Rumah Baru KisahBB

Setelah 2x ga diterima di Wordpress sehubungan penjualan DVD, Shusaku akhirnya memutuskan memindahkan blog cerita seru KisahBB kesayangan kita ke sini.

kirim cerita karya anda atau orderan DVD ke:


Order via email: mr_shusaku@yahoo.com


tuliskan: nama, alamat jelas, nomor HP, dan list barang yang diinginkan di email pemesanan


email akan segera saya balas dengan rincian harga & no ac bank bca/mandiri unk transfer. barang akan dikirim dengan tiki/pos setelah konfirmasi transfer diterima.

Promo diskon gede-gedean

Paket istimewa 500rb (50dvd),

untuk dalam Pulau Jawa free ongkos kirim, untuk luar Pulau Jawa tergantung daerah.

Harga normal Rp 15rb/dvd kalau beli banyak Rp.12.500/dvd, untuk paket kali ini jatuhnya Rp. 10rb/dvd, murah banget!!


Tapi ini terbatas hanya untuk 10 orang saja.

jadi silakan order, bisa dilihat list barang di

- list semi & softcore

- list western xxx

- list jav


untuk pemesanan email ke mr_shusaku@yahoo.com

Subject: paket istimewa 500rb

tuliskan: nama, alamat jelas, nomor HP, dan list barang yang diinginkan di email pemesanan

email akan segera saya balas dengan rincian harga & no ac bank bca/mandiri unk transfer. barang akan dikirim dengan tiki/pos setelah konfirmasi transfer diterima.


-untuk pesanan di atas 50dvd, selanjutnya dihitung @Rp.10.000,-

-hanya untuk film2 satuan (JAV, western XXX, dan Semi), tidak berlaku untuk koleksi pics & kompilasi

Senin, 08 Agustus 2011

Silakan Perkosa Istriku

Reni

"MMMMPPFFFF....mmmpffff...." perempuan di atas ranjang itu mendesah tertahan karena mulutnya tersumpal celana dalamnya sendiri


Perempuan yang semasa gadis kukejar-kejar itu meronta-ronta tak berdaya. Kedua tangannya terikat terentang ke sebatang besi yang melintang. Kedua matanya tertutup sehelai kain hitam yang mengikat kepalanya. Dulu, ia jadi buruan banyak lelaki, termasuk aku. Reni namanya, umur 27 tahun, lima tahun lebih muda dariku, kulitnya putih mulus, rambut panjang agak bergelombang dan mata yang bulat indah. Ia seorang wanita yang terkenal alim sejak dulu, santun dalam tingkah laku, selera berpakaiannya pun tinggi, ia tidak suka mengumbar kemulusan tubuhnya walau dikaruniai body yang aduhai dengan payudara yang montok. Dari sekian banyak lelaki, akhirnya akulah yang beruntung mendapatkannya sebagai istri. Aku tahu, banyak lelaki lain yang pernah menidurinya dalam mimpi atau menjadikannya objek masturbasi mereka. Tetapi, aku bukan hanya bermimpi. Aku bahkan betul-betul menidurinya kapanpun aku mau. Ia juga membantuku masturbasi saat ia datang bulan. Cintaku padanya belum berubah, yang berubah hanya caraku memandangnya. Tiba-tiba, entah kapan dan bagaimana awalnya, aku selalu membayangkan Reni dalam dekapan lelaki lain. Entah aku sudah gila atau bagaimana, rasanya benar-benar excited membayangkan payudara dan vaginanya dalam genggaman telapak tangan pria lain, terutama yang bertampang kasar dan status sosialnya di bawahnya. Reni istri yang setia, jadi tentu saja, dalam imajinasiku itu, Reni tidak sedang berselingkuh. Aku mungkin gila membayangkannya menderita lantaran diperkosa! Dan kini imajinasiku itu menjadi kenyataan. Di depanku, seorang lelaki tengah memeluknya dari belakang. Sebelah tangan lelaki itu meremas-remas payudaranya. Sebelah lagi dengan kasar melakukan hal yang sama pada pangkal pahanya. Tiga lelaki sedang bersiap-siap memperkosa Reni, seorang istri setia yang alim. Itu semua terjadi di depan suaminya sendiri dan atas perintahnya. Tentu saja, Reni tak tahu hal itu terjadi atas rancangan aku, suaminya. Itu sebabnya, kedua matanya kini terikat. Tiga lelaki itu adalah orang yang kupilih untuk mewujudkan fantasi gilaku.



Setelah melalui beberapa pertimbangan dan pembicaraan-pembicaraan santai yang makin mengarah ke serius, akhirnya kudapatkan juga tiga orang yang kurasa pas untuk mewujudkan kegilaanku. Orang pertama, Aldo, adalah office boy di kantor tempatku bekerja. Orangnya masih berumur 23 tahun, berperawakan kurus tinggi dengan kumis tipis. Dia sering membantuku dan tugas-tugas yang pernah kupercayakan padanya pun selalu rapi. Pada jam istirahat atau lembur kami sering ngobrol dan merokok bersama, dan dalam suatu obrolan lah aku mengungkapkan ide gilaku padanya. Sifatnya agak pemalu dan pendiam sehingga tidak banyak teman.Menurut pengakuannya, ia belum pernah berpacaran apalagi main perempuan.

"Ya boleh juga lah Bos, sapa tau seperti kata Bos, bisa bikin saya lebih berani ke cewek hehehe" katanya menanggapi permintaanku.

Orang kedua Bob, seorang temanku di perusahaan tempatku bekerja dulu, seorang pria berusia 40 tahun lebih. Aku berpikir dia pas untuk tugas gila ini begitu melihatnya terutama perutnya yang gendut. Aku memang kadang mengkhayalkan wajah Reni yang lembut dikangkangi seorang lelaki gendut. Bob mengaku tertarik dengan tawaranku lantaran ia punya seorang karyawati cantik yang belum berhasil ditaklukannya. Ia memperlihatkan foto gadis itu kepada kami yang memang harus diakui cantik. Kata Bob, ia sudah berulangkali mencoba merayu gadis itu untuk melayaninya, tetapi gadis itu selalu menolaknya.

"Setelah bermain-main dengan Reni, aku ingin kalian membantuku memperkosa si Lia ini" katanya.

Orang ketiga bernama Jaelani yang direkomendasikan oleh Bob. Ia adalah sopir perusahaan di tempat kerja Bob, tubuhnya kekar, kulitnya hitam, kumis di atas bibirnya menambah sangar wajahnya yang memang sudah seram itu. Melihatnya, aku langsung membayangkan Reni menjerit-jerit lantaran vaginanya disodok penis pria seperkasa Jaelanni ini.

"Saya udah lima tahun cerai, selama ini mainnya sama perek kampung aja kalau lagi sange, kalau ngeliat yang cantik kaya istri Abang ini wah siapa ga kepengen Bang" sahutnya antusias ketika kuperlihatkan foto Reni di HP-ku.

"OK deh, minggu depan kita beraksi. Silakan kalian puaskan diri dengan istriku. Nanti hari H min satu kita atur lagi lebih dalam rencananya! kataku mengakhiri pertemuan.



***

H - 1



Sehari sebelum hari yang direncanakan tiba, kami berempat berkumpul lagi di rumah kontrakan Jaelani untuk membahas apa yang harus dilakukan. Akhirnya, ide Bob yang kami pakai. Idenya adalah menculik istriku dan membawanya ke villa Bob yang besar dan terletak di luar kota. Bob menjamin, teriakan sekeras apapun tak akan terdengar keluar villanya itu, selain itu suasananya pun jauh dari keramaian kota sehingga aman untuk melakukannya. Kami semua sepakat dan mulai membagi tugas. Aku tak sabar menunggu saatnya mendengar jeritan kesakitan Reni diperkosa ketiga pria ini.



***

Hari H



Hari yang disepakati pun tiba. Aku tahu, pagi itu Reni akan ke rumah temannya. Aku tahu kebiasaannya. Setelah aku berangkat kantor, ia akan mandi. Hari itu ia memakai gaun terusan krem bermotif bunga-bunga. Sebenarnya aku tidak ke kantor, tetapi ke rumah Bob. Di sana, tiga temanku sudah siap. Kamipun meluncur ke rumahku dengan mobil van milik Bob. Sekitar sepuluh menit lagi sampai, kutelepon Reni.

"Sudah mandi, sayang ?" kataku.

"Barusan selesai kok" sahutnya.

"Sekarang lagi apa?"

"Lagi mau pake baju, hi hi..." katanya manja.

"Wah, kamu lagi telanjang ya ?"

"Hi hi... iya,"

"Cepat pake baju, ntar ada yang ngintip lho !" kataku.

"Iya sayang, ini lagi pake BH," sahutnya lagi.

"Ya udah, aku kerja dulu ya, cup mmuaachh..." kataku menutup telepon.

Tepat saat itu mobil Bob berhenti di samping rumahku yang tak ada jendelanya. Jadi, Reni tak akan bisa mengintip siapa yang datang. Bob, Aldo dan Jaelani turun, langsung ke belakang rumah. Kuberitahu mereka tentang pintu belakang yang tak terkunci. Aku tak perlu menunggu terlalu lama. Kulihat Aldo sudah kembali dan mengacungkan jempolnya. Cepat kuparkir mobil Bob di garasiku sendiri.

"Matanya sudah ditutup Do?" kataku.

"Sudah bos. Mbak Reni sudah diikat dan mulutnya disumpel. Tinggal angkut" katanya.

Memang, kulihat Bob dan Jaelani sedang menggotong Reni yang tengah meronta-ronta. Istriku yang malang itu kini terikat tak berdaya. Kedua tangannya terikat ke belakang. Aku siap di belakang kemudi. Kulirik ke belakang, tiga lelaki itu memangku Reni yang terbaring di jok tengah.

"Ha ha... step one, success!" kata Bob.

Aku menelan liurku ketika rok Reni disingkap sampai ke pinggang. Tangan mereka saling berebut menjamah pahanya yang putih mulus. Bob bahkan telah menurunkan bagian dada Reni yang agak rendah sehingga sebelah payudaranya yang masih terbungkus bra hitam menyembul keluar. Lalu, ia menurunkan cup bra itu. Mata ketiganya seolah mau copot melihat payudara 34B Reni yang bulat montok dengan puting coklat itu. Bob bahkan langsung melumat bongkahan kenyal itu dengna bernafsu embuat Reni merintih-rintih. Gilanya, aku malah sangat menikmati pemandangan itu.

"Udah Bang, sekarang berangkat aja dulu" kata Jaelani sambil jarinya mulai merambahi selangkangan Reni dan mengelusi vaginanya dari luar celana dalamnya.



***

Villa Bob



Setelah empat puluh menit perjalanan tibalah kami di villa Bob yang besar. Kami mengikat Reni di ranjang dengan tangan terentang ke atas. Si sopir, Jaelani, tengah memeluknya dari belakang, meremas payudara dan pangkal pahanya.

"Pak Bob merokok kan? Reni benci sekali lelaki perokok. Saya pingin ngelihat dia dicium lelaki yang sedang merokok. Saya juga pengen Pak Bob meniupkan asap rokok ke dalam memeknya," bisikku kepada Bob.

Bob mengangguk sambil menyeringai. Aku lalu mengambil posisi yang tak terlihat Reni, tapi aku leluasa melihatnya. Kulihat Bob sudah menyulut rokoknya dan kini berdiri di hadapan Reni. Dilepasnya penutup mata Reni. Mata sendunya berkerjap-kerjap dan tiba-tiba melotot. Rontaan Reni makin menjadi ketika Bob menjilati pipinya yang halus. Apalagi, kulihat tangan Jaelani tengah mengobok-obok vaginanya. Pinggul Reni menggeliat-geliat menahan nikmat.

"Bang nggak bosen-bosen mainin memek Mbak Reni," tanya Aldo yang duduk di sebelahku sambil memainkan penisnya.

"Lho, kok kamu di sini. Ayo direkam sana!” kataku menepuk punggungnya.

"Oh iya. Lupa!" kata Aldo sambil cengengesan.

Bob menarik lepas celana dalam Reni yang menyumbat mulutnya.

"Lepaskaaaan.... mau apa kalian... lepaskaaaan!" langsung terdengar jerit histeris Reni yang marah bercampur takut.

"Tenang Mbak Reni, kita cuma mau main-main sebentar kok," kata Bob sambil menghembuskan asap rokok ke wajah cantiknya.

Kulihat Reni melengos dengan kening berkerut.

"Ya nggak sebentar banget, Mbak. Pokoknya sampe kita semua puas deh!" kata Aldo.

Ia berjongkok di hadapan Reni. Diarahkannya kamera ke bagian bawah tubuh Reni, ia mengclose-up jari tengah Ben yang sedang mengobok-obok vagina istriku.

"Memek Mbak rapet sih. betah nih saya maenan ini seharian," timpal Jaelani.



“Aaakhhh... binatang...lepaskaaann...nngghhhh!" Reni meronta-ronta dan menangis

Telunjuk Aldo ikut-ikutan menusuk ke dalam vaginanya. Kulihat Bob menghisap rokok Jie Sam Soe-nya dalam-dalam. Tangan kirinya meremas-remas payudara kanan Reni yang telah terbuka

"Lepaskaaaan... jangaaann....setaan....mmmfff.....mmmmfffff....mmmpppfff... ." jeritan Reni langsung terbungkam begitu Bob melumat bibirnya dengan buas.

Mata Reni mendelik. Kulihat asap mengepul di antara kedua bibir yang berpagut itu. Al

mengclose-up ciuman dahsyat itu. Ketika Bob akhirnya melepaskan kuluman bibirnya, bibir Reni terbuka lebar. Asap tampak mengepul dari situ. Lalu Reni terbatuk-batuk.

"Ciuman yang hebat, Jeng Reni. Sekarang aku mau mencium memekmu," kata Bob.

Reni masih terbatuk-batuk. Wajahnya yang putih mulus jadi tampak makin pucat. Bob berlutut di hadapan Reni. Jaelani dan Aldo membantunya membentangkan kedua kaki Reni lebih lebar.

"Wow, memek yang hebat," kata Bob sambil mendekatkan ujung rokok yang menyala ke rambut kemaluan Reni yang tak berapa lebat.

Sekejap saja bau rambut terbakar menyebar di ruangan ini. Bob lalu menyelipkan bagian filter batang rokoknya ke dalam vagina Reni. Istriku masih terbatuk-batuk sehingga terlihat batang rokok itu kadang seperti tersedot ke dalam. Tanpa disuruh, Aldo meng-close-upnya dengan handycam. Bob lalu melepas rokok itu dari jepitan vagina Reni. Dihisapnya dalam-dalam. Lalu, dikuakkannya vagina Reni lebar-lebar. Mulutnya langsung merapat ke vagina Reni yang terbuka.

"Uhug...uhug...aaaakkhhh... aaaaakkhhh....aaaaakkkhhhh..." Reni menjerit-jerit histeris. Bob tentu sudah mengembuskan asap rokoknya ke dalam vagina istriku.

"Aaakhhhh... panaaassss....adududuhhhh...." Reni terus menjerit dan meronta-ronta. Kulihat Bob melepaskan mulutnya dari vagina istriku.

Sementara Aldo mengclose up asap yang mengepul dari vagina Reni. Reni semakin menangis ketakutan.



Bob bangkit dan menjilati sekujur wajahnya. Lalu dengan gerak tiba-tiba ia mengoyak bagian dada istriku. Reni memekik ketika Bob merenggut putus bra-nya yang telah tersingkap. Ia terus menangis saat Bob mulai menjilati dan mengulum putingnya. Kulihat Jaelani kini berdiri di belakang istriku. Penisnya yang besar itu telah mengacung dan siap beraksi. Ia menoleh ke arahku, seolah minta persetujuan. Aku mengacungkan ibu jari, tanda persetujuan. Tak sabar aku melihat istriku merintih-rintih dalam persetubuhan dengan lelaki lain. Kuberi kode kepada Aldo, si office boy, agar mendekat.

"Tolong tutup lagi matanya. Gua pengen ingin dia menelan sperma gua soalnya selama ini dia belum pernah" kataku

Al mengangguk dan segera melakukan perintahku. Setelah yakin Reni tak bisa melihatku, aku pun mendekat.

"Aaakkhhh....aaakkkhhh..... jangaaaannn....!" Reni menjerit lagi, kali ini lantaran penis Jaelani yang besar mulai menusuk vaginanya.

Kulihat baru masuk setengah saja, tapi vagina Reni tampak menggelembung seperti tak mampu menampung penis itu. Kulepaskan ikatan tangan Reni tapi kini kedua tangannya kuikat ke belakang tubuhnya. Penis si sopir masih menancap di vaginanya. Jaelani kini kuberi isyarat agar duduk di lantai. Berat tubuh Reni membuat penis Jaelani makin dalam menusuk vaginanya. Akibatnya Reni menjerit histeris lagi. Tampaknya kali ini ia betul-betul kesakitan. Aku sudah membuka celanaku. Penisku mengacung ke hadapan wajah istriku yang cantik ini. Reni bukannya tak pernah mengulum penisku. Tapi, selalu

saja ia menolak kalau kuminta spermaku tertumpah di dalam mulutnya.

"Jijik ah, Mas," katanya berkilah.

Tetapi kini ia akan kupaksa menelan spermaku. Kutekan kepalanya ke bawah agar penis si sopir masuk lebih jauh lagi sehingga Reni makin histeris. Saat mulutnya terbuka lebar itulah kumasukkan penisku, jeritannya pun langsung terbungkam. Aku berharap Reni tak mengenali suaminya dari bau penisnya. Ughhhh... rasanya jauh lebih nikmat dibanding saat ia mengoral penisku dengan sukarela. Kupegangi bagian belakang kepalanya sambil kugerakkan maju mundur pinggulku. Sementara Jaelani juga sudah semakin ganas menyentak-nyentak penisnya pada vagina istriku. Reni mengerang-erang, dari sela kain penutup matanya kulihat air matanya mengalir deras. Aku tak bisa bertahan lebih lama lagi. Kutahan kepalanya ketika akhirnya spermaku menyembur deras ke dalam rongga mulut istriku yang kucintai. Kutarik keluar penisku, tetapi langsung kucengkeram dagunya yang lancip. Di bawah, Bob dan Aldo menarik kedua puting istriku.

"Ayo, telan, banyak proteinnya nih Mbak, sehat loh" kata Bob.

Akhirnya memang spermaku tertelan, meski sebagian meleleh keluar di antara celah bibirnya. Nafas Reni terengah-engah di antara rintihan dan isak tangisnya. Ben masih pula menggerakkan pinggangnya naik turun.



Aku duduk bersila menyaksikan istriku tengah dikerjai tiga pria bertampang jelek. Penis Jaelani masih menancap di dalam vagina Reni. Kini Bob mendorong dada Reni hingga ia rebah di atas tubuh tegap sopir itu. Ia kini langsung mengangkangi wajah Reni. Ini dia yang sering kubayangkan. Wajah cantik Reni terjepit pangkal paha lelaki gendut itu. Kuambilalih handycam dari tangan Aldo, lalu kuclose up wajah Reni yang menderita. Reni menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menjerit-jerit. Tetapi, jeritannya langsung terbungkam penis Bob. Kedua tangan kekar Jaelani menggenggam payudara Reni. Meremas-remasnya dengan kasar dan berkali-kali menjepit kedua putingnya. Dari depan kulihat, tiap kali puting Reni dijepit keras, vaginanya tampak berkerut seperti hendak menarik penis Ben makin jauh ke dalam. Aldo tak mau ketinggalan. Ia kini mencari klitoris Reni. Begitu ketemu, ditekannya dengan jarinya dengan gerakan memutar. Sesekali, bahkan dijepitnya dengan dua jari. Terdengar Reni mengerang-erang, tubuhnya mengejang seperti menahan sakit.

"Boleh aku gigit klitorisnya?" tanya Aldo padaku sambil berbisik.

"Boleh, asal jangan sampai luka," sahutku sambil mengarahkan handycam ke vagina istriku.

Office boy pemalu ini betul-betul melakukannya. Mula-mula dijilatinya bagian sensitif itu. Lalu, kulihat klitoris istriku terjepit di antara gigi-gigi Aldo yang tidak rata. Ditariknya menjauh seperti hendak melepasnya. Kali ini terdengar jerit histeris Reni.

"Aaaaakkhhhh....saakkkkiiiittt..." rupanya Bob saat itu menarik lepas penisnya lantaran Jaelani ingin berganti posisi. Jaelani memang kemudian berdiri sambil mengangkat tubuh Reni pada kedua pahanya. Penisnya yang besar masih menancap di vagina istriku. Terus terang aku iri melihat penisnya yang besar itu. Reni terus menjerit-jerit dalam gendongan Jaelani yang ternyata membawanya ke atas meja. Diturunkannya Reni hingga kini posisinya tertelungkup di atas meja. Kedua kakinya menjuntai ke bawah dan kedua payudaranya tepat di tepi meja.

"Kita teruskan lagi, ya Mbak. Memek Mbak kering sekali, jadi lama selesainya," kata si sopir

Ia menusukkan dua jari ke vagina Reni sehingga tubuh istriku itu menggeliat.



"Sudaaahh.... hentikaaan...kalian...bangsat!" teriaknya di sela isak tangisnya.

"Iya Mbak, maafkan kami yang jahat ini ya?" sahut Jaelani sambil kembali memperkosa istriku.

Suara Reni sampai serak ketika ia menjerit histeris lagi. Tapi tak lama, Bob sudah menyumpal mulutnya lagi dengan penisnya. Dalam posisi seperti itu, si sopir betul-betul mampu mengerahkan kekuatannya. Tubuh Reni sampai terguncang-guncang. Kedua payudaranya berayun ke muka tiap kali Ben mendorong penisnya masuk. Lalu, kedua gumpalan daging kenyal itu berayun balik membentur tepi meja. Payudara Reni yang putih mulus kini tampak memerah. Jaelani terlihat betul-betul kasar, mungkin Reni adalah wanita tercantik yang pernah disetubuhinya sehingga tak heran ia begitu bernafsu. Saat ia terlihat hampir sampai puncak, Bob berseru kepadanya,

"Buang ke mulutnya dulu. Nanti putaran kedua baru kita buang ke memeknya," kata Bob.

Jaelani mengangguk lalu ia bergerak ke depan Reni. Vagina Reni tampak menganga lebar, tetapi sejenak saja kembali merapat. Bob dengan cepat menggantikan posisi Jaelani. Penisnya kini menyumpal mulut Reni. Ia menggeram keras sambil menahan kepala Reni.

"Ayo, telen spermaku ini... Uuughhhh....yah.... telaaannn....." si sopir meracau.

Jaelani baru melepaskan penisnya setelah yakin Reni benar-benar menelan habis spermanya. Reni terbatuk-batuk, sopir itu mengusapkan penisnya yang berlumur spermanya sendiri ke hidung Reni yang mancung.

"Uuggghhh....nggghhhhhh....." Reni merintih.

Tak menunggu lama, kini giliran Bob menyetubuhi Reni. Reni tampaknya tak kesakitan seperti saat diperkosa si sopir. Mungkin karena penis Bob lebih kecil.

"Aiaiaiaiiiii.... jangaaan.... aduhhhh.... sakiiit...." tiba-tiba Reni mendongak dan menjerit kesakitan.

"Anusmu masih perawan ya ? Nanti aku ambil ya ?" katanya.

Ternyata, sambil menancapkan penisnya ke vagina Reni, Bob menusukkan telunjuknya ke anus Reni.



Kudekati Bob seraya berkata,

"Jangan sekarang, pak Bob. Aku juga ingin merasakan menyodominya. Aku belum pernah memasukkan kontolku ke situ," bisikku.

"Oke, setelah suaminya, siapapun boleh kan?" sahutnya juga dengan berbisik.

Aku mengangguk. Bob tak mau kalah dengan Jaelani. Ia juga menancapkan penisnya dengan kasar, cepat dan gerakannya tak beraturan. Bahkan, sesekali ia mengangkat sebelah kaki Reni dan memasukkan penisnya menyamping. Saat bersetubuh denganku, biasanya posisi menyamping itu bisa membuat Reni melolong-lolong dalam orgasme.

Tapi, kali ini yang terdengar adalah rintihan dan jerit kesakitan. Saat aku mulai merasa kasihan padanya, jeritan itu berhenti. Aldo kini membungkam mulutnya dengan penisnya. Peluh membasahi sekujur tubuh Reni. Bob sudah menumpahkan sperma ke dalam mulutnya. Tubuh Reni terkulai lemas karena kelelahan, keringat bercucuran di tubuhnya yang mulus. Tetapi, kulihat ia masih sadar. Aldo membopongnya ke kasur busa yang tergeletak di lantai. Reni diam saja ketika ikatan tangannya dilepas.

"Sebentar ya Mbak. Bajunya dilepas aja semua biar lebih enak ngentotnya" katanya sambil melucuti seluruh pakaian yang masih tersangkut di tubuh Reni. Reni kini berbaring terlentang di kasur busa tanpa sehelai benang pun di tubuhnya. Hanya arloji Fossil, kalung dan cincin kawin yang masih tersisa di tubuhnya. Ia tampak terisak-isak. Aldo kemudian mengikat kembali kedua tangan Reni menjadi satu ke kaki meja. Aku tertarik melihat Aldo yang sikapnya lembut dan agak malu-malu kepada Reni.

"Aduh kasihan, tetek Mbak sampai merah begini," katanya sambil membelai-belai lembut kedua payudara istriku.

Dipilin-pilinnya juga kedua puting Reni dengan ujung jarinya. Reni menggeliat merasakan rangsangan menjalar ke seluruh tubuhya dari wilayah sensitif itu.

"Siapa yang menggigit ini tadi ?" tanya Aldo.

"Alaaaa, sudahlah, banyak cingcong amat kau ini…cepat masukkan kontol kau tuh ke memek cewek ini," terdengar Bob berseru.

"Ah, jangan kasar begitu. Perempuan cantik gini harus diperlakukan lembut. Ya, Mbak Reni?" Al terus membelai-belai vagina Reni yang ditutupi bulu-bulu hitam lebat.

Kali ini ia menyentil-nyentil puting Reni dengan lidahnya, sesekali dikecupnya. Biasanya, Reni bakal terangsang hebat kalau kuperlakukan seperti itu dan tampaknya ia juga mulai terpengaruh oleh kelembutan Aldo setelah sebelumnya menerima perlakuan kasar.



"Unngghhh.... lepaskan saya, tolong. Jangan siksa saya seperti ini," mohonnya.

Aldo tak berhenti, kini ia malah menjilati sekujur permukaan payudara istriku. Lidahnya juga terus bergerak ke ketiak Reni yang mulus tanpa rambut sehelaipun. Reni menggigit bibirnya menahan geli dan rangsangan yang mulai mengganggunya. Aldo mencium lembut pipinya dan sudut bibirnya. Aku sempat heran, katanya dia belum pernah menyentuh wanita, tapi kok mainnya sudah ahli begini, apakah kebanyakan nonton bokep? pikirku

"Jangan khawatir Mbak. Bersama saya, Mbak akan merasakan nikmat. Kalau Mbak sulit menikmatinya, bayangkan saja wajah suami Mbak," kata Aldo sambil melanjutkan mengulum puting Reni. Kali ini dengan kuluman yang lebar hingga separuh payudara Reni terhisap masuk.

"MMmfff..... ouhhhhh....tidaaakk... saya tidak bisa... " sahut Reni dengan isak tertahan. "Bisa, Mbak... Ini suami Mbak sedang mencumbu Mbak. Nikmati saja... " Aldo terus

menyerang Reni secara psikologis.

Jilatannya sudah turun ke perut Reni yang rata. Dikorek-koreknya pusar Reni dengan lidahnya. Reni menggeliat dan mengerang lemah.

"Vaginamu indah sekali, istriku..." kata Aldo sambil mulai menjilati bibir vagina istriku. Reni mengerang lagi. Kali ini makin mirip dengan desahannya saat bercumbu denganku. Pinggulnya kulihat mulai bergerak-gerak, seperti menyambut sapuan lidah office boy itu pada vaginanya. Ia terlihat seperti kecewa ketika Aldo berhenti menjilat. Tetapi, tubuhnya bergetar hebat lagi saat pemuda itu dengan pandainya menjilat bagian dalam pahanya. Aku acungkan ibu jari pada Aldo, itu memang titik sensitifnya. Aldo menjilati bagian dalam kedua paha Reni, dari sekitar lutut ke arah pangkal paha. Pada jilatan ketiga, Reni merapatkan pahanya mengempit kepala si office boy dengan desahan yang menggairahkan.

"Iya Reni, nikmati cinta suamimu ini,"

Aldo terus meracau, direnggangkannya kembali kedua paha Reni. Kini lidahnya langsung menyerang ke pusat kenikmatan Reni. Dijilatinya celah vagina Reni dari bawah, menyusurinya dengan lembut sampai bertemu klitoris.



"Ooouhhhhhh.... aahhhh.... am...phuuunnn...." Reni merintih menahan nikmat. Apalagi, Aldo kemudian menguakkan vaginanya dan menusukkan lidahnya ke dalam sejauh-jauhnya.

Reni makin tak karuan. Kepalanya menggeleng-geleng. Giginya menggigit bibirnya, tapi ia tak kuasa menahan keluarnya desahan kenikmatan. Apalagi Aldo kemudian dengan intens menjilati klitorisnya.

"Ayo Mbak Reni, nikmati.... nikmati... jangan malu untuk orgasme..." kata Aldo, lalu tiba-tiba ia menghisap klitoris Reni. Akibatnya luar biasa. Tubuh Reni mengejang, dari bibirnya keluar rintihan seperti suara anak kucing. Tubuh istriku terguncang-guncang ketika ledakan orgasme melanda tubuhnya.

"Bagus Mbak, puaskan dirimu," kata Al, kali ini sambil menusukkan dua jarinya ke dalam vagina istriku, keluar masuk dengan cepat.

"Aaakkhhhh....aaauuunnghhhhhh..." Reni melolong, lalu ia menangis merasa terhina karena menikmati perkosaan atas dirinya.

Aldo memperlihatkan dua jarinya yang basah oleh cairan dari vagina istriku. Lalu ia mendekatkan wajahnya ke wajah istriku. Dijilatnya pipi istriku.

"Oke Mbak, kamu diperkosa kok bisa orgasme ya ? Nih, kamu harus merasakan cairan memekmu" katanya sambil memaksa Reni mengulum kedua jarinya.

Reni hanya bisa menangis. Ia tak bisa menolak kedua jari Aldo ke dalam mulutnya. Dua jarikupun masuk ke dalam vagina Reni dan memang betul-betul basah. Kucubit klitorisnya dengan gemas.

"Nah, sekarang aku mau bikin kamu menderita lagi," kata Aldo yang lalu menempatkan dirinya di hadapan pangkal paha Reni.

Penisnya langsung menusuk jauh. Reni menjerit kesakitan. Apalagi Aldo memperkosanya kali ini dengan brutal. Sambil menyetubuhinya, Aldo tak henti mencengkeram kedua payudara Reni. Kadang ditariknya kedua putting Reni hingga istriku menjerit-jerit minta ampun. Seperti yang lain, Aldo juga membuang spermanya ke dalam mulut istriku. Kali ini, Reni pingsan saat baru sebagian sperma office boy itu ditelannya. Aldo dengan gemas melepas penutup mata Reni, lalu disemburkannya sisa spermanya ke wajah cantik istriku.



*******************************

Satu jam kemudian



Reni sudah satu jam pingsan, aku menghampiri tubuhnya yang terkulai lemas dan sudah berlumuran keringat dan sperma itu.

"Biar dia istirahat dulu. Nanti suruh dia mandi. Kasih makan. Terus lanjutkan lagi kalau kalian masih mau," kataku sambil menghisap sebatang rokok.

"Ya masih dong, bos. Baru juga sekali," sahut Jaelani sambil tangannya meremas-remas payudara Reni.

"Iya, gua kan belum nyoba bo’olnya" timpal Bob sambil jarinya menyentuh anus Reni. "Oke, terserah kalian. Tapi jam dua siang dia harus segera dipulangkan," kataku.

Tiba-tiba Reni menggeliat. Cepat aku pindah ke tempat tersembunyi. Apa jadinya kalau dia melihat suaminya berada di antara para pemerkosanya? Kulihat Reni beringsut menjauh dari tiga temanku yang hanya memandanginya. Rambut panjangnya yang indah sudah agak berantakan, ia menyilangkan tangan menutupi tubuh telanjangnya. Tentu itu tak cukup untuk menutupinya malah membuat ketiga pria itu semakin bergairah padanya. Jaelani berdiri mendekatinya, lalu mencengkeram lengannya dan menariknya berdiri.

"Jangan... saya nggak sanggup lagi. Apa kalian belum puas?!" Reni memaki-maki.

"Belum ! Tapi sekarang Mbak harus mandi dulu supaya memeknya ini bersih!" bentak sopir itu sambil tangan satunya mencengkeram vagina Reni.

Reni menjerit-jerit waktu pria itu menyeretnya ke halaman belakang. Ternyata mereka akan memandikannya di ruang terbuka. Kulihat Jaelani menarik selang panjang dan langsung menyemprotkannya ke tubuh telanjang Reni. Reni menjerit-jerit, berusaha menutupi payudara dan vaginanya dengan kedua tangannya. Bob lalu mendekat, menyerahkan sepotong sabun kepada Reni.

"Kamu sabunan sendiri apa aku yang nyabunin?" tanyanya.

Reni tampak ragu.

"Cepat, sabunan Mbak, kan dingin" seru Aldo.

Semprotan air deras diarahkannya tepat mengenai pangkal paha Reni. Reni perlahan mulai menyabuni tubuhnya. Ia terpaksa menuruti perintah mereka untuk juga menyabuni payudara dan vaginanya.



Tak tahan hanya menonton saja, Bob akhirnya mendekati istriku.

"Begini caranya nyabunin memek!" katanya sambil dengan kasar menggosok-gosok

vagina Reni.

Reni menjerit kecil ketika Bob mendekap tubuhnya dan tangannya mulai menggerayangi tubuhnya yang licin oleh sabun. Mulut pria gemuk itu juga menciumi pundak dan leher istriku. Tak lama kemudian, acara mandi akhirnya selesai. Mereka menyerahkan sehelai handuk kepada Reni. Reni segera menggunakannya untuk menutupi tubuhnya.

"Hey, itu bukan untuk nutupin badanmu. Itu untuk mengeringkan badan," bentak Jaelani.

"Kalau sudah bersih, kita terusin lagi ya Mbak, enak sih!” kata Aldo

"Aiiihhh..." Reni memekik karena Aldo sempat-sempatnya mencomot putingnya.

"Kalau sudah handukan, susul kami ke meja makan. Kamu harus makan biar kuat," lanjut Bob sambil meremas bokong Reni yang bundar!

Kulihat Reni telah selesai mengeringkan tubuhnya. Ia mematuhi perintah mereka, tanpa mengenakan apapun ia melangkahkan kakinya ke ruang makan. Betul-betul menegangkan melihat istriku berjalan di halaman terbuka dengan tanpa mengenakan apapun. Sensasinya makin luar biasa karena dalam keadaan seperti itu ia kini berjalan ke arah tiga lelaki yang tengah duduk mengitari meja makan. Mereka betul-betul sudah menguasai istriku. Kulihat Reni menurut saja ketika diminta duduk di atas meja dan kakinya mengangkang di hadapan mereka. Posisiku di belakang teman-temanku, jadi akupun dapat melihat vagina dan payudara Reni yang terbuka bebas. Bob mendekatkan wajahnya ke pangkal paha Reni. Kulihat ia menciumnya.

“Nah, sekarang memekmu sudah wangi lagi," katanya.

Reni menggigit bibirnya dan memejamkan mata.

"Teteknya juga wangi," kata Aldo yang menggenggam sebelah payudara Reni dan mengulum putingnya.

"Ngghhh... kenapa kalian lakukan ini pada saya," rintih Reni.

"Mau tahu kenapa ?" tanya Bob, jarinya terus saja bergerak sepanjang alur vagina Reni.

Aku tegang. Jangan-jangan mereka akan membongkar rahasiaku.

"Sebetulnya, yang punya ide semua ini adalah Mr X," kata Bob.

Aku lega mendengarnya.

"Siapa itu Mr X ?" tanya Reni.

"Kamu kenal dia. Dia pernah disakiti suamimu. Jadi, dia membalasnya pada istrinya," jelas Bob.

"Tapi Mr X tak mau kamu mengetahui siapa dia. Itu sebabnya tiap dia muncul, matamu ditutup." lanjut Bob.

"Sudah, Bos, biar Mbak Reni makan dulu. Dia pasti lapar habis kerja keras," sela Ben.



"Maaf ya Mbak Reni. Kami nggak punya nasi. Yang ada cuma ini," kata Ben sambil menyodorkan piring berisi beberapa potong sosis dan pisang ambon. Ben lalu mengambilkan sepotong sosis.

"Makan Mbak, dijilat dan dikulum dulu, seperti tadi Mbak mengulum kontol saya," katanya.

Tangan Reni terlihat gemetar ketika menerima sepotong sosis itu. Dengan ragu-ragu ia menjilatinya, mengulumnya lalu mulai memakannya sepotong demi sepotong. Habis sepotong, Aldo mengupaskan pisang Ambon lalu didekatkannya dengan penisnya yang mengacung.

"Pilih pisang yang mana, Mbak ?" goda Aldo, "ayo ambil," lanjutnya.

Reni menggerakan tangannya hendak mengambil pisang namun Aldo menangkap pergelangannya dan memaksa Reni menggenggam penisnya.

"Biar saya suap, Mbak pegang pisang saya saja," katanya.

"Tangannya lembut banget nih" kata Aldo.

Jaelani tak mau kalah, ia menarik sebelah tangan Reni dan memaksanya menggenggam penisnya yang besar. Sementara Reni menghabiskan sedikit demi sedikit pisang yang disuapkan Aldo. Sepotong pisang itu akhirnya habis juga. Bibir Reni tampak belepotan. Bob yang sedang merokok kemudian mencium bibir Reni dengan bernafsu. Reni mengerang-erang dan akhirnya terbatuk-batuk saat Bob melepaskan ciumannya.

"Sudah...uhukkk... sudah cukup," kata Reni dengan nafas terengah-engah.

"Eee ini masih banyak. Sekarang kita haus nih, Mbak harus temenin kita minum," kata Bob.

"Tapi gelasnya kurang ya?" sahut Jaelani sambil merenggangkan paha Reni.

Reni meronta-ronta tetapi Aldo dan Bob memeganginya. Jaelani membuka sebotol bir lalu menumpahkan seluruh isinya ke tubuh telanjang Reni hingga basah.



"Hmmm…ini baru maknyus namanya!” kata Bob sambil mendorong tubuh Reni hingga terbaring telentang di meja.

Reni terisak-isak, ia merasakan dinginnya bir itu di sekujur tubuhnya, juga jilatan-jilatan lidah dan tangan-tangan para pria itu yang merangsang setiap titik di tubuhnya. Bob menyeruput bir yang tertumpah di vagina gadis itu hingga terdengar bunyi sruput yang rakus.

"Cara baru minum bir, suegerr!!!” sahut Jaelani yang asyik menyeruput bir pada payudara istriku.

Adegan selanjutnya tak urung membuatku kasihan pada Reni. Mereka membawanya ke halaman belakang dan memperkosanya di atas rumput secara beramai-ramai. Sperma mereka bercipratan bukan saja di dalam vagina Reni, tapi juga di tubuhnya. Begitu usai, mereka membaringkan Reni yang sudah tak sadarkan diri di atas sofa. Kulihat kondisi Reni sudah betul-betul berantakan, bekas-bekas cupangan terlihat di kulitnya yang putih terutama di payudara, leher dan pundaknya, sperma berceceran di hampir seluruh tubuhnya mulai dari vagina hingga wajahnya, rambut panjangnya pun tidak luput dari cipratan cairan kental itu. Kami mengangkut tubuh telanjang Reni ke kamar mandi dan membersihkannya dengan shower lalu memakaikan kembali pakaiannya. Reni masih belum sadar akibat perkosaan brutal tadi. Kami menaikkannya ke mobil dan kembali ke ibukota. Sampai di Jakarta, Reni mulai bangun, terdengar suara melenguh dari mulutnya. Matanya masih dalam keadaan tertutup karena aku tidak ingin dia melihatku. Bob mengancamnya agar tidak menceritakan kejadian hari ini pada siapapun kalau tidak ingin rekaman perkosaan tadi bocor dan mempermalukan dirinya dan keluarganya. Reni hanya bisa mengangguk dengan terisak-isak. Kami menurunkannya di depan rumah lalu aku segera tancap gas menjauhi rumahku.



**************************

Jam sembilan malam



Aku tiba di rumah dan setelah memarkirkan mobil di garasi aku masuk ke rumah dan memanggil nama istriku, berpura-pura seolah tidak terjadi apapun.

“Ren…Renn!!” aku mengeraskan suaraku karena tidak ada yang keluar ataupun membalas sahutanku

“Renn…lu dimana!” panggilku lagi

‘Cklik!” tiba-tiba kamar mandi lantai satu di sebelahku membuka, Reni keluar dari sana.

“Iya Mas, sori saya sakit perut” katanya, “O ya mas, hari ini gak sempat masak, tadi di jalan pulang macet banget, jadi beli makanan di luar, saya panasin sekarang ya Mas”

Kulihat matanya sembab, tapi ia berusaha tersenyum di depanku. Ketika makan malam ia lebih diam dari biasanya namun berusaha menanggapi obrolanku. Kupeluk pinggangnya yang ramping ketika ia sedang mencuci piring sehabis makan dan kubisikkan kata-kata mesra di telinganya. Biasanya aksi ini berlanjut hingga ke hubungan intim baik kilat maupun long time. Namun kali ini ia menepisnya.

“Jangan Mas, jangan hari ini, saya cape, tolong ya…please!” katanya dengan tatapan memohon.

Akupun mengerti karena tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kupeluk dia dengan mesra dan kucium keningnya

“I love you honey!” ucapku dekat telinganya

“Sori banget Ren, lu emang istri yang baik, ga mau orang lain ikut cemas dan susah, gua janji ini ga akan terjadi lagi” kataku dalam hati sambil mempererat pelukanku.

By: Mad Husband
----------------------------
39 komentar Post your own or leave a trackback: Trackback URL
  1. mumex mengatakan:
    Pertamax dl yah…sore2 baca dl nh…tar lanjut comment
  2. doyan xxx mengatakan:
    kerennnnnnnnnnn!!!! trs buat ,,,kaya gini ,,,hebat !!!
  3. pimp lord mengatakan:
    Bingung mau komentar apa, hehehe..
    bener-bener mad husband….
    keep on posting bro…
    Re: emang mad ya nih cerita hahaha
  4. Apank mengatakan:
    Saya udah pernah baca..Tp lupa situsnya..Tp yg penting mupeng terus
    Re: masa? dimana bos?
  5. wede mengatakan:
    dag dig dug bacanya bro………
    aneh tapi hebat bgt….top deh pokoknya…
    lanjutin truz
  6. mengaku_tobat mengatakan:
    menantikan cerita dari istri-istri mad husband yg laennya.
    hho.
    pareeng.
  7. reapis mengatakan:
    wah keren sih.. tapi kayaknya pernah baca.. cuman beda setting aja.. keep mupeng bro
  8. sir mike jess mengatakan:
    blum baca aja uda tau kalo ini cretanya bakalan keren abiez hahahahaha
  9. obituari mengatakan:
    mas,ceritanya terlalu sadis menurut saya.nggak mutu
    Re: masih belum kelewat batas keterlaluan, masih boleh lah
  10. obituari mengatakan:
    kalo bisa cerita kategori artis,donk.thank’s.
  11. Mr R mengatakan:
    wah. sudah pertamax ya. mantep juga ceritanya.
  12. Adaadaadja mengatakan:
    Wah gawat.. Kerenz abis.
    eh bos shu, fansfic dah g da lg ni?
  13. Vag mengatakan:
    Kereeen bngt critanya,, top abis,,
  14. jablaysexy mengatakan:
    Keren abis… Mad Husband bikin lagi yang seru… Seru banget nih
    Ini type crita yg aq suka. Ada sedikit mempermalukan.
  15. mikenjess mengatakan:
    tapi kok sadis juga ya? haha…
    agak agak miris bacanya walau kenyataan harusnya kayak gini nih ceritanya
    Re: bukannya bro mike suka yg ekstrim2 gini biasanya?
  16. cibolic mengatakan:
    wow,..makin banyak aja ni yang agak ‘sakit’ kaya gini….tp
    oke juga kok,..kbb jd makin variatif menunya..he.he
    Re: disini kan bhineka tunggal ika hahaha
  17. Del Piero mengatakan:
    wah gila neh suami……
    masa’ istrinya di kasi ke org lain, gratis lagi…!!
    di kasi ke q aja sni, q kasi hp nexian mau ga???
    haahahahahahaha…………..
  18. hello K!tty mengatakan:
    WAhh, wahhh….,
    satu lagi calon… bintang….., Hollywood…
    ehh, KBBwood,,, hi hi hi h
    Re: wah sis yo juga suka yg type cerita spt ini ya?
  19. Alonso69 mengatakan:
    Wah2… Nice story deh.. Tapi sbnrnya q lebih suka cerita2 fanfic artis deh… Dan fanfic yang paling bikin aku super mupeng adalah fanfic2 karya bro raito, trutama yang asmirandah! Tapi kok lum keluar juga ya, yaog versi 3?Kapan ni.. Kira2 bos shu?
    Re: ya itu harus tanya bos raito
  20. mengaku_tobat mengatakan:
    om shu baru nongol yah, 2-3 hari kaga kliatan om.
    sibuk kah ?
    pareeng.
    Re; biasa aja ah, ga sibuk2 amat
  21. hentaibeibeh mengatakan:
    boz shu sekedar info, cerita ini copy paste neh, bukan orisinil, nama tokohnya aja di ubah “mbak tari” jd “reni”
    aslinya versi j***ab, cuma di sini ga di sebut kt j***ab, gw ga tau seh pengarangnya sama apa ngga? tp yg jelas ini cerita udah lama beredar.
    “ratih si penjual jamu gendong” jg cerita lama, entah yg ngirimin pengarang asli ato hanya copy paste (kopas), klo bener kopas, boz shu udah harus “lampu kuning”.
    Re: nah kerjasama spt ini yang saya inginkan, ok yang satu ini penulisnya juga memang bilang ini cerita remake, & katanya bakal ada sekuelnya, karena gw liat dari versi jilbabnya dah beda 50% ya dah gw terima, & katanya bakal ada sekuel, kita liat aja nanti ya. nah kalau yg penjual jamu gendong itu gw masih tunggu konfirmasi dari pembaca di sini, kalau memang cerita lama banget selain dari bluefame gw pasti hapus spt kasus dulu itu. makasih masukannya hentaibebeh
  22. kapolda jatim mengatakan:
    wah..ini tindak pemerkosaaan… tidak bisa saya diamkan… dimana alamtnya? akan saya introgasi itu mad husband knp gak ngajak2 saya…he..he…
    Re: dikirain mo nangkep taunya malah mau ikutan, gimana nih pak kapolda :D
  23. Rober badung mengatakan:
    Basi, basi. Cerita ini udah basi. Penulisnya gak kreatif sama sekali. Itu asalnya cerita pemerkosaan isteri berjilbab. udah ada di banyak situs, di antaranya erotikceritakom, blueframe, cuma diganti nama-namanya aja. Usir aja penulis ini dari forum ini. Hapus tulisannya
    Re: iya2 penulisnya emang bilang ini remake, jadi bukan 100% copas bukan 100% original, gw bandingkan juga mmemang udah dirubah2 juga & gw tambah perapihan dikit. katanya bakal ada sekuel maka stlh gw pertimbangkan gw kasih kesempatan deh, yg pertama ini gw muat dulu
  24. CECEP XJ mengatakan:
    mas shu, pernah baca “akibat pistol gombyok” kan. nah model cerita itu kan kategori bb juga and kategori incest juga, aku suka yang gitu, lain kali buatin ya hehe :)
    Re: wah kalau incest di sini pasti kena sensor
  25. ira mengatakan:
    jadi sambungannya mana dong..
  26. Bukuharianku mengatakan:
    pernah juga sih ngebayangin diperkosa rame2 gitu. Tapi takut juga. Jangan sampe kejadian dulu deh.
  27. cupcake mengatakan:
    weew, lumayan, tapi aksi kekerasan nihh,
    suaminya kejem gila, istri udah setia gitu.
    ternyata remake to? wah, udah sampe dapet sanjungan sis yo ee, ternyata remake.
    tapi gapapalah, tetap berkreasi mad husband.
  28. sir mike jess mengatakan:
    ck ck ck.. klo emang remake dan uda disetujui ama mr shu, saya rasa tidak etis kalau pengarangnya di usir, kan remake. no problem, toh akan ada sequel nya.
    mudah mudahan sequelnya lebih erotis, lebih mengugah psycologi seks, yang seri 1 ini kan agaknya terlalu sadis, ya, haha walau gue suka ekstrim tapi bukan yang kayak gini nih.
    cuma sequel lah gue harapkan, kan ini remake, jadi terpengaruh ama penulis yang buat aslinya.
    klo sequel nanti kan, langsung turun tangan murni sang penulis baru. lahirkan penulis2 baru di kbb seeep
    Re: gw sengaja ngasih kesempatan unk penulis yg satu ini semoga bisa menulis sekuelnya lebih baik lagi
  29. henz mengatakan:
    haha…cerita ini emang bener remake koq gue udh prnh baca yang ‘persis’ cerita ini..
    but, gpplah… kita harus berterimakasih kepada bro yang satu ini supaya dia bisa terus berkarya…
    ceritanya bagus bro… kembangin terus.. bagus tuh ada sekuelnya.. daripada yang gue baca cuman 1 biji doang..haha
    ini ciri2 pengembang cerita yang bagus…. LANJUTGAN!!
    (loh… pemilukan udah lewat ?? ) (tanya kenapaaaa??) A-Mild
    Loh malah iklan deh :p
    Re: ya moga2 aja selanjutnya better,
  30. gemot mengatakan:
    gileeeee abis mau dong…..
  31. mkk mengatakan:
    om dede suka ama dongeng sebelum bobo ini he he he … ya gw suka ama nih cerita
  32. bagus mengatakan:
    jadi terinspirasi…..
    ada yang bisa bantu ga perkosa bini gw….seperti cerita diatas
    Re; wei2 dont try this at home, it’s only story, ok
  33. dr H mengatakan:
    gw setuju, nga pa pa remake, Bro Shu kan sdh punya konsep aturan yg jelas di KBB. Yg penting bro Mad Husband punya mood buat bikin lanjutannya.
    menurut pengalaman pribadi, Biasanya penulis baru mulanya memilih gendre cerita dulu, awalnya sih terinfirasi dr cerita yg sdh ada (spt ini), selanjutnya ia kembangkan sendiri sesuai keinginannya. masa sulitnya justru muncul di eps berikut, semua terlihat kacau & nga nyambung di sana sini, ini butuh waktu lama dan kesabaran, baca berulang2 sbl nge-revisi.
    gw sdh sering bilang kalau byk sekali cerita2 yg start awalnya bagus bikin mupeng tapi gagal di’selesaikan’ alias datar2 saja bag akhirnya. Tak ada salahnya me-remake suatu cerita dg maksud memperbaiki. istilah bro Shu di tambah bumbu biar tambah mkyus.
    Kita hrs beri kesempatan buat para pemula utk berkreasi. dg memenuhi aturan di sini tentunya, gw harap ada byk pembaca yg ingin jadi penulis dan ‘sudah’ mulai nulis. sebab coba dihitung2 brp byk cerita ind yg masuk kategori bagus dr jamannya 17t.com s/d sekarang, coba bandingkan sama cerita dr luar spt di Literotica. Apalagi di saat skr cuma KBB yg memberi cerita baru. itupun dr penulis yg jumlahnya sgt sedikit.
    Tidak mudah buat menulis apalagi bikin cerita sendiri tanpa bakat menulis!
    gw baru agak lancar nulis sesudah melewati 3 atau 4 eps penulisan. gw tak berbakat tapi mulai terbiasa nulis jadinya bisa lancar nulis. jadi saran gw ke pembaca yg mulai niat nulis sebaiknya jgn di tunda2, jika sdh, kirim ke bro Shu nanti di kasih saran buat perbaikan.
    Re: pencerahan dari pak dokter nih
  34. Ninja Gaijin mengatakan:
    cerita ini bagus kok. remake atau bukan, ga masalah asal berkualitas. fantasy-nya kena banget.
    jadi inget anime hentai “Insatiable”… ceritanya mirip cerita ini.
    Re: wah spt apa ceritanya tuh bro?
  35. Nafeeza's Holes mengatakan:
    Yang gue tahu “ratih si penjual jamu gendong” emang benar itu cerita lama sktr tahun 07- 08,judulnya:” Diperkosa saat hamil”.Silahkan check salah satunya di http://nainggo.blogsome.com/2008/10/20/diperkosa-saat-hamil/
    Dan “ratih si penjual jamu gendong” itu adalah 100% Copasan dari ” Diperkosa saat hamil”.
    Sekedar Saran:Sebaiknya lebih selektif saja…,SEKIAN.
    Re: makasih, makannya dah gw hapus
  36. jilbabhot at yahoo dot com mengatakan:
    sorry bro semua… dengan segala hormat, cerita di atas diambil mentah-2 dari karya saya dengan sedikit modifikasi… remake cuma 5 % aja.
    betul kata beberapa komentator di atas, aslinya cerita itu tentang istri berjilbab. gue jarang main ke sini karena para bos di sini sudah sepakat untuk tidak menerima cerita tentang “cewek berjilbab” padahal, gue suka style cerita kesukaan kalian…. kalau saja ada kategori “jilbab” di sini, gue akan rajin-rajin kirim karya gue..
    yup betul, gue banyak menulis cerita perkosaan dan penyiksaan tapi bedanya dengan kalian, fantasi gue lebih pada wanita-wanita alim berjilbab… boleh dong, nggak beda kan dengan mereka yang berfantasi memperkosa ce Chinese, tante-tante, ponakan, anak atau bahkan ibunya sendiri….
    Khusus cerita di atas, aslinya berjudul “Mereka Memperkosa Istriku yang Alim”. Di erotikcerita.com masih terus bersambung, sampai sekarang sudah edisi ke-10….
    silakan kontak gue di jilbabhot@yahoo.com, shusaku… dan siapa saja untuk bersilaturahmi…. :)
    Re: iya sori banget unk jilbab dilarang keras disini, erotikcerita itu bukannya sitenya maling sial tuh?
  37. lovejilbab mengatakan:
    Betoll tuh, memang karyanya si jilbabhot. Kebetulan gw emang salah satu fans dia di dunia cerita jilbab sex…
  38. Andriyan mengatakan:
    bdw lanjutannya si reni deiprkosa tapi menukmati lahh..
    jgn kaya gini.. jadi agak gk tega bacanya hehehe.
  39. Bowo mengatakan:
    Bang cerita’e sadis bener, kaga kasian apa sm bini’e..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar