Rumah Baru KisahBB

Setelah 2x ga diterima di Wordpress sehubungan penjualan DVD, Shusaku akhirnya memutuskan memindahkan blog cerita seru KisahBB kesayangan kita ke sini.

kirim cerita karya anda atau orderan DVD ke:


Order via email: mr_shusaku@yahoo.com


tuliskan: nama, alamat jelas, nomor HP, dan list barang yang diinginkan di email pemesanan


email akan segera saya balas dengan rincian harga & no ac bank bca/mandiri unk transfer. barang akan dikirim dengan tiki/pos setelah konfirmasi transfer diterima.

Promo diskon gede-gedean

Paket istimewa 500rb (50dvd),

untuk dalam Pulau Jawa free ongkos kirim, untuk luar Pulau Jawa tergantung daerah.

Harga normal Rp 15rb/dvd kalau beli banyak Rp.12.500/dvd, untuk paket kali ini jatuhnya Rp. 10rb/dvd, murah banget!!


Tapi ini terbatas hanya untuk 10 orang saja.

jadi silakan order, bisa dilihat list barang di

- list semi & softcore

- list western xxx

- list jav


untuk pemesanan email ke mr_shusaku@yahoo.com

Subject: paket istimewa 500rb

tuliskan: nama, alamat jelas, nomor HP, dan list barang yang diinginkan di email pemesanan

email akan segera saya balas dengan rincian harga & no ac bank bca/mandiri unk transfer. barang akan dikirim dengan tiki/pos setelah konfirmasi transfer diterima.


-untuk pesanan di atas 50dvd, selanjutnya dihitung @Rp.10.000,-

-hanya untuk film2 satuan (JAV, western XXX, dan Semi), tidak berlaku untuk koleksi pics & kompilasi

Senin, 25 Juli 2011

Yessy: Hancurnya Kesetiaan

September 21, 2007

Cerita ini di mulai saat Yessy, wanita muda yang cantik, berkulit putih, 27 tahun, bekerja sebagai staff akunting pada sebuah perusahaan konsultan. Dia ditempatkan di kota Pekanbaru. Dia dan suaminya yang bekerja di ibukota harus terpisah jarak, dan hanya tiap seminggu atau dua minggu sekali bisa bertemu dengan suaminya. Mereka sampai saat ini dalam usaia perkawinan mencapai 2 tahun belum juga di karuniai anak.
Sore itu hujan turun dengan lebatnya menyirami kota Pekanbaru yang biasanya sangat panas. Terllihat seorang wanita muda terjebak oleh hujan dan berteduh. Yessy terpaksa berteduh di teras sebuah kantor yang menjadi tetangga kantornya, menunggu hujan mereda. Tetapi ternyata hujan tak kunjung juga reda. Ia mulai kelihatan gelisah karena sore semakin gelap.


Tiba – tiba dari dalam kantor tersebut muncul sosok tegap berwajah simpatik.
“Hujannya sangat deras bu…”. Mengenakan kaos terlihat tubuhnya yang berisi itu tampak berisi. Berumur sekitar 40-an dengan wajahnya dihiasi kumis yang tipis.
“Iyaa..” sahut Yessy.
“ini bu payungnya pakai saja…, ibu kan di kantor sebelah kan…?”tanya lelaki tersebut.
“Kembalikan saja besok……”sambungnya kembali.
“Terimakasih pak……” sahut Yessy girang. Dengan ringan ia melangkah dan menerima payung tersebut dari lelaki gagah tersebut, dan menggunakannya….

Besoknya saat kembali ke kantor Yessy tak lupa mengembalikan payung yang di pinjamkannya. Lelaki itu bernama akhirnya diketahuinya bernama Murad. Dia adalah seorang kepala keamanan pada kantor di sebelah tersebut.

Beberapa hari kemudian…
Saat Yessy berangkat untuk bersama seorang temannya berencana hendak makan siang. Menggunakan sebuah sepeda motor mereka berboncengan menuju sebuah rumah makan tak jauh dari kantor mereka. Tiba – tiba…

Sepeda motor mereka oleng dan mereka terjatuh…, Sebuah kendaraan umum yang melaju dengan cepat telah menyerempet. Yessy panik dan bingung bagaimana harus bertindak.. Sekelebat ingatan muncul di kepalanya… Dengan cepat diraihnya ponselnya dan..

“halo……, ini dengan PT xxxx..? tanyanya tergesa- gesa.
“Betul.., ada yang bisa kami bantu bu…?sahut suara di seberang.
“Pak Muradnya ada…? Bisa saya bicara sebentar…? Sambung Yessy..
“Sebentar bu………….” sahut suara sipenerima tersebut. Tak lama kemudian..

“halo…………”sahut suara berat seorang lelaki di pesawat penerima tersebut.
“Ini Pak Murad…? Saya bu Yessy…..?ujar Yessy terburu-buru.
“Hmmmm…., yang di kantor sebelah ya…,ada apa bu…? sahut Murad di seberang sana.

Lalu Yessy menerangkan kejadian yang menimpa ia dengan temannya dan minta pertolongan lelaki tersebut. Dan kembali urusan tersebut menjadi selesai dengan kedatangan Murad di tempat mereka. Dan mereka pun mulai akrab. Terlebih lagi saat-saat Yessy yang baru pulang dari kantornya karena terpaksa lembur. Malam itu angkot tak juga lewat hingga lewat pulalah Murad. Dengan mengemudikan sepeda motornya ia berhenti di samping Yessy.

“Udah malam bu…, angkotnya sudah jarang, biar saya antar bu…”ujar lelaki gagah tersebut dengan sopan.
“Iya pak…, ga biasanya……”sahut Yessy ramah.

Mereka berbincang – bincang sejenak. Murad menemani Yessy sambil menunggu angkot yang lewat. Akhirnya dengan berat hati Yessy naik di belakang. Sepeda motorpun melaju menuju rumah kediaman Yessy. Tak lupa Yessy minta singgah di sebuah warung dalam perjalanan tersebut. Membeli beberapa pengganan untuk pulang. Sesampainya di rumah Yessy tak lupa mempersilakan Murad untuk mampir dan menyeduhkan secangkir teh. Sejenak mereka berbincang-bincang hingga Murad pun pamit untuk pulang kerumahnya.

Dan kejadian sama berulang kembali. Saat Yessy kembali menunggu angkot. Dan kembali Murad sang kepala keamanan menawarinya untuk di antarkan.. Saat itu Yessy kembali tak menampiknya karena dalam hatinya telah bersimpati atas kebaikan lelaki tersebut. Dan setelah itu kejadian pulang bareng pun sering mereka lakukan. Hal ini tanpa sepengetahuan karyawan teman sekantornya Yessy.

Hingga suatu saat….
Malam telah menjelang . Saat itu Yessy tengah menunggu angkot yang kunjung lewat. Ia menyesali kedatangannya yang begitu terlambat ke Pekanbaru setelah tugas luar ke Bangkinang yang melelahkan dan begitu menyita waktunya. Hanya para pengemudi ojek yang berebutan menawarkan jasanya. Yessy merasa tidak aman akan kehadiran para pengojek tersebut. Kembali teringat olehnya akan keberadaan Murad. Segera diraihnya ponselnya dan menghubungi Murad. Tak lupa dikatakannya untuk bergegas karena kekuatirannya tersebut.

Tak lama berselang Murad muncul dengan sepeda motornya. Segera Yessy naik di belakang. Dan sepeda motorpun melaju meninggalkan tempat tersebut. Oleh karena merasakan perutnya yang belum diisi tersebut telah menagih, segera Yessy minta pada Murad agar berhenti. Mereka berdua pun makan dengan lahapnya di warung pinggir jalan tersebut. Tak mereka sadari hujan mulai turun dan waktu telah menjelang jam 10 ….

“Bagaimana bu.. kita berteduh menunggu hujan saja…? tanya Murad kepada wanita muda yang cantik tersebut.
“Tanggung pak…, sudah di pertengahan perjalanan kita berangkat saja deh……” sahut Yessy yakin.

Segera Murad dan Yessy melaju dalam derasnya hujan… tak memperdulikan pakaian mereka yang pastinya akan basah kuyup. Hingga akhirnya mereka sampai di rumah Yessy. Segera Yessy menuju kamarnya untuk bersalin dan tak lupa memepersilakan Murad untuk masuk ke dalam rumahnya. Setelah salin Yessy memberikan pinjaman kaosnya untuk menggantikan pakaian Murad yang basah kuyup. Tak lupa di suguhkannya segelas teh hangat untuk menghangatkan agar tak masuk angin. Berbincang-bincang mereka sesaat…tapi hujan tak kunjung juga henti…

Mengingat besok adalah giliran jaga Murad bersikeras hendak pulang… Yessy tak dapat menahankan ia lagi. Diiringi tatapan Yessy di pintu sepeda motor Muradpun melaju. Tak jauh sepeda motor itu melaju kelihatan tersendat-sendat lalu berhenti. Dan Murad pun turun memeriksa dalam riuhnya hujan.. Yessy yang masih berdiri di pintu segera menghampiri dengan sebuah payung.

“Ada apa pak……? tanya wanita cantik tersebut setelah berdiri di samping sepeda motor tersebut.
“Ga tau nih…, tiba-tiba mogok saja.. sebentar saya periksa bensinnya..” ucap Murad seraya bangkit dan membuka tutup bahan bakar sepeda motornya.
“Betul bu…,bensinnya habis…”ujarnya dengan wajah bingung memandang wajah Yessy.
“Ya sudah.., kembali saja ke rumah saya…, besok pagi pak Murad bisa berangkat..” ujar Yessy menawarkan.
“Hmmm…, bagaimana ya…?ujar Murad dengan wajah bingung.
“Ayo……..”ajak Yessy.

Beriringan mereka kembali menuju rumah Yessy. Dan setelah memarkir sepeda motor, mereka berdua kembali berada di dalam rumah yang asri tersebut. Yessy memberikan sebuah bantal pada Murad agar dapat tidur di sofa ruang tamunya. Murad masih merasa sungkan – sungkan. Dan untuk mencairkan suasana Yessy berbincang – bincang menanyakan keluarga dan keadaan kota yang masih baru baginya. Baru diketahuinya bahwa Murad adalah seorang duda. Mereka duduk bersisian pada sofa yang berbeda.

‘Wanita ini sangatlah cantik malam ini…..’ batin Murad.

Tanpa disadari Yessy di tengah – tengah perbincangan mereka yang makin akrab, jemarinya telah berada dalam genggaman sang lelaki tegap tersebut. Perlahan jemari lentiknya di angkatnya menuju wajahnya.., dan sebuah kecupan dijatuhkan lelaki berkumis tipis tersebut pada jemarinya. Sontak Yessy kaget…Dan menarik tangannya. Tapi Murad pun tak membiarkan…

Segera ia pindah ke sebelah Yessy.

“Lebih baik Pak Murad tetap di kursi semula….”ucap Yessy tegas.
“Saya hanya ingin melihat jari ibu yang sangat bagus…, masa tidak boleh..?”ujar Murad kembali meraih tangan Yessy.
“Kuku ibu sangat terawat sekali…”tambah lelaki tersebut.
“Cincin ini juga sangat bagus…..”ujar Murad meneliti cincin kawin yang menghiasi jari manis wanita muda tersebut.
“Jangan macam-macam pak.., sebentar lagi suami saya akan menelpon dari Jakarta.., dan saya bisa saja mengadukan bapak..”tambah Yessy.

Murad tak menjawab, malah kini kedua tangan Murad mulai merengkuh bahu wanita muda tersebut. Menariknya ke arahnya.. Yessy berusaha untuk tak jatuh dalam rengkuhan lelaki tegap tersebut. Tapi apalah dayanya, tenaga wanitanya tak cukup kuat untuk melawan keinginan Murad. Dan ia terjatuh dalam dekapan erat lelaki itu. Menyadari hal itu Yessy berusaha memalingkan wajahnya, namun dekapan erat tersebut menyesakkan nafasnya. Dengan tangannya yang masih bebas Yessy berusaha menampar wajah lelaki tersebut. Tapi Murad pun tanggap dan menangkap tangan tersebut.

Murad mulai mendekatkan wajahnya. Kecupannya jatuh di permukaan pipi Yessy yang licin tersebut. Terus menjalar pada leher yang putih bak pualam. Menjilati urat leher yang menjulang menopang kepala yang tengah berontak tersebut. Terus menjalar ke atas, perlahan menyusuri lekuk rahang, terus keatas dan menyambangi bibir merah yang ranum. Dihisapnya perlahan kedua bibir yang ranum tersebut. Hingga Yessy tersedak hampir kehabisan napas.

Lalu tubuh sintal tersebut dilepaskan oleh Murad. Dan Yessy jatuh menelungkupkan wajah pada sofa. Mulai terisak-isak sembari menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.

Murad kembali mendekatkan wajahnya. Tangannya menyibakkan rambut halus yang ada pada tengkuk wanita muda tersebut. Bibir berkumis tipis itu mendarat pada tengkuk Yessy. Bulu romanya segera berdiri… Tangan Murad tak tinggal diam dan berusaha menjangkau dada wanita muda tersebut. Yessy berbalik untuk segera menghindar. Namun Murad tak melepaskannya. Sebelah tangannya segera menahan punggung Yessy. Sementara yang sebelah lagi mulai menjalar pada dada yang terbungkus kimono biru tersebut. Ciumannya juga mampir pada bibir merah yang ranum milik wanita muda tersebut.

Mungkin karena hari itu adalah hari yang melelahkan bagi Yessy, rontaannya mulai lemah dan tak bertenaga lagi. Sehingga Muradpun dengan leluasa melakukan rabaan dan remasan pada sekujur tubuh wanita bertubuh langsing tersebut. Terasakan oleh Yessy betapa lincah dan sangat pandainya lelaki itu merabai tubuhnya. Yessy pun mulai terbakar, tapi ia tak menyerah begitu saja. Hingga …

“Lebih baik bu Yessy menurut saja.., saya bisa saja memperkosa ibu dan membongkar semua ini pada semua teman-teman ibu…”bisik Murad. Dalam isaknya Yessy segera terdiam. Kini tanpa perlawanan yang berarti Murad melucuti kimono dan dan celana tidur yang dikenakan Yessy sehingga praktis ia hanya mengenakan bra dan secarik segitiga pelindung pertemuan kedua pahanya.

Diraihnya bahu wanita muda tersebut agar berdiri dan memapahnya menuju kamar tidurnya yang terbuka. Di rebahkannya tubuh sintal yang menggairahkan tersebut diatas ranjang. Kembali Murad menekuni tubuh mulus indah tersebut. Ciumannya mulai merambat pada leher yang putih tersebut. Turun ke bawah menemukan lereng bukit dada yang masih terbungkus. Kecupan di jatuhkannya pada pada dada sebelah kiri. Yessy hanya diam sambil terisak isak. Tak lama penutup dada tersebut menyusul lepas, memamerkan ketelanjangannya dalam kegelapan. Yessy mencoba menutupi ketelanjangan dadanya dengan bantal. Tetapi tak menyia – nyiakan waktu lagi segera bibir berkumis tersebut mengulum dan menjilat puncak dada Yessy bergantian kiri dan kanan. Kadang hisapan disertai kuluman menerpa puncak dada yang memerah tersebut.

Sementara itu jari Murad telah berada di pertemuan kedua paha Yessy. Merabai kebasahannya dan kehangatannya. Kadang menyelinap ke balik kain tipis yang menutupinya. Merabai kehangatan kewanitaannya dengan intens. Dengan sedikit tarikan carik kain tipis tersebut menyusul bra yang telah terlepas lebih dahulu. Praktis Yessy telah telanjang..!!!

Murad bangkit dan melepaskan semua pakaiannya. Lalu kembali rebah mencumbui apa yang telah di mulainya tadi. Yessy masih berusaha merapatkan kedua kakinya, mencoba agar lelaki tersebut tak dapat meneruskan niatnya.

“Lebih baik ibu bekerjasama…, agar tak terjadi hal – hal yang lebih fatal..”bisik Murad. Yessy mengerti akan akibatnya dan mulai membuka kedua kakinya. Dengan perlahan Muradpun naik menelungkupi tubuh putih tersebut. Disibakkannya kedua kaki Yessy agar ia dapat merapatkan pinggulnya. Dan Murad pun bergerak…

Diiringi linangan air mata Yessy, perlahan kepala kejantanan Murad yang telah siap sedari tadi mulai membelah lepitan kewanitaan yang telah basah tersebut, perlahan terrusa maju hingga amblas dalam liang hangat kewanitaan Yessy. Tak ada lagi yang bisa di pertahankannya. Semuanya telah terenggut darinya. Kesetiaanya pada suami telah ternoda.

Kini Murad bergerak naik turun diatas tubuh sintal yang menggairahkan tersebut. Memacu nafsunya sendiri. Yessy hanya bisa diam dengan tubuh yang bergoyang – goyang. Merasakan betapa batang pejal milik Murad keluar masuk pada kewanitaannya. Menghujam tak henti-henti. Keringat Murad telah bersimbah di sana sini, tapi belum juga ia merasa lelah ataupun selesai. Yessy merasakan persetubuhan yang dialaminya saat ini sangatlah berbeda sekali dengan yang dialaminya bersama suaminya. Tubuhnya pun terbakar dalam nafsu Hunjaman batang pejal Murad pada kewanitaannya mau tak mau dirasakannya sebagai siraman batang hangat.

Klimaks telah dicapai Yessy. Tapi Murad masih tetap bergerak diatas tubuhnya. Memompa segenap birahinya pada wanita muda yang cantik itu. Tak lama kemudian Murad bergerak makin cepat. Diiringi dengus nafas yang juga makin memburu. Hingga….

Dengan satu hunjaman kuat Murad mengejang. Tubuhnya tersentak – sentak. Diiringi semburan demi semburan hangat memancur keluar dari batang kejantanannya, menyirami kebasahan di dalam kewanitaan Yessy. Lalu tubuhnya menggelosoh ke samping Yessy. Mereka terdiam dalam pikiran dan perasaan masing-masing.

Yessy merasakan tubuhnya sangat capai dan tulang-tulangnya serasa di lolosi. Betapa hancur perasaan dan harga diri Yessy saat itu. Ia merasa sangat kotor dan berdosa. Malam itu Murad kembali mengulangi hal yang serupa tanpa adanya penolakan dari Yessy…
—————————————-

Part 2

Minggu ini Yessy merasa kesal. Keinginannya ingin bertemu suami sirna setelah menerima telepon dari suaminya yang tengah berada di Kendari. Suaminya begitu larut dalam pekerjaannya sehingga telah hampir 3 bulan ini mereka tidak bertemu. Kenyataan bahwa dirinya telah ternoda sangat menghancurkan mentalnya.

Saat itu Yessy tengah berada di rumahnya. Hari itu adalah hari Sabtu. Sama seprti kantor lainnya hari tersebut ia libur. Perasaan kesalnya sangatlah memuncak. Tiba-tiba Hpnya berdering.

“Halo…., ooo Pak Murad” jawab Yessy.
Lalu ia terlibat pembicaraan serius di telefon tersebut. Kadang-kadang ia tertawa kecil. Dan tak lama kemudian.
“Oke saya tunggu………”tutupnya.

Setelah diam sejenak, langsung ia menuju kamarnya. Dan dengan cepat pula wanita cantik itu berganti pakaian. Mengenakan celana jeans dan kaos ketat membalut tubuh indahnya. Saat mengoleskan lipstik tipis pada pada bibir ranumnya, deru sepeda motor yang telah di kenalnya terdengar makin mendekat.

Sambil tersenyum ia melangkah ke luar kamarnya. Membuka pintu rumahnya… dan sebuah wajah simpatik yang telah mengisi hari – harinya muncul dengan sebuah senyuman pada wajah berkumis tipis tersebut.

“Udah siap……..?”tanyanya ramah sambil melangkah masuk.
“Udah…, berangkat langsung aja ya…?”ajak Yessy.
“ayok……..”sahutnya sambil kembali ke luar pintu.

Setelah mengunci pintu rumanya, segera Yessy naik di atas sepeda motor yang telah siap tersebut. Segera mereka meluncur membelah kota Pekanbaru siang itu.

Yessy siang itu terlihat segar dan cantik, pakaian yang membungkus tubuhnya serasi dengan dandanan tipis yang dikenakannya, berikut dengan rambutnya yang dikucir saja. Saat itu yang ada hanyalah keinginan bagaimana caranya agar kekesalan hatinya terobati. Hanya Murad yang dikenalnya cukup dekat di kota tersebut, meskipun untuk itu dirinya sampai terjebak yang berakhir pada persetubuhan yang sangat di sesalinya beberapa waktu yang lalu. Tapi nasi telah jadi bubur…

Sepeda motor tersebut melaju dengan santai dan tidak terlalu cepat. Sesuai dengan keinginan hatinya untuk menghilangkan kekesalan hatinya, sepeda motor tersebut meluncur ke arah kota Bangkinang. Awalnya mereka singgah makan siang pada sebuah restoran yang ada di peinggir jalan. Restorannya tidaklah besar tapi cukup bersih. Mereka makan dengan lahap karena waktunya makan siang telah lewat. Kembali mereka berangkat setelah mengaso sebentar.

Sesampainya di Bangkinang, Murad mengarahkan sepeda motornya pada sebuah rumah. Mereka mampir disana. Yang ternyata adalah temannya Murad. Yessy diperkenalkan pada isteri temannya di sana. Tak lama mereka berada di sana, dan kembali mereka meluncur membelah kota yang panas tersebut dengan sepeda motor. Hari telah mulai sore…

“Yessy ..kita mampir di hotel dulu ya….?”ujar Murad di tengah lajunya sepeda motor mereka.
“Untuk apa….., lebih baik kita pulang saja…”sahut Yessy.
“Aku capek mengemudikan sepeda motor…, kita istirahat saja sebentar..”ujar Murad lagi.
“Ah ga….., kita pulang saja..”ucap Yessy keberatan.
“Ya kamu pulang saja sendirian.., aku mau istirahat dulu..”ujar Murad tegas. Yessy berpikir sejenak. Tidaklah mungkin ia pulang ke Pekanbaru sendirian. Toh juga ia bersama Murad, orang yang cukup dekat dengan dia..
“Baiklah tapi jangan macam-macam…”ancam Yessy.

Sepeda motor mereka masuk ke sebuah hotel. Setelah mengikuti prosedur sebagaiman lazimnya. Mereka sampai di sebuah kamar yang ber-AC. Murad segera merebahkan dirinya di atas ranjang empuk tersebut. Sedangkan Yessy duduk di kursi yang tersedia dalam ruangan tersebut.

“Sini dong bu….., tolong pijitin saya, cape banget rasanya hari ini..”ucap Murad seraya bangkit dan menepuk – nepuk bahunya. Kemeja dan celana panjangnya telah lepas dan hanya mengenakan celana pendek.

Yessy segera mendekat, sudah tak ada sungkan lagi pada dirinya setelah kejadian beberapa saat lalu. Telah dua kali kesempatan sejak persetubuhan mereka yang pertama Murad berhasil menggaulinya. Dirinya sendiri sudah merasa hancur segalanya. Seorang wanita, menurutnya seperti ibaratnya durian, diluarnya tajam tetapi kalau telah terbuka sangatlah lunak. Ia tak dapat lagi menolak atau menghindari dan tak merasa perlu untuk menolak atau menghindar. Memang selama ini Yessy selalu berusaha untuk mengalihkan niatnya Murad tetapi selalu gagal dan gagal lagi..

Dengan jemari lentiknya Yessy memijat bagian belakang kepala dan bahu Murad. Yessy dalam posisi duduk di belakang Murad terus melakukan pijatan – pijatan. Awalnya Murad merasakan pijatan Yessy sangatlah nyaman dan sedikit membantu menghilangkan kepenatannya. Tetapi mungkin karena tenaga wanita itu lemah, Murad kadang menunjukkan dengan tangannya bagian mana yang harus di pijat.

Kadang sambil berlaku demikian tangan kanan Murad menggenggam paha Yessy yang terbalut jeans. Merabanya perlahan dan lembut. Terasa oleh Yessy aliran hangat mengalir dari tangan lelaki tersebut menembus jeansnya. Yessy menepisnya. Murad tidak meneruskan aksinya. Dan Yessy terus memijat pada bahu dan belakang kepala lelaki kepala keamanan tersebut.

Kembali tangan Murad bergerak, mengelus dan meraba paha langsing wanita muda tersebut. Yessy yang telah bosan menepis mendiamkan saja tangan tersebut bergerak pada sepanjang batang pahanya. Aliran rasa nikmat mulai timbul saat lelaki tersebut merabanya.

“sudah ah…..aku capai…”ujar Yessy sembari melepaskan tangannya. Tangannya telah lelah karena memijat bahu dan belakang kepala lelaki tersebut. Apalgi otot tubuh lelaki tersebut keras karena terbiasa berolahraga.

Tanpa di minta Murad berbalik. Kini ia yang gantian memijat bahu Yessy. Pijatan terasa sangat nyaman bagi wanita muda tersebut. Yessy diam dan menikmati pijatan yang dilakukan lelaki tersebut. Rasa capainya selama di perjalanan sedikit terobat. Tetapi Murad tak hanya memijat, kadang tangannya mengelus dan meraba bahu yang telanjang tersebut., hingga belakang telinga wanita bertubuh langsing tersebut.

“Ufhh…….”keluh Yessy merasakan elusan tersebut mulai memancing gairahnya. Murad tak berhenti. Bibir berkumisnya kadang singgah pada bahu telanjang tersebut. Menjilat dan mengecupnya.
“Buka saja deh bajumu…..”pinta Murad.
“Jangan pak…..”sahut Yessy.
“Buka saja biar aku memijatnya lebih leluasa….”pinta Murad kembali. Akhirnya dengan sedikit rasa enggan kaos ketatnya meluncur lepas melalui kepalanya, meninggalkan tubuh pemakainya. Segera terbentang di depan Murad bahu dan punngung telanjang wanita cantik tersebut.

Kini Murad kembali mendekati leher telanjang tersenut. Mengecup dan menjilatinya dengan perlahan. Lidah kasapnya merasakan setiap pori wanita cantik tersebut mengembang. Lidahnya meluncur naik keatas menemukan telinga lancip. Menjilati dengan lembut belakang telinga di sana. Segera Yessy merasakan setiap porinya terbuka. Berdiri setiap rambut-rambut halus yang berada disana. Bergantian bagian belakang telinga kiri dan kanan tak tertinggal kan oleh lelaki berkumis tersebut. Yessy hanya dapat mengeluh

“Uhh……….”keluhannya terdengar lirih.

Kini bibir berkumis tersebuit meluncur kesamping, menjelajahi garis rahang wanita cantik tersebut, terus ke depan dan akhirnya menjumpai bibir ranum yang tersaput gincu tipis. Langsung saja bibir ranum memerah tersebut mendapat kecupan yang bertubi-tubi. Kadang Murad menghisap dan melumat bibir lembut tersebut. Sedangkan kedua tangannya tengah berada pada kait bra milik Yessy. Tak lama bra tersebut ikut menyusul kaosnya yang terserak di lantai.

Murad segera membalikkan badannya. Kini mereka berhadapan. Kembali bibir ranum tersebut menjadi sasaran bibir berkumis lelaki gagah tersebut. Menghisap, melumatnya dengan perlahan. Lidah kasap milik Murad menerobos sela-sela gigi yang berbaris rapi tersebut, memaksanya membuka. Dan akhirnya lidah tersebut menjelajahi setiap mili bagian dalam mulut Yessy, menggoda lidah lancip wanita cantik tersebut. Rasa gelora mulai terbit oleh aksinya Murad. Dan Yessy pun mulai membalas setiap gerakan lidah milik lelaki tersebut. Dengan mata terpejam lidah Yessy mengimbangi setiap gerakan lidah lelaki itu. hingga saling belit di dalam kebasahan mulutnya.

Kedua tanggannya merangkul ke belakang leher Murad. Sementara itu kedua telapak tangan Murad bermain di dadanya. Meremas dan meraba kedua bukit mulus didadanya. Kadang memijit putiknya yang berwarna merah kecoklatan tersebut.

“Ahh……………..”desah Yessy mulai terdengar lebih sering, diantara kecipak bibir mereka. Rasanya sekarang tak bisa lagi menghindar karena birahinya sudah mulai terpicu oleh cumbuan Murad.

Kedua tangan Murad yang tadinya berada pada dada Yessy perlahan turun, menyusuri perut rata , terus ke bawah menemukan garis pinggangya yang terbalut jeans. Setelah melepaskan kancingnya dan menarik ritsnya kedua tangan Murad menarik lepas celana jeans tersebut dengan perlahan. Yessy membantu dengan mengangkat pinggulnya. Dan akhirnya jeans tersebut bernasib sama dengan pakaian lainnya. Terserak di lantai meninggalkan tubuh pemakainya.

Praktis kini Yessy tergolek di ranjang tersebut mengenakan secarik kain yang menutupi selangkangannya. Menatap Murad yang kini ikut berbaring disebelah kanannya dengan tatapan bergairah. Nafsunya telah terbangkitkan. Kembali Murad menjelajahi bibir ranum milik wanita muda tersebut dengan tekun. Sementara tangan kanannya meraba dan memijit bergantian pada kedua bukit yang membusung di dada Yessy. Kadang memilin putiknya dengan gemas.

“Uhh………”desah Yessy sambil memejamkan matanya. Rasa nikmat yang timbul membutakan hatinya. Yang ada dalam pikirannya adalah permainan ini harus di tuntaskan. Dan yang menuntaskan adalah yang memulainya.. dan juga karena ia tau bahwa lelaki yang tengah menggeluti tubuh indahnya akan dapat mengobati dahaganya. Telah ia rasakan bagaimana lelaki gagah tersebut dapat membuatnya melayang ke alam surga.

Tangan Murad kini menyusuri perut yang rata milik wanita muda tersebut. Merasakan setiap gerakannya menimbulkan erangan dan desahan yang membuatnya makin bersemangat. Tangannya terus turun menemukan karet pakaian dalam yang masih melekat di pertemuan kedua paha wanita cantik tersebut. Meraba dengan perlahan pada garis karet tersebut. Dan tanpa dapat di cegah oleh Yessy jari tangan tersebut menyelinap terus ke bawah, menemukan kehangatan di balik rambut halus yang berada disana. Merabai kehangatan yang timbul disana.

“Ahh…………”desah Yessy seraya menggelinjang. Kedua bola matanya mendelik saat jari tangan Murad meraba lepitan kewanitaannya. Menyelusuri belahannya dengan jari tengahnya. Bolak balik jarinya bergerak. Dan setiap gerakan yang perlahan tersebut menimbulkan lecutan-lecutan gairah yang makin menggelora mendera wanita cantik tersebut. Tepat pada benda sebesar kacang tanah di sana jarinya Murad membelai dan mengelusnya dengan intens. Kebasahan mulai timbul pada lepitan tersebut tetapi Murad tak menghentikan gerakannya. Jarinya seolah mempunyai mata untuk tau bagian mana yang dapat membuat Yessy makin bergairah.

Jari tersebut kembali ke atas, meraih karet kain pembungkus pertemuan paha Yessy yang telah basah di sana sini. Menariknya perlahan. Yessy berusaha mencegahnya dengan merapatkan kedua pahanya dan memegangi tangan Murad. Tetapi Murad terus menariknya dan akhirnya Yessy mengalah pada nafsunya dan keinginan Murad. Carik kain terakhir tersebut jatuh ke lantai. Yessy kini telanjang…!!!

Kembali kini jari tangan Murad beraksi pada lepitan kewanitaan Yessy. Meraba dan mengelus lepitan di pertemuan pahanya dengan tekun. Yessy hanya bisa menggeliat-geliat. Tubuhnya telah terbakar.

“Ohh………”Rintih Yessy sambil mendelik. Saat jari Murad mulai masuk pada kewanitaannya. Menyelusuri bagian dalam yang lembut dan telah basah tersebut. Meluncur makin dalam… dan mengorek-ngorek setiap dinding yang telah lembab tersebut berkali-kali. Yessy hanya bisa melentingkan tubuh indahnya dalam deraan nikmat yang diberikan oleh jari Murad.

Sambil memperlakukan Yessy demikian. Tangan kiri Murad meloloskan celana pendek yang dikenakannya. Sehingga kini kedua tubuh yang telah bersimbah keringat tersebut telanjang dalamkeremangan cahaya lampu kamar.

Yessy merasakan telah sampai pada saatnya hendak melepaskan seluruh nafsunya saat Murad bergerak. Dia membuka kedua kakinya ke samping saat Murad merayap naik diantara kedua kakinya. Dia mengetahui bahwa saatnya permainan yang sebenarnya akan dimulai oleh Murad.

Dengan bertelekan pada kedua tangannya Murad menempatkan kepala batang pejal miliknya yang telah tegak sempurna di permukaan lepitan kewanitaan Yessy. Mengambil napas sejenak dan… mulai mendorong…

Perlahan batang tegar tersebut menyibakkan lepitan kewanitaan Yessy yang telah basah tersebut. Murad terus mendorong pinggulnya dengan perlahan. Batang tegar tersebut meluncur memaksa otot kewanitaan Yessy membuka memberikan ruang untuk dirinya. Terus meluncur merasakan setiap mili dinding dalam kewanitaan tersebut telah basah dan siap menerima hingga terbenamlah seluruhnya didalam kewanitaan Yessy.

“Ahh…”Yessy merintih lirih. Tubuhnya menggeliat dan bola matanya kembali mendelik hingga yang terlihat hanya bagian putihnya saja. Terasa olehnya betapa batang tersebut begitu hangat dan kaku. Menyebarkan panas pada dinding kewanitaannya. Murad diam sejenak.

Naluriah kedua tangan Yessy memeluk leher lelaki gagah tersebut. Murad memandang wajah cantik yang berkeringat tersebut. Mulai mengangkat pinggul tegapnya, menarik dengan perlahan batang pejalnya. Yessy menahan napas saat tarikan itu terjadi. Gesekan yang timbul oleh batang tegar milik Murad terasa menggerus setiap mili dinding lembut di dalam kewanitaannya, memijit setiap tombol syaraf gairahnya, mengaktifkan setiap pembuluh nafsunya. Dan kembali Murad turun dengan perlahan. Meluncurkan kembali batang pejalnya menusuk masuk. Yessy makin terbeliak-beliak dengan mulut menganga.

Gerakan Murad perlahan tapi pasti makin cepat. Tubuh tegapnya bergerak konstan di tas tubuh mulus wanita cantik tersebut. Gairah Yessy yang telah di ujung batas dengan cepat melejit, berlarian di kepalanya menuju garis akhir. Akhirnya..

Pandangan Yessy menjadi gelap, dan dalam kegelapan tersebut sebuah rasa yang telah dikenalnya muncul. Mengalir dari kewanitaannya.., memencar melalui seluruh pembuluh tubuhnya, mengali pada sumsum tulang belakangnya naik ke kepala.

“Ahhh……..”erang Yessy dengan melentingkan tubuhnya saat klimaks datang menghampirinya. Membawanya melambung pada awan berwarna warni. Menerbangkan emosinya seringan kapas. Bola matanya hanya terlihat bagian putihnya saja. Rasa nikmat tersebut begitu indahnya membuat segenap tulang-tulang tubuhnya serasa berlepasan. Otot – otot kewanitaanya bergerak peristaltik seolah memijat-mijat batang tegar Murad yang berada di dalamnya.

Sementara Murad terus mengayunkan pinggul tegapnya. Mendorong keluar masuk batang pejalnya dalam kewanitaan Yessy. Tubuh tegapnya telah bersimbah keringat, menetes jatuh pada tubuh wanita cantik yang tengah menggeliat-geliat dibawahnya. Hujaman batang tegarnya tak kenal lelah terus mendera setiap syaraf birahi dalam kewanitaan Yessy.

Rasa yang di alami Yessy berulang kembali, tak terhentikan olehnya gerakan Murad karena ia juga menginginkan setiap siraman gairah lelaki tegap tersebut. Dahaganya harus di penuhi. Rintihan dan erangan Yessy meningkahi setiap gerakan naik turun Murad. Tak ada keinginan untuk berganti posisi karena dengan kondisi saat itu telah cukup membuat mereka meradang dan mengejang.

Dan akhirnya ..
“Aaaa…………..”erang Yessy saat mencapai kembali klimaksnya. Tubuh indahnya melejit-lejit di bawah lelaki tegap tersebut. Melentingkan tubuhnya bak busur panas saat gelombang demi gelombang menyeretnya dalam pusaran birahi. Kembali menerbangkan perasaannya dalam kekosongan. Dan menenggelamkannya pada palung samudera bergelora yang paling dalam.
“Arrgghh……….”geram Murad seraya menyentakkan tubuhnya. Membenamkan batang pejalnya sedalam-dalamnya pada liang kewanitaan Yessy, merasakan betapa otot-otot kewanitan wanita muda tersebut memijat – mijat seolah memeras isi batang kejantanannya. Aliran panas seolah mengalir di sepanjang sumsum tulang belakangnya, menderu menuju pinggulnya, berkejaran dalam setiap pembuluh batang kejantanannya menuju pelepasannya. Berpancuran dengan deras keluar membasahi setiap benda yang berada di sekelilingnya. Beberapa kali cairan hangat tersebut memancur tersentak-sentak seiring tubuh tegapnya yang berkejat-kejat.

Tubuh tegap Murad jatuh menggelosoh di atas tubuh Yessy, merebah kesamping dalam keletihan dan kenikmatan yang begitu dahsyat. Keheningan seolah-olah menjadi penghuni baru di ruangan kamar tersebut. Mereka berdua diam menikmati rasa yang masih tersisa. Yessy masih memejamkan matanya meresapi persetubuhan yang sangat bergelora kali ini. Tubuhnya sangat letih dan tulang-tulangnya serasa di lolosi. Tak pernah ia rasakan hal yang seoerti ini sebelumnya. Wajahnya memerah dengan batin yang sangat puas. Tak di pedulikannya lagi kekesalan akibat tak bisa bertemu dengan suaminya. Telah terobati oleh keperkasaan Murad kali ini.

Tak dirasakannnya lagi sakit seperti yang dialaminya beberapa kesempatan yang lalu bersama Murad. Dan mereka mengulangi kembali persetubuhan yang bergelora tersebut beberapa saat kemudian. Akhirnya Mereka tertidur dalam ketelanjangan berbalut selimut di kamar tersebut…

by: Nabirong X

Satu Tanggapan ke “Yessy: Hancurnya Kesetiaan”

  1. di/pada Juni 24, 2008 pada 6:15 am fransiskus sianipar
    bagus ceritanya, tapi kurang detail dalam mengungkapkan emosi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar