Rumah Baru KisahBB

Setelah 2x ga diterima di Wordpress sehubungan penjualan DVD, Shusaku akhirnya memutuskan memindahkan blog cerita seru KisahBB kesayangan kita ke sini.

kirim cerita karya anda atau orderan DVD ke:


Order via email: mr_shusaku@yahoo.com


tuliskan: nama, alamat jelas, nomor HP, dan list barang yang diinginkan di email pemesanan


email akan segera saya balas dengan rincian harga & no ac bank bca/mandiri unk transfer. barang akan dikirim dengan tiki/pos setelah konfirmasi transfer diterima.

Promo diskon gede-gedean

Paket istimewa 500rb (50dvd),

untuk dalam Pulau Jawa free ongkos kirim, untuk luar Pulau Jawa tergantung daerah.

Harga normal Rp 15rb/dvd kalau beli banyak Rp.12.500/dvd, untuk paket kali ini jatuhnya Rp. 10rb/dvd, murah banget!!


Tapi ini terbatas hanya untuk 10 orang saja.

jadi silakan order, bisa dilihat list barang di

- list semi & softcore

- list western xxx

- list jav


untuk pemesanan email ke mr_shusaku@yahoo.com

Subject: paket istimewa 500rb

tuliskan: nama, alamat jelas, nomor HP, dan list barang yang diinginkan di email pemesanan

email akan segera saya balas dengan rincian harga & no ac bank bca/mandiri unk transfer. barang akan dikirim dengan tiki/pos setelah konfirmasi transfer diterima.


-untuk pesanan di atas 50dvd, selanjutnya dihitung @Rp.10.000,-

-hanya untuk film2 satuan (JAV, western XXX, dan Semi), tidak berlaku untuk koleksi pics & kompilasi

Jumat, 22 Juli 2011

Di Tengah Hujan Deras

Hanna

Cerita ini bermula pada suatu siang saat hujan tengah
mengguyur kota Yogyakarta dengan derasnya. Karena kosku
jauh dari kampus, maka dengan diantar Rio teman
sekampusku, kami berteduh di kos Leo sahabat Rio yang
kebetulan kosnya berada tidak jauh dari kampusku.


Untuk mengisi waktu, Rio memutar VCD porno yang ada di
kamar Leo dan aku ikut menontonnya karena sebenarnya aku
sudah biasa menonton film begituan sebelum bercinta
dengan pacarku yang dulu. Makin lama kami bertiga makin
hanyut dalam hayalan di tengah lenguhan dan jeritan sang
bintang biru di layar kaca.
Ketika adegannya memperlihatkan seorang cewek tengah
digarap oleh dua lelaki, aku mulai merasa tidak karuan.
Entah mengapa aku selalu sangat terangsang bila melihat
adegan-adegan seperti itu, dan kurasa mereka berdua pun
demikian karena sesekali mereka mencuri pandang
menatapku dengan aneh.

Timbul pikiran dalam kepalaku membayangkan aku lah yang
sedang di layar TV menikmati sorga dunia yang tiada tara
itu. Kulihat kedua pria di kiri kananku semakin gelisah,
dan dengan curi-curi kulihat benda di balik celana
mereka mulai menggembung. Aku mulai menebak-nebak ukuran
kedua benda itu dalam hatiku dan berharap mereka
melakukan sesuatu duluan, sebab aku semakin tidak kuasa
menahan gelora birahiku. Kurasakan celanaku mulai basah
menyaksikan adegan-adegan panas dan seru itu.

“Kamu pernah ML?” tanya Leo memecah kebisuan.
“Pernah, dulu dengan mantanku. Emangnya kenapa?” jawabku
menggoda.
“Nggak pa-pa, cuma nanya. Ada nggak impian kamu yang
belum terjadi?”
“Yah.., jujur saja aku suka membayangkan bagaimana
rasanya kalo ditiduri oleh dua laki-laki sekaligus
seperti dalam film-film yang itu lho.” jawabku setelah
ragu sejenak.

“Mau nggak kalo sekarang?” tanya Rio dengan tersenyum
menggoda dan aku jadi sangat ingin mencobanya.
“Tergantung.., penis kalian besar atau nggak. Soalnya
aku juga pengen merasakan kepuasan yang total. Gimana?”
tantangku.
“Nggak usah takut deh, taruhan kamu pasti akan sangat
puas, dan aku malahan kuatir kamu nggak bakal kuat
ngadepin kita. Lihat nih..!” sambil berdiri Leo membuka
celananya sekaligus sampai benda favoritku itu muncul
mendadak di depan hidungku.
Gila panjang banget, bahkan lebih panjang dari penis
mantanku dulu. Aku hanya dapat menatap takjub. Pasti
tidak akan muat deh mulutku mengemut penis sepanjang
itu.

Sementara itu Rio rupanya sudah tidak dapat menahan
nafsunya. Dia langsung mendekatiku dan meremas
payudaraku yang tidak terlalu besar tapi aku yakin pasti
memuaskan, karena montok dan indah bentuknya. Aku
melenguh pelan menerima serangan mendadak itu. Leo
menarik rambutku dan kumengerti sebagai isyarat untuk
mulai mengemut ‘adik’-nya itu. Kukecupi ujung penisnya
dengan lembut dan mulai menjilati perlahan mulai dari
bawah hingga ke ujungnya dengan maksud ingin
menggodanya.

Leo mulai mendesah nikmat membuatku semakin bersemangat
untuk membuat desahan itu semakin keras.
“Oohh.., yes.., terus Han.., Kamu memang pintar.”
“Ungongg.. umh…” jawabku tidak jelas dengan batang
kemaluan sepanjang 20 senti di dalam mulutku.
“Ooh… kontolmu enak sekali Yang. Uhmp.. sroot.. wow..
aku.. oohh..” aku semakin tidak terkendali menikmati
sensasi yang kurasakan.

“Hana, tetekmu indah sekali. Ouu.., pantatmu juga.
Kenapa sih kamu nggak pernah cerita kalo kamu punya
badan yang sangat menggoda seperti ini?” puji Rio sambil
menjilati putingku yang sudah menegang dan agak besar
karena sering dihisap oleh pacarku.
Tangannya membelai pantatku dengan lembut dan diselingi
dengan remasan dan cubitan gemas yang cukup sakit namun
merangsang.

Aku agak terkejut ketika kusadari ternyata Rio telah
membuka seluruh pakaianku sehingga aku betul-betul bugil
di hadapan mereka berdua. Namun efek melihatku bugil
serta kuatnya hisapanku dan frekuensi kocokan pada
batang kemaluannya ternyata sangat berpengaruh, sehingga
Leo cepat mencapai orgasme dan memuntahkan maninya di
dalam mulutku yang langsung kutelan dengan rakusnya.
Uuh.., rasanya enak sekali.

“Enaknya.., sini Yang kujilati lagi jangan sampai
tercecer.” rengekku sambil menarik lagi penis Leo ke
dalam mulutku dan menjilatinya dengan liar.
Tanganku yang kiri mendorong kepala Rio makin rapat
dengan dadaku, sementara dadaku sendiri kulambungkan ke
arahnya. Aku tidak perduli lagi dianggap apaan, pokoknya
aku ingin menikmati surga dunia ini dengan seluruh jiwa
ragaku. Di sini saatnya sisi diriku yang lain yang
selalu tertutupi oleh predikat mahasiswi teladan boleh
muncul tanpa perlu malu.

Rio kemudian mengambil alih tubuhku. Diaturnya
sedemikian rupa di atas tempat tidur dengan posisi kaki
mengangkang di tepi tempat tidur, sehingga vaginaku yang
berwarna pink tersibak dengan jelas di antara bulu-bulu
halus dan Rio langsung berlutut di depan selangkanganku.
Tangannya membelai daerah pinggul lalu turun, berputar
dan berhenti di vaginaku, memainkan klitorisku setelah
membuka belahan bibir bawahku setengah kasar.

“Oh ya… oouu enak.. Hmmph..”
“Cantiknya…”
“Oouu..!” aku menjerit pelan ketika dia mencubit klitku.
Kedua tangannya lalu membuka bibir vaginaku lebih lebar
lagi dan kusambut dengan lebih mengangkangkan kakiku
agar dia lebih leluasa mempermainkan vaginaku. Kurasakan
lidahnya menyentuh bagian dalam vaginaku perlahan, lalu
semakin liar membuatku bergerak tidak karuan mengimbangi
serangan-serangan Rio.

“Teruss Yang..! Jangan berhenti.., Oh yeah.. enak
banget.”
Kugerakkan pinggulku ke kiri dan ke kanan, kadang ke
atas menahan rasa geli dan nikmat. Jeritanku mulai
mengisi kamar itu mengalahkan jeritan dalam VCD, dan itu
tampaknya semakin membakar nafsu kedua lelaki itu.
“Aaww yess..!” seruku ketika Rio menggigit kacang yang
sangat sensitif itu.
Kugerakkan tanganku mencari kepalanya dan kuremas
rambutnya sambil terus mendorong agar kepalanya tetap
berada di vaginaku.

“Leo udah dong istirahatnya, sini kontolmu kuisap
lagi..!” pintaku manja.
Leo tersenyum dan mendekatiku, mencium bibirku dengan
ganas, kusambut permainan lidahnya dengan bersemangat
pula. Lidahnya berputar liar dalam mulutku beradu dengan
lidahku, dan kami terus mencoba menghisap lidah satu
sama lain, nikmat sekali! Puas bermain di mulutku, dia
meneruskannya di belakang telingaku, menghisap setiap
senti leherku hingga turun ke dadaku menyentuh
payudaraku yang putih dan menegang.

Dengan rakus dihisapnya payudaraku seakan ingin
dimasukkannya semua ke dalam mulutnya, sementara
tangannya meremas puting kiriku dan memutar-mutarnya.
Aku melenguh habis-habisan diserang dari dua sudut
sumber birahiku. Tapi aku tidak menyerah begitu saja
setiap bagian tubuh Leo yang berhasil kupegang segera
pula kubalas menghisapnya, tanganku yang satu meremas
rambut Rio, sedangkan yang lain mencari dan membelai
bagian tubuh Leo.

Melihat serangan Leo, Rio pun tidak mau kalah membuatku
menjerit nikmat dengan mejilati lubang pantatku. Aku
agak terkejut karena baru sekali ini merasakannya, namun
menikmatinya juga. Entah apalagi yang dilakukannya, aku
tidak perduli lagi walaupun sakit yang penting itu dapat
membuatku semakin nikmat.

“Udah Sayang.., oh… masukkan sekarang, aku dah nggak
tahan lagi. Please..!” aku benar-benar tidak sabaran
lagi dipenuhi oleh nafsu untuk segera merasakan
nikmatnya vaginaku dimasukki batang kemaluan mereka.
“Ayo dong..! Oouhh.. udah stop, memekku udah gatal
nih..!”
“Sabar dong Han, baru juga segini. Bentar lagi deh, aku
masih mo mainin memekmu. Aku suka sih baunya, harum..
nggak seperti bau memek pacar-pacarku dulu.”
“Jelas dong. Kan punyaku kurawat tiap hari pake
pembersih khusus wanita, so pasti harum dong.”
“Cepeten dong friend, aku kan juga mau ngerasain
memeknya. Masa dari tadi aku kebagian mulutnya aja?”
protes Leo. Aku tersenyum.

“Jangan kuatir nanti pasti kebagian. Pokoknya terserah
deh kalian mo ngapa-ngapain aku hari ini, I’m yours..!”
hiburku di sela-sela desahan.
“Sayang ayo kontolmu..!” kumiringkan badanku meraih
penis Leo di sampingku dan segera mengemutnya bagaikan
es krim.
Kuvariasikan hisapanku dengan jilatan pada buah zakarnya
hingga batang sampai ujung penisnya dengan gigitan
kadang pelan kadang keras yang pasti membuatnya ‘nggak
ku-ku’.

Taktikku itu berhasil. Leo langsung ‘blingsatan’ tidak
karuan setengah mendesah setengah memaki dan menjambak
rambutku, meremas payudaraku keras-keras hingga memerah.
Aku mengeluarkan jeritan tertahan berhubung batang
kemaluannya tengah kuhisap.
“Huumph.. enaknya. Aku ketagihan nih ama kontolmu..!”
godaku sambil menatap wajahnya.
Leo menjawab dengan menjambak rambutku lebih keras dan
menyentakkan penisnya ke dalam mulutku sampai aku
tersedak namun dia tidak perduli. Permainannya semakin
kasar dengan menggigit leherku dan memaksa hisapanku
semakin keras, tapi aku menyukai cara-caranya. Kini
tubuh bugilku penuh cairan campuran keringat dan liur
mereka.

Rio menggosok batang kemaluannya di daerah vaginaku, dan
tiba-tiba dengan sekali sentakan keras dia mendorang
penisnya masuk ke vaginaku. Satu menit dibiarkannya di
dalam, diam lalu dikeluarkannya lagi, didorongnya lagi
lalu dikeluarkan lagi, mula-mula secara perlahan namun
kemudian semakin cepat. Kedua kakiku dipakainya untuk
berpegangan agar pinggulnya mudah digerakkan.

“Oh yeah.. oh yeah.. oouu terus oh Sayang enak sekali.
Ohh… lebih keras, yeah. Lebih keras lagi, auwww
sakit..! Enak, nikmat..!” cerocosanku berhenti ketika
Leo memasukkan kembali batang kemaluannya ke dalam
mulutku dan membuatku sibuk melayaninya.

“Ohh.. Sheet..! Memekmu rapat sekali Han, sakit tapi
enak..! Oh yeah..! Ayo.., enakkan..? Oukh.. yeah..!” Rio
bergumam tidak karuan, sesekali ditepuknya pinggulku
dengan keras, membuatku tersentak kesakitan.

Bosan dengan posisi demikian, Leo mengambil alih
vaginaku, dan tanpa basa-basi langsung menusukkannya di
lubang kenikmatanku. Saking panjangnya, kupikir liangku
tidak akan muat menelan seluruh batang penisnya sampai
ke pangkalnya. Aku menjerit keras ketika Leo memaksa
penisnya agar masuk sedalam mungkin. Kurasakan
kemaluannya menyentuh dinding rahimku. Posisiku kini
berubah, bukan tiduran lagi namun agak jongkok, karena
Rio telah berbaring di depanku meminta jatah kocokan
mulutku yang mungil ini.

Seperti dugaanku, batang kemaluan Rio tidak lah
sepanjang punya Leo, tapi tidak juga pendek, namun
lingkar diameternya lebih besar dari Leo, sehingga tetap
saja aku kewalahan menghisapnya berhubung bibirku kecil.
Aku berjongkok di antara kedua tungkainya dan bertumpu
pada kedua sikuku, sementara Leo dengan ganasnya
menusukkan penisnya ke dalam vaginaku sambil memaki-maki
dan melenguh kenikmatan.

Agar tidak terlalu keras menjerit menahan serangan Leo,
aku mencoba berkosentrasi pada batang penis Rio dan
mulai bekerja menjilat, menghisap, menggigit dan
mengocoknya dengan bersemangat seirama dengan sodokan
yang kuterima dari arah kemaluanku.

“Uhh… mmph.. kontolmu besar juga Yang, enak..!”
pujiku.
Rio tidak menjawab karena sedang menikmati sensasi
pijatan mulutku. Kuputar-putar ke kiri dan ke kanan di
dalam mulutku sambil kuhisap dalam-dalam, kutahan lalu
kulepaskan setelah sekian detik membuatnya meringis
nikmat. Tidak ada kata lain memang yang dapat mewakili
perasaan yang kami alami selain nikmat yang tiada tara.
Aku sangat menikmati peranku melayani kebutuhan seksual
dan menjadi objek pemuas nafsu mereka.

“Leo, aku mau keluar. Oouu… Ooohh yeah..! Aahh..!”
jeritku ketika mencapai orgasme.
Leo tetap liar menyodok liangku, sesekali tangannya
bergerak ke bawah mencari klitorisku dan mencubitnya
sampai aku menjerit antara sakit dan nikmat. Selanjutnya
berbagai posisi mereka atur tubuhku, sementara aku hanya
dapat menurut disuruh apa saja, sebab seluruh tubuhku
pasrah menerima perlakuan mereka.

Badanku gemetar hebat melepas orgasme berkali-kali, tapi
mereka tetap saja belum orgasme. Bergantian mereka
menggarap vaginaku, sementara aku terus berusaha
mengimbangi mereka. Bagaimanapun aku tidak mau kalah
menunjukkan kebinalanku di tempat tidur, dan kurasa
mereka sangat terkesan melihatku sangat hebat bergerak
liar dan menjerit-jerit. Kami semakin hanyut dalam
gelorah nafsu birahi, hingga akhirnya aku mau keluar.
Rio semakin keras menyodokku, lalu tiba-tiba ditariknya
penisnya dan dibawa ke mulutku. Aku segera menyingkirkan
batang kejantanan Leo dari mulutku dan menyambut penis
Rio dengan terburu-buru.

“Oh cepat sini Sayang..! Biar kuemut sampai keluar,
Ooohh..!”
Kuhisap cepat dan kukocok batang kemaluannya di dalam
mulutku, semantara penis Leo sudah nangkring di
sarangnya mengaduk-aduk vaginaku. Dalam beberapa menit,
muncratlah sperma Rio memenuhi rongga mulutku dan
kutelan setelah kumainkan sejenak. Semprotan kedua
muncrat mengenai seluruh wajahku dan semprotan ketiga
sebagian berhasil kutangkap dalam mulutku, namun
sebagian sukses membasahi wajahku pula.

“Hmm… banyak sekali spermamu Yang, enak..!” kataku
sambil menjilati penisnya, membersihkan sisa-sisa sperma
yang masih tertinggal.
“Udah dong Hana. Geli nih..! Nggak usah rakus gitu,
nanti juga bisa kok kamu dapatin. Tenang aja… asal
memekmu masih bisa kuubek-ubek, spermaku juga masih bisa
kamu nikmati.” ujarnya kegelian.
Akhirnya kurelakan batangnya pergi dari mulutku.

Karena wajahku penuh sperma, maka kubersihkan dengan
jari-jariku dan kujilati setiap jari untuk mendapatkan
sperma yang tercecer itu. Sejak pertama kali pacarku
menyuruh menelan spermanya, aku langsung tergila-gila
dan jatuh cinta menelan setiap sperma dari laki-laki
yang meniduriku. Aku asyik mengemut jari-jariku sendiri
sambil menjerit menikmati sodokan-sodokan Leo yang
semakin cepat. Pasti sebentar lagi dia off. Benar saja
kataku, tidak lama kemudian kurasakan otot-ototnya makin
tegang pertanda maninya udah di ujung penis. Cepat-cepat
kutarik vaginaku.

“Tahan Yang bentar..!” aku langsung bergegas bangun dan
turun dari tempat tidur, lalu berlutut di depan batang
penisnya dan menyambarnya masuk ke mulutku.
Leo meringis ketika kemaluannya kuhisap dan kukocok kuat
berkali-kali.
“Oh yeah… terus..! Hampir, ayo Hana..! Ohh.. Aahh..!”
seruannya membahana keluar mengiringi muncratnya cairan
putih susu yang kental dan hangat dalam rongga mulutku.
Enaknya, aku terus menghisap dengan rakus tidak ingin
ada setetes sperma pun luput dari mulutku.

Leo berkali-kali memuncratkan lahar putihnya itu hingga
akhirnya dia terduduk lemas di tempat tidur, tapi aku
tetap tidak berhenti. Kuhisap batang kemaluannya dan
kubersihkan dengan lidahku sampai benar-benar bersih.
Rio menonton adegan itu dari sudut kamar di atas sebuah
kursi sambil memegang batang kemaluannya menatap
pinggulku yang terangkat naik memperlihatkan vaginaku
yang membengkak dan berair.

Sedang asyiknya aku menjilati batang kemaluan Leo dan
bergerak ke atas ke arah pusarnya, tiba-tiba Rio bangkit
dan meremas pinggulku. Kedua tangannya membuka belahan
pantatku dan berlutut di belakangku, tepat di antara
kedua pahaku dan mulai menjilati vaginaku ramai sekali
hingga berbunyi kecipak-kecipuk. Hisapannya pada
klitorisku kembali menaikkan birahiku, dan aku semakin
bersemangat menjilati seluruh badan Leo yang terbaring
kelelahan.

“Han… sodomi ya..?” pinta Rio setelah sekian lama
mengerjai daerah vaginaku dan sekitarnya.
“Terserah tapi pelan-pelan ya, aku belum pernah
soalnya.” kataku di antara kesibukan mengecup dan
membelai dengan lidah bagian dada Leo yang ditumbuhi
bulu-bulu subur naik ke lehernya dan mendarat di
bibirnya.
“Tenang aja, nggak kalah nikmat kok, sekali mencoba
pasti ketagihan.” ujar Leo pelan menggenggam rambutku
dan melumat bibirku dengan ganas sampai seisi mulutku
pun tidak luput dari perhatian liarnya.

Dengan posisi doggy style di atas, tubuh Leo asyik
bertukar-tukar ludah, Rio meludah tepat di lubang
duburku dan menusuk-nusukkan ibu jarinya untuk
melicinkan jalan penisnya nanti. Dan, bless.., aku
menancapkan kuku-kukuku di bahu Leo menahan rasa sakit
ketika Rio menusukkan batang kejantanannya ke dalam
anusku. Aku ingin berteriak tapi Leo telah membungkam
mulutku dengan lidahnya yang liat. Rio terus memompa
anusku dengan penisnya yang berdiameter super itu makin
lama makin cepat dan mencengkram pinggulku erat-erat,
mengayunkannya berlawanan dengan arah sodokannya hingga
menimbulkan tumbukan yang luar biasa enak.

Leo rupanya mulai pulih kekuatannya, dia menggeser
badannya hingga batang kemaluannya itu tepat berada di
depan mulutku. Tanpa basa basi, kusambut batang
kemerahan yang telah memberikan aku nikmat tiada terkira
itu dengan servis istimewa. Kutusukkan ujung lidahku
tepat di lubang saluran penisnya berkali-kali dan
kuhisap kuat-kuat hanya pada ujungnya saja.

“Auww…yes pintar kamu girl! Tanganmu sini genggam buah
zakarku biar lebih enak.”
Kuturuti permintaanya dan kelima jari-jari lentikku
mulai membelai, meremas buah zakarnya dan kulanjutkan
dengan mengocok batang kemaluannya mengimbangi hisapanku
dan sodokan Rio. Leo langsung merem melek menikmati
pelayananku.

“Kenapa? Enak ya Yang..? Uuhh.. ouw.. enaknya. Liat
nih..!” kutepuk-tepukkan penisnya di daerah mulutku
sambil kuberikan dia senyum dan tatapan menggoda alias
mesum.
Kuangkat kedua tungkainya dan kususupkan kepalaku ke
bagian pantatnya hingga dadaku rebah menyatu dengan
kasur meski pahaku masih dalam posisi doggy style.
Kujilati daerah anusnya hingga Leo merintih kegelian.
Semakin dia meringis semakin terbakar nafsuku untuk
memberinya kepuasan dari seluruh tubuhku.

Jilatanku berganti dengan hisapan dan tusukan ibu jariku
ke dalam liang anusnya. Kubuang rasa jijikku, yang ada
hanyalah hasrat ingin melayani dan memberikan kepuasan
kepada kedua jagoanku itu. Lama-lama aku merasa menjadi
pelacur ahli tempat pemuas nafsu seksualitas mereka,
namun anehnya aku malah semakin merasa horny dengan
perasaan demikian.

Dengan rasa itu, ditambah pula desakan dalam duburku,
akhirnya aku tidak tahan lagi dan menjerit keras melepas
orgasmeku yang entah untuk keberapa kalinya terjadi, dan
tubuhku bergetar hebat sementara kemaluanku menyemburkan
cairan kental yang hangat. Rio segera menusukkan jari
telunjuk dan jari tengahnya ke dalam vaginaku sambil
terus bergoyang maju mundur.

“Oh.. jepitanmu kuat sekali Han. Jariku sampai
berdenyut-denyut di dalam. Bagaimana rasanya..?
Asyikkan..?”
“Asyik sekali Yang. Oohh.. akh.. hmpm.. aku nggak kuat
lagi.” timpalku dengan memelas.
Leo langsung mengambil inisiatif, diangkatnya tubuhku ke
atas tubuhnya lagi seperti pada posisi awal dan langsung
memberikan rangsangan maut pada kedua buah dadaku yang
memerah dan membengkak akibat hisapan-hisapan mereka.
Aku hanya mampu rubuh di atas dadanya dan membiarkan
tangannya sibuk menjelajahi buah dadaku, bibirnya pun
tidak mau kalah menjilati belakang telingaku dan
leherku.

Dengan sekali jambakan kuat pada rambutku, dia memaksaku
bertumpu pada kedua tanganku dan mengulum bibirku. Aku
hanya pasrah menerima semuanya, bagaimanapun toh aku
menyukai kekasarannya, juga pada saat dia mengangkat
pinggulku dan langsung menancapkan penisnya dalam
vaginaku. Oh Tuhan, sungguh sensasi yang luar biasa
dimana ketiga lubang sex-ku terisi semua. Satu di lubang
vaginaku, satu penis lainnya di lubang anusku berlomba
memacu maju mundur berirama liar, sementara di mulutku
lidah Leo pun bergerak liar maju mundur menghisap
lidahku. Jika saja kiamat akan datang saat itu, aku
takkan menyesal karena aku berada pada puncak kenikmatan
paling dasyat yang membuatku melayang ke surga.

Tempat tidur spring bed Leo berderak-derak seirama
dengan gerakan kami. Mungkin orang di luar kamar ini
pasti mendengarnya, namun aku tidak perduli lagi, bahkan
aku ingin menjerit memamerkan keadaanku yang sedang
disenggamai kedua lelaki jantan ini. Napasku memburu dan
kutekankan buah dadaku di dada Leo sambil terus mengulum
lidahnya.

“Ayo Sayang, oh.. goyang teruss..! Oh.. ya.. akh..
shh..!” desahku di antara lidah Leo.
Peluh kami banjir memenuhi tubuhku dan seprei coklat
sampai akhirnya tiba-tiba Rio berteriak keras dan
kurasakan cairan hangat itu tumpah dalam anusku. Aku
merapatkan lubang anusku menjepit penis Rio dan
menahannya tetap di dalam anusku hingga sensasi itu
hilang. Rio menampar pinggulku keras sekali sambil
memaki tidak jelas, lalu mencabut batang kemaluannya dan
rebah di samping kami.

Aku segera menegakkan badan dan gantian kini aku yang
memompa Leo. Kuturun-naikkan pinggulku semakin cepat
hingga tusukan penis Leo terasa sangat nikmat. Gerakan
demikian sangat menguras tenagaku, sehingga tidak lama
aku tidak sanggup lagi mengangkat pinggulku, namun
rupanya Leo tidak mau melepaskan kenikmatan itu, maka
dia lalu ganti mengangkat pinggulku dan melakukan
gerakan seperti tadi.

Tanpa melepaskan penisnya dari liang sanggamaku, leo
membalik posisi kami hingga aku terbaring di kasur
dengan kaki mengangkang ke atas, sementara Leo duduk
tegak dan melanjutkan kegiatan mengocoknya. Dengan
posisi demikian aku lebih leluasa meremas payudaraku
sendiri dan bergoyang erotis sambil sesekali menarik dan
menjepit putingku dan mendesah halus. Menyaksikan aku
yang bergerak erotis, Leo semakin mempercepat frekuensi
sodokannya plus gigitannya pada betisku. Tidak lama
kemudian dia mulai menegang.

“Han.., udah hampir nih..!”
“Jangan, jangan dicabut dulu Yang, aku juga hampir..!”
pintaku memelas dan kini aku pun ikut menggoyangkan
pinggulku berlawanan arah dengan dorongan pantat Leo.
“Keluarin dalam ya?” bujuk Leo.
“Ter.. se.. rahh.. akkhh..!” aku memuntahkan lagi cairan
orgasmeku.

“Ohh.., enaknya jepitanmu Han. Oh.., ash.., shshsh..,
aakhh..!” cairan hangat yang kugilai itu tumpah dalam
vaginaku dan aku sangat terkesan oleh sensasi yang
ditimbulkannya karena sebenarnya baru pertama kali ini
aku membiarkan sperma memenuhi vaginaku.
Aku sangat menjaga agar jangan sekali pun ada sperma
yang menyentuh daerah vaginaku, sebab aku tidak ingin
hamil, tetapi hari ini aku lupa akan kekhawatiranku itu.
Aku ingin merasakan semua fantasi-fantasiku selama ini,
lagipula kalau hitunganku tidak salah hari ini aku masih
dalam masa tidk subur.

Leo lalu mengeluarkan penisnya dari vaginaku dan rebah
di sebelah kananku meninggalkan aku yang masih gemetar
dengan anus dan vagina basah penuh sperma. Kakiku tetap
kubuka lebar agar aku dapat merasakan sperma yang
mengalir di bibir-bibir vaginaku yang masih
berdenyut-denyut kencang. Kedua lelaki tadi terbaring
dengan mata tertutup entah tertidur atau berpikir. Aku
pun tidak dapat menahan kantuk dan segera tertidur
kelelahan dalam posisi tadi.

Ketika aku bangun hujan telah berhenti, kulirik jam di
tembok ternyata sudah jam 4 lewat, tangan kananku
bergerak otomatis ke arah vaginaku, sedangkan tangan
kiriku mencari Leo ataupun Rio, namun ternyata mereka
sudah tidak ada di sampingku.
“Akh.., kemana sih mereka?” aku bergegas berdiri mencari
bajuku atau minimal CD dan BH-ku, namun aku tidak
mendapatinya.
Yang kudapat akhirnya hanyalah kemeja dan rokku saja.
Akhirnya tanpa mengenakan BH dan CD aku memakai baju dan
rokku dan segera merapikan diri, di luar terdengar tawa
beberapa orang yang kupikir pasti Leo atau Rio dengan
teman-temannya.

Setelah yakin penampilanku sempurna, aku segera keluar
mendapati mereka dengan maksud meminta Rio mengantarku
pulang. Benar saja di ruang tengah ternyata Leo dan Rio
berkumpul bersama teman-temannya lagi asyik ngobrol dan
nonton film triple X. Begitu aku muncul, mereka langsung
terdiam dan menatapku dengan ganjil. Memang tanpa BH
payudaraku dengan puting yang mencuat tegang tampak
jelas di balik kemeja kuning muda dan sangat tipis ini,
dan itulah mungkin yang menyebabkan mereka terbelalak
menatapku.

“Udah bangun Han? Sini duduk sini yuk. Kenalin nih
teman-temanku. Itu Rudi, Adi, Dias, Deni dan Lilo.” Leo
memperkenalkan temannya satu persatu.
Setelah menjabat tangan mereka, aku pun ditarik duduk di
antara Leo dan Rio, lalu ikut menyaksikan adegan panas
di TV. Kami pun terlibat obrolan menarik seputar sex dan
ML selama kurang lebih satu jam sambil sesekali mereka
menggerayani tubuhku.

“Rio udah sore nih, antarin aku pulang dong..! Belum
mandi nih.” kataku sambil mengancingkan kemejaku dan
merapikan rokku yang telah tersingkap kesana kemari.
Aku takut kalau lama-lama di sini jangan-jangan aku
dikerjai mereka semua disuruh melayani nafsu mereka.
Bukannya aku tidak mau, sebenarnya aku malah tergoda
sekali untuk merangsang mereka, tapi aku malu lah
mengingat selama ini kan aku dikenal sebagai cewek
‘baik-baik’ dan aku belum siap kehilangan predikat itu.

“Ok deh, yuk..!”
Aku segera mengambil tas dan buku-bukuku dari kamar Leo
dan diantar pulang oleh Rio. Sebelum mandi aku menatap
tubuh bugilku di depan kaca dan mengusap bekas-bekas
cupangan Leo dan Rio di sekujur badanku terutama daerah
payudara, perut sampai di bawah pusarku. Bulu-buluku
menegang kembali mengingat kejadian barusan yang
kualami, lalu tanpa sadar aku bermastrubasi di depan
kaca, tapi karena tidak kuat berdiri aku membaringkan
tubuhku di atas kasur dan mulai mengerjai vaginaku
sendiri. Kumasukkan jari telunjuk dan jari tengahku ke
dalam vaginaku, lalu mulai mengocoknya sambil meremas
putingku bergantian dengan tangan yang satunya.

Lima belas menit akhirnya aku selesai tapi birahiku
masih tinggi, maka kuambil HP-ku dan menghubungi Ken
mantan pacarku. Sampai sekarang kami masih tetap
berhubungan hanya untuk melepaskan hasrat seksual
masing-masing. Batang kemaluan Ken memang tidak sebesar
punya Rio apalagi Leo, tapi dia tahu bagaimana memuaskan
aku dan membuatku merindukan kocokan mautnya. Satu
setengah tahun kami pacaran dan dia telah mengajarkan
segalanya tentang bagaimana membuat lelaki puas melepas
hasrat mereka dengan membiarkannya melakukan apa saja
terhadap tubuh wanita.

“Halo, Ken? Ke sini dong, aku kangen nih. Udah dua hari
kamu nggak ke sini, aku kan kangen mo ngemut lolipopmu.
Aku hampir gila nih nggak dikasih jatah. Bilang dong ama
Vivi aku juga butuh, bukan cuma dia.” rayuku.
“Mau tau nggak aku lagi apa? Dengar ya Yang, aku lagi
tiduran bugil mastrubasi bayangin kamu. Datang dong..!”
“Ok deh. Tapi aku nggak bisa lama-lama, soalnya jam
tujuh nanti ada janji mo temenin Vivi ke pesta. But kamu
siap-siap aja ya aku datang bentar lagi.”
Kututup telponku setelah memberikan ciuman panjang
kepadanya.

Aku langsung bergegas mandi, berdandan dan mengatur
kamarku tanpa memakai baju, hanya kulilitkan handuk
saja. Kasur kuletakkan di tengah ruangan dan kututupi
dengan selembar kain, sebab aku tidak mau nanti malam
tidur dengan bau sperma. Untungnya kosku ini termasuk
bebas dimasuki cowok sampai jam 10 malam, jadi kami
bebas melakukan apa saja tanpa perlu khawatir, apalagi
khusus saat ini hujan tampaknya akan deras lagi,
sehingga aku yakin segaduh apapun kami nanti suaranya
akan hilang ditelan deru angin dan hujan.

Setelah selesai persiapan ruangnya, aku segera
mengoleskan baby oil ke seluruh badan agar tampak
mengkilap dan seksi plus harum. Tidak lupa aku makan
dahulu, tidak terlalu banyak yang penting cukup untuk
memberi tenaga, karena aku tahu kalau sudah berhubungan
dengan Ken aku pasti tidak bakalan sanggup bangun
apalagi makan. Tidak lama setelah aku merapikan dandanan
lagi sehabis makan, kudengar pintu diketuk dan aku
bergegas membukanya.

“Hallo cantik,” Ken mencium bibirku dan mencubit
pantatku di balik handuk yang kukenakan sebelum masuk
dan memutar film blue.
Dia memang suka merangsang dirinya dengan menonton film
begituan sebelum meniduriku. Setelah mengunci pintu aku
menyusulnya dan segera kuciumi bibir dan lehernya
habis-habisan dengan napas memburu. Aku memang tidak
butuh film untuk merangsang diriku, sebab dengan bugil
di depan cowok saja dan membayangkan bahwa sebentar lagi
aku akan menjerit-jerit kesenangan cukup untuk membuatku
merasa horny.

“Umhh… aku kangen sekali Yang,”
Kubuka kancing kemejanya satu persatu sambil kuciumi
dadanya, dia tetap tidak bergeming sambil terus menatap
layar TV. Kujilati sekujur tubuhnya mulai dari wajah,
leher, dada hingga ke perut dan pusarnya, dia hanya
mendesah sedikit. Memang cowok ini susah dirangsang,
tapi kalau sudah on, wuiihh dasyat..! Oleh sebab itu
meski harus kurendahkan diriku dengan menari-nari erotis
menjilat kepala sampai ujung kakinya pun aku rela,
bahkan bila aku diharuskan merengek dan menangis memohon
padanya untuk sudi menusuk kemaluanku, aku pasti mau.

Dia telah membuatku bertekuk lutut dan memujanya.
Seluruh sendiku terlanjur dibuatnya tergila-gila pada
jilatannya, hisapannya, kecupannya, sentuhannya,
remasannya, cubitannya, bahkan pada pukulan dan
tamparannya. Bercinta dengannya berarti merelakan diri
menjadi budak seks yang sangat hina yang hanya dapat
menerima perlakuannya tanpa banyak cincong.

Puas bermain dengan dada dan putingnya, aku membuka ikat
pinggangnya dan kurebahkan dirinya di atas kasur agar
aku dapat menelanjanginya dengan mudah. Kulempar
jauh-jauh handuk yang menutup tubuhku, lalu mulailah aku
beraksi merangsangnya, mulai dari kuciumi jari-jari
kakinya, kukulum dan kujilat dengan penuh perasaan lalu
naik menuju betisnya, kulakukan hal serupa pada sebelah
kakinya.

Kurapatkan kedua kakinya dan kurebahkan badanku di
atasnya lalu kugesek-gesekkan buah dadaku hingga
bersentuhan dengan bulu-bulu kakinya. Iihh.. gelinya..
merangsang. Kubuka kembali kedua kakinya dan kutekuk,
lalu aku masuk di antaranya dan merapatkan wajahku ke
selangkangannya. Kumanja dia dengan oral seks
kebanggaanku, membuatnya makin lama makin mengerang
tidak karuan.

Akhirnya usahaku tidak sia-sia, bersamaan dengan adegan
memancarnya mani pria di film porno itu Ken segera
merenggut rambutku dan menarikku hingga rebah di kasur.
Aku gemetar dan berdebar-debar menanti luapan birahinya
atasku. Dengan ahlinya Ken menggerayangi tubuh bugilku
dengan lidah dan tangannya sekaligus menyentuh setiap
titik rangsangku, membuatku tidak dapat berbuat apa-apa
kecuali mendesah, melenguh dan menggelinjang hebat
tatkala sebelah putingku digigit, sedangkan sebelahnya
lagi dipelintir jarinya dan tangan satunya sibuk bermain
di daerah kemaluanku, sebelum akhirnya kedua jarinya
amblas ke dalam vaginaku.

“Aakkhh.. Ooww yeah..!” kugigit bibirku erat-erat
mencegah jeritan penuh kenikmatan yang hendak keluar.
Badanku mulai bergoyang seirama dengan sodokan
jari-jarinya di dalam vaginaku. Tanganku bergerak meraih
wajahnya dan kukulum bibirnya penuh nafsu. Kubayangkan
lidahnya sebagai sebuah penis dan kuhisap dengan
semangatnya. Kemaluanku pastilah sangat banjir sebab
dapat kudengar bunyi kecipaknya beradu dengan tangan Ken
semakin jelas. Ken mencabut jarinya dan menarik lidahnya
dariku yang langsung memperlihatkan wajah kecewa tapi
tidak lama kemudian wajahku segera berubah menjadi
meringis nikmat tatkala kurasakan lidah Ken menari-nari
di lubang sanggama hingga anusku sambil tidak lupa
menghadiahkanku beberapa gigitan di klitoris, bibir
vagina dan daerah panggulku.

Enaknya cumbuan Ken membuatku merintih-rintih dan
melambungkan dadaku hingga payudaraku yang bengkak
berisi bergoyang-goyang liar menggoda Ken untuk
meremasnya sambil tetap menghisap vaginaku menelan semua
cairan yang keluar dari vagina merah jambuku ini.
Adakalanya dia begitu lembut menjilati tubuhku dan
membelai seluruh permukaan kulitku, membuatku mendesah
nikmat, namun kadang pula dia begitu liar dan kasar
melahap semua kenikmatan yang ditawarkan tubuh bugil dan
menggoda yang terbaring menyerah tanpa syarat kepadanya
ini.

Dia memang tidak dapat ditebak, semakin keras aku
menjerit kesakitan, makin bernafsu dia menyakiti dan
membuatku menjerit lebih keras lagi. Jika sampai di satu
titik dimana aku tidak dapat menjerit lagi dan hanya
dapat menangis lirih menahan rasa sakit sekaligus
nikmat, maka dia tampak sangat puas dan mulai
melembutkan cara bercintanya. Namun anehnya, dari
pertama kuserahkan diriku bulat-bulat padanya, aku telah
jatuh cinta pada cara bercintanya yang aneh ini, atau
dengan kata lain lama-lama aku kecanduan berat ditiduri
olehnya hingga satu hari saja tidak kurasakan penisnya
menyodok vaginaku, maka pastilah aku terus uring-uringan
tidak menentu.

Ketika aku tidak berdaya lagi, akhirnya Ken mau
meloloskan permohonanku untuk disenggamai olehnya.
Sebagai permulaan, dipaksanya aku mengulum penisnya agar
licin jika dimasukkan ke dalam vaginaku. Tentu saja
pekerjaan itu kusambut dengan senang hati dan kukerahkan
seluruh kemampuanku menjilat, mengulum dan mengisap
penis yang sangat kudamba itu.

Pekerjaanku itu memang ‘tokcer’, buktinya Ken segera
mengalihkan penisnya ke arah vaginaku, dan amblas lah
batang lumayan besar itu, meski tidak sebesar punya Rio
atau Leo itu ke dalam liang senggamaku dan tentu saja
disambut vaginaku penuh sukacita dengan langsung
menjepitnya erat-erat. Dari gerak tubuh Ken kutahu dia
pun sangat terangsang dan ingin menyalurkan nafsunya itu
sesegera mungkin.

Dalam beberapa saat selanjutnya hanya terdengar dengusan
napas terengah cepat dan gesekan seprei di antara bunyi
‘pak-pak-pak’ yang timbul dari terpaan daerah selangkang
Ken dengan pantatku. Tubuh kami menyatu bergoyang
seirama tidak beraturan, kadang cepat kadang pelan, lalu
cepat lagi hingga beberapa kali aku tidak sanggup
menahan erangan keras yang keluar sebagai ungkapan
nikmat yang kurasakan tatkala gesekan kejantanan Ken
terasa sekali dalam dinding vaginaku. Tengah asyiknya
aku mendaki gunung kenikmatan birahi itu, tiba-tiba Ken
menghentikan sodokannya dan menarik rambutku hingga
leherku serasa akan patah.

“Hana, kamu habis ditiduri orang lain ya?” tanyanya
marah sambil lebih keras lagi menarik rambutku sampai
kepalaku mendongak ke atas dalam posisi doggy style.
“I.., iya Ken.” jawabku ketakutan.
“Kapan dan di mana, Han..?”
“Tadi siang di rumah temanku.” erangku pelan menahan
sakit. “Aku dipaksa Ken, aku nggak bisa menolak, abis
mereka berdua sih.” tambahku sambil berbohong sedikit
untuk membela diri.

“Ooo.. jadi sekarang kamu udah terima servis massal ya?
Dasar perempuan jalang nggak tau diri, memekmu gatal apa
kalau nggak dimasuki kontol? Rasanya aku harus memberimu
pelajaran deh.”
Tanpa mencabut penisnya dari liang senggamaku, tangannya
meraih ikat pinggangnya yang tadi kuletakkan di sisi
tempat tidur. Aku tidak berani bersuara sedikit pun,
bahkan tidak berani mengembalikan kepalaku ke posisi
normal.

Selanjutnya dapat ditebak, Ken menaikiku bagaikan
seorang rodeo. Dicambuknya tubuhku sambil terus mengocok
kejantanannya di dalam liangku. Setiap pukulan yang
hinggap di tubuhku hingga berbekas merah sangat
dinikmatinya, begitu pula setiap jeritan yang keluar
dari bibirku, semakin mendorongnya mencapai orgasme,
sementara mulutnya tidak berhenti memaki-maki aku.

“Aakh… kkhh..” setelah berganti gaya beberapa kali
agar dia dapat terus menyodokku sambil memukul hingga
tidak ada bagian tubuhku kecuali wajah yang luput dari
ciuman ikat pinggangnya, akhirnya dia mencapai orgasme
yang sangat hebat.
Semprotan air maninya terasa hangat ketika tumpah di
wajah dan mulutku. Mau tidak mau meski badanku penuh
bilur kemerahan aku juga mencapai orgasme yang sangat
hebat pula hingga tubuhku bergetar liar sebelum akhirnya
diam terpuruk di atas kasur. Kupejamkan mataku sambil
menjilati sperma yang masih tersisa di sekitar mulut dan
wajahku.

“Kamu memang berbakat jadi perek Han. Dari pertama aku
menidurimu, aku langsung tahu kalau kamu ini memang
perempuan binal yang sangat-sangat gatal. Tapi nggak
pa-pa, mungkin itu malah menguntungkan suatu hari
kelak.”
Ditepuknya pahaku sebentar, lalu dia cepat-cepat
berkemas memakai bajunya.

“Besok kuhubungi lagi kalau ada waktu. Kamu boleh tidur
dengan orang lain tapi ingat, kamu harus beritahu aku
dulu. Mulai sekarang aku yang akan menentukan dengan
siapa kamu bisa bersanggama dan siapa yang boleh
menidurimu. Dengar?”
Aku hanya dapat mengangguk menerima ultimatumnya meski
masih tidak jelas dengan maksudnya. Dia masih sempat
menggigit klitorisku sebelum meninggalkanku terbaring
tanpa daya penuh memar dan sperma di dada dan wajah.
Tanpa repot-repot membersihkan diri aku langsung jatuh
tertidur kecapaian.

Keesokkan hari dan hari-hari selanjutnya hingga saat ini
Ken mewujudkan kata-katanya dengan menjadikan aku
pelacur sungguhan yang melayani semua permintaan kapan
saja dan dimana saja sesuai keinginan klien yang tidak
lain adalah teman-temannya sendiri. Aku tidak pernah
menyesali semua yang terjadi pada diriku, sebab justru
dengan menjadi pelacur di tangan Ken aku dapat memenuhi
semua kebutuhanku, terutama kebutuhan akan seks yang
tidak kusangka semakin hari semakin besar.

Sejak saat itu aku telah enam bulan menjadi pelacur di
kalangan teman dan relasi Ken. Rio dan Leo menjadi klien
tetapku setiap Jumat malam tanpa dipungut bayaran. Ken
sendiri masih sering meniduriku, terutama bila tidak ada
pesanan. Sebagai tambahan pula semenjak lima bulan yang
lalu aku pindah kos ke sebuah rumah kontrakkan bersama
empat orang gadis lain termasuk Vivi agar kami lebih
bebas menerima klien dan bebas ditiduri oleh pacar-pacar
kami dan berorgy semalam suntuk. Tapi peranku di dunia
kampus tetap tidak berubah. Di mata teman-teman yang
tidak mengetahui kerja sembilanku, aku tetap Hana yang
dulu, mahasiswi semester delapan yang cemerlang dan
nyaris tanpa cela di mata dosen.

TAMAT

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar