Rumah Baru KisahBB

Setelah 2x ga diterima di Wordpress sehubungan penjualan DVD, Shusaku akhirnya memutuskan memindahkan blog cerita seru KisahBB kesayangan kita ke sini.

kirim cerita karya anda atau orderan DVD ke:


Order via email: mr_shusaku@yahoo.com


tuliskan: nama, alamat jelas, nomor HP, dan list barang yang diinginkan di email pemesanan


email akan segera saya balas dengan rincian harga & no ac bank bca/mandiri unk transfer. barang akan dikirim dengan tiki/pos setelah konfirmasi transfer diterima.

Promo diskon gede-gedean

Paket istimewa 500rb (50dvd),

untuk dalam Pulau Jawa free ongkos kirim, untuk luar Pulau Jawa tergantung daerah.

Harga normal Rp 15rb/dvd kalau beli banyak Rp.12.500/dvd, untuk paket kali ini jatuhnya Rp. 10rb/dvd, murah banget!!


Tapi ini terbatas hanya untuk 10 orang saja.

jadi silakan order, bisa dilihat list barang di

- list semi & softcore

- list western xxx

- list jav


untuk pemesanan email ke mr_shusaku@yahoo.com

Subject: paket istimewa 500rb

tuliskan: nama, alamat jelas, nomor HP, dan list barang yang diinginkan di email pemesanan

email akan segera saya balas dengan rincian harga & no ac bank bca/mandiri unk transfer. barang akan dikirim dengan tiki/pos setelah konfirmasi transfer diterima.


-untuk pesanan di atas 50dvd, selanjutnya dihitung @Rp.10.000,-

-hanya untuk film2 satuan (JAV, western XXX, dan Semi), tidak berlaku untuk koleksi pics & kompilasi

Kamis, 11 Agustus 2011

The Sweetest Sin 2

Dina

Aku semakin panik landasan helipad sudah terlihat semakin mendekat.

“Pak tolong saya pak…..saya tidak mungkin turun dalam keadaan seperti ini.”

Kedua pria bejad itu hanya tersenyum-senyum penuh kemenangan melihatku semakin panik. Aku benar-benar tidak bisa membayangkan apa jadinya nanti. Membayangkan wajah keras pria-pria berbadan tegap yang jadi buruh pengeboran minyak saja kakiku sudah lemas. Meskipun udara cukup panas namun tubuhku semakin menggigil. Aku akui obsesiku memang cukup liar. Namun aku sadar sepenuhnya semua itu hanya fantasi. Menghadapi cumbuan Frans saja aku sudah cukup kewalahan apalagi kalau aku harus melayani puluhan pria berbadan kekar.

“Tolong apa…?” tanya Anthony berpura-pura bodoh.


“Berikan saya baju pak…..” suaraku semakin tercekat di antara sedu sedan isak tangisku.

“Heh…perempuan gatel seperti lo bukannya suka kalo para pria mengagumi tubuhmu?” suara parau iblis gendut itu sama sekali bukan pertanda positif bagiku.

Aku berusaha melipat tubuh bugilku serapat mungkin. Meskipun aku dilanda perasaan malu luar biasa dalam keadaan bugil seperti ini, namun entah kenpa omongan Anthony sepertinya ada benarnya juga jauh di dalam kalbu penderitaanku ini, seperti ada sisi lain diriku yang menjadi lebih bergairah. Mungkin aku sudah sinting atau mungkin akibat dari sesuatu yang tadi aku minum, namun sisi lain diriku itu begitu bergairah mengamati mata-mata liar para jahanam peneror diriku itu jantungku semakin berdebar keras mengamati jakun para keparat itu naik turun tak beraturan bahkan dengus nafas para keparat itu yang seharusnya menakutkan bagiku entah kenapa kini seakan menjadi sebuah symphony merdu yang memicu hormon adrenalinku.

“Ngga pak please tolong pak…” namun sebagai wanita dewasa normal tetap saja akal warasku lebih dominan.

Aku sendiri kini seakan tak begitu paham akan kondisi diriku yang sebenarnya. Begitu banyak kontradiksi yang terjadi yang semakin membingungkan syaraf-syaraf kewarasanku.

“Panggil aku tuan mulai sekarang mungkin aku akan pertimbangkan lagi.” Iblis gendut itu nampaknya mulai bergairah lagi setelah sekian lama menatap tubuh bugilku yang tak mungkin aku sembunyikan secara sempurna dengan posisi tubuhku.

“Tuan….. tolong tuan berikan aku baju tuan” dengan cucuran air mata yang mengalir deras bak anak sungai aku berusaha sebaik mungkin mendapatkan simpati keparat ini.

Sungguh aku tak mau menjadi lebih dipermalukan lagi jadi aku putuskan lebih baik bernegosiasi dengan sang jahanam ini.

“Bagus…. loe cepet belajar gue suka itu ini awal yang bagus.”Anthony terkekeh penuh kemenangan, sorot tatapan mata pria gendut itu seakan-akan berusaha menerobos celah-celah jemariku yang menutup rapat puting susuku

“Apa kau suka di onani Dina sayang?.....Ayo jawab….jangan diam saja…..!!”

“Sudahlah….Aku tahu siapa loe sebenarnya, mulut loe boleh berkata tidak namun tubuhmu tak bisa membohongiku.”

Sementara ekor matanya menatap penuh nafsu selangkanganku yang tertutup oleh lebatnya bulu-bulu kemaluanku.Aku terkesiap keparat ini seakan-akan bisa membaca sifat liarku yang selama ini aku pendam-dalam-dalam dengan sempurna

“Bagian tubuh yang mana sih Boss..??...Ajari donk” Rozak menimpali.

“He…he….Bang Rozak dengar baik-baik ya ceweq yang punya ciri-ciri fisik bongkok udang dan banyak bulu-bulu halus di tubuhnya biasanya alis yang tebel, itu sudah 80% ceweq yang doyan dientotin. Nah apalagi Mba Dina yang cantik ini Zak.

“Lihat tuh bulu-bulu jembut mba Dina seperti mau balapan aja adu gondrong dengan rambut atasnya he…he….udah ga usah di tanya lagi pasti dia doyan di entotin betul ngga mba?”

Buru-buru aku mengatupkan kedua telapak tanganku untuk menutupi area selangkanganku aku.

Kini aku baru menyesal tak menipiskan bulu-bulu kemaluanku selama ini aku hanya merapikan pinggirnya saja supaya aku masih bisa mengenakan bikini two piece favoritku. Aku dulu pernah mencukur habis bulu-bulu kemaluanku. Namun saat akan kembali tumbuh, aku begitu tersiksa dan merasa tidak nyaman pada organ intimku itu yang terasa gatal sekali oleh proses pertumbuhan bulu-bulu yang baru. Maka sejak itu aku tak pernah mencukur habis bulu-bulu kelaminku. Dan secara kebetulan Frans juga menyukainya yang menurutnya itu suatu bentuk ke sexy-an alamiah diriku.

“E…eh….sekarang pentilnya tuh yang kelihatan nongol…..waduh mana udah ngaceng lagi itu pentilnya minta diisep ya mba…?HA…HA…HA…” Rozak kegirangan menggodaku.

Pak tua itu begitu senang melihatku kelabakan. Sementara itu, aku terpekik kaget tangisku semakin menjadi aku tak tahu lagi harus bagaimana menutupi ketelanjanganku di hadapan para keparat ini.

“Udahlah buka aja deh ngga usah ngelingker-ngelingker lagi kaya gitu percuma gue dan Rozak toh juga udah cicipin memek loe jadi ngga usah sok suci lagi deh Sekarang lebih baik loe nurut aja sama kita-kita ini kalo loe ngga mau lebih dipermalukan lagi, untuk terakhir kalinya aku peringatkan loe harus jawab semua pertanyaan gue ngerti…!!?” meskipun nada suaranya datar, namun aku mengerti Anthony tak akan main-main dengan ancamannya.

“Me….me..ngerti Tuan..” aku hanya menangis terisak-isak pasrah membiarkan Anthony menepiskan tanganku yang semula berusaha menutupi dadaku.

Segera dimainkannya kedua belah payudara yang kini membusung telanjang. Bagaikan seorang anak kecil yang kegirangan mendapatkan mainan baru, Pria gendut itu tak bosan-bosannya meremas-remas payudara indahku tanpa permisi lagi

“Sekarang begini saja buat gue ngecrit dengan tetek montok loe itu mba Dina yang cantik Hi….Hi…Hi…

“Sayang sekali kalo tetek loe yang sekel itu cuma ngangur jadi pajangan aja…”

“Ayo segera lakukan jangan cuma menangis saja….. kita semua berburu waktu…”

“Mba Dina ngga lihat itu buruh-buruh di bawah sana …?”

“Mereka sudah hampir 1 tahun ngga pernah ketemu ceweq lho…”

“Aku yakin mereka akan sangat berterima kasih padaku jika menurunkan loe sekarang tepat di depan batang hidung mereka Hi…Hi….Hi…”.

“Hm….Atau jangan-jangan loe malah mengharapkannya ya….?

“Dikerjai mereka di entoti beramai-ramai bukan begitu yang selam ini kau bayangkan Dina waktu loe sedang onani…?

“Baik…O.K lah kalau begitu…. aku kabulkan keinginan mu…..” bagaikan sebuah senapan mesin yang terus menerus memuntahkan peluru, Iblis gendut itu terus menerus meneror psikisku. Keparat itu sama sekali tak memberiku barang sedetikpun untuk bisa berpikir jernih dan membuatku terpaksa meng-iyakan semua yang menjadi kemauannya.

“JAAANGAAAN…..TIDAAAK…..BAIK….TUAN…AKU MAU….MAU…MELAKUKANNYA!!”

Anthony kembali tertawa penuh kemenangan. Bajingan itu begitu girang melihat sorot ketakutan yang amat dalam di bening bola mataku yang semakin sembab oleh air mata.

“HA…HA….HA….BAGUS MBA DINA CANTIK BEGITU DONK…BARU NAMANYA CEWEQ PINTER WA ..KA..KA..KA..!”

Aku tak mendengarkan lagi ocehan dari mulut busuk bajingan ini. Tubuhku menggigil bukan karena dingin entah kenapa walaupun bajingan ini baru saja menyetubuhiku, namun secara batiniha aku masih tak bisa menerima kenyataan telah menjadi obyek permainan cabulnya.

“HNGHHH….AAH….SETAAAAN ENAAAK BANGET ZAK….DEMI IBLIS……TETEK MBA DINA ENAK BANGET BUAT NGEJEPIT KONTOL..!!” ARRGH….HNGHH….HOOO….OOOH…UUUH…AAAH.” keparat gembul itu merem melek keenakan mulutnya memang terlalu kotor untuk mengucapkan segala sumpah serapah.

Aku sendiri sedikit kesulitan menjepit penis bajingan ini diantara kedua belah payudaraku. Meskipun telah mencapai ereksi secara penuh namun batang kemaluan Iblis gendut itu memang terlalu kecil untuk dapat di jepit secara penuh oleh payudaraku yang berukuran cukup besar untuk ukuran seorang wanita normal

“HNGHHH…..OOOUUGHH…..BU…BUKA MULUT LOE SAYANG….”

“SEBENTAR LAGI GUE MAU NGECROOOTCH….”

“LOE JANGAN LANGSUNG TELEN SIMPEN DULU DI MULUT LOE GUE MAU LIAT PEJU GUE DI MULUT LOE….”

“HNGH….AAAHH…..OUGHH…OHHHH SETAAAN….ENAAAAK BANGEETT AKU KEELUUUUUUARRR….!!!!” “AAAARGHHHH…CRETT….CROOOOTH….SERRRR..”

Dengan terburu-buru bajingan gendut itu segera menjejalkan penisnya yang berukuran mini ke mulutku dan dengan sigap jemarinya yang kokoh mencengkram rahangku agar segera terbuka. Aku nyaris memuntahkan cairan menjijikan itu. Aromanya sangat memuakan seakan mengaduk seluruh isi perutku. Walaupun aku sering menonton keping DVD blue film, namun aku tak pernah menyangka rasanya akan seburuk ini. Aku tak habis berpikir bagaimana para aktris porno itu mampu melakukannya seolah-olah cairan menjijikan itu bagaikan madu yang sangat lezat.

“BAGUUS…DINA CANTIK….SEKARANG KEMARI….SINI…SAYANG….”

“ANTON GANTENG MAU LIHAT BIBIT-BIBIT UNGGUL PEJUNYA BERENANG DI MULUT LOE…”

“SEMPURNA…EEEIT…..SIAPA SURUH LOE MUNTAHIN…!!”

“AYO DI KUMUR-KUMUR DULU…”

“BAGUS….SEPERTI ITU…..TEPAT SEKALI”

“NAH SEKARANG LOE TELAN PELAN-PELAN SAYANG”

“LOE HARUS BERTERIMAKASIH PADA GUE”

“NGGA SEMBARANGAN GUE KASIH PEJU GUE KE SEMBARANGAN CEWEQ”

Aku hanya bisa menangis sejadi-jadinya menerima semua penghinaan ini. Namun aku sedikit bersyukur walaupun aromanya sedikit menyengat, namun sperma keparat itu tak mempunyai rasa yang memuakan. Aku duduk terpekur menatap kosong dengan tubuh telanjang dan berlumuran cairan sperma yang mulai mengering. Lamunanku segera buyar saat Iblis gendut itu melemparkan secarik kain tepat ke wajahku.

“Ayo pakai tunggu apa lagi…..??”

“Hm…..atau jangan-jangan omongan Rozak yang terbukti benar loe sudah ngga butuh baju ini?”Anthony mencoba mengambil kembali baju yang barusan di lemparkan padaku.

“Jangan…jangan baik pak…” buru-buru aku meraih kembali baju yang sudah hampir dalam genggaman Iblis gendut itu.

Aku merasa sangat tidak nyaman dengan busanaku kini yang hanya sehelai jaket namun berbahan sangat tipis tanpa kancing sehingga lebih mirip kimono untuk mandi namun potongannya terlalu pendek untuk disebut sebagai kimono. Mengenakan busana seperti ini sebenarnya sama sekali tak mampu menutupi ketelanjanganku. Tubuh telanjangku masih bisa di terawang dari balik jaket berbahan tipis tersebut. Entahlah aku tak punya waktu berpikir untuk menemukan sebuah definisi yang jelas dari busanaku kini. Aku harus menjaga posisi berdiri dan berjalanku sedemikian rupa agar pantat telanjangku tak menjadi tontonan publik

Heli yang kami tumpangi mendarat tepat di landasan. Angin nakal berhembus sangat kencang mempermainkan busana mini satu-satunya yang membalut tubuh telanjangku. Itu terjadi memang karena Rig pengeboran minyak ini langsung berada di tengah laut lepas. Rozak menggandeng tanganku, aku sebenarnya sangat keberatan aku mencoba mengenyahkan tangan bedebah itu namun keparat itu sepertinya mengerti akan maksudku. Pria cabul itu terkekeh-kekeh kegirangan melihat kedua payudaraku yang berukuran cukup besar berayun liar tak terkendali kekanan kekiri di balik kain tipis bahan busanaku ini. Hembusan angin laut yang begitu keras seakan hendak turut menelanjangiku juga. Jantungku berdebar semakin keras saat kakiku berjalan menuruni tangga Mungkin aku mulai sinting.Tapi aku sendiri tak paham apa sebenarnya yang terjadi pada diriku. Ada sensasi aneh yang memacu hormon adrenalinku bekerja semakin aktif saat aku menyadari diriku yang nyaris telanjang berjalan tepat di bawah terik sinar matahari yang menyengat berjalan menyelinap di antara pria-pria keras yang sedang sibuk pada pekerjaannya masing-masing. Tak ada cara lain selain aku memepetkan posisiku di antara kedua keparat itu untuk menyamarkan penampilanku untungnya para buruh-buruh itu tak terlalu memperhatikan kedatangan kami. Andai saja mereka tahu ada seorang gadis cantik yang nyaris bugil melintas di depan mereka entah apa jadinya aku masih sedikit bersyukur doa-ku masih di dengarkan Tuhan.

“Oh nyaman sekali…..aah.” aku terpekik kaget tanpa kusadari dadaku menghimpit punggung Rozak.

Bedebah itu melenguh keenakan menikmati pijitan pentil susuku yang secara tak sengaja memijit punggungnya. Aku tertunduk menahan malu ekor mataku masih sempat memperhatikan jakun Rozak yang dengan cepat naik turun. Mata si tua bangka cabul itu tak bosan-bosan-nya melirik ke arah belahan dadaku. Aku yakin keparat itu sedang mengagumi pentil susuku yang tercetak jelas di balik mantel tipis sialan ini. Aku benci akan reaksi jujur tubuhku yang seolah mempertegas diriku adalah seorang betina yang haus akan nafsu. Namun aku sama sekali tak mampu meredam reaksi jujur tubuhku sendiri.

“DINA….DINA…..SAYANG LOE CANTIK-CANTIK TAPI BEGO MAU GUE TIPU HA….HA….HA….”

“SEBENARNYA LOE PASTI GUE KASIH BAJU KOQ”

“MANA MUNGKIN AKU MENYERAHKAN LOE BEGITU CEPAT KEPADA PARA KEPARAT DI BAWAH SANA ITU HA….HA….HA….”

“AKU BELUM PUAS MENIKMATI MEMEK LOE MBA DINA SAYANG HA…HA….”

“MAKANYA LOE HARUS SERVICE GUE SEBAIK MUNGKIN JANGAN SAMPAI GUE JADI BOSAN.”

“LOE TAU AKIBATNYA DINA KALO LOE GUE LEMPAR KE MEREKA DI BAWAH SANA …?”

“AKU JAMIN MEMEK LOE NGGA AKAN SERAPET SEKARANG LAGI.”

“LOE AKAN MERINTIH-RINTIH MOHON AMPUN DI ENTOTIN PARA BAJINGAN DI BAWAH SANA ITU…HA…HA…HA…” Iblis gendut itu tertawa terpingkal-pingkal berhasil memperdayai diriku

Aku hanya terdiam menatap penuh sorot mata kebencian pada jahanam gendut di hadapanku ini. Keparat ini dengan sekejap telah mencabik-cabik kehidupan normalku yang menyenangkan menjadi alat pemuas birahinya.Tak terlalu lama aku berjalan, aku sudah sampai di lantai bawah yang gelap dan pengap.

“Apa yang kalian lakukan….?!!” aku terpekik kaget. Frans tergolek lemas dalam keadaan telanjang bulat meringkuk di sebuah kandang anjing yang terbuat dari besi berbentuk kubus.

Nampaknya Frans sedang menggelinjang kesakitan kulitnya tampak putih pucat bibirnya juga membiru sepertinya ia menggumam nanmun entah apa yang dibicarakannya tatapannya juga kosong menatapku. Namun aku yakin ia masih mengenaliku.

“Breet…Auuw….” aku terpekik kaget. Dengan sekali renggut, lepas sudah satu-satunya kain penutup tubuhku.

Belum cukup rasa ke terkejutanku, Rozak kembali menelingkung lenganku aku menggigil ngeri melihat Anthony memainkan sebuah jarum suntikan

“Tidak…tidakkk….mau…” aku tak mampu lagi mencegah jarum keparat itu menembus kulit mulusku. Cairan hangat dari jarum suntik itu segera menyebar ke segala pembuluh darahku. Entah cairan apa yang mereka suntikan ke tubuhku.

Aku sudah pasrah jika kembali harus melayani nafsu birahi ke dua pria cabul itu. Jujur saja sebenarnya aku juga mulai menikmati apa yang mereka perbuat padaku.Namun aku sangat takut akan jarum suntik jahanam itu. Aku tak mau mereka menularkan sebuah penyakit jahat yang akan menyiksaku sampai mati secara perlahan-lahan walaupun saat ini rasanya aku ingin mati saja secepatnya, namun aku tak cukup yakin untuk siap menghadapinya.

“Arrgh…le…lepaskan….ngga….mauuu…!!” aku menjerit-jerit ketika Anthony secara kasar memasangkan sebuah kalung kulit yang berukuran lebar dengan pernik-pernik dari logam putih yang mengkilat ke leherku. Anthony lalu mengaitkan kalung kulit itu dengan sebuah rantai besi yang cukup lebar.

“Nah dengan begini loe lebih sexy Mba Dina.”Anthony terkekeh-kekeh puas dengan hasil karyanya. Aku berdiri terpaku dengan sekujur tubuhku menggigil ketakutan dalam keadaan telanjang bulat tanpa busana lagi. Kini hanya sebuah kalung kulit dan rantai anjing satu-satunya benda yang melekat di tubuh polosku ini.

“Bener boss mba Dina juga makin sexy dengan rantai anjing itu boss.”Aku semakin ngeri dengan tatapan Rozak. Pria tua itu seakan-akan hendak menelan bulat-bulat tubuh telanjangku.

“Sabar Zak….santai aja broo inget umur…he…he….tenang aja kita masih punya waktu yang sangaaaaaat panjang untuk muasin mba Dina nah sekarang sana loe minum obat kuat dulu tapi ingat jangan over dosis ntar loe mokat duluan kan ga seru Zak…. ha….ha…”

“Sudah sana masuk aku meringis kesakitan pantatku terasa panas sekali oleh tamparan iblis gendut itu. Aku mencoba memberontak. Keparat itu mendorongku dengan kasar untuk masuk kedalam sebuah kandang besi yang berbentuk sama dengan yang sedang di tempati Frans.

Mereka mengurung kami secara terpisah ke dalam sebuah kurungan anjing yang berbentuk bujur sangkar berukuran 1x1 meter. Meski jarak kandang kami berdekatan, namun aku sama sekali tak bisa menyentuh Frans. Jari-jari besi ini terlalu rapat untuk di lewati lenganku. Padahal ingin sekali rasanya ku belai kekasihku itu yang nampaknya sedang sangat menderita.

“Nah sekarang kalian istirahat dulu nanti kita lanjutkan lagi OK”Aku sedikit bernafas lega meskipun posisi kami tak nyaman paling tidak untuk sementara aku dan Frans terbebas dari kebejadan kedua iblis laknat itu.

Aku berusaha menyesuaikan diriku dengan kandang ini. Tubuhku sangat letih ingin rasanya aku membaringkan tubuh telanjangku ini secara sempurna. Namun ukuran kandang ini terlalu sempit sehingga aku terpaksa hanya bisa meringkuk.

Di dalam kandang ini Cuma ada semangkuk air dan sebuah dildo entah apa maksud keparat itu meletakan benda terkutuk itu di dalam kandang ini yang jelas aku bersumpah dalam hati untuk tak menyentuh benda menjijikan itu lagi.

“Din maafkan aku din….aku turut menyeretmu kedalam masalahku ini.”Frans menangis sesenggukan..”Dengan terbata-bata, aku mendengar suara Frans yang bergetar seperti menahan rasa sakit

“Ngga apa-apa mas….mereka memang bajingan lebih baik kita cari cara untuk kabur dari tempat ini aku akan membuat keparat itu membusuk dalam penjara..!!”Antara sedih dan marah luar biasa, aku menatap sayu kekasihku itu.

“AHHH…..ARRGHHH…..UGH…..OOOOHH”Frans melolong sepertinya ia sangat menderita sekali mukanya yang semula nampak pucat kini berubah menjadi merah padam.

“MAS…MAS….KENAPA MAS…?

“SADAR MAS TOLOOOOONG…SIAPAPUN YANG ADA DISINI…. TOLOOOONG KAMII…!!” aku menatap ngeri tanpa daya.

Tubuh bugil Frans berkelojotan bagai terkena sengatan listrik ribuan volt. Entah apa yang mereka lakukan kepada kekasihku ini. Aku berusaha berteriak sekuat tenaga namun sepertinya tak ada orang yang akan datang menolong kami entah dimana keparat itu menurung kami. Tempat ini terlalu sunyi dan panas seperti berada di dasar neraka lapis ke tujuh. Tubuh bugilku kini telah basah kuyup oleh keringat.

“Oooogh…”Frans melenguh pelan matanya menatap aneh diriku.

“Mas…??!!” aku sedikit lega ketika Frans nampaknya sudah tak begitu kesakitan lagi. Pria malang itu telah kembali tenang dan menguasai dirinya namun kini sorot matanya seakan menjadi sesuatu pribadi asing yang tak kukenal. Mata Frans begitu tajam menatap diriku dengan tatapan anehnya. Seakan langsung menghunjam ke ulu hatiku. Aku kembali tersadar kalau tubuhku kini dalam telanjang bulat tanpa sehelai benangpun. Aku menjadi salah tingkah dengan tatapan Frans aku berusaha menyilangkan tanganku untuk menutup payudaraku. Aku dapat mengenali sorot mata pria yang tengah di landa nafsu birahi. Namun aku tak mengerti kenapa Frans bisa menatapku seperti itu? Pada saat seperti ini dimana sepantasnya tak mungkin kami memikirkan hal-hal seperti itu.

“Sebentar lagi kamu akan tersiksa seperti aku Din….maafkan aku aku ngga bermaksud…”Frans sepertinya menyadari kelakuannya pria itu tertunduk lesu memalingkan wajahnya dariku.

“Apa maksudmu Mas?”apa yang mereka perbuat pada kita…?” aku menjadi sedikit merasa bersalah meski hubungan kami tak sebersih yang di harapkan, namun kami berdua berusaha komit untuk tetap menjaga nilai-nilai kesusilaan.

Awalnya aku kecewa dengan Frans “Dasar lelaki dimana-mana sama saja asal melihat perempuan telanjang di depan matanya langsung yang bekerja di otaknya hanya nafsu birahi.” Namun aku juga menyadarinya. Dirikupun tak lebih dari Frans bahkan aku merasa diriku lebih kotor lagi. Aku sama sekali gagal menjaga kehormatanku sebagai wanita. Bahkan aku terlarut dalam permainan cabul kedua iblis mesum itu. Aku sadar betapa berat mengalahkan nafsu birahi. Aku sering bertanya kepada diriku sendiri terutama setelah habis bermasturbasi apakah aku telah melakukan sebuah dosa? Namun kalau itu sebuah dosa kenapa Tuhan menciptakan kita dengan nafsu birahi? Aku benar benar malu kepada diriku sendiri. Jauh dalam hati kecilku, aku memaki diriku sendiri. Aku merasa sangat berdosa dengan fantasi-fantasi liarku aku merasa telah mengkhianati cinta tulus Frans apakah aku ini sudah menjadi sinting? Mungkin karena aku tak bisa mengendalikan nafsuku, sehingga Tuhan menghukumku seperti ini.Ya ini sebuah hukuman. Apa yang aku alami saat ini sama persis seperti fantasi-fantasi liarku saat bermasturbasi. Mungkin dengan jalan inilah Tuhan menghukumku agar jangan pernah mencoba lagi memikirkan hal yang cabul lagi.

“Din…kamu cantik sekali…ssgh!!” suara Frans mengaggetkanku dari lamunanku.

“Mas ngomong apa sih..?”Aku tertunduk malu aku sengaja meninggikan suaraku aku pura-pura merajuk walaupun jauh dalam hatiku aku sangat bahagia entah kenapa pernyataan Frans saat ini terdengar sangat tulus.

Naluriku sebagai wanita bisa membedakan mana sebuah rayuan gombal dan mana yang benar-benar sebuah pernyataan tulus. Aku mencuri pandang kearah Frans aku terkejut kini Frans tanpa sungkan lagi menggenggam kemaluannya yang sudah berdiri tegak.

Anton
“Ih…mas sudah gila ya…sadar mas….nyebut…!!” aku benar-benar tak habis berpikir Frans yang biasanya sopan kini bisa berbuat cabul seperti ini bahkan disaat yang sama sekali bukan pada tempatnya seperti ini.

Pengaruh jahat Anthony rupanya sudah merusak otak Frans emosiku menjadi sedikit terpancing rasa jijik aku mendadak timbul saat membayangkan entah dengan wanita mana Frans berani bermain gila selama aku tak ada di sampingnya.

“Oough…se..see..bentar lagi kamu juga akan terszikszza seperti szzaaya….aooughhh…” aku sama sekali tak mempercayai omongan Frans bagiku kini ia hanya seorang pria mabuk yang otaknya mungkin sedikit rusak dengan apa yang telah terjadi selama ini.

Entahlah aku sendiri juga bingung menentukan sikapku pada Frans saat ini. Entah aku harus kasihan atau marah kepadanya.

“Oough…tolong aku Din….sghh…arghh….ooh…hmpfh..”Frans semakin agresif mengocok kemaluannya sendiri aku bergidik ngeri menyaksikan pemandangan ini di depan batang hidungku. Entah bagaimana aku harus bersikap.

Aku tak pernah menyaksikan Frans begitu bernafsu seperti saat ini. Aku pun mulai sedikit merasa ada yang aneh dengan reaksi tubuhku entah kenapa selangkanganku sepertinya semakin berdenyut-denyut dengan kencang. Aku benar-benar merutuki diriku yang kembali terhanyut. Sementara itu Frans sepertinya sudah tak mampu lagi mengendalikan amuk nafsu birahi yang membakar dirinya. Kemaluan Frans yang sudah tegang seperti batang kayu menyembul dari balik celah jari-jari besi kandangnya seakan berusaha meraih tubuhku.

“Din….sfghhh.aarghhh…..toloooong…aku….dinnn….puasin….aku….ooough…..”Frans menggoyang pinggulnya layaknya seperti sedang menyetubuhi seorang wanita..

Tidak ini benar-benar sebuah kegilaan Frans nampak putus asa dengan siksa birahi yang membakar jiwanya. Sementara itu aku merasakan tubuhku seakan melayang-layang tanpa arah Aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat. Aku berusaha mengenyahkan pikiran cabul yang entah bagaimana seakan muncul begitu saja berkelebatan di dalam benakku. Entah kenapa penis Frans yang kokoh tegak berdiri itu membuat suasana jiwaku tak keruan. Sepertinya ada sensasi aneh yang membangkitkan gairahku menyaksikan kelamin pria malang di depanku itu berdenyut-denyut kencang seakan sedang bernafas. Tubuhku semakin lama semakin tak keruan rasanya. Walaupun udara di ruangan ini panas namun tetap saja tubuhku menggigil hebat. Entah kenapa gairah aneh itu semakin kuat saja. Aku dapat merasakan payudaraku semakin mengencang.

“Ough….sghh!” aku terpekik tertahan.

Betapa kaget diriku ini ketika tanpa sadar aku melenguh. Entah kenapa aku kembali terbayang saat Rozak mengulumi puting susuku dengan nikmatnya. Aku masih ingat nikmatnya saat gigi-gigi tua bangka itu beradu lembut dengan puting susuku yang sedang mengacung tegak. Bagaikan seorang bayi yang tengah kelaparan hebat mulut iblis tua itu terasa pas menyedot-sedot wilayah aerola payudaraku. Hembusan bau nafas pak tua itu bahkan terasa nyata saat ini. Lidah tua bangka itu begitu terampil memainkan puting susuku membuai kewarasanku menghilang entah kemana.

“Ooough…sssghhhh….achhh…Din….apaa kaaamu sudah muullaiiii….merasakannya hnghh….!!” dengan tersengal-sengal Frans nampaknya mengerti akan keadaan diriku yang mulai tengah terangsang hebat seperti dirinya.

Aku masih terdiam mati-matian aku berusaha menahan gejolak jiwaku. Entah berapa lama aku mampu bertahan. Aku tak mau dianggap sebagai wanita murahan yang selalu haus kelamin pria di depan Frans.

Ruangan ini kini menjadi begitu sunyi. Aku bahkan bisa mendengar detak jantungku sendiri. Dan waktu kurasakan berjalan teramat lambat. Entah berapa lama kami berdua terkurung di dalam kandang seperti ini. Aku bahkan berharap kedua iblis cepat datang dan melepaskanku. Aku sudah tidak peduli lagi walaupun mereka akan kembali memerkosaku. Jujur, aku bahkan mengharapkannya. Aku semakin tersiksa dengan gairah aneh ku yang semakin lama semakin memuncak. Ya aku mengharapkan kedua bajingan itu segera datang dan menyetubuhiku. Mengisi liang senggamaku dengan batang kelamin mereka dan aku akan kembali berpura-pura memberikan perlawanan. Setidaknya, aku bisa menunjukan perlawananku kepada mereka di depan Frans walaupun sesungguhnya aku sangat menginginkan keparat itu menyetubuhiku saat ini juga. Dengan demikian aku tak perlu mempermalukan diriku sendiri dengan bermasturbasi di depan Frans sebagai layaknya betina cabul yang terperangkap nafsu seperti apa yang dilakukan Frans sekarang di hadapanku.

“Ja….jangan di…di… lawan Din itu akan semakin menyikzzgsaaaaa aahh dii….riiii mu…..oughhhh hmpfh…” aku sudah tak bisa berkonsentrasi lagi pada keadaan sekitarku.

Seluruh sensasi-sensasi liar itu begitu menyiksa titik-titik sensitif tubuhku. Entah kenapa detik demi detik berlalu terlalu lama. Aku semakin mengharapkan kedatangan kedua iblis itu. Ingin rasanya aku menjerit sekuat tenaga. Peluhku semakin deras bercucuran saat ini. Aku benar-benar tak tahan lagi. Aku harus secepatnya menjejalkan sesuatu benda ke liang kelaminku untuk meredakan siksa gairah tabu diriku. Buru-buru aku membalikan tubuhku. Sisi kewarasanku sebagai wanita normal masih berusaha mencegahku untuk melakukan aktifitas paling intim itu di hadapan Frans. Aku begitu malu kepada Frans yang sejak tadi mengamati perubahan diriku. Namun aku benar-benar tak kuasa lagi membendung gairah tabu yang semakin liar memerangkap sukmaku. Jemariku segera menjelajahi lebatnya hutan belantara yang menutupi selangkanganku dan dengan cepat memainkan itilku sendiri.ada rasa nyaman luar biasa yang seakan menyirami jiwaku saat aku menikmati aktifitas intimku ini. Aku kembali terbayang Lidah si gendut cabul itu saat pertama kali menyapu liang kelaminku ini.

”Ooough…nghhh.” aku melenguh tertahan membayangkan rasa nikmat lidah kasap Iblis gendut itu saat menjelajahi liang kelaminku sungguh serasa begitu nyata.

Lidah Anthony begitu lincah menemukan itilku diantara lebatnya bulu-bulu kemaluanku yang tumbuh subur di selangkanganku. Aku bahkan menyerah sepenuhnya saat gigi keparat itu menggigit-gigit lembut mempermainkan itilku. Aku menangis tersedu sedan. Mungkin mereka mengira aku menangis sedih namun jauh dari lubuk hatiku, aku menangis karena menahan nafsuku yang hampir meledak. Lidah keparat gendut itu bahkan lebih nikmat dari penisnya yang berukuran kecil.

“Tidak….aku tidak mauuuu terhanyuut..!!”

Sekilas sisa-sisa kesadaranku sepertinya kembali namun itu tak berlangsung lama saat aku membuka mataku, dildo yang tergeletak tepat di depan mataku itu seakan begitu menggoda. Terjadi sebuah perang batin yang hebat dalam hatiku. Aku sudah bersumpah tidak akan menyentuh benda laknat itu kembali. Namun sisi lain diriku begitu menginginkannya. Liang kemaluanku sudah semakin basah dan lembab menunggu untuk dimasuki benda itu

“Ooooough….aahk…zzzghhhh….Maas…toloooong…aaaaku……kenapa diriku ini masss….hmphf nghhh nghhh….”

Sungguh saat ini aku sangat menginginkan bajingan itu segera datang memperkosaku supaya aku tak perlu merasa bersalah menjadi seorang wanita jalang yang tak bisa mengendalikan nafsu birahinya sendiri. Namun keparat itu tak kunjung datang juga aku bahkan sudah tak sanggup menahan lenguhan nikmatku. Aku masih mendekap selangkanganku kuat-kuat aku berharap dengan cara demikian aku bisa mengendalikan nafsuku. Aku tak ingin Frans menyaksikan ekspresi wajahku yang sedang terangsang hebat. Aku sama sekali tak berani menghadap dirinya aku tak bisa menyaksikan Frans menatapku dalam keadaan seperti sekarang ini.

“Sgh…lakukanlah…Din…..jangan zzsiksza dirimu sendiri lebih lama lagi…..ooough aaah…kemari Din…tolong menghadap kemari din aku menginginkannya…oughhhh aaahh….sghhh…hnghhh….!!” aku tak sanggup lagi mendengarkan Frans

“Maaf.. kan ….aku…mas…..kamu tahu….aku bukan seperti inii….TIIDAAAKKK…..HOOOOAHH…AAAHH…HNGHHH!!!!” jeritan putus asaku tak berlanjut lagi.

Untuk kesekian kalinya aku kembali harus kalah telak dengan nafsu birahiku sendiri. Aku sudah tak mempedulikan lagi dengan keadaan di sekitarku. Aku segera membenamkan dildo getar itu dalam-dalam ke liang kelaminku. Aku sungguh tak pernah membayangkan akan melewatkan aktifitas terintimku seperti ini tepat di hadapan Frans. Bahkan kini aku layaknya betina cabul yang begitu haus akan nafsu hewani.

“Sini Din….ulurkan jarimu….sentuh kontolku ini Din…Oughhh akh..hnghhh hnghhh”Frans berusaha melesakan kemaluannya lebih dalam lagi untuk melewati jeruji besi kandang yang memisahkan kami.

Entah kenapa, aku juga begitu bernafsu melihat kemaluan Frans yang tegang berdiri berwarna kemerah-merahan. Dengan dildo yang masih menancap di liang kemaluanku, aku berusaha mengulurkan tanganku melewati jeruji besi kandang ini. Namun jeruji itu terlalu sempit meski untuk dilalui tanganku. Dahsyatnya bara api birahi yang berkobar membakar jiwa kami berdua seolah membakar habis tanpa sisa semua kewarasan kami. Kini kami berdua tak ubahnya sepasang binatang jalang yang liar.

“Oooughhh…enaaaak…din…enakkghkk nggkhhh….hnghhhh….” Frans cukup puas meski hanya ujung jariku yang berhasil meraih kepala penisnya yang berdenyut-denyut hebat.

“AIH….” aku menjerit kaget.

Secara tiba-tiba Iblis Gendut itu muncul kali ini ia membawa lebih banyak lagi anak buahnya.

Aku panik luar biasa. Dildo yang belum sempat aku cabut dari kemaluanku masih bergetar-getar keras mengaduk selangkanganku. Membuat diriku terperangkap antara rasa panik takut dan malu yang luar biasa hebatnya.

“PLOK…PLOK…..PLOK…!!!!”.

“SUIT….SUIT……!!”

“Wah mba Dina sedang asyik ya…??”

“Bagaimana…..ini.? tadi katanya ngga mau…..? Koq sekarang malah keasyikan tuh make kontol-kontolan BWA…HA..HA..HA…!!”

“NGGA MAU SEKALI BOSS MAKSUDNYA…..HA….HA…HA….”

“MEMEK MBA DINA UDAH KEGATELAN TUH BOSS..!!”

“UDAH SANGAT KEPINGIN DI ENTOT YA MBA…SAMPE NGGA SABAR MAKE KONTOL-KONTOLAN BWA…HA…HA..HA..HA..!!”

Dalam sekejap ruangan yang tadi sesunyi kuburan kini telah ramai oleh riuh rendah tepuk tangan dan seloroh-seloroh cabul Anthony bersama kawanannya. Kini ada sekitar 5 orang di dalam ruangan ini selain Anthony dan Rozak yang telah ku kukenal sebelumnya, aku juga masih mengingat yang lainnya. Seorang pria tinggi berkulit legam yang sepertinya berasal dari wilayah Indonesia Timur. Aku masih ingat namanya Pedro, nampaknya ia sudah sangat tidak sabar lagi ingin segera menyetubuhiku. Sejak awal bertemu pria legam ini pada pesta sebulan yang lalu, aku sudah sangat takut kepada orang ini.Tatapan matanya seakan-akan berusaha menelanjangi diriku kala itu. Aku berusah menjauh darinya yang selalu berusaha berkomunikasi dengan diriku. Dari penuturan Frans, Pedro bertanggung jawab sebagai insinyur mesin-mesin pengeboran minyak. Aku sama sekali tak menyangka harus bertemu keparat bersorot mata cabul ini kembali disaat memalukan seperti ini. Nampaknya posisi kami sudah diatur sedemikian rupa oleh Anthony. Keparat cabul itu telah menyuntik cairan perangsang berdosis tinggi sehingga merubah kami menjadi pasangan yang haus akan birahi. Mereka benar-benar telah menyiksa dan mengexploitasi kami secara sexual. Keparat gendut itu sudah benar-benar sakit jiwa

“AYO LANJUTIN AJA SELESAIKAN SAMPAI TUNTAS...”

Aku tertunduk lesu bagai ayam sayur. Kali ini, tamat sudah riwayatku. Tak ada lagi yang berharga dari diriku. Aku telah total sepenuhnya menjadi budak permainan cabul kawanan bajingan ini. Aku terpaku tak bergerak. Meskipun begitu dengan buru-buru aku mencabut dildo itu dari kemaluanku. Aku meringkuk terpojok sambil menangis sejadi-jadinya. Aku berusaha melipat tubuhku sedemikian rupa untuk menutupi ketelanjanganku bagaimanapun juga aku tak sudi para bajingan ini menikmati dengan bebas keindahan tubuhku.

“AH…UDAH LOE GA USAH SOK ALIM LAGI DEH….KAMI SEMUA UDAH LIHAT KOQ DARI TADI..!!”

“DINA….DINA….LOE MEMANG KERAS KEPALA….!!”

“TAPI SILAHKAN SAJA KAMI PUNYA BANYAK WAKTU.”

“AKU MAU LIHAT SEBERAPA LAMA LOE BISA BERTAHAN”

Keparat itu tertawa terpingkal-pingkal perut besarnya berguncang hebat. Baginya setiap tetes air mataku adalah suka citanya. Jahanam itu begitu menikmati setiap detik ekspresi keterkejutanku yang tertangkap basah sedang memuaskan nafsu tabu. Anthony lalu duduk menyilangkan kakinya di atas meja. Sambil bersiul-siul santai ia lalu meraih sebuah remote yang berada tepat di samping kursinya. Bagaikan tersambar petir di siang bolong, Anthony memutarkan video pemerkosaanya pada diriku waktu acara pesta sebulan lalu. Aku sudah tak mampu untuk menatap Frans. Aku sempat melihat Frans menatap Anthony dengan tatapan penuh kebencian.

“Gimana Frans aku yang menang taruhan bukan…?”

“Semua wanita sudah aku bilang sama saja…..

“loe terlalu naif Frans… coba loe pikir mengapa G-string begitu laku keras?”

“Mengapa hotpants juga demikian belum lagi tank-top dan busana-busana lingerie lainnya?

“Sudah kodrat seorang wanita Frans mereka sebenarnya mahkluk narsis…”

“Wanita menikmati mata-mata cabul kita kaum pria, menyapu setiap inchi keindahan lekuk tubuhnya.”

“Namun mereka semua terlalu munafik untuk mengakuinya.”

“Dan mereka sebenarnya suka di lecehkan, dicabuli seperti ini…. Bukan begitu mba Dina sayang?.” bisik si gendut itu sambil memainkan bulu-bulu kelaminku yang tumbuh lebat menutupi selangkanganku.

Dengus nafas Anthony begitu hangat menyapu tengkuk-ku. Saat bedebah itu setengah berbisik di telingaku.

“BAJINGAN KAU TON TEGANYA KAU PERLAKUKAN INI JANGAN LIBATKAN DINA ATAU KAU AKAN MENYESAL…..!” Frans berteriak putus asa dalam ke tidak berdayaannya. Darah pria malang itu bergejolak memanas melebihi panasnya isi sebuah gunung berapi yang siap meletus.

“Emangnya loe sekarang bisa apa Frans…?

“Lihat dirimu lihat baik-baik loe itu sama brengseknya denganku….”

“Loe suka kan lihat ceweq loe di entotin kita-kita ini”

“Wa..ka..ka..Lihat tuh broe kontol loe aja udah mulai ngaceng lagi.”

“Udah ngecrit berapa kali loe sejak tadi….?”

“Sayang bener peju loe ngga tepat sasaran BWA…HA..HA…HA..!!”

“BAJINGAN…..KEPARAAAAAT KAU TON…”Dengan kalap Frans melontarkan sejuta umpatan dan makian terjahatnya kepada mantan sahabatnya itu.

“Nah sekarang loe boleh ngeloco sambil lihat ceweq loe kita entotin rame-rame.”

“Kemarin-kemarin kan loe cuma bayangin doank kan hi…hi…!!”

“BWA…HA…HA…HA…KASIHAN DEH LOE CUMA BISA NGELOCO LIAT CEWEQ LOE YANG MULUS INI”

“IBLIS KAU TON KAU AKAN MENYESAL SELAMANYA….BAJINGAN KAU…..!!!” Frans semakin kalap memaki-maki kawanan cabul penyekapnya.

“Wooow …brrr aku takuuut ….Frans ampuni aku Bwa..ka…ka…”Pekik sorak sumbang Kawanan keparat itu riuh rendah terdengar di ruangan ini. Mereka begitu girang memperlakukan kami seperti ini.

“HEY..LIHAT MBA DINA MULAI GELISAH YA….??” Pedro yang sejak tadi mengamati diriku rupanya telah menangkap perubahan yang terjadi.

Aku yakin sekali keparat hitam ini sudah sangat bernafsu untuk menyetubuhiku. Celana boxernya sudah mengacung dan bergoyang-goyang naik turun. Namun nampaknya keparat ini masih belum berani melancangi bossnya si Iblis gendut.

“AYO…MBA….LANJUTIN AJA MAIN KONTOL-KONTOLANNYA..

“APA MBA MAU KONTOL YANG BENERAN…??TAPI SYARATNYA SUSAH LHO MBA…?”Kawanan bajingan itu semakin bersemangat menyoraki diriku.

“Sghhh…hngghhh….zzzsssggahhh….nghh…Tidaak…tidak….bajingan kalian semua…..” suaraku tak terlalu jelas terdengar.

Di antara desisanku yang campur aduk menahan gelora birahi yang semakin memuncak. Tapi mereka memang sama sekali tak menyimak dan mempedulikan apa yang aku ucapkan. Mereka semua hanya berfokus menyaksikan detik-detik terakhir runtuhnya secuil harga diriku yang masih tersisa. Kurasakan kepalaku semakin berat. Riuh rendah suara sumbang kawanan bajingan itupun semakin kabur di telingaku. Rasa geli luar biasa mulai menjalar dari ubun-ubun kepalaku merambat merata secara perlahan menyesaki setiap ujung syarafku. Semakin lama, rasa geli luar biasa itu menimbulkan suatu akumulasi sensasi aneh yang semakin memuncak menstimulasi puting payudaraku, sehingga pentil susuku itu semakin memanjang 2x dari ukuran normalnya

Demikian pula di daerah intimku yang semakin menderita menahan gempuran dari letupan-letupan nafsu tabu yang semakin memuncak. Itil ku semakin berdenyut-denyut keras tak terkendalikan lagi. Dapat kurasakan secuil daging pada alat kelaminku itu, yang selama ini memberikan nikmat sensasi secara sexuil pada diriku, semakin meningkat aktifitasnya melebihi batas normalnya. Aku juga merasakan pahaku mulai menghangat dialiri lelehan cairan precum bening kental yang mengalir semakin deras bagaikan anak sungai lava dari letupan gunung berapi yang sudah siap meletup

“SEPULUH……SEMBILAN…….DELAPAN……!!

“AYO MBAA JANGAN RAGU LAGI…..!!”

“ITU ADA KONTOL-KONTOLAN NGANGGUR YANG GEDE HITAM DAN PANJANG”

“PASTI RASANYA ENAK SEKALI KALO DI MASUKIN KE MEMEK MBAA DINA….HA…HA….HA…..” Para bajingan itu tahu persis waktu kekalahanku sudah semakin dekat mulut-mulut kotor mereka seolah semakin bersemangat memprovokasi setiap detik kesadaranku.

“Hngh…..hosh…..hosh…..hmpffhhh….nggakzz….zssszzzssttt…aaarghhh….hngggghhh….” nafasku semakin memburu bagaikan deru sebuah lokomotif

Aku dapat merasakan waktu kekalahanku sudah tiba. Rasa geli yang begitu dahsyat semakin lama semakin menggila menyerbu clitorisku yang semakin basah lembab.

“HOREE…..MBA DINA AKHIRNYA UDAH NGGA TAHAN”

“HA….HA….HA…BWA…HA…..HA….WA..KA…KA…”Aku tak mampu bertahan lebih lama lagi dengan siksaan api birahi ini. Mataku semakin nanar menatap dildo itu aku terpaksa kembali bertekuk lutut oleh benda laknat itu

Kemaluanku sudah begitu tersiksa oleh letupan nafsu birahi yang semakin kuat mencengkram sukmaku. Gegap gempita riuh rendah olok-olok suara para bajingan itu sudah tak mampu lagi memagari kewarasanku. Nafsu birahi yang meletup dalam diriku terlalu liar untuk bisa ku bendung. Maafkan aku oh Tuhan aku kembali kalah oleh nafsu laknat ini. Aku kembali menjadi hamba budak nafsu para iblis keparat ini.

“Ooooough…..hngh….aahh…hnghh…hnghhh…..ssghh…zzzghhh…aaahh…” aku bahkan tak mampu lagi menahan rintihan nikmat.

Oh sialan benda keparat itu memang terlalu nikmat seolah menjadi dewa penolong pada saat yang tepat seperti ini. Aku sudah tak peduli lagi dengan tempik sorak sorai kemenangan para kawanan iblis cabul yang semakin bersemangat menyoraki diriku.

“OH….SHIIIIT….MBA….MBA….DINA….LOE EMANG BETINA TERCABUL YANG PERNAH AKU TEMUI……!!”

Suasana hiruk pikuk yang tadi begitu sumbang terdengar sekarang menjadi sepi. Ekor mataku menatap sayu para bajingan cabul yang menontonku. Para makhluk mesum itu diam terpaku menikmati setiap rintihan lolongan nikmat berbalur nafsu tabu dariku yang terdengar bagaikan sebuah mahakarya symphony agung yang pernah diciptakan. Geliat erotis dan goyangan liar payudaraku berserta putingnya yang begitu tegang mengacung, seakan siap untuk dikulum seorang pejantan tangguh.begitu menggoda para jahanam itu. Kawanan iblis cabul ini, samasekali tak melewatkan setiap detik geliat erotis tubuhku. Bagaikan menikmati sebuah mahakarya sendratari yang agung. Meskipun mereka berlagak jual mahal di depanku namun aku tahu pasti para keparat itu sudah nyaris tak mampu lagi membendung birahi yang mereka ciptakan sendiri batang-batang kelamin mereka begitu tegak kokoh mengacung sudah tak sabar lagi menuntaskan naluri hewani mereka yang siap meledak.

Diantara para pejantan keparat itu, hanya terdapat seorang pejantan malang meringkuk telanjang tersiksa api birahi seperti diriku. Penis Frans telah mencapai ukuran maksimalnya. Batang kejantanan pria malang itu berdenyut-denyut hebat semakin merah membara bagaikan logam yang telah siap tempa Tangan Frans semakin giat mengocok dan meremasi batang kejantanannya betapa inginnya Frans segera menyetubuhiku tetapi memang kawanan penjahat cabul itu sengaja ingin menyiksanya dengan api nafsu birahi.

“CREEET…..CREET…..SSGHHH..ZZZGHHHH…AAAHHHH…OOOOOHHH…OUGHHHH….” Frans melolong panjang bagaikan seekor srigala malam saat spermanya memancar deras dan berhasil melewati celah jeruji kandang besi tepat mendarat di pahaku. Dapat kurasakan cairan benih kehidupan itu terasa hangat dan kental mengalir perlahan seakan membelai paha telanjangku. Meskipun Frans tak berhasil menyetubuhiku namun nampaknya pria malang itu cukup bahagia bisa menembakan spermanya tepat mengenai diriku

“YA…PAYAH….YANG COWOQ NGECRIT DULUAAAN……”

“KASIHAN DEH….. ADA MEMEK NGANGGUR DIDEPANNYA TAPI GA BISA DIENTOT WA…KA..KA..!!”Kawanan bajingan ini kembali mulai riuh rendah mencemooh kami. Sementara itu aku tak begitu mempedulikan lagi. Konsentrasiku kini sepenuhnya terfokus hanya pada reaksi sensasi selangkanganku yang semakin menggila tak tertahankan.

“AYO….MBA DINA…..KAMU BISA…..SEDIKIT….LAGI MBA…..TETAP SEMANGAT….SUIT……SUIT….!!”Sorak sorai mereka semakin gegap gempita mereka tahu waktuku hampir tiba dan itulah saat-saat yang paling mereka nantikan. Moment paling memalukan dalam sejarah hidupku yang menjadi moment paling membahagiakan dalam memuaskan syahwat cabul para keparat ini.

“AAHH…HAAAH….OOUGH….SGHHH…HMPHH….CERRRRTS…….CRET…….SERRR……..!!”

Bagaikan runtuhnya sebuah bendungan raksasa, aku tak mampu lagi membendung cairan orgasme-ku yang membanjir deras memancar ke segala penjuru. Secara expilicit moment yang seharusnya menjadi aktifitas paling intim dalam hidupku itu kini hanya menjadi konsumsi publik sekawanan manusia bejad yang menjadikan moment paling pribadi itu hanya menjadi sebuah hiburan cabul pemuas nafsu syahwat para keparat itu. Betapa hancur hatiku, seiring berakhirnya klimaks dari nafsu gilaku yang lepas kendali, akal warasku kembali mengambil alih, aku menangis sejadi-jadinya bagiku kini aku tak lebih dari seekor binatang telanjang dengan rantai besar di lehernya. Para keparat itu telah berhasil sedemikian rupa menghancurkan martabatku sebagai wanita dewasa. Merenggut sesuatu hal yang paling pribadi yang menjadi hak seorang wanita terhormat. Dalam sekejab kehidupanku telah hancur berantakan berakhir di sini menjadi seekor budak nafsu para iblis keparat ini. Aku bahkan sudah tak mempunyai keinginan lagi untuk melawan nafsu bejad para jahanam ini. Tak ada lagi yang bisa aku lakukan selain menangis dan menangis menyerahkan tubuh telanjangku secara bulat-bulat kepada kawanan iblis cabul ini. Membiarkan tangan-tangan kasar mereka meremasi dan menjarah segala organ intimku. Bagiku kini aku telah berakhir. Seiring kembali bergoyangnya tubuh telanjangku yang tanpa daya di gagahi para keparat ini.

(END OF SESSION 1)

By: Brainwash
----------------------
25 komentar Post your own or leave a trackback: Trackback URL
  1. Antoni mengatakan:
    Lanjutkan. . .
  2. Dicky mengatakan:
    Seru banget,bos…yang kayak gini nih asyikkkk!!!Lanjut!!!
  3. kingsadewa mengatakan:
    wah ada si antoni di atas…
    gimana rasanya bro..
    kecil ya…
  4. andriyan mengatakan:
    bingung guw……
    ntar w bca lagi dech….
  5. mikenjess mengatakan:
    gilaaaa…. mantab ini cerita, ampir crot tampa dipegang gue, haha
    tapi kok nanggung ya? jahat juga penulisnya, bikin pembacanya juga ikutan nanggung nahan birahi.
    ha ha ha
    Re: wah bro mike punya jurus baru nih, crot tanpa pegang, gimana tuh rahasianya :D ? biasa lah kaya sinetron dipotong pas rame2nya
  6. kokondo mengatakan:
    komen dolo aja ah…mumpung br dikit yg komen..
    wow sama ky nama mantan gw lagi..
  7. kokondo mengatakan:
    wedehh.. hardcore neh cerita…
    pengen nungguin sl-idin 2 ja dah…
  8. ardian mengatakan:
    hot..mantep……lanjutannya gan……..
  9. cupido mengatakan:
    gak salah judul boss??
  10. cupido mengatakan:
    oops salah gw yg ketuker, maap boss gw kurang hati2 koment nya
  11. zephyr mengatakan:
    terusin cepeeet gaaan
  12. Dhalsim mengatakan:
    woooww… keren bgt.. alurnya klop bgt, gak ketebak.. teruskan bos! gak sabar menantikan crita bagian 3nya..
  13. Antoni mengatakan:
    Keliatannya lbh asyik yg pertama dech!
    Bos, Eliza 14, RYT 10, Alfi bag 4, Schoolgirl’s Diary 14 kpn keluar!
    Da lm bgt nie nunggu epis0de slnjtnya!
  14. gmox mengatakan:
    wow…. tu pantat bohay bener bro…
    wkwkwk….
    lanjutkan gan….
  15. penggemar_kbb mengatakan:
    wah makin mantabs saja sequelnya…..
    lanjut gan….. :-D
  16. labalabajantan mengatakan:
    woi….mangkenapa seh ad cerita alfi sgala….kan tu kan nama gw sm bgt…..pdhl gw ga bgtu loc…tar yg bwt gw tuntut di pengadilan cabul hukumannya pancung penis bagi yg penulis pria…hehehe
    Re: wadoh yang namanya sama protes nih, hukumannya sadis ih masa pancung penis hyyy serem!
  17. GaKoRu mengatakan:
    Definitely Absolutely Outstanding story..
    Cerita yang terlalu bagus untuk di kritik..
    Cerita yang terlalu sempurna untuk diberi saran..
    three thumbs up..
    two for the writer..
    and other ‘one’ for me..
    hahaha..
    @labalabajantan: kalo yang nulis cewe gimana bro??? (^_^)”..
    cheers..
  18. Ninja Gaijin mengatakan:
    asik asikkk… petualangan Dina Sweetest Sin yg boncengannya aduhai dimulai lagi…
    kalo ngelihat perkembangannya kayaknya si Dina bakal mengalami adegan bukkake nih di sesi-sesi mendatang…
    gak sabar melihat dia jadi jablay buat seisi pengeboran.
    hajar terus, bro Brainwash, gojlok terus si Dina, let them know she’s a total slutty whore…
    *kok gw malah jadi kyk melampiaskan ya… sasarannya seorang dina yg lain…
    Re: kalao diliat2 dina kok mirip tia ya bos?
  19. dr h mengatakan:
    Bagus banget!. Bro kita satu ini salah satu penulis cerita KBB sejati yg berbakat. harapan gw terus produktif bro.
    Btw bro Brainwash-nya kok ga pernah bales komen?
    Re: kayanya bro brainwash ini emang type yg banyak kerja (nulis) daripada banyak omong, dibutuhkan yg spt ini di negeri tetangga sana hehehe
  20. Pendekar Maboek mengatakan:
    Gile bro brainwash, makin keren aja nih, kykny session 2 bakal lebih ganas n garang nih, full body contact!!! he he he
  21. Brainwash mengatakan:
    Thanks semuanya atas kritik+sarannya sori gue emang jarang ol tp lg aku Siapin yg lbh hot lg tp mungkin agak lama ya :-)
    Re: jangan terlalu lama bos, keburu karatan nunggunya
  22. Ninja Gaijin mengatakan:
    @shu: mukanya sih ga gitu mirip sama model Tia, tapi bodynya spt yg gw bayangin…
    kalo namanya… hmm mirip nama seseorang yg pernah deket sama saya…
    Re: siapa tuh bos?
  23. 0cean mengatakan:
    keren…ditunggu session 3 nya..
    gang bang, ada co nya lagi…waduh…gmn bayanginnya.:D
  24. abcde mengatakan:
    iya nih ditunggu part ke3 nya. tp jangan terlalu fokus ke si cowo lah. cewenya ajah
  25. kijoko lelono mengatakan:
    sayang nggak ada lanjutanya…………..!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar