Rumah Baru KisahBB

Setelah 2x ga diterima di Wordpress sehubungan penjualan DVD, Shusaku akhirnya memutuskan memindahkan blog cerita seru KisahBB kesayangan kita ke sini.

kirim cerita karya anda atau orderan DVD ke:


Order via email: mr_shusaku@yahoo.com


tuliskan: nama, alamat jelas, nomor HP, dan list barang yang diinginkan di email pemesanan


email akan segera saya balas dengan rincian harga & no ac bank bca/mandiri unk transfer. barang akan dikirim dengan tiki/pos setelah konfirmasi transfer diterima.

Promo diskon gede-gedean

Paket istimewa 500rb (50dvd),

untuk dalam Pulau Jawa free ongkos kirim, untuk luar Pulau Jawa tergantung daerah.

Harga normal Rp 15rb/dvd kalau beli banyak Rp.12.500/dvd, untuk paket kali ini jatuhnya Rp. 10rb/dvd, murah banget!!


Tapi ini terbatas hanya untuk 10 orang saja.

jadi silakan order, bisa dilihat list barang di

- list semi & softcore

- list western xxx

- list jav


untuk pemesanan email ke mr_shusaku@yahoo.com

Subject: paket istimewa 500rb

tuliskan: nama, alamat jelas, nomor HP, dan list barang yang diinginkan di email pemesanan

email akan segera saya balas dengan rincian harga & no ac bank bca/mandiri unk transfer. barang akan dikirim dengan tiki/pos setelah konfirmasi transfer diterima.


-untuk pesanan di atas 50dvd, selanjutnya dihitung @Rp.10.000,-

-hanya untuk film2 satuan (JAV, western XXX, dan Semi), tidak berlaku untuk koleksi pics & kompilasi

Sabtu, 23 Juli 2011

Serangan Fajar

Sinta terbangun dari tidurnya pagi itu. Suara jam weker
yg menjerit
nyaring memaksanya turun dari ranjang. Selimut tebal yg
seakan masih
ingin mendekapnya erat2 ditendangnya sehingga terjatuh
ke lantai.
Tangannya meraih lampu di atas meja kecil di sebelah
ranjangnya dan
menyalakannya. Sinta sudah terbiasa tidur hanya dgn
celana dalam dan
kaos tanpa lengan seperti pemain basket. Wajahnya cukup
cantik.
Tingginya yg 165 cm dgn rambut sebahu dan tubuh yg
terawat memang
selalu membuat mata laki2 membelalak. Ia berjalan
sedikit terhuyung
sambil menggaruk kepalanya yg sebetulnya tidak gatal.
Dimatikannya
suara jam weker itu dan dilihatnya jam baru menunjukkan
pukul 5.00
pagi.
Sepagi itu Sinta biasanya sudah bersiap untuk ke kantor.
Maklumlah
jalan ke arah kantornya di bilangan Sudirman memang
tidak pernah lepas
dari kepadatan lalu lintas. Di rumah yg sudah
ditempatinya sejak
setahun yg lalu itu memang tidak ada orang lain yg bisa
membangunkannya. Sinta mengontrak rumah itu dari Sony
teman kantornya
yg kebetulan baru saja pindah sehingga dia bisa mendapat
harga sewa yg
relatif murah. Ia keluar dari kamarnya dan menuju kamar
mandi yg
terletak tepat di sebelah kamarnya. Belum sempat kakinya
melangkah
masuk ke dalam kamar mandi tiba2 seseorang memeluk dan
menyekap
mulutnya dari belakang. Belum hilang rasa kagetnya orang
itu dgn cepat
menyeretnya kembali masuk ke dalam kamar. Tubuhnya
dibaringkan dgn
paksa di atas ranjang yg masih berantakan dan
didengarnya orang itu
berkata

“Jangan coba2 melawan atau berteriak kalau tidak mau
pisau ini merobek
perutmu.. mengerti !!!” Dgn nafas yg tersengal-sengal
Sinta mengangguk
lemah dan orang itu kini membalikan tubuhnya hingga
terlentang.
Dilihatnya seorang laki2 kekar menindih tubuhnya dgn
pisau panjang di
tangannya. Rupanya dia tidak sendirian, yg seorang lagi
sekarang sudah
berdiri di samping ranjangnya.

“Diam saja manis.. kita akan bersenang-senang pagi ini”
Sinta
menggigil ia tahu apa yg akan terjadi pada dirinya
“Too..tolong.. jangan.. jangan sakiti saya..”
“He..he.. tenang manis, malah kau akan menikmatinya
juga” Sambil
berkata demikian orang itu dgn cepat mengangkat kaos
tanpa lengan yg
dipakai Sinta ke arah lehernya sehingga buah dadanya yg
indah langsung
terpampang jelas di hadapan kedua orang itu. Mereka
menelan ludah
menyaksikan keindahan tubuh Sinta. Sinta meronta namun
laki2 yg satu
kini sudah beranjak pula naik ke ranjang dan memegangi
kedua kakinya
yg mulus dan jenjang. Laki2 yg diatas tubuhnya beranjak
pindah ke atas
kepalanya. Ia menunduk dan dgn bernafsu menjilati kedua
payudaranya
bergantian.

Lidahnya menggelitik puting payudara Sinta yg masih
bersemu kemerahan.
Sinta terisak, ditutupnya matanya rapat2. Ia dapat
merasakan juga
laki2 yg lain meregangkan kedua pahanya lebar2 dan mulai
menjilati
paha dan selangkangannya.. Pagi itu menjadi begitu
menegangkan bagi
Sinta.. Tadi ia terbangun dgn kantuk yg masih menyergap
tapi kini dua
orang laki2 tak dikenal menggerayangi tubuh indahnya dgn
bernafsu..
sungguh ia berharap ini hanya mimpi. Namun demikian
jilatan kedua
laki2 itu di kedua bagian tubuhnya yg paling pribadi mau
tidak mau
memberikan perubahan pada dirinya. Sinta mengatupkan
bibirnya kuat2.
Laki2 di atasnya terus meremas-remas payudaranya dan
memilin putingnya
sambil menjilati daerah itu.

Sementara temannya di bawah dgn tidak sabar menarik
celana dalam Sinta
melewati lututnya dan meregangkan kembali kedua pahanya
lebar2. Sinta
terkesiap ketika dirasakannya sesuatu yg lembut menari2
di
selangkangannya. Dgn refleks ia menarik pantatnya
sehingga tubuhnya
agak melengkung. Melihat posisi tubuh Sinta laki2
dibawahnya makin
bersemangat. Lidahnya kini dgn leluasa merobek2 celah
sempit di
selangkangan Sinta sementara jari2nya ikut bergerilya
memasuki celah
itu. Sinta tidak kuasa lagi menahan diri

“Aaahh.. ja..jangan..oouuhh.. sakit..” Namun kedua laki2
itu sudah
tidak mempedulikan dirinya lagi. Dgn cepat mereka
melucuti tubuh
mereka sendiri. Kedua laki2 yg sudah telanjang bulat itu
kini berganti
posisi dan meneruskan ‘pekerjaan’ mereka yg sempat
tertunda tadi. Dgn
kasar laki2 yg di bawahnya membuka kembali paha Sinta
lebar2 dan dgn
sedikit terburu2 mencoba melesakkan kejantanannya ke
dalam kemaluan
Sinta yg belum sepenuhnya terlumasi.
“Aww…aduuhhh..!!” Sinta menjerit kesakitan namun
jeritannya segera
tertahan tat kala bibirnya dilumat oleh laki2 di atasnya
dgn ciuman yg
kasar.. Sinta dapat merasakan bau tak sedap dari mulut
orang itu yg
membuatnya merasa jijik tapi dia tak dapat berbuat apa2
krn posisinya
benar2 tertindih oleh kedua laki2 tersebut. Sementara di
sisi lain
kemaluannya terasa perih dan sakit saat torpedo laki2
itu menghujam
sedikit demi sedikit ke dalam kemaluannya yg masih
perawan..
Dirasakannya jari jemari lelaki di bawahnya meregangkan
bibir2
kemaluannya. Pantatnya bergerak2 mencoba menghindari
tusukan
kejantanan laki2 itu namun apa daya kejantanan itu dgn
pasti menyeruak
masuk merobek keperawanan yg selama ini dijaganya.

“Aahhh…” desah laki2 di bawahnya ketika akhirnya
seluruh
kejantanannya berhasil terbenam utuh ke dalam kemaluan
Sinta. Sinta
merasakan sesuatu yg besar mengganjal di
selangkangannya. Laki2 di
atasnya menarik sisa kaos yg melilit di leher Sinta dan
melemparnya
jauh2. Kini tubuh Sinta benar2 polos diapit oleh dua
tubuh laki2 yg
juga polos. Laki2 di bawahnya mengangkat kedua paha
Sinta ke atas
pundaknya dan mulai memompa kejantanannya. Setiap
gerakan laki2 itu
dirasakan Sinta bagai sebuah pukulan yg menderanya. Air
matanya
mengalir menahan sakit, malu, dan sedih. Sungguh tak
pernah terbayang
bahwa ia akan diperkosa di dalam kamarnya sendiri oleh
dua laki2 yg
tak dikenalnya. Tiba2 badan laki2 yg sedang
memperkosanya mengejang.

Sambil mendesah keras laki2 itu menyemburkan benihnya ke
dalam
kemaluan Sinta. Peluh yg membasahi tubuhnya tercium
begitu keras di
hidung Sinta dan membuatnya bertambah mual. Laki2 itu
segera mencabut
kejantanannya dan temannya dgn segera menggantikan
tempatnya. Kini
laki2 kedua yg sudah menahan nafsunya sejak tadi kembali
menghujamkan
kejantanannya. Sinta seakan tersedak begitu dirinya
dijejali oleh
laki2 tersebut. Laki2 lainnya yg tadi baru saja
menyetubuhinya
sekarang berjongkok mengangkangi dadanya. Senjatanya yg
masih
mengkilat krn dibasahi cairan dari kemaluan Sinta dan
benihnya sendiri
kini diarahkan ke dada Sinta. Ujung kemaluan laki2 itu
digerakan
memukul kedua payudaranya dan kemudian laki2 itu
mengarahkan
senjatanya ke mulut Sinta. Sinta yg masih terpejam
terkejut merasakan
sesuatu yg basah dan berbau menyentuh bibirnya.

Seketika ia membuka matanya dan melihat kejantanan laki2
itu tepat di
depan hidungnya. Melihat gadis itu membuka matanya laki2
itu segera
menekan kedua pipi gadis itu sehingga memaksanya membuka
mulut dan dgn
tiba2 memasukan kejantanan yg masih tegang dan basah itu
ke dalamnya.
Laki2 yg dibawahnya kini dgn kuat menumbukan pinggangnya
berulang2
memompa kejantannya ke tubuh Sinta shg membuat tubuhnya
terlonjak-
lonjak dgn keras. Sinta benar2 merasa tak berdaya..
mulut dan
kemaluannya dijejali oleh kejantanan kedua laki2 tsb.
Hampir bersamaan
waktunya ketika kedua laki2 itu menyemburkan benihnya ke
dalam
kemaluan dan mulut Sinta. Lelehan benih kedua laki2 itu
mengalir dari
bibir dan kemaluannya. Sinta menangis sambil memalingkan
mukanya.
Matanya yg indah basah oleh air mata yg membanjir.

Nafasnya tidak teratur dan dadanya berguncang hebat
menahan tangis.
Seorang dari laki2 itu rupanya belum puas. Ia
menelungkupkan tubuh
Sinta dan mengangkat pinggulnya ke atas sehingga
pantatnya yg indah
kini terpampang jelas di muka laki2 itu. Laki2 itu
setengah berjongkok
kembali memasukkan senjatanya ke arah kemaluan Sinta
dari belakang dan
kembali memompanya dgn kencang. Temannya berbaring di
bawah tubuh
Sinta dan tangannya kembali meremas-remas kedua bukit
indah yg
menggantung itu sambil menjilati dan mengisap putingnya
bergantian.
Sinta merasa pening.. badannya merasa lelah diperlakukan
demikian dan
kesadarannya perlahan menghilang.

Rasa sakit pada tubuhnya, rasa malu dan sedih, serta
shock atas
kejadian pagi itu membuatnya pingsan. Suara telpon
sayup2 terdengar
membuatnya kembali terjaga. Kesadarannya sedikit demi
sedikit kembali.
Bayangan kedua laki2 itu masih menghantuinya. Ia
mendapati dirinya
terlentang di atas ranjangnya tanpa busana.
Selangkangannya terasa
nyeri dan pedih. Kedua laki2 itu sudah tidak ada lagi.
Sinta mencoba
bangun dari tempat tidurnya. Tangisnya meledak menyadari
keadaan
dirinya. Suara telpon yg berdering sama sekali tidak
membuatnya
bergegas untuk menjawabnya. Bau tubuh kedua laki2 itu
seakan masih
menghinggapi indra penciumannya. Iapun bergegas bangun
dan menuju ke
kamar mandi.Sekilas dilihatnya jam sudah menunjukkan
pukul 9.30. Sinta
menyalakan air di dalam bathtub dan membaringkan
tubuhnya yg masih
terasa pegal dan sakit. Dibiarkannya air yg dingin itu
memenuhi
bathtub.

Sinta membersihkan tubuhnya dari sisa2 kejadian pagi
tadi. Sudah cukup
lama ia ada di kamar mandi namun ia merasa bahwa
tubuhnya masih belum
bersih. Hanya dinginnya air yg menyadarkan dirinya yg
mulai menggigil
utk keluar dari kamar mandi. Telpon kembali berdering,
ia tahu bahwa
pasti Dony yg menelponnya. Mereka mulai berpacaran sejak
6 bulan yg
lalu. Selama itu ia selalu menelpon Dony atau sebaliknya
setiap pagi
sesampainya di kantor. Namun kali ini tentu Dony
khawatir karena Sinta
belum juga menelponnya. Sinta tidak berani mengangkat
telpon tsb
karena ia tidak tahu apa yg harus dikatakannya. Apakah
ia harus
berterus terang atau tidak akan kejadian seram yg
menimpanya. Iapun
kembali menangis.

Kira2 satu jam kemudian Dony sudah sampai di ambang
pintu rumah Sinta.
Ia heran krn lampu2 masih menyala. Diketuknya pintu
namun tidak ada
jawaban. Khawatir akan ada sesuatu yg tidak beres iapun
mengeluarkan
kunci yg pernah diberikan Sinta kepadanya. Namun lebih
terkejut lagi
ketika menyadari pintu itu tidak terkunci dan
kelihatannya ada yg
merusak kunci pintu tsb. Dgn berdebar Dony mendorong
pintu itu
perlahan dan melongok ke dalam. Iapun menuju ke kamar
mandi karena
didengarnya air masih mengucur dari sana. Melihat tidak
ada Sinta di
situ iapun bergegas ke kamar tidur Sinta di sebelahnya
dan membuka
pintu. Betapa terkejut ia mendapati Sinta yg tergeletak
hanya dgn
handuk yg melilit di tubuhnya. Wajahnya membiru dgn busa
yg keluar
dari mulutnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar