Rumah Baru KisahBB

Setelah 2x ga diterima di Wordpress sehubungan penjualan DVD, Shusaku akhirnya memutuskan memindahkan blog cerita seru KisahBB kesayangan kita ke sini.

kirim cerita karya anda atau orderan DVD ke:


Order via email: mr_shusaku@yahoo.com


tuliskan: nama, alamat jelas, nomor HP, dan list barang yang diinginkan di email pemesanan


email akan segera saya balas dengan rincian harga & no ac bank bca/mandiri unk transfer. barang akan dikirim dengan tiki/pos setelah konfirmasi transfer diterima.

Promo diskon gede-gedean

Paket istimewa 500rb (50dvd),

untuk dalam Pulau Jawa free ongkos kirim, untuk luar Pulau Jawa tergantung daerah.

Harga normal Rp 15rb/dvd kalau beli banyak Rp.12.500/dvd, untuk paket kali ini jatuhnya Rp. 10rb/dvd, murah banget!!


Tapi ini terbatas hanya untuk 10 orang saja.

jadi silakan order, bisa dilihat list barang di

- list semi & softcore

- list western xxx

- list jav


untuk pemesanan email ke mr_shusaku@yahoo.com

Subject: paket istimewa 500rb

tuliskan: nama, alamat jelas, nomor HP, dan list barang yang diinginkan di email pemesanan

email akan segera saya balas dengan rincian harga & no ac bank bca/mandiri unk transfer. barang akan dikirim dengan tiki/pos setelah konfirmasi transfer diterima.


-untuk pesanan di atas 50dvd, selanjutnya dihitung @Rp.10.000,-

-hanya untuk film2 satuan (JAV, western XXX, dan Semi), tidak berlaku untuk koleksi pics & kompilasi

Jumat, 22 Juli 2011

Pemerkosaan Riska

Juli 12, 2007

Riska adalah seorang gadis pelajar kelas 3 di sebuah SMU
negeri terkemuka di kota YK. Gadis yang berusia 17 tahun
ini memiliki tubuh yang sekal dan padat, kulitnya kuning
langsat. Rambutnya tergerai lurus sebahu, wajahnya juga
lumayan cantik.
Dia adalah anak bungsu dari lima bersaudara, ayahnya
adalah seorang pejabat yang kini bersama ibunya tengah
bertugas di ibukota, sedang kakak-kakaknya tinggal di
berbagai kota di pulau jawa ini karena keperluan
pekerjaan atau kuliah. Maka tinggallah Riska seorang
diri di rumah tersebut, terkadang dia juga ditemani oleh
sepupunya yang mahasiswi dari sebuah universitas negeri
ternama di kota itu.

Sebagai anak ABG yang mengikuti trend masa kini, Riska
sangat gemar memakai pakaian yang serba ketat termasuk
juga seragam sekolah yang dikenakannya sehari-hari. Rok
abu-abu yang tingginya beberapa senti di atas lutut
sudah cukup menyingkapkan kedua pahanya yang putih
mulus, dan ukuran roknya yang ketat itu juga
memperlihatkan lekuk body tubuhnya yang sekal
menggairahkan.

Penampilannya yang aduhai ini tentu mengundang pikiran
buruk para laki-laki, dari yang sekedar menikmati
kemolekan tubuhnya sampai yang berhasrat ingin
menggagahinya. Salah satunya adalah Parno, si tukang
becak yang mangkal di depan gang rumah Riska. Parno,
pria berusia 40 tahunan itu, memang seorang pria yang
berlibido tinggi, birahinya sering naik tak terkendali
apabila melihat gadis-gadis cantik dan seksi melintas di
hadapannya.

Sosok pribadi Riska memang cukup supel dalam bergaul dan
sedikit genit termasuk kepada Parno yang sering
mengantarkan Riska dari jalan besar menuju ke kediaman
Riska yang masuk ke dalam gang.

Suatu sore, Riska pulang dari sekolah. Seperti biasa
Parno mengantarnya dari jalan raya menuju ke rumah. Sore
itu suasana agak mendung dan hujan rintik-rintik,
keadaan di sekitar juga sepi, maklumlah daerah itu
berada di pinggiran kota YK. Dan Parno memutuskan saat
inilah kesempatan terbaiknya untuk melampiaskan hasrat
birahinya kepada Riska. Ia telah mempersiapkan
segalanya, termasuk lokasi tempat dimana Riska nanti
akan dikerjai. Parno sengaja mengambil jalan memutar
lewat jalan yang lebih sepi, jalurnya agak jauh dari
jalur yang dilewati sehari-hari karena jalannya memutar
melewati areal pekuburan.

“Lho koq lewat sini Pak?”, tanya Riska.
“Di depan ada kawinan, jadi jalannya ditutup”, bujuk
Parno sambil terus mengayuh becaknya.

Dengan sedikit kesal Riska pun terpaksa mengikuti
kemauan Parno yang mulai mengayuh becaknya agak cepat.
Setelah sampai pada lokasi yang telah direncanakan
Parno, yaitu di sebuah bangunan tua di tengah areal
pekuburan, tiba-tiba Parno membelokkan becaknya masuk ke
dalam gedung tua itu.

“Lho kenapa masuk sini Pak?”, tanya Riska.
“Hujan..”, jawab Parno sambil menghentikan becaknya
tepat di tengah-tengah bangunan kuno yang gelap dan sepi
itu. Dan memang hujan pun sudah turun dengan derasnya.

Bangunan tersebut adalah bekas pabrik tebu yang dibangun
pada jaman belanda dan sekarang sudah tidak dipakai
lagi, paling-paling sesekali dipakai untuk gudang warga.
Keadaan seperti ini membuat Riska menjadi semakin panik,
wajahnya mulai terlihat was-was dan gelisah.

“Tenang.. Tenang.. Kita santai dulu di sini, daripada
basah-basahan sama air hujan mending kita basah-basahan
keringat..”, ujar Parno sambil menyeringai turun dari
tempat kemudi becaknya dan menghampiri Riska yang masih
duduk di dalam becak.

Bagai tersambar petir Riskapun kaget mendengar ucapan
Parno tadi.

“A.. Apa maksudnya Pak?”, tanya Riska sambil
terbengong-bengong.
“Non cantik, kamu mau ini?” Parno tiba-tiba menurunkan
celana komprangnya, mengeluarkan penisnya yang telah
mengeras dan membesar.

Riska terkejut setengah mati dan tubuhnya seketika lemas
ketika melihat pemandangan yang belum pernah dia lihat
selama ini.

“J.. Jaangan Pak.. Jangann..” pinta Riska dengan wajah
yang memucat.

Sejenak Parno menatap tubuh Riska yang menggairahkan,
dengan posisinya yang duduk itu tersingkaplah dari balik
rok abu-abu seragam SMU-nya kedua paha Riska yang putih
bersih itu. Kaos kaki putih setinggi betis menambah
keindahan kaki gadis itu. Dan di bagian atasnya, kedua
buah dada ranum nampak menonjol dari balik baju putih
seragamnya yang berukuran ketat.

“Ampunn Pak.. Jangan Pak..”, Riska mulai menangis dalam
posisi duduknya sambil merapatkan badan ke sandaran
becak, seolah ingin menjaga jarak dengan Parno yang
semakin mendekati tubuhnya.

Tubuh Riska mulai menggigil namun bukan karena dinginnya
udara saat itu, tetapi tatkala dirasakannya sepasang
tangan yang kasar mulai menyentuh pahanya. Tangannya
secara refleks berusaha menampik tangan Parno yang mulai
menjamah paha Riska, tapi percuma saja karena kedua
tangan Parno dengan kuatnya memegang kedua paha Riska.

“Oohh.. Jangann.. Pak.. Tolongg.. Jangann..”, Riska
meronta-ronta dengan menggerak-gerakkan kedua kakinya.
Akan tetapi Parno malahan semakin menjadi-jadi,
dicengkeramnya erat-erat kedua paha Riska itu sambil
merapatkan badannya ke tubuh Riska.

Riska pun menjadi mati kutu sementara isak tangisnya
menggema di dalam ruangan yang mulai gelap dan sepi itu.
Kedua tangan kasar Parno mulai bergerak mengurut kedua
paha mulus itu hingga menyentuh pangkal paha Riska.
Tubuh Riska menggeliat ketika tangan-tangan Parno mulai
menggerayangi bagian pangkal paha Riska, dan wajah Riska
menyeringai ketika jari-jemari Parno mulai menyusup
masuk ke dalam celana dalamnya.

“Iihh..”, pekikan Riska kembali menggema di ruangan itu
di saat jari Parno ada yang masuk ke dalam liang
vaginanya.

Tubuh Riska menggeliat kencang di saat jari itu mulai
mengorek-ngorek lubang kewanitaannya. Desah nafas Parno
semakin kencang, dia nampak sangat menikmati adegan
‘pembuka’ ini. Ditatapnya wajah Riska yang megap-megap
dengan tubuh yang menggeliat-geliat akibat jari tengah
Parno yang menari-nari di dalam lubang kemaluannya.

“Cep.. Cep.. Cep..”, terdengar suara dari bagian
selangkangan Riska. Saat ini lubang kemaluan Riska telah
banjir oleh cairan kemaluannya yang mengucur membasahi
selangkangan dan jari-jari Parno.

Puas dengan adegan ‘pembuka’ ini, Parno mencabut jarinya
dari lubang kemaluan Riska. Riska nampak terengah-engah,
air matanya juga meleleh membasahi pipinya. Parno
kemudian menarik tubuh Riska turun dari becak, gadis itu
dipeluknya erat-erat, kedua tangannya meremas-remas
pantat gadis itu yang sintal sementara Riska hanya bisa
terdiam pasrah, detak jantungnya terasa di sekujur
tubuhnya yang gemetaran itu. Parno juga menikmati
wanginya tubuh Riska sambil terus meremas remas pantat
gadis itu.

Selanjutnya Parno mulai menikmati bibir Riska yang tebal
dan sensual itu, dikulumnya bibir itu dengan rakus bak
seseorang yang tengah kelaparan melahap makanan.

“Eemmgghh.. Mmpphh..”, Riska mendesah-desah di saat
Parno melumat bibirnya. Dikulum-kulum, digigit-gigitnya
bibir Riska oleh gigi dan bibir Parno yang kasar dan bau
rokok itu. Ciuman Parno pun bergeser ke bagian leher
gadis itu.
“Oohh.. Eenngghh..”, Riska mengerang-ngerang di saat
lehernya dikecup dan dihisap-hisap oleh Parno.

Cengkeraman Parno di tubuh Riska cukup kuat sehingga
membuat Riska sulit bernafas apalagi bergerak, dan hal
inilah yang membuat Riska pasrah di hadapan Parno yang
tengah memperkosanya. Setelah puas, kini kedua tangan
kekar Parno meraih kepala Riska dan menekan tubuh Riska
ke bawah sehingga posisinya berlutut di hadapan tubuh
Parno yang berdiri tegak di hadapannya. Langsung saja
oleh Parno kepala Riska dihadapkan pada penisnya.

“Ayo.. Jangan macam-macam non cantik.. Buka mulut kamu”,
bentak Parno sambil menjambak rambut Riska.

Takut pada bentakan Parno, Riska tak bisa menolak
permintaannya. Sambil terisak-isak dia sedikit demi
sedikit membuka mulutnya dan segera saja Parno mendorong
masuk penisnya ke dalam mulut Riska.

“Hmmphh..”, Riska mendesah lagi ketika benda menjijikkan
itu masuk ke dalam mulutnya hingga pipi Riska
menggelembung karena batang kemaluan Parno yang
menyumpalnya.
“Akhh..” sebaliknya Parno mengerang nikmat. Kepalanya
menengadah keatas merasakan hangat dan lembutnya rongga
mulut Riska di sekujur batang kemaluannya yang menyumpal
di mulut Riska.

Riska menangis tak berdaya menahan gejolak nafsu Parno.
Sementara kedua tangan Parno yang masih mencengkeram
erat kepala Riska mulai menggerakkan kepala Riska maju
mundur, mengocok penisnya dengan mulut Riska. Suara
berdecak-decak dari liur Riska terdengar jelas diselingi
batuk-batuk.

Beberapa menit lamanya Parno melakukan hal itu kepada
Riska, dia nampak benar-benar menikmati. Tiba-tiba badan
Parno mengejang, kedua tangannya menggerakkan kepala
Riska semakin cepat sambil menjambak-jambak rambut
Riska. Wajah Parno menyeringai, mulutnya menganga,
matanya terpejam erat dan..

“Aakkhh..”, Parno melengking, croot.. croott.. crroott..
Seiring dengan muncratnya cairan putih kental dari
kemaluan Parno yang mengisi mulut Riska yang terkejut
menerima muntahan cairan itu. Riska berusaha melepaskan
batang penis Parno dari dalam mulutnya namun sia-sia,
tangan Parno mencengkeram kuat kepala Riska. Sebagian
besar sperma Parno berhasil masuk memenuhi rongga mulut
Riska dan mengalir masuk ke tenggorokannya serta
sebagian lagi meleleh keluar dari sela-sela mulut Riska.
“Ahh”, sambil mendesah lega, Parno mencabut batang
kemaluannya dari mulut Riska.

Nampak batang penisnya basah oleh cairan sperma yang
bercampur dengan air liur Riska. Demikian pula halnya
dengan mulut Riska yang nampak basah oleh cairan yang
sama. Riska meski masih dalam posisi terpaku berlutut,
namun tubuhnya juga lemas dan shock setelah diperlakukan
Parno seperti itu.

“Sudah Pak.. Sudahh..” Riska menangis sesenggukan,
terengah-engah mencoba untuk ‘bernego’ dengan Parno yang
sambil mengatur nafas berdiri dengan gagahnya di hadapan
Riska.

Nafsu birahi yang masih memuncak dalam diri Parno
membuat tenaganya menjadi kuat berlipat-lipat kali,
apalagi dia telah menenggak jamu super kuat demi
kelancaran hajatnya ini sebelumnya. Setelah berejakulasi
tadi, tak lama kemudian nafsunya kembali bergejolak
hingga batang kemaluannya kembali mengacung keras siap
menerkam mangsa lagi.

Parno kemudian memegang tubuh Riska yang masih menangis
terisak-isak. Riska sadar akan apa yang sebentar lagi
terjadi kepadanya yaitu sesuatu yang lebih mengerikan.
Badan Riska bergetar ketika Parno menidurkan tubuh Riska
di lantai gudang yang kotor itu, Riska yang mentalnya
sudah jatuh seolah tersihir mengikuti arahan Parno.

Setelah Riska terbaring, Parno menyingkapkan rok abu-abu
seragam SMU Riska hingga setinggi pinggang. Kemudian
dengan gerakan perlahan, Parno memerosotkan celana dalam
putih yang masih menutupi selangkangan Riska. Kedua mata
Parno pun melotot tajam ke arah kemaluan Riska. Kemaluan
yang merangsang, ditumbuhi rambut yang tidak begitu
banyak tapi rapi menutupi bibir vaginanya, indah sekali.
Parno langsung saja mengarahkan batang penisnya ke bibir
vagina Riska. Riska menjerit ketika Parno mulai menekan
pinggulnya dengan keras, batang penisnya yang panjang
dan besar masuk dengan paksa ke dalam liang vagina
Riska.

“Aakkhh..”, Riska menjerit lagi, tubuhnya menggelepar
mengejang dan wajahnya meringis menahan rasa pedih di
selangkangannya.

Kedua tangan Riska ditekannya di atas kepala, sementara
ia dengan sekuat tenaga melesakkan batang kemaluannya di
vagina Riska dengan kasar dan bersemangat.

“Aaiihh..”, Riska melengking keras di saat dinding
keperawanannya berhasil ditembus oleh batang penis
Parno. Darah pun mengucur dari sela-sela kemaluan Riska.

“Ohhss.. Hhsshh.. Hhmmh.. Eehhghh..” Parno mendesis
nikmat.

Setelah berhasil melesakkan batang kemaluannya itu,
Parno langsung menggenjot tubuh Riska dengan kasar.

“Oohh.. Oogghh.. Oohh..”, Riska mengerang-ngerang
kesakitan. Tubuhnya terguncang-guncang akibat gerakan
Parno yang keras dan kasar. Sementara Parno yang tidak
peduli terus menggenjot Riska dengan bernafsu. Batang
penisnya basah kuyup oleh cairan vagina Riska yang
mengalir deras bercampur darah keperawanannya.

Sekitar lima menit lamanya Parno menggagahi Riska yang
semakin kepayahan itu, sepertinya Parno sangat menikmati
setiap hentakan demi hentakan dalam menyetubuhi Riska,
sampai akhirnya di menit ke-delapan, tubuh Parno kembali
mengejang keras, urat-uratnya menonjol keluar dari
tubuhnya yang hitam kekar itu dan Parno pun
berejakulasi.

“Aahh..” Parno memekik panjang melampiaskan rasa puasnya
yang tiada tara dengan menumpahkan seluruh spermanya di
dalam rongga kemaluan Riska yang tengah menggelepar
kepayahan dan kehabisan tenaga karena tak sanggup lagi
mengimbangi gerakan-gerakan Parno.

Dan akhirnya kedua tubuh itupun kemudian jatuh lunglai
di lantai diiringi desahan nafas panjang yang terdengar
dari mulut Parno. Parno puas sekali karena telah
berhasil melaksanakan hajatnya yaitu memperkosa gadis
cantik yang selama ini menghiasi pandangannya dan
menggoda dirinya.

Setelah rehat beberapa menit tepatnya menjelang Isya,
akhirnya Parno dengan becaknya kembali mengantarkan
Riska yang kondisinya sudah lemah pulang ke rumahnya.
Karena masih lemas dan akibat rasa sakit di
selangkangannya, Riska tak mampu lagi berjalan normal
hingga Parno terpaksa menuntun gadis itu masuk ke dalam
rumahnya.

Suasana di lingkungan rumah yang sepi membuat Parno
dengan leluasa menuntun tubuh lemah Riska hingga sampai
ke teras rumah dan kemudian mendudukkannya di kursi
teras. Setelah berbisik ke telinga Riska bahwa dia
berjanji akan datang kembali untuk menikmati tubuhnya
yang molek itu, Parno pun kemudian meninggalkan Riska
dengan mengayuh becaknya menghilang di kegelapan malam,
meninggalkan Riska yang masih terduduk lemas di kursi
teras rumahnya.
E N D

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar