih gede …”
Tentu saja, bandingannya sama anak SMP yang baru tumbuh.
“Pernah suatu ketika Ricky udah ngga tahan … trus Ricky
pegang dadanya … wah dia marah banget … ampe sekarang dia
engga mau ngomong lagi ama Ricky”lanjutnya.
“Trus kenapa berani ganggu mbak ?” Ricky diam.
“Kenapa Ricky ?”
“Habisnya … habisnya Ricky pengin banget …lagian mbak
tidurnya pules banget sih. Coba kalo mbak waktu itu bangun …
engga sampai begitu …”
Pengakuan polos anak-anak. Aku bisa menerima penjelasannya,
bisa memaklumi perbuatannya. Kelakuan seorang anak yang baru
mulai tumbuh, yang selalu ingin tahu segalanya, termasuk soal
seks. Yang tidak bisa kuterima adalah kenapa bapak dan anaknya
sama-sama nakal terhadapku. Seolah menganggapku hanyalah obyek
belaka. Cuma obyek seksual. Aku memang memendam dendam kepada
bapaknya. Tiba-tiba terlintas pikiran jahat di kepalaku. Ah
… tidaklah.

Pintu kamar di ketuk, Bu Anton masuk.
“Ti, Ibu mau keluar dulu ya” Kulihat arlojiku, pukul 9.25.
“Saya ikut ya Bu …”
“Kan Putri lagi tidur …”
“Entar saya gendong aja”
Tatapan mata Bu Anton rada aneh.
“Ayolah”

Di perjalanan Bu Anton menanyaiku
“Kenapa kamu pengin banget ikut”
“Mengganggu Ibu, gitu ?”
“Engga ….. cuman engga biasanya kamu begitu”
“Gak ada pa-pa kok Bu. Bosan di kamar terus”
Alasanku yang sebenarnya sih menghindari ajakan Pak Anton
untuk ‘ngamar’. Rasain dia menunggu terus ….

***

Tingkah Pak Anton sewaktu makan malam di restoran tadi
benar-benar membuatku ingin melaksanakan pikiran jahatku.
Kami makan malam hanya berempat, Ricky tak mau turun hanya
minta dibelikan makanan. Padahal Bu Anton hanya ke toilet
sekitar 5 menit, masih sempatnya dia merabaku sambil berbisik
:
“Kenapa tadi engga dateng ? … saya pengin lagi ….”
Dengan kasar kutepis tangannya, lalu kubawa Putri menghindar.
Aku benar-benar marah. Marah karena dia tahu persis Aku tak
bakalan lapor kepada isterinya. Dia tahu persis posisiku yang
lemah dan lalu memanfaatkannya.
“Gimana Ti ….?”
“Pokoknya begitu Bapak mulai macem-macem lagi, saya langsung
bilang ke Ibu !” ancamku.
Mendadak dia jadi diam seribu bahasa, lalu kembali ke tempat
duduknya dan minum. Wajahnya sungguh sulit dibaca. Tegang
mungkin.
“Cuman segitu …..” pikirku. Lelaki gagah itu langsung surut
begitu mendengar ancamanku. Begitu takutnya dia kalau
isterinya tahu. Padahal Aku cuma mengancam, belum tentu
berani melaksanakan ancamanku. Karena Aku belum berniat
berhenti kerja, Aku masih punya ‘hidden agenda’, yaitu rencana
untuk membalas dendam !

Malam ini keluarga Anton tak punya acara, setelah makan malam
suami isteri itu langsung menuju kamar dan mengurung diri.
Mungkin karena besok harus bangun pagi untuk kembali ke
Jakarta. Atau mungkin Pak Anton sudah tak tahan ingin segera
melampiaskan hasrat seksualnya yang tadi tertahan.
Melampiaskan ke ‘jalan yang benar’, yaitu kepada isterinya.

Akupun segera ke kamarku menidurkan putri. Si Ricky masih
takut-takut kepadaku. Dia masih asyik bermain game. Tak
seperti biasanya ikut bermanja-manja ketika Aku menidurkan
adiknya.
“Udah malam, kamu besok harus bangun pagi-pagi. Tidurlah”
kataku.
“Ya mBak”. Ricky langsung mematikan mainannya dan merebahkan
diri ke kasur. Anak ini memang jadi pendiam. Aku memejamkan
mata mencoba tidur.
“mBak ….” suara Ricky mengejutkanku ketika Aku hampir
terlelap.
“Ada apa ?”
“mBak udah tidur ?”
“Hampir”
“Ricky mau nanya-nanya boleh nggak”
Tampaknya Ricky sudah pulih, tak takut-takut lagi bicara
kepadaku.
“Nanya apa”
“Kalau begituan bisa hamil ya mBak”
“Kamu udah begituan ….?” agak kaget juga Aku. Pertanyaan
yang tak kuduga.
“Engga lah mBak. Temen Ricky yang bilang”
“Apa katanya”
“Dia engga berani ‘gituin’ pacarnya. Takut pacarnya hamil”
“Kamu memangnya belum tahu”
“Belum”
“Engga diajarin di sekolah”
“Engga dong, masa pelajaran gituan”
“Di Biologi kan ada pelajaran tentang terjadinya bayi”
“Engga ada tuh mbak. Gimana dong mBak, Ricky pengin tahu”
Aku lalu cerita tentang terjadinya pembuahan sel mani dan sel
telur melalu proses hubungan kelamin, tentang janin sampai
menjadi bayi.
“Hmm … pantesan” komentarnya.
“Apanya ?”
“Si Rudy sering gituan tapi pacarnya tapi engga hamil. Kata
dia cabut duluan sebelum keluar”
“Temen sekolah kamu udah ada yang pintar begitu”
“Dia udah SMU kok mBak. Kalau begituan kayanya enak banget ya
mBak”
“Ya … kalau engga enak nanti gak ada manusia yang mau punya
anak. Trus akibatnya manusia bisa punah”
Tiba-tiba terlintas pikiran burukku. Inilah saatnya ! Telah
tiba waktuku untuk bertindak !
Ah …. tapi aku tak tega. Lain kali saja dipertimbangkan
lagi.
“Udah tidur aja”

Aku mencoba tidur lagi. Si Ricky tampaknya belum tidur juga.
Badannya bolak balik.
“Ricky engga bisa tidur …” keluhnya setelah setengah jam tak
bersuara. Aku diam saja.
“mBak, Ricky gak bisa tidur” ulangnya.
“Ya udah, jangan ganggu mBak dong”
Lalu hening. Tapi sejurus kemudian.
“mBak ….”
“Apa lagi sih Rick” Aku mulai jengkel.
“Ricky mau pindah kesitu boleh ?”
Di bed besar ukuran King ini Aku biasa di sisi kiri, Putri di
tengah, lalu Ricky di sebelah kanan.
“Ya udah sini” pikirku, supaya dia cepat tertidur dan tak
menggangguku lagi.
Ricky dengan perlahan menggeser adiknya sedikit kekanan, lalu
dia tidur di tengah.
“Hati-hati entar adikmu jatuh lho”
“Engga kok mBak, udah diganjal ama guling”
“Peluk Ricky dong mBak, supaya cepet tidur”
Aku diam. Malas. Bahkan memiringkan tubuhku membelakanginya.
“Ya udah, Ricky aja yang peluk mBak”
Kubiarkan saja Ricky memeluk tubuhku dari belakang. Lalu
ketika Aku mulai terlelap, kurasakan sesuatu menekan
pinggangku.
Anak ini memang sedang mendekati puber, menjadi gampang
terrangsang. Hari-hari sebelumnya dia sering memeluk tubuhku
seperti ini, tapi tak kurasakan apa-apa. Mungkin sejak dia
berani menjamahku kemarin, “penghayatan” atas sikap memeluk
tubuhku menjadi berbeda. Sekarang ini bukannya seorang anak
memeluk tubuh pengasuhnya, tapi sesosok tubuh lelaki menjelang
puber yang sedang memeluk tubuh seorang wanita dewasa.

Kenyataan ini telah membuatku mengambil keputusan :
sekaranglah saatnya. Telah tiba waktunya untuk membalas dendam
kelakuan Pak Anton terhadapku. Telah datang saatnya untuk
membuat seorang anak 12 tahun menjadi “dewasa” secara
mendadak. Ya, inilah waktu yang tepat !

Aku lalu melepaskan diri dari pelukan Ricky dan turun dari
tempat tidur.
“Mau kemana mBak ?”
“Pipis”
Di dalam kamar mandi yang terkunci Aku melepaskan dasterku.
Bra dan celana dalam kulepas juga. Aku telanjang bulat berdiri
di depan cermin mengamati tubuhku sendiri. Sepasang buah dada
yang bentuknya tak berubah sejak mereka tumbuh, masih bulat
kencang ke depan. Perut bak landasan rata dengan dihiasi
pusar yang begitu melesak ke dalam. Lalu dibawahnya tumbuh
bulu-bulu halus menutupi permukaan lubang kelamin yang katanya
‘legit’, begitu pria beristeri di kamar sebelah pernah
mengatakannya. Inilah bedanya antara lelaki nakal yang sudah
berpengalaman itu dengan lelaki seperti Mas Adi. Mas Adi
hanya berkomentar ’susah masuknya’ atau ‘enak banget’,
bukannya legit. Emangnya kue lapis !

Kukenakan dasterku kembali lalu Aku keluar dengan meninggalkan
bra dan celana dalamku di gantungan kamar mandi. Inilah
saatnya ! Kurebahkan tubuhku di kasur, kali ini Aku
terlentang dan memejamkan mata, pura-pura hendak tidur. Ricky
yang tadinya terlentang memiringkan tubuhnya ke arahku, lalu
kurasakan sebelah tangannya memeluk perutku dan sebelah
kakinya menyilang di atas pahaku. Aku dipeluknya seperti
kebiasaannya memeluk guling. Segera saja kurasakan kelamin
tegang itu mendesak sisi pinggulku.

Persis seperti dugaanku telapak tangannya mulai merabai dadaku
setelah setengah jam dia diam saja. Dia berani memulai
setelah Aku disangkanya telah tertidur. Kubiarkan tangannya
membukai kancing atas dasterku satu persatu, lalu tangannya
menyusup ke balik dasterku. Mungkin dia kaget melihat Aku tak
memakai bra. Diciuminya bukit dadaku lalu mulutnyapun sampai
ke putingnya, dikemotnya.

Saatnya beraksi. Tanganku lalu membelai-belai rambut dan
punggungnya. Ricky tersentak mengetahui ternyata Aku tak
tidur. Kulumannya terlepas dan kepalanya terangkat
memandangiku. Aku tersenyum.
“mBak ……”
“Kamu mau ngapain lagi, Rick ?”
“Ricky pengin mBak ….. pengin banget …. boleh ya mBak ?”
“Pengin apa …”
“Pengin main sama mBak”
“Main apa ….”
“Ah … mBak ini. Boleh ya mBak ?”
“Ntar kalo mBak hamil gimana ?”
“Kaya Si Rudy aja, dicabut ….”
“Bener kamu pengin …”
“Bener mBak, banget !”
“Kenapa engga sama temen sekolah kamu, yang sebaya …”
“Temen sekolah nyebelin. Penginnya sama mBak aja”
“Kenapa pengin sama mBak ?”
“Habisnya mBak baik …”
“Engga nyesel kamu ?”
“Engga !”
“Lepas dulu baju kamu”
Kontan Ricky bangkit dan secepat kilat melepas pakaiannya
hingga telanjang bulat. Penisnya sudah begitu tegang
mengacung, tak beda dengan penis orang dewasa. Lalu tanpa
diminta dia melepas kancing dasterku terus kebawah. Ketika
sampai di kancing bagian bawah perut, dia tertegun melihat Aku
tak memakai celana dalam lagi.

Ketika dasterku telah lepas seluruhnya, Ricky langsung
menindih tubuhku. Penisnya menekan-nekan selangkanganku,
tapi salah sasaran.
“Bukan begitu caranya ……. sini…..”
Tanganku meraih batang penisnya, kusuruh dia menempatkan
kedua lututnya di antara pahaku yang kubuka lebar. Kutuntun
penisnya menuju arah yang benar, liang senggamaku. Tusukan
dia tadi mengarah di atas clit-ku. Lalu kuberi isyarat agar
dia mulai menekan. Aku belum basah benar sehingga dengan
susah payah akhirnya Ricky berhasil membenamkan seluruh batang
penisnya ke dalam tubuhku. Lalu dari berlutut dia mengubah
posisi tubuhnya menjadi menindih tubuhku. Kupeluk erat
tubuhnya ….. tapi sesaat kemudian mendadak dia mengangkat
tubuhnya kembali dan lalu dengan cepat mencabut penisnya. Dan
…. air maninya berhamburan di perut dan dadaku.
“Hmmm …kok udahan …” komentarku mulai menyerang.
“Habis …. engga tahan lagi mBak ….” katanya
terengah-engah.
“Bentar banget ….” kataku menusuk.
Ricky diam.
“Cuman bikin kotor badan mBak doang …”
“Apa enaknya kalo begini ….” Aku terus menyerangnya.
Menghancurkan harga dirinya.
“Berhubungan seks tak boleh egois, asal dirinya udah puas
lalu selesai. Lihat juga gimana pasangan kita, apa dia juga
puas” lanjutku.
Ricky masih diam.
Sebenarnya Aku juga tahu kenapa dia begitu cepat ejakulasi.
Ini merupakan pengalaman pertama bagi Ricky dalam bersetubuh.
Letak lubangnyapun dia belum tahu persis. Cepat selesai bagi
lelaki yang pertama kali melakukan adalah hal wajar. Mas Adi
juga begitu. Sudah bagus Ricky mampu sampai penetrasi.

Seranganku ini merupakan langkah pertama dari agenda balas
dendam. Langkah kedua atau langkah terakhir sudah tersusun di
kepalaku. Hanya pelaksanaannya membutuhkan persiapanku, baik
mental atau fisik, serta waktu yang tepat. Yang jelas langkah
pertama ini Aku nilai berhasil. Ricky sama sekali berubah,
menjadi pendiam. Tak pernah lagi bicara denganku. Jangankan
bicara, melihat mukakupun seperti ketakutan.

***

Waktu yang kutunggupun hampir tiba, setelah Mas Adi
menyetujui rencanaku pindah ke Semarang menyusul dia. Sebelum
dia setuju memang terjadi ‘diskusi’ yang cukup seru.
“Kenapa sih kamu tinggalin kerja yang udah enak ini” tanyanya.
“Habis …. Mas belum tentu bisa ke sini tiap minggu” jawabku.
Baru kali ini Aku menyembunyikan sesuatu dari Mas Adi. Aku
terpaksa tidak berterus terang mengatakan alasanku yang
sebenarnya. Yaitu menghindar dari Pak Anton sekaligus
membalas dendam.
“Itu kan awalnya aja, mulai Maret nanti Mas bisa kok tiap
minggu ke Jakarta”
“Maret masih lama … penginnya sekarang ini tiap minggu
ketemu ama Mas”
“Kenapa …. kangen ya ama Mas” pipiku diciumnya.
“Engga, cuman kangen sama ini …” ku-elus penisnya.
Lalu Mas Adi menubrukku hingga Aku terlentang. Saat
berikutnya dia menelanjangiku.
‘Diskusi’nya break dulu.
Ada selingan
Selingan nikmat : persetubuhan.

“Kamu engga ada masalah dengan keluarga Anton, kan ?”
tanyanya. Tubuh Mas Adi masih menelingkupi tubuhku, bahkan
kelamin kamipun masih ‘berhubungan’. Tadi kami sepakat untuk
melakukan hubungan seks ‘dengan sebenar-benarnya’. Artinya,
Mas Adi tak perlu mencabut menjelang puncak. Mas Adi
ber-ejakulasi di dalam tubuhku. Sungguh suatu sensasi baru.
Merasakan pengalaman baru bagaimana benda hangat itu
berdenyut-denyut di dalam sana….. Kalau ternyata benih itu
‘jadi’, ya urusan nanti lah.
“Engga ada masalah apa-apa kok”
“Trus kamu nanti kerja di mana ?”
“Kerja di rumah sakit ajalah. Lebih enak kaya’nya”
“Katanya dulu lebih enak jadi baby sitter”
“Iya dulu ….. sekarang lain. Entar bantuin Narti bikin
surat-surat lamaran ya Mas”
“Okelah, kalau mau kamu begitu”
“Bener nih, Mas setuju ?”
“Iya”
“Engga nyesel …”
“Nyesel apa ?”
“Entar ketahuan punya simpenan di Semarang ….” candaku.
Digigitnya buah dadaku.
“Rupanya itu ya alasanmu …”

***

Minggu pagi itu Aku sudah siap. Semua pakaianku sudah
kumasukkan kedalam koper kecil, dan barang-barang lainnya
telah masuk ke tas jinjing. Rasanya seluruh benda milikku
telah Aku kemas, kecuali sampul berisi uang dan selembar
kertas dari Pak Anton dulu, sengaja Aku rekatkan ke cermin
hias dengan selotape. Kukunci pintu kamarku dan kuncinya Aku
bawa.
Mas Adi dan temannya sudah siap mengantarku ke stasiun Gambir
dengan mobil kakaknya. Dia sekarang parkir di depan rumah.
Sengaja tak kuminta masuk dia masuk, alasanku agar tak
berlama-lama pamitnya. Pagi ini Aku dan Mas Adi akan ke
Semarang dengan KA.
Kubawa 2 tas itu ke depan, di mana Pak dan Bu Anton
duduk-duduk minum teh.

“Ibu boleh check isi tas-tas ini” kataku sambil membuka koper
dan tasku lebar-lebar. Supaya dia yakin Aku tak membawa
benda-benda bukan milikku.
“Tak perlu Ti, Aku percaya kamu. Kamu sudah pikirkan benar ?”
tanya Bu Anton.
“Sudah Bu”
“Terus terang Ibu menyayangkan keputusanmu. Ibu inginnya kamu
tetap di sini”
“Saya sudah putuskan, Bu”
“Jujur saja Ti ya. Ada apa sebenarnya ?”
“Engga ada apa-apa, Bu. Ini hanya demi masa depan saya
bersama Mas Adi”
Ekor mataku menangkap Pak Anton sedang menatapiku.
“Toh dengan kerja di sini tak ada masalah dengan pacarmu, kan
?”
“Lebih baik kalau saya tingga satu kota dengan tunangan saya,
Bu”
“Atau ada masalah lain, gaji misalnya ?”
“Engga ada masalah dengan gaji”
“Anak-anak, Bi Ijah atau Bang Hasan ?”
“Sama sekali tidak”
“Lalu apa ?”
“Ibu benar-benar ingin tahu ?”
“Iya dong”
Saatnya mulai serangan.
“Ibu bisa tanya ke Bapak !” kataku dengan nada rada tinggi dan
menatap mata Pak Anton.
Mata Bu Anton terbelalak. Ditatapnya suaminya, lalu pindah
memandangku. Ke suaminya lagi. Berganti-ganti.
“Kalian ….berdua …………… ?” katanya kemudian.
“……A….Aku…. tak percaya ….” kata Bu Anton
terbata-bata.
Saatnya melancarkan serangan terakhir.
“Sudah saya duga Ibu tak akan percaya. Ibu ingat waktu di
Bandung saya ngotot ingin ikut Ibu ke Mall ?”
Bu Anton hanya melongo.
“Silakan Ibu ke kamar saya, lihat di cermin. Ini kuncinya”
kuserahkan kunci kamarku ke Bu Anton.
“Kalian tunggu di sini”
Bu Anton mengambil kunci dari tanganku dan bergegas ke
belakang, menuju kamarku. Aku juga bergegas mengangkut
tas-tasku dan melangkah keluar rumah. Sebelum keluar pintu
Aku sempat ‘menghadiahkan’ senyuman kepada wajah pucat Pak
Anton. Senyum kemenangan.
Aku menuju mobil, Mas Adi membantuku mengangkat koper. Lalu
kami berangkat meninggalkan rumah keluarga Anton menuju
stasiun Gambir……

Sebentar lagi akan terjadi ‘perang baratayuda’ antara
suami-isteri Anton. Setumpuk uang yang tak berkurang sesenpun
dan secarik kertas tulisan tangan Pak Anton yang berisi ajakan
ke kamar 509, serta ‘alibi’ku ikut Bu Anton pada hari dan jam
itu, telah menjelaskan semuanya …

(Seperti yang diceritakan Narti kepadaku — ipah)

TAMAT

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar