Rumah Baru KisahBB

Setelah 2x ga diterima di Wordpress sehubungan penjualan DVD, Shusaku akhirnya memutuskan memindahkan blog cerita seru KisahBB kesayangan kita ke sini.

kirim cerita karya anda atau orderan DVD ke:


Order via email: mr_shusaku@yahoo.com


tuliskan: nama, alamat jelas, nomor HP, dan list barang yang diinginkan di email pemesanan


email akan segera saya balas dengan rincian harga & no ac bank bca/mandiri unk transfer. barang akan dikirim dengan tiki/pos setelah konfirmasi transfer diterima.

Promo diskon gede-gedean

Paket istimewa 500rb (50dvd),

untuk dalam Pulau Jawa free ongkos kirim, untuk luar Pulau Jawa tergantung daerah.

Harga normal Rp 15rb/dvd kalau beli banyak Rp.12.500/dvd, untuk paket kali ini jatuhnya Rp. 10rb/dvd, murah banget!!


Tapi ini terbatas hanya untuk 10 orang saja.

jadi silakan order, bisa dilihat list barang di

- list semi & softcore

- list western xxx

- list jav


untuk pemesanan email ke mr_shusaku@yahoo.com

Subject: paket istimewa 500rb

tuliskan: nama, alamat jelas, nomor HP, dan list barang yang diinginkan di email pemesanan

email akan segera saya balas dengan rincian harga & no ac bank bca/mandiri unk transfer. barang akan dikirim dengan tiki/pos setelah konfirmasi transfer diterima.


-untuk pesanan di atas 50dvd, selanjutnya dihitung @Rp.10.000,-

-hanya untuk film2 satuan (JAV, western XXX, dan Semi), tidak berlaku untuk koleksi pics & kompilasi

Jumat, 22 Juli 2011

Nafsu Rinelda

Juli 12, 2007

Cerita ku ini bermula ketika aku sedang memenuhi panggilan
interview pekerjaan di pusat kota Surabaya, meski lulusan
sebuah perguruan tinggi yang cukup ternama di Malang namun
berpuluh kali aku mengikuti interview namun tak satu pun
mengangkatku menjadi salah satu pegawainya.
Aku menginap di rumah tetangga kampung yang pindah ke Surabaya
namun sudah ku anggap saudara sendiri karena mereka cukup baik
pada keluargaku dan sudah kuanggap sebagai keluarga dan aku
memanggil mereka PakDhe dan BuDhe, hari itu kebetulan aku
sedang mengikuti interview di hotel Tunjungan Plasa Surabaya.

Oh ya.. namaku Rinelda. 24 tahun. Aku pernah menjadi Finalis
Putri sebuah kontes kecantikan di malang, Aku pernah menikah
tapi belum mempunyai anak karena usia perkawinanku baru
berjalan 4 bulan dan sudah 3 bulan ini menjanda karena suamiku
sangat pencemburu akhirnya ia menceraikan aku dengan alasan
aku terlalu mudah bergaul dan gampang di ajak teman
laki-lakiku.

Dari teman dan suami aku mendapat pujian bahwa aku cantik,
tubuh yang cukup sintal dengan tinggi 173 cm mulus dan 2
bongkahan Susu yang tak terlalu gede tapi untuk ukuran seorang
janda tak mengecewakanlah, cocok dengan body ku yang cukup
atletis. Soal sexs, dulu setiap ber “ah-uh” dengan suamiku aku
merasa kurang, mungkin karena gairah sex yang kumiliki sangat
kuat sehingga kadang-kadang suamiku yang merasa tak mampu
memuaskan tempikku, meski aku bisa orgasme tetapi masih kurang
puas!

Kulihat jam di tangan ku sudah menunjukan pukul 16.15 menit,
aku sedikit dongkol karena seharusnya aku sudah dipanggil
sejak pukul 15.00 tadi, padahal aku sudah datang sejak pukul
14.30 tadi. “He..eh” aku pun Cuma bisa menggerutu sambil
mencoba untuk memahami bahwa aku butuh kerja untuk saat ini.

“Hallo!” suara perempuan mengagetkan ku dari lamunan.
“Ya !” jawabku sambil berdiri. Sejurus aku memandang kearah
perempuan itu, Cantik!
“Nona Rinelda ?” dia bertanya sambilmengulurkan tangan
mempersilahkan aku kembali duduk.

Beberapa saat kami berbicara dan ku tahu namanya adalah Rifda,
dia memakai jam gede di tangan kanannya, dengan nama dan
pakaian yang lumayan seksi mengingatkan ku pada teman SMP ku
di Malang, ternyata dia mengaku seorang pengusaha yang
memiliki banyak perusahaan dan sedang mencari model, setelah
berbicara tentang diriku panjang lebar akhirnya dia berkata
bahwa aku cocok untuk menjadi salah satu Modelnya. Akhirnya
aku mendapatkan kepastian esok hari aku akan bekerja, aku pun
berjalan pulang dengan langkah seolah lebih ringan dari
biasanya.

Sesampainya di jalan sebelum rumahku , sekedar anda tahu bahwa
sejak aku mencari kerja aku tinggal di rumah BuDhe Tatik
saudara dari Ibu ku. Ada beberapa anak muda bergerombol,
ketika aku lewat di depannya, mereka menatapku dengan mata
yang seolah-olah mengikuti gerakan pantatku yang kata
teman-teman ku memng mengundang mata lelaki untuk meremas dan
mendekapnya.
“Wuih, kalau aku jadi suaminya ga tak bolehin dia pake celana
dalam !” Ucap salah satu dari mereka namun terdengar jelas di
telingaku.
“Rai mu ngacengan!” timpal temannya, disambut tawa teman-teman
lainya.

Sampai di rumah pukul 18.30. aku langsung mandi untuk mengusir
kepenatan dan panas yang hari itu kurasa sangat menyengat.
“Gimana hasil kamu hari ini Rin?” ku dengar suara BuDhe Tatik
dari dalam kamarnya.
“Besok aku sudah mulai kerja BuDhe” jawabku.” kerja yang benar
jangan melawan sama atasan terima saja perintah atasan karena
mencari pekerjaan itu sulit dan yang penting kamu suka dan
menikmati apa yang kamu kerjakan” kata-kata dan wejangan dari
orang tua pada umumnya namun ada poin tertentu yang terasa
ganjil menurutku. Sosok BuDhe Tatik adalah Wanita yang dalam
berbicara cukup seronok apalagi jika berbicara dengan pemuda
di kampungnya sekitar 38 tahun an, cukup seksi dalam
penampilannya, suaminya adalah seorang PNS di KMS, dia pun
juga tak kalah ngawur kalau berbicara yang berbau saru dengan
BuDhe atau teman-temannya. Tak berapa lama setelah ngobrol aku
pun beranjak ke kamar,

Kamarku sendiri adalah bekas ruang tamu yang dipasang sekat
dari triplek. Sekitar pukul 22.30 an aku mendengar suara aneh
bercampur derit kursi seperti didongong atau ditarik
berulang-ulang dari ruang tamu depan kamarku persis, sejenak
kuperhatikan secara seksama suara tersebut dan aku penasaran
dengan suara tersebut.

Sedikit kubuka pintu kamarku, betapa kaget setelah mengetahui
BuDhe sedang duduk di kursi sambil mengakangkan kakinya
sementara PakDhe di depannya sambil memegang kedua kaki BuDhe
pada pundak sedangkan pantat nya bergerak maju mundur..

“Och…u..o..” suara yang keluar dari mulut BuDhe. Seolah
menikmati apa yang dilakukan oleh suaminya, badanku terasa
panas dan pikiran yang tak tahu harus bagaimana karena baru
kali ini aku benar-benar melihat hal ini live di depan mataku.
Selama kurang lebih 10 menit kedua orang itu melakukan sambil
duduk akhirnya PakDhe menarik kontolnya dari dalam Tempik
BuDhe, Yak ampun ternyata kontol nya lumayan gede lebih gede
dari pada milik mantan suamiku yang biasa mengocok isi
tempikku, akhir-akhir ini aku sering nonton BF saat PakDhe dan
Budhe sedang kerja, pernah sekali aku hampir kepergok oleh
PakDhe saat aku sedang nonton BF sambil mempermainkan liang
nikmatku, namun ternyata PakDhe tidak peduli dan mungkin
mengetahui bahwa aku seorang wanita yang butuh kesenangan pada
salah satu bagian tubuhku, namun saat itu PakDhe hanya
tersenyum sambil mengambil sesuatu dari dalam kamarnya yang
mungkin tertinggal dan segera pergi lagi.

Kusaksikan BuDhe mengambil posisi menungging dengan kedua
tangan nya memegang kursi di hadapannya “ayo mas cepet keburu
tempiknya kering” pinta BuDhe dengan suara yang pelan mungkin
agar orang luar tidak mendengar dan mengetahui tapi
kenyataanya aku malah menyaksikan dan memperhatikan secara
detil apa yang mereka perbuat. Kulihat kali ini PakDhe
mengeloco kontolnya sebelum dimasukkan ke tempik yang sudah
minta di jejeli tersebut.

“Ach…ack…sh” suara yang keluar dari mulut laki-laki tersebut.
akhirnya kulihat lagi adegan itu dari belakang karena mereka
menmbelakangi kamarku. Ada yang berdenyut pada tempikku tanpa
terasa tangan ku masuk ke dalam celana dalam yang kupakai, ku
tekan pada itilnya “ahk” terasa geli dan benar terangsang
tempikku kali ini. Aku tersenyum mendapatkan pengalaman ini.
“Tempikmu… ue.nak .Tik pe… res… kontol ku” kata kata
terputus dari Pakdhe seolah tak kuasa menahan nikmat yang
dirasakannya.
“Lebih cepat… mas… cep… at!” BuDhe pun seakan
mengharapkan serangan dari suaminya lebih hebat lagi.
“A… ach… aku keluar ma… s!” suara BuDhe terdengar
setengah berteriak.Wanita itu terlihat melemas tapi PakDhe
tetap menggenjot dengan lebih giat kali ini tangan nya
memegang pantat BuDhe yang bulat mulus itu dan akhirnya
laki-laki itupun menekan kontolnya lebih dalam kearah tempik
didepannya tersebut. Sambil menahan sesuatu. Ketika
konsentrasiku tertuju pada kontol dan tempik yang sedang
beradu tersebut tanpa kusadari sambil digenjot BuDhe menoleh
ke arah pintu kamarku dan tersenyum, “hek” aku kaget setengah
mati segera ku tutup pelan-pelan pintu kamar dan kembali ke
tempat tidurku, beribu pikiran menyeruak dalam benakku antara
bingung dan takut karena mungkin kepergok saat mengintip tadi.
Aku kecewa karena tidak melihat bagaimana raut muka PakDhe
ketika mencapai puncak kepuasan.

Terasa ada yang basah di selangkanganku saat aku menyaksikan
adegan tadi, “yah aku terangsang” terakhir kali aku merasakan
nikmatnya berburu nafsu dengan suamiku adalah hampir 4 bulan
yang lalu.

Memang aku mudah terangsang jika melihat hal-hal yang berbau
porno. Sering kali aku melakukan masturbasi dengan
membayangkan laki-laki yang kekar dan memiliki batang kontol
yang kokoh tegak berdiri dan akhirnya aku memasukkan sesuatu
ke dalam tempikku yang seolah lapar akan terjangan kontol
laki-laki, tapi terkadang aku merasa ada yang kurang dan
memang aku butuh kontol yang sebenarnya, Tanpa kupungkiri aku
butuh yang satu itu. Kulihat jam didinding kamarku menunjukan
pukul 11.35, ya ampun besiok aku kan mulai kerja! Sialan
gara-gara kontol dan tempik perang diruang tamu akhirnya aku
tidur kemalaman! Emang dikamar kurang luas apa? “ah sialan!”
umpatku dalam hati.

Pukul 04.30 aku terbangun, ketika akan membuka pintu kamar aku
teringat akan kejadian yang baru aku saksikan semalam,
pelan-pelan kubuka ternyata tak kulihat orang diluar, aku
langsung menuju dapur untuk memulai aktivitas pagi, terkadang
aku harus membantu memasakkan sarapan pagi dan menyapu lantai
sebelum menjalankan altivitasku sendiri, aku merasa adalah
suatu vyang lumrah karena aku menumpang disini.

Aku berjalan melewati depan pintu kamar BuDhe yang terbuka
lebar, sekali lagi aku terhenyak kali ini aku menyaksikan dua
orang sedang tidur tanpa memakai baju sama sekali, kulihat
senyum di bibir Budhe Tatik, tanda kepuasan atas perlakuan
suaminya tadi malam mungkin.

Di kamar mandi aku kembali memikirkan kejadian semalam yang
membuatku “terus terang cukup terangsang” apalagi jika
mengingat kontol yang gede milik PakDhe. “ahh” rupanya tangan
ku sudah berada di sela-sela pahaku yang mulus dan bulu hitam
yang tampak olehku cukup lebat meski tak terlalu banyak
diantara garis melintang ditengahnya, tiba-tiba nafasku
berburu kala kuteruskan untuk menggosok bagian atasnya,
“sialan!” pikirku dalam hati. Kusiram tubuhku untuk mengusir
nafsu yang mulai mengusik alam pikiran ku.

Sebelum berangkat kerja di hari pertamaku, kusempatkan untuk
sarapan pagi siapa tahu nanti aku harus kerja keras di kantor.

“Jaga diri baik-baik Rin” kata BuDhe sambil menepuk pundakku,
“Eh.. iya.. BuDhe Rinel tahu kok” kataku sambil ngangguk.
Kulihat BuDhe baru keluar kamar dengan mengenakan handuk pada
bagian susu sampai atas lulutnya wajahnya tampak masih berseri
meskipun tampak kecapean.
“Edan udah jam 7!” pekikku dalam hati.
“BuDhe aku berangkat dulu” pamit ku.
“Yo ati-ati Nduk ingat ikuti dengan baik perintah atasan
lakukan dengan baik tanpa banyak kesalahan” katanya sambil
tersenyum padaku, senyum itu penuh makna sama seperti tadi
malam.
“Enggeh BuDhe… ” aku pun keluar rumah menuju tempat kerjaku
yang baru.

Dari depan kantor itu aku berjalan menuju pos sekuriti,
“Permisi” aku mendekati seorang sekuriti,
“Ada yang bias saya Bantu mbak?” Tanya nya dengan sopan. Tubuh
yang lumayan atletis tangan yang kekar serta tonjolan di bawah
perutnya cukup menantang dibalut celana yang agak ketat di
bagian pahanya.
“Ruangan Ibu Rifda dimana ya?” tanyaku.
“Bu Rifda Miranti? pasti sampeyan mbak Rinelda!” terlihat
senyum dibibirnya masih dengan ramah dan sopan. Aku cuma
mengangguk.
“Tunggu sebentar mbak” sambil mengangkat intercom di depannya,
ketika dia berbicara dengan seseorang aku melihat suasana
sekeliling “Kok sepi ya?” tanyaku dalam hati.
“Sebentar lagi karyawan Ibu Rifda akan menemui mbak, silahkan
menunggu” katanya sambil menunjuk kursi sofa di tengah ruangan
yang cukup besar. Ketika aku baru akan meletakkan pantatku aku
melihat sesuatu yang ganjil di lingkungan perkantoran ini, tak
terlalu banyak orang yang biasa ada pada sebuah perkantoran,
kuperhatikan sekuriti tadi kulihat dia berbicara dengan
temannya tersenyum-senyum sambil memandang kearahku, tak
berapa lama kudengar namaku dipanggil seorang wanita
“Rinelda?”
“Saya” jawabku sambil memalingkan muka kea rah datangnya suara
tadi,
“Hai, kamu mau kerja disini?” tanyanya lagi.
“Lho Agatha, kamu kerja disini ya?” kataku sambil kenbali
bertanya
“Tadi aku disuruh sama bu Rifda untuk menemui kamu, ayo ikut
aku!” sambil ngobrol kami pun berjalan menaiki tangga menuju
ruangan Bu Rifda.
“Tunggu sebentar ya” kata Agatha. Pintu di ruangan itu sedikit
terbuka ketika dia masuk kulihat didalamnya ada 3 wanita yang
menurutku cantik, berbusana mahal dan seksi. Itu mungkin
beberapa model yang dimilikinya.
“Masuk Rin” Agatha membuka pintu lebih lebar. Ternyata didalam
ada 2 laki-laki yang sedang melihat 3 wanita didepannya ” nah
ini dia cewek baru yang aku dapatkan kemarin di Tunjungan,
namanya Rinelda” kata bu Rifda sambil menunjuk ke arahku pada
ke dua laki-laki itu.

“Rin, mas-mas ini dari Jakarta mereka akan menguji kemampuan
kamu dalam memakai barang mereka” aku segera mengambil
kesimpulan bahwa mereka adalah desainer atau rekan kerja bu
Rifda. Aku mendekat dan berjabat tangan dengan keduanya,
“Rif, kami perlu kerja di dalam studio” kata laki-laki yang
sedari tadi melotot melihat 3 wanita dihadapannya sambil
menenteng kamera. Lelaki itu berjalan diikuti oleh ketiga
gadis.
“Tunggu sebentar ya Rin” kata bu Rifda sambil mengajak lelaki
yang satunya serta Agatha. Aku terdiam sebentar sambil melihat
ruangan yang cukup besar tersebut, ketika melewati ruangan
yang baru di masuki oleh tiga gadis dan seorang lelaki tadi
aku mendengar suara tertawa wanita kegelian dari dalamnya, ku
coba untuk mendekat pada ruangan itu, aku semakin penasaran
lerja macam apa kok suaranya seperti… Yah aku ingat suara
itu mirip desahan BuDhe Tatik semalam! Kucoba lebih dekat
untuk mengetahuinya tapi… “Rin?” tiba-tiba Bu Rifda sudah
berada di sampingku.

“Ada yang mau aku tunjukan padamu” katanya sambil berjalan ke
ruangan pribadinya, tertulis didepan pintu ruangan tersebut.
“Mana Agatha? Sama lelaki yang tadi?” tanyaku dalam hati.
Didalam ruangan itu terdapat banyak Foto diatas meja.
“Duduk Rin” katanya mengetahui aku sedang menunggu
dipersilahkan.
“Bu, maaf kamar kecil dimana? Saya kebelet pipis” tanyaku
sambil nyengir menahan sesuatu dibawah selakangku. “ah..ya..”
dia menunjuk kearah belakangnya. Aku langsung bergerak ke
sana, masuk kamar kecil itu aku langsung melorotkan celana
dalam yang kupakai dan Chessh….” Suara khas air
yang keluar dari tempikku, saat ku jongkok aku mendengar
samara-samar suara laki-laki.
“Aah….uh…ya …ayo..terus …sedot…ah nah gitu dong…” setelah itu
terdengar suara wanita tertawa, segera lu ceboki tempikku,
kuangkat kembali CD, sebentar aku terdiam sambil mencari asal
suara tadi, setelah yakin tak kudengar lagi akupun keluar dan
menuju ke meja bu rifda sambil bertanya-tanya dalam hati apa
yang sebenarnya pekerjaan disini, saat ku berjalan mendekati
meja bu Rifda kulihat wanita itu sedang berganti pakaian,
kulihat tubuh yang sangat seksi dan mulus, pahanya yang putih
dan pantatnya bulat putih cukup memberi bagiku untuk
berkesimpulan bahwa dia adalah wanita yang sempurna.

“Maaf bu” kataku,
“Oh tidak apa-apa kok Rin, bisa tolong ambilkan itu” katanya
sambil menunjuk kearah kursi kerjanya, “ini bu?” kulihat
sebentar ini adalah baju yang sering dipakai oleh bintang film
luar negri “ah” aku teringat saat aku melihatnya di sebuah
film BF. Aku berikan padanya dan dia memakainya dengan cekatan
terlihat bahwa ia sudah terbiasa mengenakan pakaian model itu.
“Kita bekerja dengan scenario dan harus tampil cantik serta
se-seksi mungkin karena target penjualan kita adalah kaum
Pria” kata nya sambil membenahi pakaianya,

“Hari ini adalah saat dimana kamu akan menjadi seorang
entertainer seperti gadis-gadis diluar tadi” , aku
mendengarkannya sambil mengira-ira apa kerjaku sebenarnya;
“Maaf sebelumnya Agatha di sini sebagai apa bu?” tanyaku,
“Kenapa?” dia balik bertanya,
“Kamu mau tahu tugas dia?” katanya sambil mengambil sebuah
remote control di laci mejanya,
“Tugas dia adalah menjamu para tamu dan melayani mereka
sebelum mereka memulai kerja yang sebenarnya” katanya sambil
menunjuk sebuah televise berukuran raksasa di belakangku,
betapa kaget aku melihat apa yang terpampang dihadapanku,
ternyata Agatha sedang bergumul dengan laki-laki di
sebuah ruangan kosong yang hanya di lapisi karpet tebal
diseluruh ruangan itu, setengah tak percaya kembali kulihat
kea rah bu Rifda, dia hanya tersenyum sambil matanya
berbinar-binar seolah bernafsu karena melihat kejadian di
layer tersebut, aku segera mengetahui apa yang sedang dan akan
kualami maka aku berjalan menuju pintu keluar, tapi apa yang
ku dapat pintu itu terkunci! Aku menoleh kearah wanita itu
tapi wanita itu hanya tersenyum sambil matanya tetap
menyaksikan adegan Agatha dan laki-laki itu dihadapanya.

“Kamu bisa berteriak kalau kamu mau tapi itu tak akan berguna
karena seluruh ruangan disini telah kedap jadi tak akan ada
yang mendengar” katanya.
“Duduklah maka tidak akan terjadi sesuatu padamu atau jika
tidak aku panggilkan satpam didepan agar membuatmu diam” kali
ini nadanya terdengar sedikit mengancam. Aku pun telah paham
bahwa aku tak bias berbuat apa-apa, saat terduduk aku
dihampiri oleh wanita itu dan tanpa kusadari dia telah menarik
tangan ku kebelakang dan mengikatnya dengan tangkas, aku
berontak tapi tak bisa karena kursi yang ku duduki besar dan
berat, akhirnya aku terdiam.

“Sudah kita nikmati saja tontonan yang disuguhkan teman SMP
kamu itu” katanya, sialan rupanya Agatha telah bercerita
banyak tentang aku, Agatha adalah temanku saat duduk di bangku
SMP di Malang, dia adalah type cewek yang cukup berani tampil
seksi dan punya teman cowok yang cukup banyak, dan dia pun
telah kehilangan keperawanannya saat perayaan kelulusan di
suatu acara yang diadakan oleh teman-temannya,
“Kurang ajar, kenapa aku harus melewati hari yang seperti
ini?” kataku dalam hati.

Dari layer raksasa dhadapanku kulihat Agatha sedang duduk di
atas pria itu sambil menaik-turunkan pantatnya yang bahenol.
‘Oh… oh… ouh… ha… enak maass?” tiba-tiba suara Agatha
terdengar sangat keras, rupanya Bu Rifda menikan volume pada
remote controlnya.
“Ga seru kalau tidak ada suaranya ya Rin?” kata wanita itu
namun aku tak mempedulikan kata-katanya. Aku menunduk tak mau
melihat apa yang ada dilayar TV besar itu, tapi suara yang
menggoda nafsu itu tetap terdengar.
“Setiap aku kesini… kurasa… tempik kamu masih… ouckh…
tetap… keset… Th..ah” suara laki itu tersendat-sendat.
“Tapi kontol mas….kok rasanya.. tam.. baa.. ah… aha…”
suara Agatha tak terselesaikan.
“Jangan munafik Rin kamu past terangsang kan?” lagi suara
Rifda terdengar tak kupercaya wanita yang kemarin kutemui ini
terlihat anggun dan sopan kini…
“Perempuan macam apa kamu Rif?” kataku tapi tak kudengar
jawaban darinya yang kudengar hanya suara dia sedikit tertawa.

Tak berapa lama kembali kudengar Agatha berteriak
“Ack… a… yah… terus… tete… rus… sentak lagi…
mas!” kali ini aku mengangkat kepalaku untuk melihat apa yang
saat ini dilakukan laki-laki itu pada Agatha, kulihat Agatha
sudah nungging dengan bertumpu pada lututnya sementara
laki-laki itu menekan-nekan kontolnya yang besar itu
maju-mundur ke arah tempik Agatha yang tampak menganga dan
berdenyut-denyut itu, cukup lama mereka saling mengimbangi
gerakan maju mundur itu satu sama lainnya, akhirnya…
“Aku… ke… luar… mas… aih… ya… ah!” nampak Agatha
telah mencapai puncak orgasme tubuhnya terlihat sedikit
melemah namun si lelaki itu terus mengocok kontolnya yang
masih menegang itu sambil tangannya memegang bongkahan pantat
Agatha, aku sendiri terangsang melihat semua ini dan merasa
ada yang mulai membasah di tempikku, seandainya tanganku tidak
di ikat pasti aku sudah memegang itil kecil ku.

“Ackh… sh… oh… sh… ” nampaknya laki itu sudah
memuntahkan pejunya di dalam tempik Agatha. Tiba-tiba Rifda
mematikan layer tersebut dan berkata
“Gimana Rin, apa yang kamu rasakan pada Tempikmu?” seolah
mengetahui apa yang aku rasakan.
“Lepaskan! Aku mau keluar dari tempat ini!” teriakku menutupi
rangsangan yang aku rasakan.
“Keluar? sebentar, ada yang mau aku perlihatkan sama kamu!”
lalu dia menekan kembali remote di tangannya kea rah layer
raksasa di dan… “ya ampun!” ternyata BuDhe Tatik!
Mengenakan baju berwarna merah menantang seperti yang dipakai
oleh Rifda, dia sedang sibuk mengulum kontol seorang laki-laki
disebuah ruangan yang hanya terdapat sebuah ranjang yang cukup
bagus, ku lihat Pria itu memegang kepala BuDhe agar lebih
cepat emutannya, sementara tangan kiri
BuDhe mempermain kan tempiknya sendiri.
“Eh… eh… e… gm… emph… !” suara wanita dilayar itu
seperti menikmati kontol yang panjang dan besar di dalam
mulutnya.
“Itu di rekam 2 hari yang lalu” kata Rifda seperti sedang
menerangkan sesuatu padaku.
“Maksudmu?” tanyaku,
“Lihat dulu baru komentar sayang!” aku pun kembali menyaksikan
adegan di depanku itu, belum pernah aku menyaksikan orang yang
aku kenal berbuat dengan orang lain seperti yang dilakukan
oleh BuDhe dan Agatha.

“Kontol mu hot banget mas… besar pa… njang… aku…
akua… suka… !” kali ini BuDhe nampak gemas memegang kontol
besar itu dengan kedua tangannya, kontol Pria itu memang
sangat besar dibanding dengan milik PakDhe yang kulihat
semalam kelihatan kokoh berdiri dan lebih berotot apalagi
kepala kontol Pria ini nampak besar dan mengkilap karena sinar
dari kamera, nampak sekali bahwa pria itu sangat menikmati
emutan mulut BuDhe, mendengar suara Budhe dan laki-laki itu
saling ah..uh.. membuat aku jadi terangsang, aku jadi salah
tingkah karenanya, ku toleh ke arah Rifda ternyata wanita itu
sedang sibuk memasukan sesuatu kebawah tubuhnya kutahu dia
sedang mencari kenikmatan di tempiknya mengetahui aku
melihatnya wanita itu mendekati aku dang menunjukan sebuah
tongkat kecil yang mirip… kontol!

“Kamu akan suka dengan yang seperti ini sayang” katanya sambil
menarik kedua kakiku hingga aku terlentang di atas kursi besar
itu.
“Tenang Rin, cari nikmatnya dulu ya” aku diam dan tak terlalu
banyak bergerak aku tak tahu mengapa aku diam dengan perlakuan
Rifda di hadapanku kali ini, Rifda mengosok-gosokkan kontol
mainan itu ke arah selakanganku, aku menggelinjang geli
karenanya, aku tahu apa yang akan dilakukannya, dan benar! Dia
membuka resleting celanaku, sekali lagi aku diam aku
terangsang terasa tempikku berdenyut-denyut menginginkan
sesuatu. Dengan tangkas Rifda sudah menarik ke bawah celana
yang kupakai, diringi suara desahan nikmat yang disuarakan
BuDhe Tatik dari layer didepanku
“Oh… yaa… ya… be… nar… yang situ enak… mas…
sh… ah!” kali ini kulihat laki-laki itu sedang menciumi
tempik BuDhe yang mengakang memberi ruang yang bebas pada
laki-laki itu, terdengar pula suara mulut laki-laki itu
berkecipak. Nampak bokong BuDhe yang bulat itu diangkat agar
mulut laki-laki itu dapat masuk lebih jauh mempermainkan
lidahnya. Tanpa kusadari paha dan selakangan ku terasa dingin
ternyata Rifda telah sukses melepaskan CD ku.
“Wah ternyata Jembut kamu tebal juga Rin” kata Rifda kemudian
tangannya menyentuh mulut tempikku, terasa hangat tangannya,
kutatap matanya seolah ingin kubiarkan apa yang dilakukannya,
sudah kepalang basah kubiarkan apapun yang dikerjakannya,

Saat Rifda sedang sibuk meng emek-emek tempikku dari depan,
tiba-tiba lampu ruangan mennjadi sangat terang, dan kulihat
ada dua orang laki-laki masing memegang kamera dan
mengabadikan suasana di ruangan ini. Tak kusadari ada sentuhan
tangan pada pundakku.
“Rin, rupanya kamu sudah merasakan kenyamanan di ruangan ini”
ternyata aku kenal suara laki-laki dari belakangku yah itu
suara PakDhe! tanganku berusaha menutupi bagian bawahku yang
menganga karena ulah Rifda.
“Sudah nikmati saja, toh aku tahu kamu butuh yang seperti ini”
kata Pakdhe sambil menempelkan sesuatu yang hangat lunak dan
membesar ditanganku yang masih terikat kebelakang. Kupegang
dan tahu apa yang aku pegang namun terasa makin hangat dan
memanjang.

Aku diam memikirkan semua rentetan dan semua orang yang ada
disekitar ku saat ini, saat kuterdiam ternyata Rifda berdiri
di depanku dengan menggerakan lidah ke bibir sambil memainkan
celah tempiknya dan matanya menatap ke arah PakDhe, laki-laki
itu tahu apa yang dinginkan Rifda dan segera berdiri mendekat
dengan tangan memegang pantat Rifda.
“Ayoh, kita bikin janda muda ini tersiksa dan memohon agar
tempiknya di isi sesuatu yang hangat! Ha… ha… ha… !”
kata Rifda sambil melihatku, tangannya yang cekatan dan
terampil mulai mengurut-urut kontol PakDhe yang sudah mulai
kembali menegang, sementara tangan PakDhe meremas-remas susu
Rifda yang Cuma terbuka pada putingnya sementara aku tetap
menatap mereka berdua seolah tak percaya.

“U… uh” kata Rifda gemas mengocok kontol di tangannya.
“Sudah, langsung aja masukin kontolmu pak!”
“Lho Rin, tempik Rifda sudah basah! Kamu ga pengin niih?” Kata
PakDhe yang mempermainkan tangannya di sekitar tempik Rifda.
Kusaksikan gerakan Rifda membalikkan badannya memnbelakangi
tubuh PakDhe, dengan cukup sigap pakDhe segera menggiring
batang kontol yang dipegangnya kearah tempik Rifda yang berada
ditengah bongkahan pantat mulus Rifda yang sudah menganga
karena bibir tempiknya di kuak sendiri oleh tangan kanannya
sementara tangan kirinya menggosok itil yang sedikit menonjol
di bagian atasnya.
“Hrm ouch… masukin… te… rus… ah sampai men… tock
pak!” kata Rifda sambil menarik pantat PakDhe agar segera
menekankan kontolnya lebih dalam.

Kali ini mereka merubah posisinya menyampingiku sehingga
tampak susu Rifda bergerak-gerak karena gerakan tubuhnya
sementara kontol PakDhe yang sedang berusaha memasuki liang
sempit itu semakin didorong kedepan.
“Ah….” kontol itu sudah tenggelam kedalam tempik rifda PakDhe
kemudian menarik kontolnya pelan-pelan tampak olehku buah
pelir kontol itu menggelantung.
“Sabar ya Rif, sebentar… ” kata pakDhe sambil menoleh kea
rah ku sambil mengedipkan mata kirinya seolah berkata.”Tunggu
giliranmu”.
“Betapa nikmat kalau kontol itu bersarang pada tempikku”
kembali aku sudah dirasuki hawa nafsu yang sedari tadi
menghinggapi pikiranku yang mulai tak terkontrol. Aku mulai
menggepit paha agar tempikku yang terasa gatal dan membasah
tak diketahui oleh mereka, andai tangan ku tak terikat mungkin
aku sudah melakukan sesuatu yang nikmat!

“Eh… ah… mpffh… yang cepat dong… genjot… terus…
pak!” teriakan nikmat Rifda sambil menggerakan bongkahan
pantatnya kekiri -kanan mengimbangi sentakan PakDhe.
“Plak… plak… ” suara benturan paha kedua orang didepanku
serta kecipak tempik Rifda yang diterjang kontol gede itu
seolah bersorak senang. Saat ku sedang memperhatikan mereka
ikatan pada pergelangan tanganku terasa melonggar sedikit
kutari tangan kananku dan terlepas! Sebentar aku bingung apa
yang harus kulakukan, namun diluar kesadaran ku saat itu
ternyata aku tidak mengambil kesempatan itu untuk melarikan
diri lagi pula disitu ada 2 pria berkamera yang pasti akan
mennghentikan ku, yah otakku mungkin sudah dirasuki nafsu. Aku
butuh keprluan biologis itu! Aku butuh kontol yang hangat
dengan terjangan yang sesungguhnya bukan seperti yang selama
ini kudapatkan dengan masturbasi! Semakin kuperhatikan secara
seksama apa yang dikerjakan PakDhe dab Rifda didepanku, Rifda
nampak sangat menikmati genjotan PakDhe dari arah belakang.

‘Ay… o.. pak… ayo… terus… kerasin… sentakanmu pak…
!”
“Tempik nakal… nakal… nakal… ” kata PakDhe setiap kali
si kontol menerobos tempik Rifda.
Kulihat tongkat mainan persis kontol yang diletakkan dimeja
oleh Rifda, tak kuhiraukan 2 orang berkamera yang sedang
mengabadikan setiap gerakan dan erangan nikmat PakDhe dan
Rifda, kuambil mainan wanita itu dan mulai kugesekkan pada
tempikku, tak kuhiraukan segalanya!
Aku tersenyum karena aku merasa tak tersiksa sama sekali
dengan keadaanku saat ini, kali ini aku bermaksud memasukkan
kontol mainan lembut ini pada liang tempikku dan…
“Eh… auch… ” bersamaan dengan sodokan PakDhe pada tempik
Rifda setiap PakDhe menarik kontolnya kutarik pula mainan ini
dari tempikku.Saat aku sedang menikmati tontonan didepanku
tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan masuk seorang laki-laki
yang tadi bergumul dengan Agatha menghampiriku sambil
tersenyum, sambil berjalan dia melepas satu persatu kancing
baju dan membuka resleting celananya. Kukeluarkan pelan-pelan
kontol mainan dari dalam tempikku.

Aku membayangkan isi didalam celana itu adalah kontol besar
seperti yang dirasakan oleh Agatha tadi, yang pasti akan
memberi kenikmatan pada tempikku yang sangat merindukan
kontol, kutatap matanya seolah aku memberinya ijin untuk
segera menyerang tubuhku, aku sadar bahwa semua perbuatanku
saat ini akan direkam dan disebar luaskan, aku tak pedulikan
itu aku Cuma butuh laki-laki saat ini yang bisa membuatku
menggelepar penuh kenikmatan! Ketika Rifda mengetahui
laki-laki itu lewat didepannya tangan kanannya memegang kontol
laki-laki itu.
“Tempikku… masih… cukup… ah..ah… untuk… kontolmu…
auh… Rudi… say… ang… eh… ” Rifda berkata sambil
menikmati sodokan PakDhe. Sebentar laki-laki itu berhenti dan
memasukan kontolnya kemulut Rifda.
“Ech… mpfh… Rud… empfh… di..kont… tol… ” tampak
mulut Rifda seperti kewalahan menelan sebuah Pisang yang
besar, aku segera bangkit dan menghampiri mereka, yaah aku tak
rela jika kontol dihadapanku ini akan di telan juga oleh
tempik Rifda dan aku lagi-lagi jadi penonton, Rifda dan PakDhe
tidak terlalu kaget melihatku.
“Oh… rupanya kamu baru bisa lepas dari tali tadi ha… ha…
ha!” Rifda tertawa setelah kontol dimulutnya terlepas setelah
laki-laki bernama Rudi itu membalikkan diri padaku tampak
kontol besar setengah mengacum itu mengarah padaku.
“Wao… ” Tanpa kuhiraukan si Rudi aku langsung jongkok
didepannya dan bersiap mengulum Kontol idamanku itu.
“Lihat pak… ah… si… ja… ech… janda… tak tahan…
juga… a yes… !” kata Rifda
seolah senang dengan apa yang kuperbuat, kumasukan kedalam
mulutku dan kepalaku mulai bergerak maju mundur, kurasa
sesuatu yang besar sedang berdenyut-benyut di dalam mulutku,
“Ach… ternyata pandai juga kamu mempermain kan kontol dengan
mulut.
“Oh… !” tangan Rudi mulai meremas pentil susuku yang mulai
mengeras.
Aku memang pandai melakukan oral sex hal itu pun diakui oleh
mantan suamiku dulu bahwa mulutku sangat hebat dal;am hal
ciuman bibir dan mengulum kontolnya bahkan sering kali saat
oral sex suamiku mengeluarkan spermanya di mulutku.
“Ehm… ehm… ehm… ” Aku sangat senang dan sangat
merindukan batang hangat dan kenyal ini! “Oh… oh… ya…
ouh… ” Rudi tampak sangat menyukai kulumanku kupermainkan
lidahku pada kepala kontolnya, sambil memberikan Rudi
kenikmatan kulihat PakDhe semakin mempercepat genjotannya, tak
lama kemudian.
“Arch… a… ah… aku… sudah… kel… luar… pa… ak…
a… ” kata Rifda, matanya
merem-melek menahan sesuatu yang keluar dari dalam tempiknya.
Saat Rifda mulai sedikit lemas ternyata PakDhe mengeluarkan
kontolnya dan melihat kearah Rudi seolah mengetahui maksud
PakDhe Rudi pelan-pelan menarik kontolnya dari mulutku, yah
PakDhe menuju kearahku sedang Rudi menuju tubuh Rifda, aku
ragu apakaha aku akan melakukannya dengan orang yang sudah aku
anggap sebagai orang tuaku ini, namun PakDhe ternyata langsung
menarik pantatku hingga tuibuhku telentang pada kursi besar di
belakangku dan kontolnya berada tepat didepan tempikku,
mengetahui aku sudah terangsang dengan sekali tekan kontol
PakDhe segera menerobos lobang tempikku sesaat terasa sakit

“Adu… h… pelan-pelan… dong PakDhe… !” Teriakku.
“Ah sorry Rin, lupa aku, tempik kamu sudah lama tak terisi ya!
Tahan sebentar ya… kamu tahu ini ..enak..” kata PakDhe
sambil menarik kontolnya dari dalam tempikku, aku merasa
seluiruh isi tempikku tertarik.
“Pelan-pelan… ” kataku lagi, tapi ternyata Pakdhe langsung
menggenjot kontolnya itu keluar masuk. Tiba-tiba rasa sakit
yang kurasakan menjadi rasa geli dan nikmat
“Ah… a… ayou… lagi PakDhe… terus… sh… haa… “
yang kurasakan tempikku jebol
luar dalam namun ennaak sekali, sudah cukup lama bagiku waktu
4 bulan menanti yang seperti ini, aku tak peduli meski ini
kudapat dari seorang yang selama ini menampungku. Saat sibuk
menikmati sodokan kontol di tempikku sempat kulihat Rudi
memompa pantatnya sementara Rifda mulutnya terbuka menahan
nikmat yang akan dia dapat untuk kedua kalinya dengan posisi
miring dan kaki kirinya terangkat sehingga memudahkan kontol
gede milik Rudi mengobrak abrik isi tempiknya, tak berapa lama
Rifda sudah memekik…

“Sudah Rud… aku… ah… !” tampak Rifda sudah mengalami
orgasme yang keduanya. sementara kulihat muka PakDhe memerah
menahan sesuatu
“Rin… torok… kamu… serr… et… aku tak… tahan… ah”
PakDhe rupanya sudah mendapatkan ganjaran karena berani
memasukan kontolnya ke milikku yang memang masih peret, dia
menarik kontolnya dan mengeluarkan pejunya pada Susuku dan
wajahku
“Ah… ah… ” teriak PakDhe setiap kali cairan itu keluar
dari kepala kontolnya.
“Ya… PakDhe… !” kataku kecewa, aku belum merasa orgasme!
Tak kuhiraukan PakDhe sibuk dengan kontolnya yang mulai
mengecil, saat kumandang Rudi yang mengocok kontolnya sendiri
dia tersenyum padaku dan akhirnya kontol yang cukup gede itu
datang padaku, tangan Rudi memegang pantatku, aku tahu dia
ingin posisi anjing nungging, kubalik tubuhku menghadap
sandaran kursi sedang kedua lututku tersangga pinggiran kursi,
tak nerapa lama kontol Rudi sudah digesekgesekkan pada
pantatku yang putih mulus,
“Ayoh Rud kamu mau merasakan seperti yang di rasakan PakDhe?”
kataku nakal, aku tak tahu dan tak mau tahu apa yang kulakukan
yang pasti aku mendapatkannya saat ini, akhirnya Rudi pun
memasukan kontolnya ke dalam tempikku.
“A… euh… ah… em… ya… ” kontol yang menerobos di
bawahku memang terasa sangat gede seolah menyentuh
rongga-rongga di dalam tempikku. Pantas Rifda mulut Rifda tak
bersuara apa-apa ternyata ini yang dirasakannya.
“Eh… eh… eh… ” Rudi menekan maju mundur kontolnya
sementara tangannya meremas susuku dan bibirnya mencium
punggungku, cukup lama Rudi menggenjot tubuhku dari belakang,
kini dia memintaku untuk berdiri menghadap tubuhnya dengan
mengangkat kaki kiriku dia memasukan kontolnya dari depan
“Ya… h… he… he..lagi… lagi… ” nafasku terengah-engah
menahan serangan Rudi yang belum pernah ku lakukan dengan
mantan suamiku dulu. Sensansi yang luar biasa aku dapatkan
dari laki-laki ini, sentakannya sangat mantab dan sodokkan
kontolnya sangat luar biasa
“Rud… puaskan… puaskan… a.. ku… kontol… Ter… us…
sh… ” kata-kataku tak terkontrol lagi karena tempikku
merasakan hal yang sangat luar biasa dan belum pernah aku
merasakan yang seperti ini. Akhirnya aku merasa kebelet pipis
dan geli bercampur menjadi satu…
“Aku… ae… kelu… ar Rud… ah..” Puas, aku puas! Jeritku
dalam hati ini kontol yang aku harapkan setiap masturbasi,
sementara Rudi tetap mengocok kontolnya sambil menahan tubuhku
yang terasa lemas agar tak terjatuh,
“Pepek kamu… mem… mang… enak… ach” akhirnya Rudi
menarik kontolnya dari tempikku dan menyemprotkan Spermanya ke
mukaku.
“Ah… hangat… enakkan… Rud?” tampaknya tempikku memuaskan
Rudi.

Cahaya terang dari kamera yang merekam semua tadi tampak
meng-close up muka ku yang tampak ceria!

Akhirnya, aku menikmati semua ini, semua kulakukan dengan
senang hati. Karena BuDhe adalah ketua dari semua pekerjaan
ini dan Rifda dan Agatha adalah Teman SMPku, sehingga aku
bekerja menjadi pemain film blue seperti yang dulu sering
kulihat di keping VCD.
By: Yoga Adi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar