Rumah Baru KisahBB

Setelah 2x ga diterima di Wordpress sehubungan penjualan DVD, Shusaku akhirnya memutuskan memindahkan blog cerita seru KisahBB kesayangan kita ke sini.

kirim cerita karya anda atau orderan DVD ke:


Order via email: mr_shusaku@yahoo.com


tuliskan: nama, alamat jelas, nomor HP, dan list barang yang diinginkan di email pemesanan


email akan segera saya balas dengan rincian harga & no ac bank bca/mandiri unk transfer. barang akan dikirim dengan tiki/pos setelah konfirmasi transfer diterima.

Promo diskon gede-gedean

Paket istimewa 500rb (50dvd),

untuk dalam Pulau Jawa free ongkos kirim, untuk luar Pulau Jawa tergantung daerah.

Harga normal Rp 15rb/dvd kalau beli banyak Rp.12.500/dvd, untuk paket kali ini jatuhnya Rp. 10rb/dvd, murah banget!!


Tapi ini terbatas hanya untuk 10 orang saja.

jadi silakan order, bisa dilihat list barang di

- list semi & softcore

- list western xxx

- list jav


untuk pemesanan email ke mr_shusaku@yahoo.com

Subject: paket istimewa 500rb

tuliskan: nama, alamat jelas, nomor HP, dan list barang yang diinginkan di email pemesanan

email akan segera saya balas dengan rincian harga & no ac bank bca/mandiri unk transfer. barang akan dikirim dengan tiki/pos setelah konfirmasi transfer diterima.


-untuk pesanan di atas 50dvd, selanjutnya dihitung @Rp.10.000,-

-hanya untuk film2 satuan (JAV, western XXX, dan Semi), tidak berlaku untuk koleksi pics & kompilasi

Jumat, 12 Agustus 2011

The Click 3: Monkey Love and Heart Break

14 Maret 2009

Kring….Kringg…….

Suara jam bekerku yang berdering keras membangunkanku dari tidurku. Tanganku meraih jam beker untuk mematikannya. Saat aku melihat ternyata sudah jam 8 pagi.

“Mmm…aku laper. Waktunya sarapan nih.”, kataku. Aku segera beranjak dari tempat tidur dan menuju kamar mandi. Selesai mandi dan berganti pakaian, aku segera meninggalkan rumah Profesor Suparman dan pulang kerumahku sendiri. Saat aku melangkah keluar, kulihat rumah mbak Rita masih sepi. Aku teringat kejadian tadi malam. Mbak Rita benar-benar perempuan yang hot. Beruntung aku bisa ngentot sama ibu muda yang jadi impian setiap laki-laki di komplek perumahan ini. Aku tersenyum, lalu segera menuju rumahku.



Sampai di rumah, ternyata rumahku sepi. Mama mungkin sudah pergi kerja, dan Dini juga sedang sekolah. Kak Sarah mungkin masih tidur, karena kulihat Honda Jazz merahnya masih terparkir di garasi. Aku segera menuju keruang makan, dan langsung mengambil makanan yang sudah disiapkan mama sebelum berangkat kerja.

“Hei, Joe. Darimana kamu? Trus printer kamu lagi kamu kemanain?”, terdengar cerocos suara mbak Sarah. Aku menoleh ke asal suara itu, dan aku pun tersedak. Bagaimana tidak? kak Sarah datang cuma mengenakan kimononya. Tampaknya dia baru saja selesai mandi. Rambutnya masih basah. Tubuh indahnya tercetak jelas dari kimono mini yang dipakainya. Payudaranya yang montok, dengan putingnya yang terbayang dari balik kimononya. Kimono mininya hanya menutupi sampai sedikit di bawah pangkal pahanya, hingga aku bisa melihat paha mulus dan kaki jenjangnya. Bener-bener nggak salah kalo kak Sarah memilih bekerja sebagai model. She’s got the body and she’s got the look.

Aku meminum segelas air untuk menenangkan diri sebelum menjawab.

“Aku tidur di rumah Profesor Suparman. Dia pergi untuk meneruskan eksperimennya, lalu rumahnya dititipin ke aku. Laptop sama printerku ada disana, aku perlu buat kerjain tugas. Emang napa sih?”, terangku.

“Oh gitu. Tapi aku sama Karin butuh nge-print tugas kelompok nih.”, jawab kak Sarah santai. Tampaknya dia sama sekali tak sadar kalo adiknya ini laki-laki normal. Aku jadi tak kosentrasi, naluri laki-lakiku membuat mataku ingin selalu melihat ke arah tubuh sexynya, tapi tentu saja aku berusaha untuk tak terlalu sering menatapnya. Dia kan kakakku sendiri.

“Karin? Emangnya dia disini?”, aku berharap kak Sarah menjawab iya. Dan hatiku pun langsung bersorak saat kak Sarah mengangguk.

“Ada tuh, lagi di ruang atas.”, jawab kak Sarah. Aku segera menyelesaikan makanku buru-buru. Setelah itu, aku segera menuju ke atas.

Karina. Itulah namanya. Sahabat karib kak Sarah sejak kecil. Karina adalah cewek yang jadi cinta monyetku, cinta pertamaku, sejak aku masih ingusan. Aku jatuh cinta padanya sejak masih SMP. Tentu saja aku nggak pernah berani buat ngomong sama Karina, karena dia temen kakakku. Dan juga Karina tampaknya selalu menganggapku sebagai adik kecilnya, tak pernah serius menanggapi perhatian dan tingkah konyolku untuk menarik perhatiannya.

Saat aku tiba di ruang atas, aku melihat seorang gadis cantik sedang asyik membaca majalah sambil duduk di sofa. Wajahnya yang cantik jelas sekali menampakkan darah orientalnya. Tapi matanya tidak sipit yang membuatnya tampak makin cantik. Aku tak ingat mulai kapan aku mengagumi wajah cantik itu. Mungkin sejak pertama kali kak Sarah membawanya main kerumah bertahun-tahun yang lalu. Tubuhnya tinggi langsing, karena dia juga menjadi model sama kayak kak Sarah. Kaos ketat dan blue jeans yang dikenakannya menampakan lekuk tubuhnya yang indah. Memang kalau dibandingkan dengan kak Sarah, Karina masih kalah pada bagian dada. Tapi wajahnya yang cantik dan berkesan innocent menurutku lebih menarik. Kulitnya juga putih mulus khas gadis oriental.
Karina

“Hi.”, sapaku agak kaku. Entah kenapa aku selalu gugup kalau ngomong sama Karina. Mungkin karena dia cinta pertamaku yang tak pernah kudapatkan. Gadis itu menoleh, lalu tersenyum manis kala melihatku.

“Hi, Little Joe. Kamu makin hari, makin ganteng aja nih. Darimana aja kamu?”, sapa Karin yang membuat wajahku merah. Karina memang selalu bisa membuatku GR.

“Nggg… dari rumah Profesor Suparman di ujung gang. Aku disuruh jagain rumah dia.”, jawabku sambil duduk di sebelahnya.

“Profesor Suparman?? Yang katanya gila itu??”

“Nggak kok. Dia orangnya baik. Eksentrik dan aneh memang, tapi nggak gila.”, jelasku.

“Oh, gitu.”, jawab Karina lalu dia sibuk lagi membaca majalah. Aku ikut-ikut meraih satu majalah dan pura-pura membaca, padahal aku sering mencuri pandang untuk menikmati kecantikannya.

“Karin, gue pergi sama Rony dulu ya. Kamu tolong selesaiin tugas kita. Minta si Joe tuh buat nge-printnya.”, kata kak Sarah yang sudah berganti pakaian dan bersiap untuk pergi.

“Dasar loe. Ini kan tugas kelompok. Mestinya kita ngerjainnya sama-sama.”, jawab Karina sambil merajuk.

“Please. Gue kan sudah lama nggak kencan sama Rony. Kemarin kemarin gue kan selalu jalan sama Agus.”, rayu kak Sarah sambil memeluk tubuh Karina dari belakans sofa tempat kami duduk. Sekilas aku melihat, wajah Karina memerah.

“Iya..iya… Makanya kalau punya cowok, satu aja. Loe sendiri kan yang repot ngatur waktunya.”

“Thats my girl. Thanks ya. Gue pergi dulu, ntar kita ketemuan di kampus.”, jawab kak Sarah sambil memberikan kecupan di pipi Karina. Wajah Karina makin memerah, tapi aku melihat senyum tipis mulai menghiasi wajahnya yang tadi cemberut.

“Joe. Tolongin si Karin ya. Kakak pergi dulu. Bye.”, kata kak Sarah sambil mengucek-ucek rambutku.

“Iya..iya…bawel!”, jawabku agak kesal sambil merapikan rambutku lagi. Tapi kak Sarah sudah ngeloyor pergi. Lalu ruangan itu kembali sepi karena Karina kembali asyik membaca majalah. Aku memperhatikan gadis cantik itu, dan pikiranku pun berimajinasi liar. Tiba-tiba terbersit ide cemerlang di kepalaku.

“Shit! Aku bego banget sih. Sekarang khan aku punya The Click. Kenapa aku cuma membayangkannya kalo aku bisa membuatnya jadi kenyataan.”, pikirku dalam hati.

“Eh, Karin. Katanya kamu mau nge-print tugas kamu?”, tanyaku.

“Oh, iya. Tapi kata Sarah, printer kamu nggak ada.”

“Ada di rumah Profesor. Mending kita kesana aja. Kamu bisa nge-print tugas kamu disana.”, kataku. Aku berpikir untuk melakukan rencanaku di rumah profesor, karena disana lebih aman.

“OK deh. Kita kesana sekarang?”, kata Karina sambil berdiri. Aku mengangguk dan mengajak gadis cantik itu menuju rumah Profesor.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

“Wah… bagus juga nih rumah. Cuman agak berantakan he..he..he..”, kata Karina saat memasuki rumah Profesor.

“Habis yang tinggal cuma laki-laki doang. This house need a woman touch.”, jawabku.

“Yap.”

Aku segera mengajak Karina ke kamar utama karena laptop dan printerku ada disana. Karina segera menghidupkan laptopku untuk mulai mengerjakan tugasnya. Senyum penjahat segera menghiasi wajahku saat aku menekan tombol The Click, lalu menaruhnya di atas meja dekat tempat tidur. (Emang ada yang tahu senyum penjahat kayak gimana he…he…he…)

Beberapa saat kemudian, aku mulai merasakan efek The Click. Birahiku meningkat drastis. Karina juga tampaknya sudah mulai jatuh dalam pengaruh dashyat The Click. Duduknya mulai tak tenang. Aku mendekati sosok cantik itu dari belakang, dan memeluknya.

“Karin.”, bisikku di telinga Karina.

“Ka..kamu kenapa Joe? Pake meluk segala.”, kata Karina dengan nafasnya yang mulai tak beraturan. Tapi gadis itu sama sekali tak mencoba untuk melepaskan diri dari pelukanku.

“Aku sayang kamu.”, kataku sambil mencium leher jenjangnya yang putih. Kulit Karina terasa lembut dibibirku.

“Hhmmm… Joe…”, desis Karina.

Aku menariknya bangkit, lalu membalikkan badannya hingga kami kini berhadapan. Wajah Karina yang sedang dikuasai nafsu birahi tampak makin cantik. Matanya menatap sayu dan semu merah tampak menghiasi wajahnya. Bibirnya yang manis sedikit terbuka, membuatku segera melumatnya dengan bibirku. Aku menciumnya dengan penuh nafsu. Awalnya Karina mencoba menolak, tapi pengaruh The Click segera membuatnya membalas ciumanku dengan tak kalah panasnya.

“Hhhmmm…..mmmpphhhh…..”, desah kami berdua hanya terdengar seperti gumaman. Aku melepaskan ciumanku. Tanganku meraih ke bagian bawah kaos ketat yang dikenakan Karina, lalu menariknya ke atas, mencoba melepaskannya. Karina membiarkanku menelanjangi tubuh bagian atasnya. Sport Bra putih yang dikenakannya pun aku lepas sekalian.

Aku diam dan terkagum memandangi keindahan tubuh Karina. Payudaranya yang mungil tapi berbentuk indah dengan putting yang mencuat karena birahi sedikit begerak naik turun karena nafas Karina yang berat.

“Joe..ini nggak bol…aaahhh…”, protes Karina terhenti karena aku sudah melumat putingnya dengan mulutku. Tanganku pun tak ketinggalan meremas lembut payudaranya.

“Hhmmm…ahh…..mmmhhh…..”, desis Karina menikmati permainanku didadanya. Aku masih terus melumat payudaranya dengan mulutk saat tanganku bergerak melepas kancing celana blue jeannya.

Ciumanku menyusur turun ke perutnya yang rata saat tanganku menarik turun jeans Karina. Karina menggerakkan kakinya, membantu usahaku dalam melucuti celananya.

“Aaaahh…Joe….”, rintih Karina saat aku mencium memeknya dari balik celana dalam putihnya. Aku bisa merasakan celana dalam itu sedikit basah. Tampak Karina benar-benar sudah larut dalam birahi.

Aku berdiri, lalu membaringkan tubuh Karina yang hanya bercelana dalam saja ke atas ranjang.

Kemudian aku buru-buru melepaskan pakaianku sendiri. Kontolku sudah berdiri tegak dengan gagahnya. Aku melihat ke arah Karina yang berbaring di ranjang. Wajah cantiknya menatap kearah Joe Jr. yang berdiri menantang. Kontolku memang panjangnya biasa aja, rata-rata lha. Tapi diameternya cukup gemuk. Dan wanita yang sudah pernah mencobanya sangat puas dengan gemuknya kontolku itu. Lebih terasa, kata mereka.

Aku segera menyusul Karina ke atas ranjang. Aku berbaring si sebelahnya, tapi tubuhku kuhadapkan kearahnya. Kucium lagi bibirnya yang menggemaskan itu, sementara tanganku menyusuri lekuk indah tubuh Karina. Payudaranya sekali lagi menjadi sasaran mulutku, sementara tanganku menyusur ke selangkangannya.

“Aaahhh…sstttt…Joe….aahhh…..”, desis Karina makin keras saat tanganku mulai nakal menyusup kebalik celana dalamnya dan mengusap memeknya.

“Shit. No hair. Just the way I like it.”, sorakku dalam hati saat tanganku merasakan tak ada bulu sama sekali di memeknya.

Aku bergerak ke bawah. Kaki jenjang Karina kuangkat dan kuciumi. Jari-jari kakinya kuhisap dengan mulutku, membuat Karina mendesah nikmat. Perlahan aku menciumi kakinya sambil bergerak menyusur ke atas sampai ke pahanya. Aku melihat celana dalam Karina makin basah. Aku mencoba melepas celana dalam itu. Karina membantuku dengan mengangkat sedikit pinggulnya.

Aku terpesona saat melihat memeknya untuk pertama kali. Memek Karina sangat indah. Tak ada bulu yang tampak di memek itu, dan garis belahannya tampak sangat rapat. “Jangan-jangan Karina masih perawan.“, pikirku.

“Kamu masih virgin?”, tanyaku. Karina hanya menggelengkan kepalanya. Tentu saja. Aku tahu kalo Karina pernah punya pacar. Dan aku yakin tak ada laki-laki yang tidak akan mencoba menikmati tubuh indahnya, begitu juga pacarnya. Kudekatkan wajahku ke arah memek indah itu. Lalu kujilati belahannya.

“Aaaah…..aahh….”, desis Karina makin keras saat aku mencumbui memeknya dengan bibirku. Apalagi saat aku menemukan klitorisnya. Karina tampaknya adalah type cewek yang vokal kalo sedang ML. Aku suka dengan cewek model begini. Setiap desahannya malah makin membangkitkan gairahku, dan membuat aku makin bersemangat untuk membuatnya berdesah lebih kencang lagi.

Aku terus menciumi dan menjilati memek Karina, dan jariku mulai ikut ambil bagian. Aku mengocok memek Karina dengan jariku dengan irama pelan sambil terus menciumi dan menjilati bagian memeknya yang lain. Aku dapat merasakan jepitan dinding memek Karina di jariku, dan aku membayangkan pasti jepitannya terasa luar biasa di kontolku.

“Uuughh…Joe…aku..aku.. mau…aahhhh…..”, jerit Karina saat gadis itu orgasme. Pahanya menjepit kuat kepalaku. Pantatnya terangkat seakan membuat aku amkin tertekan di memeknya. Aku bisa merasakan cairan kenikmatan Karina membanjir keluar. Dengan bersemangat aku menjilati dan berusaha mereguk setiap tetes cairan itu.

Karina melepaskan jepitan pahanya saat orgasmenya mulai mereda. Aku beruntung tak kehabisan nafas karena jepitan pahanya. Aku menyudahi cumbuanku di memeknya. Tubuhku bergerak menidih tubuh Karina lalu mencium bibirnya. Karina membalas ciumanku dengan mesra. Wajahnya menyiratkan kepuasan karena permainan oral seksku. Aku menggesekkan batangan kontolku di belahan memek Karina.

“Karin. Boleh aku…?”, tanyaku. Karina tersenyum manis, lalu menganggukkan kepalanya. Aku menuntun Joe Jr. dengan tanganku agar posisinya pas untuk melakukan penetrasi ke memek Karina. Perlahan Joe Jr. pun mulai melakukan aksinya, bergerak menerobos ke liang senggama Karina yang sempit. Aku terus menatap wajah cantik Karina selama proses penetrasi itu. Aku paling suka melihat perubahan mimik cewek saat Jo Jr. mulai mendesak masuk menerobos ke memeknya.

“Aaakhh….pelan…ahhhh…..”, jerit Karina. Aku tak ingin menyakiti cewek cinta pertamaku itu, aku pun menghentikan gerakan saat Joe jr. baru masuk setengahnya.

“Kamu nggak apa-apa Karin?”, tanyaku.

“Nggak apa-apa. Terus masukin. Tapi pelan-pelan, punya kamu gemuk banget.”, jawab Karina. Aku meneruskan penetrasiku. Karina mendesah seperti kesakitan tapi tangannya menarik pantatku, membimbingku untuk menusuk lebih dalam. Karina memang sudah bukan perawan, tapi memeknya benar-benra sempit banget. Dan juga desisnya dan wajahnya yang seperti agak kesakitan, membuatku merasa kalo aku sedang merenggut keperawanan si cantik itu.

“Aakkhh…aakkhh….aakkkhh…”, desis Karina. Wajahnya yang cantik agak sedikit menyeringai kesakitan, saat aku mulai bergerak memompa memeknya. Padahal aku sudah bergerak dengan irama lembut dan pelan.

“Kamu nggak apa-apa? Kamu ingin aku terusin?”. Tanyaku.

“Nggak apa-apa. Terusin. Jangan kuatir sama aku aaahh…”

Akupun meneruskan pompaan kontolku di memeknya dengan lembut dan tempo pelan.

“Aahh….Joe….harder…aahh..ahhhh…”, teriak Karin sambil masih sedikit menyeringai kesakitan. Aku pun menurutinya dan menaikkan tempo penetrasiku. Karina makin menjerit, antar nikmat dan sakit. Aku merasa sedikit heran. Wajah Karina seperti agak kesakitan tapi dia malah menyuruhku untuk memompanya lebih cepat. Tiba-tiba aku teringat dengan film-film bokep asia yang pernah kutonton. Kebanyakan dari mereka selalu berteriak kesakitan, seakan-akan memeknya dihajar oleh kontol raksasa. Tapi tingkah laku mereka tetap sama walaupun kontol yang mengobok-obok memek mereka sebenarnya berukuran kecil. Mungkin Karina termasuk tipikal cewek seperti itu, yang selalu vokal dalam bercinta, bertingkah agak submisive dan selalu berlagak seperti cewek yang baru saja diperawani. Pikiran ini membuatku makin bergairah menyetubuhi Karina. Cewek dengan tipe seperti Karina selalu membuat lawan mainnya merasa menjadi laki-laki perkasa, walaupun sebenarnya tidak.

“Oohh… Karin. Memekmu enak banget aaghh….”, dengusku sambil terus mengocok kontolku ke memek Karina yang sempit. Jepitan memek Karina memang terasa luar biasa.

“Aaaahh….Joe…punya kamu gede banget..ahhh….”, jerit Karina. Kami terus berpacu dalam birahi, sampai kurasakan gerakan Karina makin liar, tampaknya dia akan orgasme untuk kedua kalinya. Aku pun merasa tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi melawan jepitan memek Karina yang makin liar itu.

“Aahh…ahhhh….lebih cepet joe aku mau..ahh..”

“Aku juga aaahh…. Kamu mau di dalem apa aahhh… di luar?”, tanyaku.

“Di dalem ajaaaghhh…. i’m on the pill.. aaaakhhhh……”, jawab Karina di tengah orgasme yang kembali melandanya. Kakinya melingkar di pahaku seakan menyuruku menancapkan kontolku lebih dalam. Tubuhnya mengeliat dalam pelukanku. Memeknya berkontraksi dengan liar seakan menyedot kontolku bagaikan vacumm cleaner. Aku tak bisa bertahan lagi. Joe jr. menyemprotkan banyak sekali cairan sperma ke dalam memek yang menggila itu. Aku memeluk Karina makin erat. Kucium bibrnya dengan penuh nafsu dan Karina pun membalasku.

Saat orgasme kami berdua mereda, aku masih menindih Karina. Aku menyanggah tubuhku dengan bantuan siku tanganku agar gadis cantik itu tak terlalu merasakan beban tubuhku diatasnya. Kontolku yang setengah lemas setelah pertarungan liar barusan, kubiarkan tetap berada di memek Karina menikmati pijatan lembut memeknya yang hangat.

Kami berciuman mesra. Aku menciumi daun telinganya, lehernya yang jenjang. Tanganku meraba ke lekuk indah tubuhnya, merasakan lembutnya kulit Karina. Karina menyambutku dengan hangat. Kurasakan perlahan gairahku datang lagi, dan kontolku kembali mengeras dalam memek Karina.

“Wow, Joe…Kamu mau lagi?”, tanya Karina saat dia merasakan bangkitnya Joe Jr. dalam memeknya.

“Aku nggak akan pernah bosan ngentotin kamu, Karin.”, jawabku sambil mulai mengocok memeknya dengan kontolku. Aku memeluk tubuh Karina dan berguling ke samping, hingga kini Karina berada di atas tubuhku. Kontolku tetap bersarang di memeknya.

Karina segera duduk diatasku dengan memeknya tetap menjepit kontolku. Tangannya bertumpu didadaku. Wajahnya menatapku dengan senyum manis penuh gairah. Karina mulai menggerakkan tubuhnya naik turun diatas kontolku. Aku merasa bagaikan sedang berada di surga. Cewek yang selalu menjadi impianku, yang menjadi cinta pertamaku, menatapku dengan mesra saat kami bercinta. Karina tampak makin cantik. Wajahnya yang dilanda birahi terus menatapku saat pantatnya bergoyang menunggangi kontolku. Peluh sedikit membasahi keningnya.

“Aaahh…Joe…. ahhhh….”, Karina kembali mendesah dengan ekspresi ciri khasnya. Membuatku merasa bagaikan laki-laki yang perkasa. Payudaranya yang indah bergoyang karena gerakannya.

“Oooh…..Karin…ssttt…..”, aku hanya bisa mendesah nikmat. Kami terus berpacu dalam birahi. Jeritan Karina memenuhi ruangan. Untung saja rumah Profesor cukup besar dan kamar ini berada di bagian belakang, kalau tidak suara Karina akan terdengar sampai keluar. Memek Karina yang di sodok kontolku mengeluarkan suara merdu yang berpadu dengan suara benturan pantat Karina dengan pinggul dan pahaku.

Walaupun wajahnya berekspresi seperti sedikit kesakitan, tapi Karina makin liar menunggangi kontolku. Pantatnya tak hanya bergerak naik turun tapi kadang bergoyang ke depan belakang, kadang memutar, membuatku harus bertahan sebisa mungkin supaya tak orgasme lebih dulu.

Setelah beberapa lama terus berpacu dalam birahi, kurasakan memek Karina berdenyut makin liar. Teriakannya makin keras. Tampaknya Karina akan segera orgasme. Aku segera meraih pantat Karina dan menahannya dengan kedua tanganku. Pantatku aku gerakkan naik turun menyambut gerakan memeknya. Tempo pun aku percepat karena aku juga merasa orgasmeku juga sebentar lagi akan tiba.

“Aaahhh….ahhhhh….”, jerit Karina.

“Mmmpphhh…. Karin….Uuughhhh…..”, dengusku. Dan kami pun orgasme secara bersamaan. Aku kembali menyemprotkan maniku ke liang senggamanya. Kalo saja Karina tidak memakai pil kontrasepsi, tentu dia bisa hamil dengan banyaknya maniku yang bersarang di liang senggamanya itu. Tubuh Karina menegang diatasku kemudia seperti kehabisan energi, Karina jatuh dan bersandar didadaku. Aku meraih The Click lalu mematikannya. Aku merasa pertempuran hari in cukup sampai disini dulu, karena aku pun sudah lelah. Aku memeluk Karina, lalu kami pun tertidur dengan tetap berpelukan.

* * * * * * * * * * * ** * * * * *

Hari sudah siang, saat aku terbangun. Pukul 1 siang, saat aku melihat kearah jam bekerku. Karina tidak lagi ada diatas tubuhku. Gadis oriental yang cantik itu duduk di sampingku, dengan kaki jenjangnya ditekuk hingga pahanya menempel di payudaranya. Tampaknya dia sedang melamun.

“Apa dia menyesal?”, pikirku. Rasa bersalah menyelinap di dadaku. Aku sudah memanfaatkan Karina dengan bantuan The Click. Aku bangun lalu bergerak mendekati Karin, dan memeluknya.

“Maafkan aku Karin. Kamu menyesal?”, tanyaku. Karina menoleh kearahku. Aku melihat raut kesedihan di wajahnya, walaupun dia kini tersenyum kepadaku sambil menggelengkan kepalanya. Aku merasa ada sesuatu yang disembunyikan Karin. Mungkin dia berbohong saat dia menggelengkan kepalanya sebagai jawaban kalau dia tidak menyesal. Aku menatap wajahnya yang cantik. Rasa sayangku padanya makin menguat. Cinta pertamaku kembali menguasai hatiku.

“Karin….Aku..aku…cinta kamu.”, kataku. Karin menatapku. Wajahnya tampak sedikit kaget. Kemudian terjadi hal yang sama sekali tak kusangka. Karin tiba-tiba menangis, tangannya menutupi wajahnya. Aku bingung tak tahu apa yang harus kulakukan. Jadi aku hanya diam saja melihat Karina menangis. Hatiku rasanya tak karuan. Aku patah hati karena cinta pertamaku yang tak kesampaian.

Setelah diam beberapa saat aku sudah bisa menenangkan hatiku.

“Maafkan aku Karin. Kalo…kalo aku tahu kamu mencintai cowok lain… atau..atau kalo aku tahu kamu sedang berpacaranan dengan cowok lain, aku..aku…tidak akan melakukan..yang tadi pagi…..”, kataku gugup.

“Shh…bukan itu Joe. Aku sayang sama kamu. Tapi aku nggak akan pernah bisa mencintai kamu atau… mencintai…cowok manapun.”, jawab Karin pelan. Aku menoleh kearahnya. Karina menundukkan wajahnya. Aku tak mengerti kata-katanya.

“Apa maksud kamu?”, tanyaku bingung. Karina menoleh menatapku. Wajahnya tampak ragu dan sedih. Setelah beberapa saat, akhirnya dia berbicara dengan suara lirih.

“Aku suka sama cewek, Joe.”

!!!!!!!!!!!!!!!!!!

* * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Beberapa saat kemudian tangis Karina mereda. Dia menoleh kearahku. Menatap wajahku dengan mata berkaca-kaca.

“Maafkan aku, Joe. Aku..aku…nggak bisa mencintai kamu.”, kata Karin. Aku hanya bisa diam. Hatiku merasa sakit. Lebih sakit daripada saat aku putus dengan mantanku dulu.

Kata-kata Karina bagaikan petir yang menyambar ditelingaku. Aku menatap wajah cantik oriental itu dengan pandangan tak percaya dan mulut menganga.

“Ja….jjjadi ka…kamu lesbo…nngg…. maksudku kamu suka sa..sama perempuan???”, tanyaku dengan gugup karena masih syok dengan kata-kata Karina.

Airmata kembali mengalir dari mata Karina yang indah. Karina mengangguk pelan, lalu menundukkan kepalanya dan menangis pelan. Kulitnya yang putih mulus khas wanita oriental bersemu merah karena malu. Aku hanya bisa diam mematung dan melihat Karina, cewek yang pernah menjadi cinta pertamaku itu duduk menangis di sebelahku, karena aku sendiri masih berusaha menenangkan diriku sendiri setelah mendengar berita mengejutkan itu.

Akhirnya aku bisa menenangkan perasaanku beberapa menit kemudian. Setiap manusia berhak untuk mendapatkan cinta dan mencintai siapapun. Mungkin masyarakat kebanyakan tak bisa menerima kondisi wanita seperti Karin. Tapi persetan dengan masyarakat. Aku tak berhak untuk menghakimi dan memberi penilaian pada Karina. Bahkan kini timbul rasa kasihanku padanya, dan aku juga merasa bersalah telah memanfaatkan gadis itu dengan bantuan The Click, hanya demi kenikmatan seks yang selalu kuimpikan dengan cinta pertamaku itu.

“Ssshh… maafkan aku, Karin. Jangan menangis lagi.”, kataku lembut sambil mengelus rambutnya yang halus. Wajahnya yang cantik itu menatap ke arahku.

“Kamu pasti menganggap aku wanita rendah Joe hiks… Wanita abnormal.”, kata Karina pelan sambil menangis.

“Jangan ngomong seperti itu. Setiap manusia berhak untuk mencintai siapapun juga. Itu hak kamu.”

“Ta..tapi ini Indonesia. Menyukai sesama jenis adalah hal yang di-tabukan disini. Kalo ada orang yang tahu aku lesbi maka aku akan direndahkan. Mungkin sekarang kamu juga akan menganggap aku seperti itu.”

“Sssshhh…..Aku tak akan dan tak pernah merendahkan kamu, Karin. Kebaikan hati manusia adalah satu-satunya yang patut menjadi penilai bagi manusia itu sendiri. Dan kamu adalah cewek paling baik, paling cantik yang pernah aku kenal. Dan kamu adalah cewek yang pernah menjadi cinta pertamaku. Dulu, sekarang, dan selamanya.”, kataku sambil merengkuh tubuh Karina dalam pelukanku. Karina menyandarkan kepalanya didadaku sambil menangis.

Beberapa saat kemudian kurasakan Karina mulai tenang, tangisannya pun terhenti. Dia melepaskan diri dari pelukanku. Dan aku benar-benar senang melihat senyuman manis yang kini menghiasi bibirnya. Matanya yang masih sembab karena tangis. Payudaranya yang mungil tapi berbentuk indah sedikit bergoyang karena nafasnya yang masih berat karena habis menangis. Tanpa dapat kucegah, Joe jr pun perlahan mulai bangkit. Untung saja selimut yang menutupi bagian bawah tubuhku membuat Karina tak menyadarinya.

“Thanks Joe. Walaupun kamu lebih muda dari aku tapi ternyata kamu jauh lebih dewasa. Little Joe is a man now.”, kata Karina sambil tersenyum.

“Yeah, but i’m a bad man. A..aku minta maaf atas kejadian tadi pagi. Aku benar-benar cowok brengsek.”, kataku menyesal.

“Itu bukan salah kamu Joe. Kamu cowok yang baik. Yang tadi itu nngg…. aku sendiri nggak tahu kenapa, tapi aku horny banget. Dan kita melakukannya karena sama-sama mau, jadi bukan salah kamu.”, kata Karina mencoba menghiburku.

“Kalo saja kamu tahu…… Itu semua karena The Click aah….”, pikirku dalam hati tapi aku tak sanggup untuk mengatakan yang sebenarnya pada Karina. Aku masih menunduk dengan perasaan malu dan menyesal atas perbuatanku, saat kurasakan tangan halus Karina menempel di pipiku lalu membuat wajahku menatap ke arahnya.

“Kamu tahu nggak Joe? Kamu memang bukan cowok pertama yang pernah makin love sama aku, tapi kamu adalah cowok pertama yang membuatku merasakan kenikmatan bercinta dengan cowok. Mungkin karena aku lebih suka cewek, maka aku tak pernah merasakan nikmatnya bercinta dengan cowok. Aku dulu melakukannya karena bujukan dan paksaan mantan cowokku yang kupacari karena aku tak ingin dianggap cewek aneh. Dan aku sama sekali tak menikmatinya, hingga aku semakin memilih menyukai cewek daripada cowok. Tapi tadi pagi itu aahhh……I enjoy it. Boys are not bad affter all. Walaupun aku akan selalu lebih memilih mencintai cewek, tapi kamu benar-benar sudah mengubah pandanganku terhadap cowok.”, kata Karina sambil tersenyum manis. Aku menjadi lega dan sedikit besar kepala karena pujian Karina. Aku tersenyum, dan memeluk Karina dengan hangat, dan si cantik itu membiarkannya.

Hangat dan lembutnya tubuh Karina di pelukanku membuatku kembali bergairah. Dan setelah mengetahui keadaan Karina sebenarnya, otak kotorku mulai membayangkan imajinasi liar tentang Karina yang bercinta dengan seorang cewek. “Oh, God. I wish I can see that.“.

“Karin… kamu pernah pacaran dengan cewek.”

“Belum.”

“Nnngg… apa kamu pernah naksir seorang cewek?”

“Ihh… kamu kayak wartawan infotainment aja. Ngapain pake nanya kayak gitu?”, kata Karin sambil melepaskan diri dari pelukanku. Aku melihat wajahnya lebih menyiratkan rasa malu daripada marah, hingga aku putuskan untuk mengorek lebih jauh.

“Ah nggak ada maksud apa-apa. Cuma karena kamu sudah percaya sama aku dengan bercerita tentang keadaan kamu, mungkin sekarang kamu bisa curhat masalah cinta kamu ke aku, dan aku senang kalo aku bisa bantu kamu.”, kataku mencoba meyakinkan Karina.

“Kamu benar-benar cowok yang baik Joe. Aku senang kalo ada teman yang bisa kuajak curhat. Ma kasih Joe.”

“So….?”

“What?”

“Apa ada cewek yang kamu taksir sekarang?”

“Nnng….. ada.”, jawab Karina malu-malu.

“Siapa?”, cecarku.

“Nnngg….. kamu pasti marah kalo tahu.”, jawab Karina. Aku makin penasaran, dan bertekad terus mencari tahu.

“Aku nggak akan pernah bisa marah sama kamu, Karin. Cerita sama aku. Mungkin aku bisa bantu kamu.”, desakku. Karina terdiam sejenak, terlihat ragu-ragu.

“Aku nng… aku suka sama Sarah.”, jawab Karina agak ragu. Aku sedikit kaget mendengar jawaban Karina, tapi aku masih ragu apa dugaanku benar.

“Sarah…. Sarah yang mana?”, jawabku sambil tak sabar mendengar jawaban Karina.

“Sarah mmm…. Sarah, sahabat kariku sendiri. Sarah, kakak kamu.”, jawab Karina. Aku kaget karena dugaanku benar. Karina ternyata naksir sama sahabat karibnya sendiri. Sarah, kakak perempuanku. Tapi ternyata kekagetanku cuma berlangsung sebentar. Yang ada malah aku jadi Horny karena bayang karina bercinta dengan kak Sarah dengan tubuhnya yang tinggi dan sexy, dengan payudara yang montok yang hanya bisa kubayangkan saat melihat kak Sarah memakai kaos ketat yang mencetak montoknya payudara itu.

“Kamu marah sama aku ya Joe?”, kata-kata Karina menyadarkan aku dari lamunan kotorku.

“Ngg…nggak, aku nggak marah. Kaget mungkin tapi nggak marah. Tapi aku bisa ngerti kalo kamu naksir kak Sarah. Kak Sarah memang..wow…, aduh!”, kata-kataku terhenti karena cubitan Karina di perutku.

“Ihh… jangan-jangan tadi kamu ngelamun jorok tentang kakak kamu ya? Dasar maniak.”, kata Karina sambil mencubitku gemas.

“Eits… ampun ampun. Kamu nggak bisa nyalahin aku kalo ngelamun jorok tentang kak Sarah. Kak Sarah kan cantik, sexy, mmm…. dan kamu juga pasti naksir kak Sarah karena itu kan.”, godaku.

“Part of it. Tapi aku benar-benar cinta sama kakak kamu. Sudah lama. Sejak kita masih satu SMA dulu. Aku sadar aku nggak boleh berharap kalo Sarah akan membalas cintaku. Tapi aku cukup senang kalo bisa menjadi sahabatnya dan bisa melihat wajahnya yang cantik itu setiap hari.”, jelas Karina. Aku kasihan melihat Karina yang cintanya tak terbalas. Lalu aku kembali memeluknya sambil mengelus rambutnya.

Tiba-tiba sebuah ide cemerlang melintas di pikiranku. Aku pikir ini salah satu caraku untuk membantu Karina, dan setidaknya itu akan menebus rasa bersalahku atas perbuatanku tadi pagi.

“Mmm… Karin. Kayaknya aku bisa bantu kamu.”, bisikku.

“Apa maksud kamu?”, kata Karina bingung.

“Aku mungkin nggak bisa membuat kak Sarah untuk membalas cinta kamu, tapi paling nggak aku bisa membuat hubungan kalian sedikit lebih dekat.”

“Joe! Ja..jangan-jangan kamu mau cerita sama kakak kamu tentang aah…. Jangan Joe, aku mohon.”, kata Karina kuatir.

“Tenang aja. Aku nggak akan pernah cerita tentang keadaan kamu sama siapapun. Apalagi sama kak Sarah. Rencanaku ini biar saja jadi kejutan buat kamu. Yang aku minta cuma kamu percaya sama aku. Aku nggak akan melakukan hal yang membuat kamu atau kak Sarah sedih. Kamu mau percaya sama aku kan?”, kataku mencoba meyakinkan Karina. Gadis keturunan cina itu masih agak tak percaya pada awalnya, tapi akhirnya dia menganggukkan kepalanya.

“Aku percaya sama kamu Joe. Tapi kenapa sih pake rahasia-rahasiaan?”

“Sudah, kamu nggak usah mikirin hal itu. Yang aku minta, kamu bilang ke kak Sarah kalo kamu akan menginap di rumahku akhir pekan depan. Dan kamu ajak kak Sarah untuk menginap disini agar lebih bebas. Nanti juga aku akan minta sama kak Sarah untuk menjaga rumah Profesor saat aku pergi akhir pekan itu. Gimana, kamu setuju?”, jelasku. Karina menatap aku bingung. Tapi akhirnya dia setuju dengan rencanaku.

Setelah itu Karina mandi untuk membersihkan badannya dari sisa noda pertempuran kami. Aku disuruhnya untuk menyelesaikan mem-print tugasnya, karena dia akan mengumpulkannya sore ini. Selesai mandi dan berganti pakaian, Karina pun berpamitan pergi sambil membawa tugasnya yang sudah selesai aku print. Sebelum pergi, Karina memberiku ciuman mesra di bibirku sambil mengucapkan terima kasih.

Selepas Karina pergi, aku pun teringat tentang kuliahku sore ini. Aku bergegas mandi, lalu bersiap untuk pergi kuliah.

“Shit!”, umpatku saat aku memakai celana jeansku. Joe Jr. ternyata belum tidur juga setelah tadi terbangun karena khayalan kotorku tentang Karina dan kak Sarah. Aku segera menyambar The Click yang tergeletak di meja kamar. Buat jaga jaga he…he…he………

to be continued

Copyright (c) Joe_anchoexs, March 2008
(Thank you for all your support & permission)

To be Continued Part 4

****************

5 Tanggapan

  1. asiik.. going to the lesbian part!
  2. menarrrrik!!!
  3. ceritanya cukup membuat aku harus menghirup udara dalam-dalam,mungkin aku terbawa juga ,,,tapi yang jelas aku sangat suka dengan alur ceritanya ,,sangat menantang dan cukup membawa aku menghayal yang fantasti
    Re: pembaca yang penuh penghayatan nih :)
  4. Wow. . . .cerita na btl2 the best..sll ja buat w trtarik..tp lbh suka kalo di cerita na ada sdkt ketegangan..hehe
  5. Asyiiiik bacanya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar